Minggu, 08 Desember 2013

Friends (My Feeling) Part 2

Nila mengangguk. Kami akan mencari yang lain di lantai ini. Di lantai atas sudah tak ada yang lainnya. Sebelum bertemu dengan Marisa, aku sudah menjelajahi lantai atas. Tak lama, kami bertemu dengan Ridwan. Wajahnya begitu sedih. Kami mendekatinya. Anehnya, wajah Ridwan nampak semakin sedih. Ia menunduk, tak mau menatap kami.
 
"Ada Ridwan? Kamu sakit?" tanya Marisa cemas.
 
Riwan menggeleng. Ia menggangkat kepalanya. Wajahnya jelas sangat muram.
 
"Maafkan aku ...," ucapnya lirih.
 
Kami saling berpandangan. Bingung. Tak mengerti mengapa ia meminta maaf. Kami baru saja bertemu dengannya. Tapi, mengapa ia meminta maaf?
 
"Aku dan Mita yang membuat kalian berada di sini. Mita memintaku melakukan hal ini. Tak lama, setelah kalian memejamkan mata. Aku membuang gas yang membuat kalian tak sadar. Lalu, aku membawa kalian ke sini. Memisahkan satu sama lain. Aku sangat menyesal melakukan semua itu. Maafkan aku, Don, Sa, La ...," lanjutnya membuat kami kaget.
 
Emosiku langsung naik. Ini keterlaluan. Kami adalah teman. Tapi, ia dan Mita mempermainkan kami. Ini tak bisa dimaafkan. 
 
"Kamu keterlaluan!" aku memukul wajahnya. Nila dan Marisa menjerit. Nila mendekat dan menghalangiku memukul Ridwan lagi. 
 
"Dia keterlaluan, Nila. Satu pukulan belum cukup untuknya," ucapku dengan suara tinggi.
 
"Doni! Kita tanya di mana Boni dulu. Aku mencemaskannya," teriak Marisa membentakku. Aku terdiam. Ia benar.
 
"Sekarang, Boni di mana, Wan?" tanya Marisa setengah menangis.
 
"Dia ada di ruang makan asrama ini. Aku akan mengantar kalian. Maafkan aku ... aku hanya membantu Mita yang sangat aku cintai. Membuktikan rasa cintaku padanya," ucap Ridwan sembari menunduk.
 
"Kamu bodoh! Mita tak pernah mencintaimu. Ia mencintai Boni," ucapku tak sadar, mengikuti emosiku. Marisa, Nila dan Ridwan menatapku. Jelas mereka terkejut mendengar perkataanku. Terlebih, Marisa dan Ridwan.
 
"Kamu tahu itu?" tanyanya menatapku tajam.
 
"Ini nampak jelas, Sa. Kamu nggak melihat bagaimana tingkahnya saat bersama Boni. Ia tak sekedar menganggap Boni sebagai sahabatnya. Ia mencintainya."
 
Marisa terdiam.
 
"Kita ke ruang makan, sekarang! Aku antar kalian," ucap Ridwan memecah kebisuan kami dan mulai berjalan di depan kami.
 
Kami diam sepanjang perjalanan. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya suara tangis lirih Marisa yang samar terdengar di telinga kami. Ia jelas sangat terpukul dengan kejadian ini. Sahabatnya, teman yang selalu dibelanya selama ini menyimpan perasaan terpendam pada kekasihnya.
 
Akhirnya, kami sampai di ruang makan. Tak tampak sosok Boni yang kami cari. Kami memandang Ridwan, menuntut penjelasan darinya. Ia menggeleng.
 
"Pasti Boni tak jauh dari sini. Sungguh, aku membawanya kemari," ucap Ridwan meyakinkan.
 
Kami kembali menyusuri ruang lain. Mencari dari satu ruang ke ruang yang lain. Terdengar jeritan di sebuah ruangan.
 
"Pergi! Tolong tinggalkan kami," teriak suara itu lagi.
 
Kami mendekati ruang itu. Tampak Mita menutup matanya. Dan, Boni ... Oh, Tuhan! Dia terbaring lemas di sisi Mita. Ia tak sadarkan diri. Marisa langsung berlari mendekati Boni.
 
"Mita! Apa yang kau lakukan pada Boni?" teriak Marisa histeris.
 
Mita membuka matanya. Ia menatap kami satu-persatu. Ia menangis.
 
"Obat Boni mana, Don? Cepat bawa ke sini!" perintah Marisa menyadarkan kebodohanku, yang memaku tak berbuat apa-apa.
 
"Boni ... Boni sadar," Mita menepuk-nepuk pipi Boni. Tak ada respon. Aku langsung memeriksa denyut nadi Boni. Ada, tapi sangat lemah.
 
"Sa, kita bawa Boni ke rumah sakit. Ia butuh pertolongan sekarang!" ucapku panik.
 
****
Boni
 
Aku bangun di ruangan yang begitu putih dan bersih. Apakah aku sudah mati? Ah, aku memang tak merasakan sakit sekarang. Tapi, apa benar aku telah meninggalkan dunia ini? Marisa ... aku ingin melihatnya. Kekasihku yang begitu baik.
 
Aku baru menyadari jemari tanganku bertautan. Ah, ada yang mengenggam tanganku. Kumenoleh. Marisa. Dia di sampingku. Aku bodoh, ternyata aku di rumah sakit. Jadi, aku berhasil dari asrama menyeramkan itu. Aku selamat.
 
Marisa terbangun menyadari gerak tanganku. Sepertinya, ia sangat lelah. Senyum merekah dibibir cantiknya.
 
"Kau sadar, Bon. Syukurlah ...," ucapnya nampak lega.
 
"Kok gue ada di sini, Sa?"
 
"Kami semua yang membawa kamu ke sini. Untung kami tak terlambat," ucapnya sedih, bening air mata nampak keluar di sudut matanya.
 
"Sudah, Sa. Sekarang, gue nggak apa-apa kan?" hiburku padanya. "Yang lain mana, Sa? Gue pengen ketemu sama mereka."
 
"Aku panggilkan mereka. Tapi, Mita nggak di sini. Hanya ada Doni, Ridwan, dan Nila di luar."
 
Aku mengangguk. Pasti ada sesuatu yang membuat Mita tak ada di sini. Ini berhubungan dengan kejadian di asrama itu. Aku yakin. Apa mereka menyalahkan Mita atas semua yang menimpaku? Oh, jangan ... dia tak sepenuhnya salah. Akan kutanyakan saat mereka ada di sini.
 
Semuanya sudah ada di ruangan bersamaku. Nampak wajah mereka begitu lega. 
 
"Kenapa Mita tak ada di sini? Dia sakit?" tanyaku pada semuanya.
 
Semua membisu. Wajah mereka berubah menjadi sedih. Doni duduk dan menyuruh semuanya keluar ruangan. Doni menceritakan kejadian di asrama. Aku terkejut mendengar penuturannya. Secara detail ia menceritakan peristiwa yang menimpaku di sana. Ternyata, Mita merencanakannya. Ia melakukannya karena mencintaiku. Oh, tenyata sikapku membuatnya salah paham. Aku hanya menyayanginya sebagai sahabat. Tak lebih dari itu. Doni menyerahkan surat padaku.
 
"Ini dari Mita. Ia telah menyusul kedua orangtuanya ke Washington. Ia memintaku memberikan ini padamu."
 
Oh, Mita pasti sangat terpukul atas kejadian yang menimpaku. Ia tentu menyalahkan dirinya. Aku membuka surat itu dan memulai membacanya.
 
Dear Boni, sahabat yang selalu kucinta...
 
Kau pasti terkejut dengan tulisan di atas. Tapi, kurasa kau sudah mendengar ini dari teman yang lain. Yah, teman. Entah, mengapa aku begitu bodoh melakukan hal yang mengerikan di asrama pada kalian. Terlebih pada kamu, Bon. Padahal, kalian benar-benar menganggapku sebagai teman. Aku sedih baru menyadari bahwa kalian semua tulus menyayangiku. Sebelumnya, aku merasa tersisih. Yah, kemampuanku melihat sesuatu itu membuatku berpikiran buruk pada semuanya. Terlebih, sikap Doni yang sepertinya meragukan apa yang kuucapkan tentang makhluk-makhluk yang selalu kulihat itu.
 
Aku mendapat ide setelah menonton anime 'Corpse Party: Tortured Souls'. Aku ingin membuktikan pada kalian bahwa aku tak bohong. Semua langkah yang ada dalam ritual kemarin, adalah pintu membuka mata batin yang kupelajari dari kakek. Yah, dan itu menjadi bomerang untukku sendiri. Aku bahkan membuatmu sakit. Hampir membuat nyawamu melayang, Bon. Sungguh, aku tak ada niatan sedikit pun untuk membuatmu terluka. 
 
Ah, aku bingung harus menulis apa lagi di sini. Aku juga harus berkemas untuk kepindahanku. Maafkan aku Boni... aku mencintaimu. Aku tak mengharap balasan darimu untuk ini. Sampaikan maafku untuk yang lain. Hanya Doni yang baru memaafkanku. Aku tahu teman yang lain masih terluka akan perbuatanku ini. Sampaikan maafku pada Marisa, Nila dan Ridwan ya ketua osisku sayang. Katakan aku akan menjadi sosok yang lebih baik. Akan selalu menghargai persahabatan.
 
Aku tak sanggup menulis apapun lagi. Airmataku tak berhenti mengalir. Terima kasih, Boni atas semuanya. Aku selalu menyayangimu...
 
Dari sahabatmu yang bodoh. 
 
Kulipat surat Mita. Semoga kau mendapat seseorang yang baik di sana, Mita. Aku yakin, Marisa, Nila, dan Ridwan akan memaafkanmu. Kurasakan airmata mengalir. Mita, sahabatku ....
 
"Panggilkan yang lain, Don. Aku ingin bicara dengan mereka!"
 
SELESAI

***
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friends (My Feeling)

Friends (My Feeling)
Oleh Zahra Aulia

 
Marisa
 
Aku menganggap apa yang terjadi hari ini adalah sesuatu yang konyol. Berawal dari rasa segan menolak permintaan Mita untuk melakukan sebuah ritual persahabatan. Ia mendapatkan ide aneh itu dari sebuah 'anime' yang ia tonton, yang bahkan aku susah untuk menghafalkan judulnya. Ia memang maniak 'anime'. Tak ada yang salah dengan hobinya, tapi gara-gara kesukaannya itu, aku harus terjebak di sebuah gedung tua yang cukup menyeramkan ini. Bukan hanya aku, Ridwan, Dani, Nila, Boni, dan tentunya Mita ikut terjebak dalam tempat yang tak layak dikunjungi ini.
 
Kepalaku masih merasa pening. Yah, entah mengapa ... sesaat setelah kami melakukan ritual itu, aku tak sadarkan diri. Anehnya, ketika kusiuman, aku berada di tempat yang berbeda dan terpisah dari teman-temanku. Sebelumnya kami melakukan ritual persahabatan itu di aula sekolah.
 
"Hihihihi ...," samar-samar terdengar suara cekikikan wanita di depan pintu ruangan ini.
 
Ah, ini pasti kerjaan salah satu temanku. Walaupun aku bukan seorang penakut, berada sendiri di ruangan yang di langit-langitnya dipenuhi sarang laba-laba; suara degup jantung terdengar begitu keras, membuat keberanianku mulai luntur.
 
"Nggak lucu deh La, Ta ..., " ucapku setengah ragu, "Ta, La ... please, jangan bercanda." Tak ada jawaban juga, hening. 
 
Aku bangkit, mulai melangkah menuju pintu tersebut. Bulu kudukku mulai meremang. Semoga suara tadi benar suara salah satu temanku.
 
Aku mendekati pintu yang tertutup itu, meraih handle dan mencoba membukanya. Ah, tidak ... pintu ini terkunci. Panik langsung menderaku, kumencoba mendobrak tapi pintu itu tak mau terbuka juga. Aku terduduk lemas di depan pintu. Kubenamkan wajah di kedua lututku.
 
"Kakak cantik tak sendiri, aku akan menemanimu, Kak."
 
Aku mengangkat kepalaku, mencari di mana suara—seperti anak kecil—yang barusan terdengar. Nampak di pojokkan ruangan ini tengah duduk seorang gadis kecil yang sedang bermain dengan bonekanya. Tubuhku langsung gemetar, suhu ruangan pun mendadak turun. 
 
"Tidak mungkin ... aku jelas sendiri saat tersadar tadi. Dari mana gadis kecil itu muncul?" gumamku lirih, kulayangkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, tak ada jendela. Lalu, gadis kecil ini dari mana?
 
"Kak, bermainlah denganku! Aku sudah lama tak punya teman bermain. Hanya Bety-lah temanku. Kita bisa main petak umpet, aku merindukan itu," ajaknya langsung menatapku, memperlihatkan wajahnya yang sedari tak menunduk.
 
Aku terkejut, wajah itu ... wajah itu penuh dengan hewan-hewan kecil yang menggeliat. Bola matanya pun sudah hampir terlepas, "Tuhan ... apa yang kulihat ini?" ucapku dalam hati, sambil menutup mulutku dengan tangan, agar tak menjerit.
 
"Kak, aku yang ke situ ya? Kita bermain bersama Bety," tanyanya langsung bangkit dan menghampiriku.
 
Bau anyir dan busuk langsung tercium begitu gadis kecil itu berdiri di depanku. Aku hanya terdiam, tak mampu aku bergerak. Aku menatap gadis itu dengan rasa takut, bukan hanya wajah, hampir seluruh tubuhnya penuh dengan hewan kecil itu. "Tempat apa ini? Tuhan, bangunkan aku jika aku bermimpi ..." jeritku dalam hati.
Aku mulai merasa mual. Aku bergeming saat tangan dingin gadis kecil itu memegang tanganku.
 
"Ayo Kak main petak umpet! Jika Kakak menang, akan kubantu membuka pintu itu. Biar aku yang jaga duluan." 
 
Gadis kecil itu mulai menutup matanya. Aku mendadak bingung. Kupandangi seluruh ruangan, mulai mencari tempat sembunyi. Belum sempat kumelangkah, gadis kecil itu kembali membuka matanya.
 
"Jika kalah, Kakak akan di sini selamanya, menemaniku bermain, hihihi ...," ucapnya dengan tawa yang membuat aku ketakutan.
 
Boni
 
Entah apa yang tengah menimpaku kini, aku terbaring sendiri—tanpa kelima temanku—begitu kusadar. Kupandangi seluruh ruangan ini. Banyak bangku dan meja yang tersusun rapi. Tempat apa ini? Sepertinya, sudah lama tak berpenghuni. Semuanya sudah tampak kusam, banyak sarang lebah di mana-mana. Mataku menangkap sesosok bayangan di ujung ruangan ini. Mungkinkah salah satu temanku? Sosok itu berjalan mendekat, sepertinya ia tahu dirinya sedang diperhatikan. Samar terlihat rambutnya panjang sepinggang.
 
Sosok itu berjalan gontai, sungguh aku mulai merasa gemetar. Aku tak berniat bangkit, kepalaku masih merasa berputar-putar. Kupejamkan mata, pasrah menunggu sosok itu mendekatiku.
 
Tap ... tap ... tap ...!
 
Sosok itu semakin mendekat, keringat dingin mulai keluar dari pori kulitku. Oh, Tuhan ... aku tak berani membuka mataku. Tak lama, kurasakan tangan dingin menyentuh lembut lengan tanganku. Oh, tidak ... ini pasti tangan sosok berambut panjang itu.
 
"Bon ... Bon, lu kenapa? Lu nggak apa-apa, kan?" teriak sosok itu sembari menggoyangkan tubuhku dengan lembut.
 
Suara ini aku kenal, suara sahabatku. Kuberanikan diri membuka mata. Ah, benar ternyata ... sosok itu adalah Mita. Ia jongkok disampingku, menatap cemas.
 
"Mita, gue pikir tadi elo itu ...," aku tak meneruskan ucapanku, melihat Mita menertawakanku.
 
"Nggak nyangka, ketua osis beken ini penakut. Ayo, bangun! kita cari yang lainnya," ucapnya sembari menarik tanganku.
 
Aku tersenyum malu mendengar ucapan Mita. Tak kusambut ajakannya beranjak dari tempat ini. Ia menatap heran padaku yang masih berbaring.
 
"Kenapa? lu nggak mau mencari temen-temen?" tanyanya heran.
 
"Gue masih pusing. Migran gue kumat lagi, lu nggak lihat keringat dingin yang membanjiri tubuh gue."
 
Mita menyentuh dahiku, wajahnya tampak cemas.
 
"Lu lagi sakit, Bon? Kepala lu panas banget."Ucapnya cemas.
 
"Gue nggak apa-apa, cuma kemarin sempat demam. Di sini dingin banget, kayanya itu yang bikin gue demam lagi."
 
Wajah Mita tertunduk, nampak air mata mulai mengalir dari pelupuk matanya. Aku terkejut dan mencoba bangkit.
 
"Maafkan aku, Bon. Ini semua gara-gara permintaan konyolku, kita sekarang terjebak di gedung yang bahkan tak tahu di mana."
 
"Sudahlah,Mit. Ini udah terlanjur terjadi, tak perlu kau menyalahkan dirimu. Kita semua juga setuju kan tadi. Nggak sepenuhnya salah lu, Mit." Ucapku menghiburnya.
 
Gadis itu menyeka airmatanya, tersenyum kembali.
 
"Terima kasih atas pengertian lu, Bon. Lu bisa jalan kan? Kita cari mereka. Gue yakin sekarang lu sangat khawatir dengan Marisa."
 
Aku mengangguk, menyanggupi permintaan Mita mencari Marisa, Ridwan, Dani dan Nila. Kupaksaan tubuh ini berdiri, berpegang pada tembok yang berada di sisi kananku. Oh ... kepalaku masih begitu sakit. Kumeringis menahan sakit yang menyerang kepalaku. Kusandarkan tubuh ke tembok. Mita memegang tanganku, nampak ia begitu khawatir dengan keadaanku.
 
"Bon, lu pucet banget. Lu istirahat di sini aja, ya? Biar gue yang nyari! Gue takut kondisi lu makin memburuk."
 
"Nggak, Mit. Gue juga pengen ikut. Gue akan tahan, bentar lagi juga baikan. Gue biasa begini kok," ucapku meyakinkannya.
 
"Oke! tapi jika lu ngerasa nggak kuat berjalan lagi, lu langsung ngomong ya?"
 
"Iya, Bos."
 
Aku tahan rasa sakit yang menyerang kepalaku. Mulai berjalan meninggalkan ruangan ini. Mita memegang erat tanganku. Memandangnya mengingatkanku akan Marisa. Semoga ia baik-baik saja. Tak lama, kami telah berpindah ke ruangan lain. Nampaknya ini bekas sebuah asrama dan jelas telah lama ditinggalkan. Saat melewati sebuah ruangan, tiba-tiba Mita berhenti. Wajahnya menunduk, terlihat ketakutan.
 
"Kenapa Mit? kok berhenti? Ruangan apa itu?" berentet pertanyaan meluncur begitu saja.
 
"Itu kamar mandi, Bon. Di sana ada ... ada ...," ia mengangkat wajahnya, raut cemasnya terlihat sangat jelas.
 
Ah, jangan-jangan ... Mita melihat makhluk astral lagi. Ia memang sering melihat hat-hal seperti itu. Bulu kudukku mulai meremang.
 
"Jangan nakutin gue, Mit! Cukup saat di sekolah saja!"
 
"Beneran Bon, di sana ada ... ah, sudahlah! Kita tinggalkan saja ruangan ini. Kumohon, kali ini kau juga bisa melihat sosok itu." Ucapnya menyeretku.
 
"Ah, aku tak terlalu peka untuk hal-hal seperti itu. Jadi ...," belum sempat kuselesaikan ucapanku, terdengar suara cekikikan di belakang kami.
 
"Hihihihi ...."
 
"Bon ... sosok itu ... sosok itu ada di belakang kita. Jangan menengok! kita lari sekarang!" ucap Mita ketakutan.
 
Mita langsung berlari sembari menarik tanganku. Jantungku berdetak semakin kencang, sosok itu seolah mengikuti kami. Aku tak sempat menengok, aku terlalu takut. Hampir lima belas menit kami berlari. Kami berhenti di salah satu ruangan. Aku langsung jatuh terduduk, nafasku tak beraturan. Aku mulai batuk-batuk dan dadaku terasa sesak. Oh, Tuhan ... Jangan sekarang ... Aku tak membawa inhaler-ku. Nafasku semakin sesak. Samar-samar kudengar teriakan Mita sebelum semuanya gelap.
 
Mita
 
Aku sangat senang hari ini. Aku akan bersama Boni sepanjang waktu, tanpa ada gangguan siapapun. Yah, bahkan tanpa Marisa, kekasihnya. Hahaha ... aku senang sekali menyadari hal itu. Kau tahu? Apa yang terjadi hari ini adalah rencanaku. Menggunakan alasan ritual di film anime untuk membuat semua ini. Ritual Sachiko tak benar-benar ada. Semua instruksi dalam ritual itu adalah akal-akalanku saja--untuk membuka mata batin mereka. Ehm, aku ingin mereka merasakan apa yang aku alami selama ini, untuk bisa melihat makhluk halus. Hmm, aku bayangkan mereka akan ketakutan setengah mati. Membayangkan hal itu ingin rasanya aku merekamnya, tetapi ... aku tak punya cukup waktu. Jadi, aku akan mendengarkan curhatan mereka saja dan berpura-pura tak tahu tentang hal itu. Selama ini tak ada yang sepenuhnya percaya akan kemampuanku itu. Hanya Boni dan Marisa, juga Ridwan—yang mencintaiku. Ridwan-lah yang membantuku memuluskan rencana ini. 
 
Aku sangat menyukai Boni, sahabatku sedari SMP. Namun, ia hanya menganggapku sebagai sahabatnya. Tak lebih dari itu. Apalagi di SMA ini, dia bertemu dengan Marisa—gadis tercantik dan terpandang di SMA-ku. Ia jatuh cinta dan menjadikan gadis itu menjadi kekasihnya. Aku jadi membenci Marisa, walaupun ia sangat baik kepadaku, tetapi aku tak pernah menyukainya. Aku hanya berpura-pura menjadi sahabatnya, tentunya untuk memonitor kegiatannya bersama Boni. Ah, mengingat hal itu aku jadi sedih, tetepi yang penting sekarang Boni akan bersamaku. Aku tinggal menghampirinya di ruangan di mana Ridwan membawa cowok ganteng itu.
 
Kesenangan yang kuharapkan ternyata tak sepenuhnya kudapat. Boni tergolek lemah di ruang TV bekas asrama ini. Aku begitu cemas menyadari tubuhnya sangat panas—demam. Aku merasa bersalah. Terlebih tak lama setelah kami berlari untuk menghindari salah satu makhluk halus di toilet, sepertinya ia merasakan nafasnya sesak. Aku begitu ceroboh melupakan penyakit yang diderita Boni—penyakit asma. Tubuhnya mendadak lemas dan kini dia pingsan. Aku panik, kucoba mencari inhaler atau obat yang mungkin dia bawa di saku atau ... Oh, Tuhan ... semuanya ada di dalam tasnya dan tas Boni tak terbawa. Bodoh ... bodoh ... bodoh!! Aku memang bodoh. Aku membahayakan nyawa orang yang kucintai karena keegoisanku. Tuhan ... tolonglah aku sekali ini saja. Selamatkan Boni-ku.
 
"Boni ... kau harus bertahan ya? Aku akan melakukan yang terbaik untukmu," gumamku lirih, terisak.
 
Aku bangkit dan berbalik, sosok yang kami temui di toilet telah berdiri di depanku.
 
Dani 
 
Aku semakin tak suka dengan Mita. Gara-gara ide konyolnya itu, aku tak bisa menikmati akhir pekanku bersama Nila. Ah, andai saja aku tetap teguh pada pendirianku, tentu saja aku tak berada di tempat jelek ini. Marisa, Boni dan Nila terlalu baik kepada gadis aneh itu. Yah, dia gadis aneh bagiku. Selalu berbicara tentang makhluk halus yang ia lihat. Mengaku dirinya memiliki kelebihan, indera keenam. Sekarang apa yang harus aku lakukan di sini. Aku benar-benar sendiri. Mungkin, aku harus mencari teman-temanku. Aku sangat khawatir dengan Nila dan Marisa. Aku tahu ada yang salah dengan gadis yang bernama Mita itu. Aku yakin itu. 
 
Aku memulai pencarianku. Tempat ini sangat luas. Entah butuh berapa lama untuk menemukan mereka semua. Kumelihat sebuah tangga tak jauh dariku. Sepertinya aku akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Tapi, aku tetap akan mencari mereka semua. Entah mengapa perasaanku tak menentu. Tiba-tiba aku kepikiran Boni, sang ketua osis yang menjadi sahabat terbaikku. Ah, dia punya asma. Dan, tas-nya ada padaku. Oh, Tuhan ... semoga firasatku salah. Aku harus cepat-cepat menemukan mereka semua. Samar kudengar suara tangisan di ruangan yang terkunci di depanku. Langkahku terhenti. Sepertinya suara ini tak asing.
 
"Halo ... siapa di dalam?" teriakku memastikan.
 
"Tolong aku! Pintu ini tak bisa terbuka. Siapa pun yang ada diluar, tolong bantu membuka pintu ini. Aku takut ...," teriak suara dari dalam ruangan.
 
Aku tahu, ini suara Marisa. "Marisa ... ini kamu kan? Kamu mundur dulu, ya? Aku akan mendobrak pintu ini."
 
"Iya, ini aku. Kamu, Doni?"
 
"Iya, Sa. Sekarang, kamu jauhi pintu!"
 
"Baik."
 
Aku mencoba sekuat tenaga membuka pintu ruangan. Mendorong tubuhku ke pintu. Dua kali mencoba, aku gagal. Aku tak menyerah, tak mau kehilangan kesempatan untuk membantu kekasih sahabatku. Kudobrak pintu ini lagi. Dan ....
 
Sosok Marisa tampak begitu kacau. Matanya sangat merah. Ia langsung memelukku.
 
"Makasih, Don. Aku takut. Gadis kecil itu sedang sembunyi sekarangi. Kita pergi dari sini! Sebelum gadis kecil itu kembali," ucapnya setengah terisak.
 
Aku mengangkat kedua alisku. Gadis kecil? Aku sama sekali tak tahu maksud Marisa.
 
"Gadis kecil siapa?"
 
"Akan kujelaskan nanti. Please, kita menjauh dari tempat ini," Marisa menarik tanganku, mengajakku berlari. Tangannya dingin. Sepertinya, ia sangat ketakutan.
 
Kami terus berlari. Marisa terus saja mengajakku berlari, tak kenal lelah. Padahal, ruangan itu sudah jauh.
 
"Sa ... berhenti dulu! Aku capek," pintaku, aku menghentikan langkahku. Mengatur pernafasanku.
 
"Maaf, Don. Sepertinya kita bisa istirahat di sini. Kita sudah jauh dari ruangan itu."
 
Aku mengangguk. Kuhempaskan tubuhku dilantai, duduk.
 
"Sekarang, kamu jelaskan kejadian di ruangan tadi," tuntutku menagih janji.
 
Marisa ikut duduk bersisihan denganku. Nampak ia menghela nafas.
 
"Saat kutersadar di ruangan itu, tak lama ada seorang gadis kecil dengan wajah penuh belatung mengajakku bermain petak umpet. Aku nggak tahu, kenapa aku bisa melihat makhluk seperti itu. Sebelumnya aku tak pernah. Aku yakin, gadis itu bukan manusia. Gadis kecil itu ... dia ...," Marisa menatapku, "dia hantu, Don."
 
Aku terkejut. Hantu? Marisa bisa melihat sosok hantu? Pasti ini ada hubungannya dengan permainan yang dibuat Mita. Yah, gadis itu membuat kami terjebak di sini dan menyuruh kami menjalankan sebuah ritual. Ada sesuatu yang direncanakan gadis itu. Dan, ini ada hubungannya dengan Boni. Benar, ini semua berhubungan dengan sahabatku Boni. Tapi, apa ya?
 
"Don ... Don, kamu nggak apa-apa?" suara Mita menyadarkan lamunanku.
 
"Iya, Sa. Aku baik-baik aja. Aku curiga dengan Mita. Pasti ini semua sudah direncanakan. Kita cari yang lain, sekarang! Aku takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Aku kepikiran Boni dari tadi. Inhaler-nya ada bersamaku. Kamu tahu kan, kalo Boni panik, ia bisa ...," Marisa menutup mulutku. Di sudut matanya nampak airmata.
 
"Jangan berpikiran buruk, Don! Terlebih tentang Boni. Lebih baik kita cari mereka sekarang! Aku ragu dengan semua dugaan kamu. Mita teman yang baik."
 
Aku mengangguk. Percuma aku menentang ucapan Marisa. Dia terlalu baik. Aku salah mengungkapkan pemikiranku tentang Mita padanya. Hal seperti ini memang akan terjadi. Kami bangkit dan meneruskan perjalanan kami, menuruni tangga. Tampak sesosok gadis dengan seragam seperti kami ada di salah satu anak tangga. Gadis dengan rambut berkuncir kuda. Nila. Kami menemukan Nila.
 
"Nila!" teriakku senang sembari mempercepat langkahku. Kuberlari menyusulnya. Nila mendongakkan wajahnya. Senyum merekah dibibir mungilnya. Ia bangkit dan menghampiriku.
 
"Doni," Nila memelukku. "Aku sudah mencarimu dari tadi. Aku senang bis bertemu dengan pangeran tampanku," ucapnya genit, tak menyadari kehadiran Marisa.
 
"Nila, kamu membuatku iri saja," goda Marisa.
 
Nila tersentak kaget. Ia melepaskan pelukannya. Wajahnya bersemu merah, malu.
 
"Marisa ... kamu barengan sama Doni?" Nila menjauhiku, mendekati Marisa dan memeluk tubuh gadis itu.
 
"Iya, Nila. Sekarang kita lanjutkan mencari yang lain. Perasaanku nggak enak dari tadi," pinta Marisa.

****

Lanjut ke part 2 yaa ;)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

~ Detective And The Gank : Tragedi UN ~ Part 8 (part terakhir)

Last Part

Jam menunjukkan pukul 07.30, padahal waktu pengumuman masih satu jam setengah
lagi.
Tapi Rino sudah berada di sekolah, ia amat tergesa-gesa. Sepertinya ia mencari
seseorang.
"Rino, sedang apa disini sayang? Pengumuman nanti jam 9"ucap bu Laras
dengan manisnya.
"Bu, ada yang ingin saya bicarakan"sahutnya.
"Ada apa sayang?katakan apapun yang kamu inginkan!"tanya bu Laras
dengan senyum menggoda.
"Kita harus menyerahkan diri bu, kita harus mengakui kesalahan kita dan
bertanggungjawab atas kematian mereka"pinta Rino. Mendengar permintaan
itu, wajah manis bu berubah menjadi wajah iblis.
"Apa maksudmu berkata begitu? Kamu mau kita dipenjara?"tanya bu Laras
Rino terdiam, "Tapi bu, mereka menghantui saya. Mereka meminta
tanggungjawab kita"
"Kalau begitu kamu saja yang serahkan diri kepolisi" "Tapi kan
bukan saya yang membunuh mereka"
"Kalau begitu, tutup mulutmu! Sebelum aku yang menutup mulutmu
selamanya"
Mata bu Laras melotot, jari telunjuknya menunjuk-nunjuk muka Rino.
Tanpa mereka sadar, ada yang mendengarkan percakapan mereka.
"Laras, Rino, apa maksud kalian? Pembunuhan apa yang sedang kalian
bicarakan? Atau jangan... "ucap bu Clara terputus, "Clara" bu
Laras kaget, "Kalian yang membunuh 2 pengawas itu? Benarkah?"tanya bu
Clara terheran-heran.
"Gak buk, bukan saya pelakunya. Bu Laras yang membunuh mereka. Saya hanya
saksi saja bu"bantah Rino
"Keparat kau Rino"bentak bu Laras.
"Laras, tega sekali kau? Kenapa kau lakukan itu?"
"Halah, diam saja kau Clara. Kenapa aku melakukan itu? Ya tentu harus ku
lakukan, mereka menghancurkan impianku, rencanaku. Dan sekarang kau sudah tau
semuanya, kau harus menyusul mereka. Kau harus matii!" bu Laras menceking
bu Clara hingga tersender di dinding.
"Mati kau Clara!" "La... ras... hentikaaann"bu Clara mulai
sulit bernafas.
"Bu, berhenti bu, bu Clara bisa mati" "Diam kau Rino, atau ku
bunuh juga kay"acamnya.
Rino terdiam, dia gelisah ingin membantu dan menhentikan pembunuhan itu. Tapi
sayang, dia terlalu takut pada bu Laras.
"La... ras... kau... akan... menyesal"itulah kata-kata terakhir bu
Clara, kemudia ia pun berhenti bernafas.
"Dia mati bu"ucap Rino kaget, "Hahahahha... Ya, sekarang bantu
aku, seret dia ke kelasnya! Kita akan membuat drama baru"senyum licik pun
terlihat diwajah bu Laras.
Bak terhipnotis, Rino melaksanakan perintah bu Laras.
Mereka menyeret bu Clara, lalu digantungnya bu Clara seolah-olah ia bunuh diri.
***
"Ckckckck..."Iko berdecak heran sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya.
"Tega sekali kau. Dan kau Rino? kau, kau bodoh sekali"bentak Iko
murka.
"Hahahahhaha..."bu Laras terbahak-bahak melihat kemarahan Iko,
sedangkan air mata Rino semakin deras. Ia sangat menyesal, tapi semua sudah
terlambat. Ia sudah terlanjut terlibat kasus pembunuhan itu.
"Baiklah Iko, sekarang semuanya sudah selesai. Terlalu banyak yang sudah
kau ketahui dan seperti kataku tadi, semua hal yang kau ketahui ada resikonya.
Sudah siap menerima resikomu Iko?"tanya bu Laras.
"Apa maksudnya?"
"Maksudnya... Kau dan teman-temanmu harus mati!"
Iko dan Rino pun tersentak mendengar perkataan bu Laras.
"Tidak, kau tak bisa membunuh kami"
"Tentu saja bisa Iko, dan kau akan menjadi saksi kematian
teman-temanmu"bu Laras mengambil Pisaunya, "Mulai dari kau Rino
sayang"bisiknya seraya menyodorkan mata pisau di area wajah Rino.
Rino amat ketakutan, "Bersiaplah"teriak bu Laras menggema.
Ia mengangkat pisau yang dipegangnya tinggi-tinggi, dan...
"Tiddaaaakkk... "
Doorrrr... "Aaaaa"
tiba-tiba sebuah peluru melesat dan bersarang di tangan bu Laras membuat
pisaunya terjadi.
"Angkat tangan! Kau sudah dikepung!" ternyata sersan Eddi dan
pasukannya datang menyergap bu Laras.
"Tangkap dia!"perintah sersan Eddi pada anak buahnya.
"Tidak, lepaskan aku! Iko, lihat saja kau! Kau akan menerima
balasannya"teriak bu Laras
Iko hanya diam saja, tak terbesit sedikitpun rasa takut mendengar kata-kata
itu.
Sersan Eddi pun melepaskan ikatan detektif Harris dan menyuruh anak buahnya
melepaskan yang lain juga.
"Harris, apa kau tak apa?"tanyanya panik.
Detektif Harris yang telah sadar mengangguk.
***
"Harris, aku minta maaf! Aku tak mempercayai perkataanmu, ternyata aku
terlalu bodoh hingga terkelabui oleh penjahat itu"sesal sersan Eddi.
"Sudahlah Ed, semuanya sudah berakhir... Lalu bagaimana kau tau
keberadaanku?"tanya detektif
"Hmm... sepertinya naluri kedetektifanmu sudah menural padaku. Aku hanya
berfirasat akan ada sesuatu yang buruk terjadi padamu. Lalu aku kemari, karena
aku yakin kau pasti masih menyelidiki kasus ini"ucap sersan sambil
tersenyum.
"Terimakasih Ed, kau memang sahabat terbaikku"
Sersan Eddi tersenyum, "Dan untuk kalian, terimakasih telah membantu kami.
Besok kalian dan detektif silahkan menghapad ke kantor. Kalian akan jadi saksi
kasus ini"lanjut sersan Eddi
"Baik Pak!"jawab mereka kompak.
Sersan Eddi pun berlalu pergi.

"Sekali lagi terimakasih atas kerjasamanya"ucap detektif Harris pada
4 sekawan
"Ahh, itu bukan apa-apa pak!"ucap Bondan merendah.
Robbi dan Ujang pun ikut mengangguk, sedangkan Iko hanya tersenyum.
Detektif memandang kearah Iko, seperti ada yang ingin disampaikannya.
"Lalu, bagaimana dengan sekolah kalian? Apa kalian akan melanjutkan
keperguruan tinggi?"tanya detektif
"Ya pak"ucap mereka kompak kecuali Iko, Iko hanya diam saja.
"Kamu Iko?"tanya detektif lagi
"Ahh, saya ini cuma anak yatim-piatu yang tinggal di sebuah panti asuhan
pak. Mana mungkin saya punya biaya untuk kuliah"
"Lah ko, tapi kan loe pinter. Loe pasti bakalan dapet beasiswa"potong
Ujang belagak bijak.
Iko diam saja.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kamu ikut saya? Saya akan mengadopsi kamu
dan membiayai kuliah kamu"ajak detektif
4 sekawan pun kaget, ada kebahagian terpancar-pancar dari wajah mereka.
"Bagaimana? Nanti kamu melanjutkan ke perguruan tinggi tempat saya menempa
ilmu kedetektifan saya. Saya yakin, suatu saat kamu akan jadi detektif yang
propesional"
"Serius detektif?" "Tentu"
Iko tersenyum bahagia, ia melihat keteman-temannya. Teman-temannya mengangguk
seraya ikut terseyum menandakan mereka ingin mendengar kau setuju dari Iko.
"Baiklah pak, sama mau. Terimakasih pak"
"Sama-sama"

***
Beberapa hari kemudian, Rino dan Bu Laras ditetapkan bersalah.
Rino dipenjara di Rutan khusus remaja, dan dia mulai merenungi kesalahannya
disana.
Sedangkan bu Laras, ia menjadi penghuni baru disebuah Rumah Sakit Jiwa.
Ya, bu Laras divonis sakit jiwa.

Ditempat lain, tepatnya di Bandara.
Terjadi sebuah perpisahan sementara yang super singkat diantara 4 sekawan.
Robbi, Ujang dan Bondan mengantarkan Iko yang akan terbang keluar negeri untuk
menggapai cita-citanya menjadi seorang detektif.
"Ko, Loe jangan pernah lupain kita-kita ya! Kalo loe uda berhasil, loe
harus ingat gue sahabat loe ko"ucap Bondan seraya menangis kecil
"Iya ko, loe baik-baik disana. Jangan lupain kita. Kita seneng banget
punya sahabt kayak elu"sambung Robbi
"Gue juga senang punya sahabat kayak kalian. Gue ga akan pernah lupain
kalian"ucap Iko menenangkan teman-temannya yang mulai sedih dengan
kepergiannya.
"Ko, gue janji deh kalo loe balik nanti, gue ga akan nyomot mangkok bakso
loe lagi. Janji!"ucap Ujang sambil mewek agak keras.
"Hahahahaha... Bisa aja loe jang"ucap Iko sambil menepuk pundak
Ujang.
"Iko, ayo berangkat! Pesawat sebentar lagi berangkat"perintah
detektif Harris
Iko menangguk, "Baiklah, gue berangkat dulu. Jaga diri kalian
baik-baik"
Lalu Iko berlalu pergi.
Trio yang ditinggalkan pun berpelukan melihat kepergian sahabatnya ini.
"Ko, loe bakalan kembali kan?"
Iko menoleh dan tersenyum...
"PASTI"

THE END

****

Thanks buat reader yang udah baca dari part 1 sampe part 8 ini.. :))
Powered by Telkomsel BlackBerry®

~ Detective And The Gank : Tragedi UN ~ Part 7

Part 7

Pria itu turun dari mobilnya, perlahan tapi pasti ia menuju pintu gerbang
sekolah.
Iko dan teman-temannya yang sedang sembunyi terus memperhatikan pria itu.
Iko berdiri paling depan, di belakannya Robbi, di belakang Robbi, Bondan, di
belakang Bondan, Ujang.
Iko agak mengerutkan keningnya, feelingnya mengatakan bahwa pria itu adalah
seorang detektif.
Ya benar, ternyata pria itu adalah Harris.
Sedang asyik-asyiknya Iko memperhatikan Harris, Ujang yang posisinya paling
belakang mulai rusuh.
Ujang parno karena berdiri paling belakang, dia takut kalau nanti ada sesuatu
yang menyentuhnya dari belakang.
Akhirnya dia mulai protes, "Bon, tukeran tempat dong! Gue takut
ni"pintanya.
"Ahh, cemen loe. Udah diam aja di situ!"sahut Bondan ketus.
"Tega loe"ucap Ujang cemberut, "Husst, jangan ribut
napa?"tegur Robbi, "Si Ujang ni rusuh" "Gue cuma minta
tukeran tempat doang" "Ssssttt... "
Ujang celingak-celinguk kiri-kanan, karena sangkin takut dan parnonya dia tidak
sabar badan gembrotnya sudah bersenderria di badan Bondan. Bondan yang tak
sanggup menahan berat badan si Ujang akhirnya jatuh menimpa Robbi, sedangkan
Robbi jatuh menimpa Iko, nah Iko... malangnya ia tersunggkur kedepan.
BRUUUAAAAKKKK ... "HADOOOWWW"teriak mereka berbarengan.
Mendengar suara ribut-ribut, detektif Harris menoleh kesumber suara.
Di lihatnya 4 orang pemuda sudah saling timpa-menimpa bagaikan ikan pepes.
"Siapa kalian?"tanya detektif, mereka pun segera bangkit.
"Kami... kami..."ucap Robbi gelagapan, "Kami siswa SMA ini
pak"sambung Iko.
"Oh, sedang apa kalian disini?"
"Kami mau nyelidikin kasus pembunuhan bu Clara dan 2 pengawas UN
pak"cerocos Ujang sambil muncrat-muncrat.
"Sssttt jang, lu kok kasih tau ni orang tentang tujuan kita
sih?"protes Bondan, "Ehh, salah ya?"tanya Ujang seras tak berdosa.
"Apa maksud kalian? Bukankah kasus-kasus itu hanya kecelakaan dan
percobaan bunuh diri?"pancing detektif
"Kami tidak yakin dengan keputusan polisi pak. Saya rasa ini
pembunuhan"sahut Iko
"Kenapa kamu berpikiran begitu?"
(ni detektif kepo banget yak nanya mulu -_-)
"Kami curiga Rino yang melakukannya pak"sekali lagi Ujang nyerocos.
"Ehh, ember bocor, diem!"pelotot Bondan, "Ehh, salah lagi
ya?"tanyanya tanpa dosa.
"Rino? Siapa Rino?" "Rino salah satu teman kami yang sempat
punya masalah dengan 2 pengawas itu sebelum mereka tewas pak"jawab Robbi
"Hmm..." Sejenak detektif Harris berfikir lalu ia berkata "Ayo
ikut saya!"
4 sekawan mengikuti detektif memasuki pintu gerbang.
Di gerbang seorang satpam membiarkan mereka masuk, satpam itu tersenyum lalu
berkata "Apa bapak butuh bantuan?" "Terimakasih pak, nanti jika
saya butuh saya akan minta tolong bapak"jawab detektif seraya tersenyum, 4
sekawan pun ikut terseyum.
***
Malam ini sersan Eddi tak ada tugas, ia sedang istirahat di rumahnya.
Rencananya ingin tertidur pulas, ia malah tak bisa memejamkan mata.
Pkirannya melayang, hatinya tak tenang.
Dia merasa ada sesuatu yang mengganjal.
Tiba-tiba saja ia teringat pada Harris, hatinya makin tak tenang.
Ia merasa ada sesuatu yang akan menimpa Harris.
***
"Baiklah, ceritakan tentang apa yang kalian tau!"perintah detektif
Harris.
Akhirnya Iko pun menceritakan semua hal yang ia tau mulai dari kejadian Rino
yang ditegur pengawas, Rino yang meminta permisi sesaat sebelum penemuan mayat,
sikap Rino yang tiba-tiba pucat sehabis dari toilet, lalu semua
kejanggalan-kejanggal yang di firasati oleh Iko.
Iko juga mengatakan tetang kotak biru berpita merah, setelah Iko tau apa isinya
dari gosip yang beredar. Dia merasa aneh, kenapa pengawas itu tiba-tiba
memiliki kotak? seperti sudah disiapkan sebelumnya.
Dan anehnya, kalau memang pengawas itu mau bunuh diri kenapa harus di sekolah
itu? Kenapa tidak dirumahnya saja?
Ketika mendengar opini Iko itu, seketika detektif tertegun.
Ah, ia tak perna terpikir untuk melontarkan opini begitu ke Eddi, ia
melupakkannya. Padahal jika ia mengatakan itu pasti Eddi akan berpikir ulang
dan akan merasakan kejanggalan sama seperti yang ia rasakan.
Selain menjelaskan tentang itu, Iko juga mengutarakan keanehannya perihal
ketidak lulusan teman-temannya dan kemudian ditemukannya bu Clara sedang
gantung diri.
Menurut mereka berempat, bu Clara itu orangnya tegas dan tidak mentolerir
kesalahan siswa/i nya.
Tapi kenapa karena ketidak lulusan ini bu Clara justru bunuh diri?
Detektif mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.
"Saya rasa ketidak lulusan itu adalah sabotase si pembunuh. Entah iya itu
Rino atau malah ada orang lain di balik Rino"simpul detektif, "lalu
di mana Rino berada sekarang?"lanjutnya.
"Kami tidak tau pak, sebelumnya kami sudah kerumahnya. Tapi kami tidak
menemukan dia, dan dirumahnya juga tak ada petunjuk sama sekali"jawab Iko.
"Hmm... Kalau begitu sekarang kita selidiki saja dulu penyabotasean hasil
ujian XII IPS 2! Mungkin setelah ini akan ada petunjuk baru"usul detektif
"Baik pak!"sahut 4 sekawan
"Sekarang kita berpencar, 2 orang periksa di kantor guru, 2 orang lagi
periksa di ruang kelas XII IPS 2 tempat bu Clara gantung diri. Saya sendiri
akan periksa kantor kepala sekolah. Ini kuncinya"detektif menyerahkan 2
buah kunci pada mereka. Mereka pun menganggu dan mulai berpencar. Robbi dan Iko
ke kantor guru, Bondan dan Ujang ke kelas XII IPS 2 sedangkan detektif ke
kantor Kepsek.
Tanpa mereka sadari, sepasang bola mata sedang mengamati mereka daritadi.
Orang itu menggenggam kedua tanggannya, terdengar suara gemelutuk giginya.
Ia sepertinya marah melihat orang-orang itu ikut campur urusannya.
***
Bondan dan Ujang berjalan menuju kelas XII IPS, Ujang yang penakut sedaritadi
tak lepas memegang kerah baju Bondan.
"Jang, lepasin napa sih? Ntar gue dikira maho lagi"protes Bondan,
"Emang siapa yang liat? Kan di sini ga ada orang bon"ucap Ujang
sambil kedap-kedipin matanya.
"Ihh, najis loe" "hahaha... bercanda kali" jwb Ujang seraya
menjulurkan lidahnya.
Saaappp... tiba-tiba ada bayangang yang lewat di belakang mereka. Sontak mereka
berbalik, tak ada siapa pun.
"Apaan tuh tadi?"tanya Ujang sambil merapatkan badannya ke Bondan.
"Gue gak tau"
Seerrtt... Seeerrtt... Seerrrttt...
Terdengar suara kayu yang diseret-seret dengan beratnya.
Mereka berdua mulai ketakutan, keringat bercucuran.
Tanpa mereka sadar di belakang mereka berdiri seseorang yang mengenakan jubah
hitam deng muka tertutup dan mengenakan sarung tangan hitam.
Bukkk... Buukkk... terdengar suara pukulan bagaikan suara buah kepala yang
jatuh dari pohonya.
Kedua anak manusia ini pingsan seketika.
***
Di tempat lain, Iko dan Robbi mulai mencari-cari petunjuk di ruang guru.
Tak ada apapun yang bisa dijadikan petunjuk disana. Tiba-tiba Robbi menunjukkan
sesuatu pada Iko.
"Ko, lihat deh ini"ucap Robbi seraya menyodorkan sebuah map.
Ternyata map itu berisikan kertas yang isinya beberapa nama guru favorit di SMA
HARAPAN sejak awal tahun pertama sampai tahun lalu, disitu tertuliskan beberapa
nama dan 5 tahun terakhir terpampan nama bu Laras.
"Ehh, ternyata bu Laras udah 5 tahun ya jadi guru favorit"kata Robbi
"Wajarlah dia kan emang terkenal super baik dan telaten"sahut Iko
"Hehehe... Iya, cantik lagi"Robbi cengar-cengir
"Hahaha..." tanya sedikit muncul di wajah Iko membuat lubang
dipipinya terlihat amat dalam.
Tiba-tiba ia tertarik untuk memeriksa satu meja kerja.
Meja bu Laras, entah kenapa batinnya mendorong agar ia memeriksa meja tersebut.
"Ko, ngapain loe periksa meja bu Laras?" Iko sejenak menoleh kearah
Robbi, tapi dia kembali memeriksa.
Mulai dia buka laci pertama, tak di kunci.
Hanya ada beberapa alat tulis disitu.
Laci kedua, ditemukannya satu buah kunci kecil. "Hmm... Kunci apa
ini?"tanyanya dalam hati
Robbi yang berdiri membelakangi pintu masuk tak sadar kalau dibalik pintu ada
seseorang yang sedang menggeram karena melihat mereka.
Tiba-tiba, bukkk... Robbi pingsan. Iko kaget mendengar suara tersebut segera ia
menoleh kearah Robbi. Tapi terlambat, orang itu sudah di depan mukannya, dan...
Buukkk...
Iko pun ikut pingsan.
***
Detektif mulai membuka semua lemari kepala sekolah, laci, meja, semua
diperiksa.
Detektif mengamati di sekelilingnya, pandangannya berhenti pada satu kamera
CCTV.
Detektif menaikkan alis kirinya dan senyum kecil tersungging dibibirnya.
Di Lihatnya sebuah layar CCTV yang mati, di bawahnya terletak beberapa kaset.
Sepertinya itu rekaman-rekaman kejadian di ruangan ini.
Di raihnya, tertera tanggal disitu. Ia memulai dari tanggal awal UN.
Samapi di hari ketiga ia menemukan sesuatu yang aneh.
Seseorang mengendap-endap kedalam, mengobrak-abrik amplop dan mengutak-atiknya.
"Benar dugaanku"Ucapnya.
Langsung dimatikannya layar itu, di ambil kasetnya agar bisa menjadi barang
bukti.
Karena terlalu fokus dengan kegiatannya detektif tak sadar ada seseorang yang
masuk kedalam ruangan.
Buukkk... detektif di timpuk menggunakan balok besar di bagian tengkuknya.
Sama seperti 4 sekawan, detektif pun pingsan
***

Matanya perlahan mulai terbuka, pusing masih terasa di kepalanya.
Digerakkan badannya, tapi ternyat ia sedang terikat disebuah kursi.
"Dimana aku?"tanya Iko dalam hati. Di lihatnya sekeliling, "Ahh,
ini gudang sekolah"batinnya.
Tiba-tiba matanya melotot melihat seseorang di depannya. "Rino...
"teriak Iko agak kencang, membuat orang yang dipanggil menoleh.
Ya, Rino tepat ada di depan Iko. Sedang terikat, mulutnya terbungkam dan
mengalir darah dari hidungnya. Mukanya pucat pasi dan tatapan matanya mulai
lemah.
Tak hanya Rino, semua teman-teman Iko termasuk detektif harus pun terikat
sejejer dengan Rino. Hanya saja mereka belum sadar.
"Rino... Apa yang terjadi? Permainan apa ini?"
Rino hanya diam menunduk, "Wah... wah... wah... jagoan kita sudah bangun
rupanya?"tanya seseorang yang baru saja datang. Ika terkejut melihat orang
itu, orang yang tak disangka-sangka olehnya.
"Bu Laras..." "Kenapa Iko? kok kaget begitu?"tanya bu Laras
dengan senyuman licik.
"Apa yang ibu lakukan?" "Iko, ibu tidak melakukan apapun kok.
Ibu hanya ingin menghilangkan rasa penasaran kamu"
"Maksudnya?" "Hmm... bukankah kamu sangat penasaran dengan
kematian-kematian mereka? kamu sangat ingin tau kan siapa pembunuhnya?"
"Ibu tau siapa pembunuhnya? Siapa bu? Apa, ibu..."jawab Iko agak
menerka-nerka.
"Hahahaha... Siapa ya? Oh, tunggu dulu... Menurut kamu siapa? Oh ya,
menurut kamu Rino ya pelakunya?"tanya bu Laras dengan gaya licik. Rino
yang mendengar hal itu tersentak lalu menatap kearah Iko.
Melihat tatapan itu, Iko menjadi tak enak hati. Dia seperti merasa bersalah
telah menuduh Rino.
"Benar Iko, memang Rino lah pelakunya. Tapi lebih tepatnya dia pendukung
pembunuhan itu. Dia tau semuanya, tapi dia bodoh! Menutupi kejahatan, berarti
ikut terlibat bukan?"
Iko mengerutkan keningnya, ia jadi binggung mendengar perkataan bu Laras.
"Bu, jangan berbelit-belit. Katakan siapa pembunuhnya!"desak Iko
"Hahahaha... Jadi kamu benar-benar ingin tau Iko? Baiklah, tapi kamu ingat
ya! Apapun yang kamu ketahui akan ada resikonya"ancam bu Laras.
"Apapun itu"ucap Iko lantang.
"Baiklah, baiklah. Pembunuhnya adalah... AKU"
ucap bu Laras dengan muka iblis.
"Tidak, tidak mungkin"ucap Iko lirih. "Tapi kenapa bu? Kenapa
ibu setega itu?"lanjut Iko agak berteriak.
"Hahahaaha... Tentu aku tega Iko. Aku akan melakukan apapun demi karirku.
Dan kau tau? mereka telah menghancurkan karirku, maka aku pun akan hancurkan
karir mereka"ucap bu Laras sambil mengepalkan kedua tanggannya.
"Karir? Karir apa?" "Hahaha... ya karirku sebagai guru
terfavorit. Kau tau? Sudah 5 tahun aku meraih gelar itu. Tapi karena kebodohan
anak ini, tahun ini aku gagal"ucap bu Laras murka saraya menunjuk kearah
Rino.
"Jadi ini hanya karena gelar bu? Ibu jadi setega itu?"Iko masih tidak
percaya.
"Ya, tentu saja. Lalu apa kau ingin bagaimana caraku membunuh mereka?
Baiklah... Akan ku ceritakan"
***Flash Back***
(Pembunuhan Pertama)
"Yuk pulang"ajak seseorang, "Duluan aja! saya ada panggilan alam
ni, mau ke toilet sebentar" "Baiklah, hati-hati ya"
"Oke"
Pengawas tersebut langsung meluncur ke TKP tanpa disadarinya ada seseorang yang
memperhatikan gerak-geriknya sedaritadi. Seseorang itu mengincar nyawanya.
Setelah selesai dengan panggilan alamnya, pengawas tersebut ingin bergegas
pulang.
Tapi sayang, seseorang menghentikan langkahnya. "Bu, ada apa
ini?"tanya pengawas itu agak kaget karena melihat bu Laras mengacungkan
pisau kearahnya.
Bu Laras hanya tersenyum dingin, tak dihiraukannya pertanyaan itu. Lalu,
"Aaaaaa... " ternyata pisau sudah bersarang di dada pengawas itu,
ditariknya pisau itu turun keperut pengawas. Tak dihiraukannya suara pengawas
yang kesakitan. Darah pengawas itu muncrat sana-sini bahkan di mukanya sendiri,
tapi tidak juga dipedulikannya. "A... pa... sa... lah... ku?"tanya
pengawas itu tersendat. "Kau sudah menghancurkan rencanaku"bisik bu
Laras.
Seketika itu ia merenggang nyawa.
Bu Laras tersenyum kecil, di kuaknya lubang di dada tersebut. Lalu di ambil
jantungnya, dimasukkan ke dalam sebuah kota biru berpita merah yang sudah
disiapkannya. Setelah itu dia membuka sarung tangan yang dikenakannya. Diganti
dengan sarung tangan yang masih bersih. Ia mengambil sebuah buku diary, lalu
menulis sesuatu. Setelah selesai disobeknya kertas tersebut, diselipkan di
antara pita dan buku diary dimasukkan kedalam tasnya.

(Pembunuhan Kedua)
Ia merasa tak tahan lagi, ingin segera ia turuni anak tangga untuk sampai di
toilet guru. Ia ingin segera membuang hajatnya. Tanpa dia sadari ada seseorang
dari belakang yang tengah mengincar nyawanya.
Bukkk... "Aaaaa..."teriaknya kaget karena tubuhnya sudah
terjatuh,berguling-guling ditangga, hingga terhempas sangat sangat kuatnya
kelantai. Dia bersimbah darah, sebelum ia merenggang nyawa. Dilihatnya
seseorang menginjak kepalanya yang penuh darah, dan... "Aaaaa...
"sekali lagi ia berteriak, sekaligus menjadi teriakan terakhirnya.
Orang itu tersenyum puas, lalu diraihnya sepatu korban. Dipotongnya sedikit
haknya, lalu dipatahkan seolah-olah hak itu memang patah akibat tergelincir.
"Bu Laras... Apa yang ibu lakukan?"tanya Rino yang melihat kejadian
tersebut.
Bu Laras kaget, dia kelabakan. Tapi perlahan ia berusaha tenang dan mendekati
Rino.
"Rino, ibu tidak melakukan apapun kok. Ibu hanya mencari keadilan untuk kamy"jawab
bu Laras.
"Keadilan? Keadilan apa by?" "Rino, ibu tau kamu sakit hati
dengan mereka. Mereka telah merusak masa depanmu. Jadi ibu membantu kamu untuk
membalaskan dendam pada mereka"
"Mereka? maksud ibu? Hah? Jangan-jangan ibu yang melalukan pembunuhan
kemarin?"Rino kaget dan agak bersuara kencang.
"Sssstttt... Jangan berisik dong, kalau kamu ribut nanti ada yang dengar.
Kita bisa celaka"bisik bu Laras seraya menempelkan jari telunjuknya di
depan bibir Rino.
"Bu kenapa ibu tega?" "Ini demi kamu sayang"ucap bu Laras
seraya memeluk Rino. "Ibu mencintaimy"dusta bu Laras.
Mendengar hal itu, Rino jadi takluk. Dan setuju untuk menyembunyikan kejadian
ini.
***
Rino menundukkan kepalanya, dari ujung matanya mengalir sungai yang cukup
deras. Ia sangat menyesal telah tergoda dengan wanita iblis yang
menjerumuskannya.
"Kenapa Rino sayang? Kenapa menangis?"tanya bu Laras dengan liciknya.
"Cuih... Murahan!" ucap Iko seraya meludah ke depan. Mendengar
kata-kata itu, mata bu Laras memerah.
"Dasar, anak tak tau diuntung. Bertahun-tahun aku mengajarimu, ini
balasanmu? Apa kau tak punya sopan santun sehingga mencaci gurumu
sendiri?"
"Apa? Mengajariku? Ya kau memang mengajariku. Tapi lihat apa yang kau
lakukan sekarng! Kau seperti penjahat tak berpendidikan. Kau licik"sahut
Iko.
"Hahahaha... Ya ya, terserah apa katamu"
"Lalu, kenapa kau sekap juga kekasihmu itu? Bukankah dia juga kaki
tanganmu?Dan bu Clara, apa kau juga yang melakukannya?"murka Iko
"Hmm... Awalnya begitu, tapi ku lihat dia mulai membangkang, maka kusekap
dia"jawab bu Laras, "Clara, clara, ya... Aku juga yang membunuhnya.
Dia saingan beratku, dan kalau aku tidak menyabotase hasil ujian siswa-siswinya
mungkin dia yang akan menggantikan posisiku sebagai guru favorit. Jadi, ku
bunuh saja dia. Sayangku Rino pun membantuku menggantungnya"ucap bu Laras
seraya melirik Rino. Rino makin dalam menunduk.
"Apa kau mau dengar ceritanya Iko? Begini ceritanya..."

bersambung...
***
Powered by Telkomsel BlackBerry®

~ Detective And The Gank : Tragedi UN ~ Part 6

Part 6

Laki-laki itu merebahkan tubuhnya di ranjang,dilepasnya kacamata yang
sedaritadi melingkar di kedua matanya.
"Huft"nafas panjang terhembus dari sela bibirnya, ia sangat lelah
dengan harinya. Lelah menghadapi kenyataan yang sedang dihadapinya.
"Semua yang telah terjadi memang salahku"ucapnya lirih penuh
penyesalan. "Tapi aku tak bermaksud begitu, aku hanya ingin lebih baik.
Aku ingin lulus"lanjutnya seraya menitikan air mata.
"Sudah terlanjur"batinnya.
Sejenak ia memejamkan mata, ketika ia kembali membuka mata, pandangannya masih
saja gelap.
Ternyata lampu kamar mati, ia bangkit dari tempat tidurnya, dikenakan lagi
kacamatanya.
Tiba-tiba sekelebat bayangan melintas secepat kilat, angin kencang datang entah
darimana. Lampu yang tadinya mati, hidup kembali tapi sinarnya remang, lalu
berkedap-kedip, secara bersamaan jendela kamar Rino terbuka, tertutup, terbuka
lagi, begitu seterusnya. Bruaaakkk... pintu kamarnya terbanding, ia tersentak,
lalu menoleh kearah pintu. Matanya melotot-lotot melihat sosok yang berdiri di
pintu, seorang wanita, penuh darah di sekujur tubuhnya. Dada dan perutnya
terbelah, ususnya menjuntai keluar, mukannya lembam, matanya melotot dengan
ngerinya.
Dengan terbata-bata Rino bertanya, "si si.. siapa kau?"
"hiks hiks hiks" sosok itu malah menangis pilu, amat pilu, sangkin
pilunya siapa pun tak sanggup mendengarnya.
Rino makin ketakutan, ia menutup kedua telinganya.
"Rino... Rino..." disisi lain, di ujung dinding, tiba-tiba muncul
sosok yang lain. Dengan tubuh lembak bagaikan tak bertulung, darah menyelimuti
wajah dan kepalanya, bercucuran dengan amat banyak.
Rino sangat jijik melihatnya, dia hampir saja muntah, tapi ditahan dengan
mulutnya.
"Siapa... siapa... siapa kaliaaaaannn..."teriaknya dengan kuat
menggema.
Kedua sosok itu tak menjawab, mereka hanya melotot kearah Rino, seakan ingin
menerkan Rino, keduanya kembali menangis lirih, lalu tangisan itu tiba-tiba
berubah menjadi sebuah cekikikan, dan mereka terdiam.
Rino bergidik ngeri, ia baru ingat siapa sosok-sosok ini.
"Apa mau kalian? Jangan ganngu aku"ucapnya ketakutan.
Kedua sosok itu tersenyum, lalu melotot lagi, dan menyeringai.
"Tolong, jangan ganggu aku! Aku tak bermaksud. Aku tak membunuh
kaliaaann"
"kau harus mengakhiri semuanya"ucap salah satu sosok.
"kau harus mengungkapnya"ucap sosok yang lain
"Tapi aku tak punya daya, aku tak berani"jawab Rino mulai menangis
ketakutan
"kalau begitu, kau mati sajaaa!"teriak sosok itu.
"kau tak berguna, kau yang memulai tapi kau tak berani mengakhirinya. kau
harus mati!"
Tiba-tiba muncul pisau pada kedua tangan sosok itu. Mereka bersamaan mendekat
kearah Rino sampai Rino terpojok di ujung kamar.
"Tidak, jangan... Ku mohon, kasianilah aku"pinta Rino
Keduanya tetap tak perduli, mereka mengangkat kedua tangan yang memegang pisau
itu.
1 disisi kanan, satu dikiri, mereka bersiap menikam Rino.
Dan... "Tiddddaaaakkkk... "
Di bukanya matanya, nafasnya memburu, "Huft, ternyata hanya mimpi"
ucapnya lega.
Dari sorot matanya, tersirat ketakutan yang mendalam. Di tatapnya jam dinding,
sudah jam 7 pagi. Di raihnya katamata, lalu bangkit seraya berkata...
"Aku harus mengakhiri semua ini"
***
Hari ini adalah hari yang sangat mendebarkan bagi selurus siswa/i kelas XII SMA
HARAPAN.
Ya, sekitar jam 9 nanti mereka akan mengetahui hasil yang mereka raih selama 3
tahun.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, seluruh siswa/i sudah berkerumun didepan
papan pengumuman.
Berdesak-desakkan, lalu teriakan-teriakan terdengar dari mereka.
Ada yang berteriak senang, dan ada juga yang menangis.
Sampai-sampai ada yang pingsan.

"Robbi, Robbi, Robbi"ucap Robbi sambil menunjuk setiap tulisan di
papan itu, "Hah, ini dia, gue lulussss"ucapnya sambil loncat-loncat
kegirangan.
"Gue, gimana gue?"ucap Bondan, masih menelusuri setiap nama.
"Emaaak, gue lulusss"ucapnya juga.
"woi jangan seneng dulu, mana gue nama ni?"tanya Ujang belepotan.
"nama loe mana begok"ucap Bondan membetulkan, "Itu maksud gue.
Manaaaa?"tanya Ujang, mewek.
Iko yang sedaritadi dengan tenang mencari namanya, tersenyum.
"Tenang jang, kita Lulus kok"Ucapnya.
"Seriusss???"tanya Ujang tak percaya. Iko mengangguk tanya
mengiyakan.
"Alhamdulillah..."
"Yeeee..."teriak Ujang hendak loncat-loncat, secepat mungkin Bondan
dan Robbi menghentikan Ujang, "Jang, tenang jang, tenang... Sabar! Tarik
nafas dalam-dalam! Yak, keluarin!"tuntun Robbi dan Bondan.
Ujang pun mengikuti, sudah agak tenang... Ujang tidak jadi mengguncang bumi.
Alhamdulillah...

Sedang riang-riangnya mereka, tiba-tiba makin banyak yang pingsan.
Kebanyakan yang pingsan siswi dari kelas XII IPS 2.
Ternyata, semua siswa/i kelas XII IPS 2 tidak lulus.
Semuanya!
Sedangkan dari kelas Iko, hanya Rino saja yang tidak lulus. Karena memang Rino
tak bisa mengikuti salah satu mata pelajaran Ujian di hari pertama.
Tapi yang anehnya, kenapa selurus siswa/i XII IPS 2 tidak lulus?
Guru-guru pun heran, tak terkecuali bu Kepsek. Para guru pun mencoba
menenangkan seluruh siswa/i.
Yang anehnya wali kelas mereka, bu Clara tak ada disana. Entah dimana bu Clara.

Dari jauh, terlihat seorang siswi berlari sambil menangis terisak dengan muka
pucat, hidung dan mata yang merah.
Siswi ini menghampiri Kepala Sekolah.
"Bu"panggilnya tersendat karena menahan tangis.
"Ada apa? Kenapa kamu menangis? Kamu tidak lulus?"tebak Kepsek.
"Ada yang lebih mengerikan daripada itu buk"ucap siswi itu menahan
tangis.
"Ada apa?"
"Bu, disana, bu Clara bu, bu Clara"ucapnya. Ternyata siswi ini adalah
siswi dari kelas XII IPS 2 yang tidak lulus.
"Ada apa dengan bu Clara?"
"Ibu lihat sendiri, di kelas kami buk"ucap siswi itu lagi.
Semua yang mendengar perkataan siswi itu pun menjadi binggung.
Iko mulai curiga, "Pasti ada sesuatu"pikirnya.

Benar saja, mereka mendapati bu Clara GANTUNG DIRI di kelasnya sendiri, di
kelas XII IPS 2.
Semuanya kaget, tak terkecuali 4 sekawan.

Polisi datang, membawa mayat bu Clara.
Sersan Eddi mengatakan bu Clara bunuh diri karena frustasi selurus siswa/i
didiknya tidak lulus.

Seisi sekolah menangisi, merasa sedih dan berduka cita atas yang menimpa SMA
HARAPAN selepas UN .
***
"Apa mungkin bu Clara bunuh diri? Tidak masuk akal"ucap Iko
"Kok gak masuk akal ko?terus masuk apa dong? Masuk angin?"tanya Ujang
becanda.
Tapi karena suasana memang sedang tegang-tegangnya, lelucon itu tidak mempan.
"Menerut loe gimana ko?"tanya Robbi dengan raut muka serius.
"Hmm... Gue juga gak ngerti. Aneh banget, kok bisa anak-anak XII IPS 2 ga
lulus semua"jawab Iko
"Yang anehnya lagi, Bu Clara, ngapain dia bunuh diri cuma karna siswa/i
nya ga lulus? Konyol kan?"Bondan ikut berkomentar.
"Ehh, tadi kalian liat si Rino gak? Kok perasaan gue gak liat dia ya
daritadi?"tanya Ujang ikut mulai serius.
Mereka tersentak, "Benar jang, tu anak gak keliatan batang hidungnya
sedaritadi"sahut bondan
"Kita harus selidiki ini Ko"ajak Robbi
Iko menatap Robbi, sepertinya Robbi sudah mulai setuju Iko menyelidiki semua
ini.
"Baiklah"
"Tapi kita mulai dari mana?"tanya Bondan
"Hmm... Kita kerumah Rino. Cari bukti"kata Iko mantap
Mereka mengangguk tanda setuju.

Setelah sampai di rumah Rino, mereka tidak menemukan siapa-siapa.
Rino memang tinggal sendirian, dia tinggal di sebuah kost.
Bondan yang punya keahlian untuk membuka pintu yang terkunci cukup membantu.
(kayak maling ya si Bondan)
Perlahan mereka masuk kamar Rino, mereka tak menemukannya.
Lalu mereka mengobrak-abrik kamar Rino berharap menemukan sesuatu.
Nihil, tak ada apa-apa disana.
"Gimana nih ko?"tanya Robbi
"Ahh... Kemana tu anak"ucap Iko kesal
"Hmm... Gini aja, kita ubah siasat. Ntar malam kita kesekolah"
"Ngapain?"tanya Ujang
"Gue juga gak tau. Tapi firasat gue bilang, ntar malam kita
kesekolah"
"Oke Ko" ucap mereka
***
"Saya yakin buk semua kejadian di sekolah ini bukan karena kebetulan. Tapi
memang ada motif tersendiri"ucap seorang laki-laki berpakaian ala detektif
"Saya juga merasa begitu pak, tapi polisi sudah menutup kasus ini. Dan
saya memang tidak mau kalau sampai nama sekolah ini tercoreng akibat masalah
ini"sahut Kepsek.
"Kalau begitu izinkan saya untuk menyelidi ulang buk"pinta detektif
Harris.
"Baiklah pak, apa yang bisa saya banty?"
"Hmm..."

Setelah berbincang-bincang dengan Kepsek, detektif pun meninggalkan sekolah
itu.
Ditanggannya tergantung beberapa kunci.
Ternyata Kepsek telah memberi akses penuh kepada detektif Harris.
Semua kunci ruangan di sekolah ada pada detektif.
Dan satpampun sudah diberi tau untuk membiarkan detektif melakukan penyelidikan
ulang, kalau perlu juga ikut membantu.
***
Malam pun tiba, Iko dan teman-temannya sudah sampai di depan gerbang.
Mereka mengendap-endap, dilihatnya satpam sedang berjaga.
"Kita harus manjat"ucap Iko
"Gilaaaa... Gue gimana?"tanya Ujang sambil menujukkan body
bahenolnya.
Plak... Robbi dan Bondan tepok jidat berbarengan.
Iko pun memutar otak mencari ide lain.
Sedang asik-asiknya berfikir, tiba-tiba sebuah mobil berhenti didepan mereka.
Secepat kilat di tariknya tanggan teman-temannya untuk lari bersembunyi.
Untung mereka cepat dan tidak ketahuan.
Lalu siapa orang di dalam mobil itu? Sedang apa dia disini? Kepala Iko penuh
tanda tanya.
***
Powered by Telkomsel BlackBerry®

~ Detective And The Gank : Tragedi UN ~

Part 5

Keesokan harinya, semua tetap berjalan seperti hari-hari sebelumnya.
Siswa-siswi tetap mengikuti ujian dgn peraturan dan tata tertib yang sama.
Tak ada yang berbeda, kecuali toilet wanita yang masih di police line.
Di ruangan ujian 4 sekawan dan tentunya Rino, masih dalam keadaan tenang.
Iko menatap kearah Rino, ia masih menyimpan kecurigaan terhadap Rino dan masih
juga penasaran dengan kejadian kemarin.
"Permisi bu, mau ke toilet"tiba-tiba Rino mengacungkan tangannya dan
meminta permisi.
"Toilet?"ucap Iko sangat pelan, sangkin pelannya hanya dirinya yang
mampu mendengar ucapan itu.
"Kemarin dia juga ke toilet, oh ya ampun... Mayat itukan juga ditemukan di
toilet. Jangan, jangan... firasatku benar"batinnya bergumam.
"Silahkan, tapi jangan lama-lama!"sahut pengawas.
Rino mengangguk dan berlalu pergi.
Iko resah, ia makin curiga. "Aku harus mengikutinya"pikirnya.
Selang beberapa menit, Rino belum juga kembali. Iko makin resah, lalu ia
berinisiatif untuk meminta permisi juga, kemudian menyusul Rino. "Mungkin
ini kesempatanku untuk menyelidiki"pikirnya lagi.
"Permisi bu, saya mau ke toilet"ujurnnya nyaris sama dengan Rino
barusan.
"Nanti saja, kalau teman kamu sudah kembali"jawab pengawas itu.
"Tapi saya... Kebelet buk"tipu Iko.
"Tunggu temanmu dulu"pengawas tetap tidak mengizinkan.
Iko kehabisan cara, tak ada alasan lain yang bisa diberikannya agar ia bisa
menyusul Rino.
Hampir 30 menit Rino belum juga kembali, Iko makin resah saja. Ia sudah tak
memikirkan ujiannya lagi.
"Iko... Ssstt... ko"panggil Robbi setengah berbisik.
Iko menoleh kearahnya, "Ngapain loe? Jangan konyol deh! Kerjain soal ujian
loe, waktu hampir habis!"ucap Robbi kesal.
Tampaknya Robbi tau betul apa yang dipikirkan Iko.
Sejenak Iko terdiam, berangsur-angsur ia mulai fokus dan kembali mengerjakan
soal ujiannya.
10 menit sebelum bel berbunyi, Rino baru kembali.
Iko memperhatikan gerak-geriknya, ada yang aneh...
Muka Rino pucat pasi, keringatnya bercucuran, ia kembali mengerjakan soalnya
dengan tangan yang agak bergetar.
Iko makin curiga, kecurigaannya bertambah besar.

Teth... teth... teth... bel berbunyi.
"Letakkan soal dan jawaban kalian di atas meja dan silahkan meninggalkan
ruangan ujian!"perintah pengawas.
Seluruh peserta ujian pun berhamburan keluar, begitu pula dengan Rino. Ia
cepat-cepat keluar, seakan ingin segera lenyap dari pandangan seisi sekolah.
Iko hendak mengejarnya, tapi dihalangi oleh Robbi.
"Ko, kenapa sih loe masih aja ngeyel? Gue udah ngingatin loe, jangan ikut
campur!"cerocos Robbi seraya menarik tangan sahabatnya itu.
"Gue gak bisa diam aja Rob, lagian kenapa sih loe larang-larang gue? Atau
jangan, jangan..."sahut Iko dengan nada curiga.
"Jangan, jangan apa? Loe mau nyurigain gue? Bener-bener loe ya, gue
sahabat loe, gue cuma gak mau loe kenapa-napa. Loe ini seuzon mulu"potong
Robbi seakan tidak terima dicurigai oleh sahabatnya.
"Tapi anak itu aneh, loe gak liat gerak-geriknya tadi? Pasti ada sesuatu
yang dia sembunyikan. Gue yakin dia melakukan sesuatu tadi"ucap Iko lagi.
Perdebatan pun terjadi antara Iko dan Robbi.
"Woi, woi, udah doongg! kok malah jadi berantem?"Bondan mencoba
melerai pertengkaran mereka.
"Iya! Udah ahh, jangan pada ribut. Mending kita ke kantin, makan! Gue
laper ni... mumpung nafsu makan gue lagi bergairaaahhh"ucap Ujang
bersamaan dengan bau mulutnya
Pletaaakk... Alhasil satu jitakan mampir di ubun-ubunnya.
"Adaaww"teriak Ujang.
"Loe ini, orang lagi serius juga. Makan mulu"bentak Bondan, sangar.
Ujang mingkem, mulutnya manyun 3cm.
"Ma'aaaafff"ucapnya sambil mengelus-elus kepala yang baru saja kena
jitak Bondan.
Di tengah-tengah ketegangan 4 sekawan, tiba-tiba ada kerusuhan. Orang-orang
berlarian kearah tangga.
"eehh.. ada apa tuh disana?" "ada yang aneh dibawah tangga"
"ehh, ketangga yuk, katanya ada accident mengerikan" ucap orang-orang
yang melewati mereka silih berganti.
"Ada apa ya?"tanya Bondan, "Jangan, jangan... "belum selesai
Iko berbicara, ia malah berlari kearah tangga.
"Ko, tunggu!"Robbi pun menyusul. Tak mau ketinggalan Ujang dan Bondan
pun ikut menyusul. Tapi sayangnya, ada sedikit accident di antara mereka.
Mungkin karena masih dendam kena jitak Bondan, Ujang berusaha untuk mendahuli
Bondan. Bukannya mendahului, dia malah nabrak Bondan sampai Bondan mutar-mutar
di tempat.
"Waduh... Apa-apaan sih loe?"protes Bondan, tak terima, Bondan pun
berniat mendahuluinya juga. Di tariknya kerah baju Ujang, tapi berhubung yang
di tarik itu anak gajah... (#ehh-_-) bukannya
mendahului Ujang, dia malah ketiban Ujang. Lebih tepatnya ketiban anak gajah (#nah loh gimana tuh remuknya?bayangin
aja sendiri)
"Hadoowwww..."teriak Bondan, nafasnya sesak, dia gak bisa bernafas
lagi akibat di timpa jelma'an anak gajah (#nah ini lebih cocok kali ya?!)
"Ehh, Bon, sorry sorry, loe sih narik-narik gue"ucap si jelma'an anak
gajah santai.
"Kampreeeettt... Bangung blekok! Mati ni gueeekk"bentak Bondak
setengah teriak, setengahnya lagi nahan nafas.
"Oh iya, gue lupa. hehehhe..."Ujang cengengesan, sebelum dia kena
jitak lagi, tanpa ba-bi-bu Ujang lari meninggalkan Bondan.
"Kabooorrr" (#kebayang gak Ujang lari
gimana?bergoncang bumiku dan bumimu-_-eeh-abaikan-abaikan)
"Asseeemmm... Gue ditinggalin, awas loe ya!"ancam Bondan.
***
Sesampainya di kerumunan orang-orang itu, Iko langsung menerobos untuk melihat
apa yang terjadi di bawah tangga.
Begitu juga Robbi, ikut menerobos dengan badan cekingnya.
Ujang yang habis maraton gak sempat nerobos, malah ngos-ngosan di belakang
kerumunan (#untung dah dia ga
nerobos, bisa celaka kalo dia ikut-ikutan. ntar dikira anak gajah nyeruduk
lagi.ckckck)
Bondan pun ikut ngos-ngosan, tapi dia tetap nerobos masuk.
"Haaahhkkk..."Bondan kaget, seperti orang sesak nafas.
Kepala sekolah beserta guru lainnya, termasuk bu Clara dan bu Laras datang.
"Astaghfirullah"ucap Kepala Sekolah dengan kagetnya.
Di bawah tangga itu terkapar seorang wanita, bukan siswi bukan pula guru, dia
adalah seorang pengawas ujian.
Ia terkapar tak berdaya, tubuhnya terkulai lemas, sepertinya tulang-tulang
ditubuh itu sudah remuk semua. Dari bawah kepalanya mengalir darah cukup deras,
mungkin kepalanya bocor, matanya melotot.
"Bu, coba periksa denyut nadinya"perintah Kepala sekolah pada bu
Laras.
"Baik bu" perlahan bu Laras menuruni anak tangga, dan memegang
pergelangan tanggan wanita itu. "Innalillahi wa innailaihi
rojiun"ucap bu Laras dengan mimik wajah yang bersedih.
"Telpon Polisi"suruh Kepala Sekolah lagi, bu Clara pun segera
menelepon Polisi.

Beberapa saat kemudian Sersan Eddi datang dengan kedua orang anak buahnya.
Tapi kali ini ia tak bersama Detektif Harris.
Ia dan kedua rekannya itu mulai memeriksa lokasi kejadian.
Di temukan 2 kemungkinan, pertama korban tergelincir ketikan menuruni anak
tangga dan kedua korban sengaja di tolak oleh seseorang dari belakang.
Korban pun dibawa kerumah sakit untuk otopsi lebih lanjut.
"Bagaimana Pak?"tanya bu Kepsek, cemas.
"Mungin ini hanya kecelakaan saja, atau memang ada yang sengaja. Nanti
akan saya kabari lagi"ucap Sersan Eddi.
"Lalu bagaimana tentang kasus yg kemarin?"tanya kepsek lagi.
"Hmm, saya dan rekan saya sudah menyelidiki. Dari hasil penyelidikan kami,
saya menyimpulkan bahwa korban mutlak bunuh diri bukan dibunuh"jawab
sersan.
"Oh, begitu pak. Baiklah terimakasih pak. Tolong kabari saya lagi jika ada
informasi baru"pinta bu kepsek. "Baik bu, saya permisi"

Di tengah-tengah kerusuhan dan ketegangan orang-orang, ada seseorang yang
mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Ia diam-diam meninggalkan TKP dan menyelinap ke dalam suatu ruangan.
Ia mengendap-endap kesebuah ruangan yang cukup besar. terdapat 1 meja kerja
disitu, dengan 1 kursi di sisi satunya dan 2 kursi sisi lain tepat di depan 1
kursi tersebut.
Di atas meja itu tersusun amplop-amplop cokelat berisikan berkas-berkas
penting.
Terlihat dari amplop luarnya yang bertuliskan 'RAHASIA NEGARA"
Sepertinya ini ruangan KEPALA SEKOLAH dan amplop-amplop itu berisikan HASIL
UJIAN para siswa/i.
Orang itu mengobrak-abrik amplop-amplop tersebut, tangannya berhenti di satu
amplop.
Bertuliskan 'RUANG 5' ia tersenyum senang.
Ya, itulah amplop yang dicarinya.
Di bukanya perlahan, dilihatnya asal kelas salah satu LKS itu. Tertuliskan
Kelas : XII IPS 2.
Kembali ia tersenyum lagi, segera di keluarkannya 1 persatu LKS tersebut sambil
di utak-atiknya.
Setelah merasa selesai, dimasukkannya kembali dan dibereskannya amplop yang
terobrak-abrik tadi dengan sangat rapi.
Lalu ia pun keluar dari ruangan tersebut.
Tanpa di sadarinya, satu kamera berhasil membidik kelakuannya tadi. Entah
memang tidak menyadari atau mungkin ia lupa kalau di sudut ruangan itu
tergantung sebuah kamera CCTV.
***
"Lihat, apa yang gue bilang? Pasti akan ada sesuatu yang terjadi lagi.
Pasti itu kerjaan Rino. Itu pengawas dihari yang sama, hari ketika Rino
dikeluarkan dari kelas"ucap Iko dengan muka yang memerah.
Robbi diam saja, dia seperti menyesal sudah melarang temannya ini. Ia mulai
merasa setuju dengan opini yang diberikan Iko.
"Terus sekarang gimana? Kita harus ngapain?"tanya Bondan. Iko diam,
Robbi diam, Ujang ngupil (#ehh,ralat...) Ujang juga ikutan diam.
Lalu Robbi angkat bicara, "kita laporkan saja dia"usul Robbi.
"Laporkan kesiapa? Polisi? Kepsek? Mana mau mereka percaya"sahut
Bondan.
Iko terlihat berpikir, tiba-tiba Ujang memberikan ide cemerlang.
"Kita laporkan ke bu Laras"ucapnya semangat.
Mereka tertegun sejenak, lalu saling berpandangan,"Setuju..."jawab
mereka kompak.

Mereka pun mencari-cari dimana guru kesayangannya itu berada. Setelah beberapa
menit mutar-mutar koridor, akhirnya mereka menemukan bu Laras.
"Bu Laras"panggil mereka berjama'ah. Bu Laras terkejut, lalu menoleh
kearah mereka dan menghela nafasnya.
"Kalian ini, bikin ibu kaget aja"Ucap guru yang menjadi guru
terfavorit di sekolah ini hampir selama 5 tahun berturut-turut. "Ada
apa?"tanyanya lagi.
"bu, kami mau melaporkan sesuatu pada ibu"ucap Bondan dengan muka
serius yang malah bikin bu Laras takut ngeliat tampang sangarnya.
"Hmm... mau melapor apa? Apa ada biodata yang salah kalian isi sewaktu
ujian?"tanya bu Laras.
"Bukan bu"jawab Robbi. "Lantas apa?"
"Kami ingin memberitahukan sesuatu bu..."ucap Ujang membuat bu Laras
makin penasaran. "Iya apaan?"bu Laras makin tak sabar.
"Kami tau buk, siapa yang membunuh 2 pengawas itu"sahut Iko.
"Hah???"bu Laras kaget bukan main.
"Kenapa bu? Kok ibu kaget begitu"tanya Robbi.
"Oh enggak, memang siapa yg membunuhnya? Bukannya polisi sudah menetapkan
kalau itu hanyalah kasus bunuh diri?"sahut bu Laras.
"Oh ya bu?"Iko tak percaya. "Ya, tapi siapa orang yang kalian
maksud itu?"
"Kami berfikir kalo itu kerjaan Rino bu"sahut Bondan (#kami?Ikoajakalee)
"Kenapa kalian bisa berkata begitu, kalian punya bukti?"
"Memang kami belum punya bukti yang cukup kuat bu, tapi saya yakin...
Karena 2 korban itu adalah 2 orang pengawas pada hari pertama ujian bu. Dan
bukankah di hari itu Rino sempat ditegur dan tidak bisa mengikuti Ujian
akibatnya? Bisa jadi dia sakit hati dan dendam bu. Lalu melakukan pembunuhan
ini. Dan memang saat kejadian di temukan mayat-mayat itu, Rino sebelumnya
meminta permisi ke toilet dan tak kembali dalam waktu yang cukup lama
bu"jelas Iko panjang lebar.
"Hmm... Pemikiran yang bagus Iko. Tapi opini itu saja tak cukup kuat untuk
membuktikan Rino yang melakukannya. Sudahlah, kamu jangan seuzon gitu sama
Rino. Kasihan dia, kemungkinan dia tidak lulus tahun ini"ujar bu Laras
seraya tersenyum. "Sebaiknya kalian pulang, besok masih ada ujian.
Istrahatlah! Dan lupakan kejadian ini. Ini hanya kecelakaan."lanjut bu
Laras seraya pergi meninggalkan mereka.
Mereka saling pandang, lalu sama-sama menarik nafas dan menuruti perintah bu
Laras.
***
"Eddi"ucap seseorang dengan marahnya.
"Kau keterlaluan sekali, kau menyelidiki sendiri kasus yg seharusnya
melibatkan aku"sambung Detektif Harris.
"Tenanglah Harris! Itu bukan perkara besar. Hanya sebuah kecelakaan. Aku
sudah memeriksanya, korban hanya terjatuh dari tangga"sahut Sersan Eddi
enteng.
"Kau ini selalu meremehkan masalah. Kau tak bisa menyimpulkan suatu kasus
dalam sekejap mata dan menutup mata atas kejadian yang sebenarnya"bentak
Detektif Harris.
Sersan melotot, ia tak terima dibentak. "Apa maksud mu berkata seperti
itu? Menurutmu aku menutup-nutupi masalah? Kau jangan sok tau. Aku telah
menyelidikinya, aku tak mungkin salah"sahut Sersan tanpa rasa mengalah.
"Apa buktinya" sersan kemudian mengeluarkan sebuah amplop berisi
hasil visum dan sidik jari. Lalu sersan mengambil sebuah kantong plastik bening
berisikan sebuah sepatu High Heel yang sudah patah haknya.
"Bagaimana?"tanya sersan Eddi seraya tersenyum penuh kemenangan.
Detektif Harris terdiam. "Baiklah, kali ini kau benar, tapi untuk kasus
pertama aku masih belum mempercayai itu kasus bunuh diri"ucapnya.
"Terserah!"
Detektif lalu pergi meninggalkan ruangan sersan Eddi.
Ia masih tak percaya juga dengan keputusan yang diambil sersan Eddi.
Ia berniat menyelidiki kasus ini lebih dalam lagi, ada dan atau tanpa ada Eddi.

Detektif Harris mendatangi sekolah tempat asal pengawas mengajar, lalu bertanya
tentang karirnya selama menjadi guru disana.
Aneh sungguh aneh, pengawas itu bukanlah seorang wali kelas dan bukan juga
seorang guru favorit di sekolah itu. Tidak sama seperti yang telah di
tuliskannya di diarynya.
Kemudian Detektif Harris pun menanyakan tentang masalah pribadinya, tentang
kekasihnya.
Sontak Detektif Harris terkejut sewaktu salah seorang rekan korban mengatakan
bahwa korban sudah lama menjanda, dan belum menemukan pengganti suaminya.
Lantas apa maksudnya tulisan di diary itu? Apa maksudnya isi kotak biru berpita
merah itu dan tulisan disecarik kertas itu, apa? apa mksudnya?
Aneh... Aneh sekali.
Tak hanya kasus pertama, detektif juga mencoba mencari tahu tentang kasus
kedua.
Ia bertanya pada salah seorang penjaga sekolah, apakah penjaga itu melihat
kejadian sebelum korban kedua jatuh dari tangga? Tapi sayang, hasilnya nihil.
Detektif tak menemukan apapun.
Dan penyelidikan pertamanya masih tak membuahkan hasil.
Sejenak ia menyerah, mungkin memang dia yang terlalu berambisi untuk memecahkan
kasus ini. "Mungkin benar yang diucapkan Eddi"itu fikirnya.
***
Beberapa hari kemudian, ujian selesai.
Tak terjadi accident mengerikan lagi, tak ada lagi yang terkuak dada dan
perutnya di toilet wanita, dan tak ada lagi yang jatuh dari tangga hingga
membanjiri lantai dengan darah.
Semua kembali normal, dan siswa-siswi pun diliburkan.
Mereka hanya diminta menunggu pengumuman saja.
Lambat laun, kasus-kasus itu dilupakan.
Tapi tidak dengan Harris, seorang detektif profesional yang nampaknya seditik
frustasi tak dapat memecahkan kasusnya dengan masuk akal. Menurut Harris,
ditemukan dalam keadaan terbelah itu bukanlah percobaan bunuh diri dan bukanlah
pemecahan kasus dengan masuk akal.
Selain Harris, ada seorang lagi yang belum bisa melupakan kejadian itu.
Dia lah Iko, sang calon detektif ...
Lantas, bagaimana kelanjutan cerita kedua detektif ini???
Apakah insting kedetektifan mereka selama ini memang salah??? Atau malah
orang-orang yang terlalu bodoh, hingga di kelabui mentah-mentah oleh si
pembunuh???
Powered by Telkomsel BlackBerry®

~ Detective And The Gank : Tragedi UN ~ Part 4

Part 4

"Pak, tolong kasus ini diselidiki dengan segera! Karena siswa-siswi saya
harus tetap mengikuti ujian"pinta Kepala Sekolah
"Tenang saja bu, kasus ini akan segera kami selidiki dan kami mohon selama
kasus ini diselidiki toilet wanita tidak boleh dipergunakan dulu. Sampai kasus
selesai"jawab pak Polisi
"Baik pak"
Polisi tadi pun masuk ke toilet, di dalam sudah ada 2 orang rekannya yg
mengenakan seragam sama dengannya dan seorang lagi hanya memakai baju biasa...
Tidak, tidak, bukan baju biasa, tapi baju yg biasanya dikenakan oleh seorang
Detektif.
"Bagaimana Harris?"tanya Sersan Eddi
"Hmm... Lihat isi kotak ini!"sahut Detektif Harris sambil menyodorkan
sebuah kotak biru berpita merah darah.
Sersan Eddi membuka kotak itu, seketika matanya melotot, raut mukanya berubah
menjadi heran.
"Ini jantung?"kata Sersan Eddi setengah bertanya
"Ya"jawab Detektif Harris, sambil memberikan secarik kertas kecil
pada Sersan Eddi. Di bacanya dengan saksama, lalu ia mengerutkan keningnya.

' SIAPA PUN YANG MENEMUKANKU, TOLONG BERIKAN KOTAK INI PADA DIA YANG AKU CINTAI
TAPI TELAH MENCAMPAKKANKU!!! JANTUNGKU ADALAH MILIKNYA, SELAMANYA... '
Begitulah isi kertas tersebut.

"Hmm... Apa ini percobaan bunuh diri?"tanya Sersan Eddi
"Kemungkinan iya, tapi kita harus menyelidiki lebih dalam lagi"jawab
Detektif Harris
"Ton, Hen, pakai sarung tangan kalian! Tolong masukkan mayat ini ke
kantung mayat dan ambil pisau serta barang bukti lainnya!
Kita akan mengotopsi dan memeriksa sidik jari pada semua barang
bukti"perintah Detektif Harris pada 2 orang rekannya.
"Baik"jawab mereka dan langsung melaksanakan perintah rekannya itu.
Sersan Eddi pun mengenakan sarung tangannya, lalu mengambil tas milik korban,
di bongkarnya. Lalu ia menemukan beberapa barang, di antara barang tersebut ada
1 barang yang menarik perhatian kedua rekan kerja ini.
Buku diary milik korban.
***
Iko termenung, iya memikirkan kejadian yang baru saja terjadi di sekolahnya.
"Gue gak habis pikir, siapa yang tega melakukan pembunuhan itu ya?
Sesangar-sangarnya gue, gue gak akan setega itu"ucap Bondan dengan muka
sangar penuh keheranan.
"Muka boleh sangar, hati... dangduutt, ehh"sahut Robbi keceplosan.
Plaaaakkkk... Bondan melotot, sepatunya sudah berpindah tempat dari kaki ke
muka Robbi.
"Hadooowww"teriak Robbi kesakitan "Gue kan cuma becanda
Bon"sambungnya sambil mewek.
Bondan memanyunkan mulutnya.
"Gue nyesel masuk kesitu, ngeliat mayat itu. Sumpeh deh gue nyesel banget.
Gue jadi kehilangan nafsu makan gue"sesal Ujang.
"Bagus dong Jang, biar loe diet. Biar tu badan gak melar terus"sahut
Bondan.
"Tega loe, gue kan masih masa pertumbuhan"ucap ujang dengan mimik
muka memelas seraya memegang perut buncitnya.
Bondan dan Robbi saling pandang, "Hahahahahha..."tawa mereka pun
pecah membahana karena ucapan Ujang.
Mereka berdua terus bercanda dan menggoda Ujang. Mengingat dan membayangkan
ulang keadaan mayat itu.
Usaha mereka berhasil, untuk kesekian kalinya Ujang menumpahkan isi perutnya.
Mereka tertawa puas, sedangkan Ujang mencak-mencak.
Iko sendiri masih dengan lamunannya.
"Hmm... Apa ini kerjaan Rino?"ucapnya pelan.
Di sela tawa Robbi & Bondan, mereka mendengar ucapan Iko.
"Maksud loe apa ko?"tanya Robbi bingung.
"Kalian ingatkan hari pertama ujian, apa yang dilakukan pengawas itu
terhadap Rino? Bisa jadi Rino sakit hati dan dendam, lalu dia melakukan
pembunuhan itu"tebak Iko.
"Ahh parah loe, jangan seuzon gitu dong. Masa iya sih tu anak setega itu?
Lagian gue yakin dia gak berani melakukannya. Secara dia itu pendiam, gak
banyak ngomong"sahut Bondan.
"Justru itu, anak pendiam bisa lebih berbahaya ketimbang model kayak
loe"jawab Iko.
"Ett daahh... Sadap bener kata-kata loe"sahut Bondan lagi.
"Serius... yang kayak Rino itu pasti lebih banyak tekanannya.
Tekanan-tekanan itulah yang bisa membuat dia berjiwa tega dan sadis"lanjut
Iko.
"Secara logika, masuk akal sih kalo Rino tersangkannya. Tapi loe gak bisa
asal nuduh ko. Harus ada bukti yang kuat"sahut Ujang yang baru selesai
dengan urusan perutnya, lalu mendadak berkata bijak.
"Gimana kalau kita selidiki?"ajak Iko, jiwa detektifnya membara.
Ya... Iko memang bercita-cita menjadi seorang detektif.
Dia sangat suka mengungkap suatu misteri atau apapun yang memicu keanehan.
Selain itu instingnya kuat.
"Gue gak setuju, itu terlalu berbahaya buat kita. Udah lah kita jangan
ikut campur! Nanti malah jadi masalah"ucap Robbi cepat.
"Loe takut?"tanya Bondan "Gue gak takut, cuma males ikut campur.
Secara ini musm ujian, mendingan kita fokus sama masalah kita sendiri"
"Gue setuju sama Robbi, lagian gue gak mau kehilangan nafsu makan gue
lagi"jawab Ujang yang masih trauma.
Iko menghela nafas panjang.
"Gimana ko? Loe masih pengen nyelidiki?tanya Bondan.
"Masih"jawab Iko mantap
"Udahlah ko, loe jangan nyeret-nyeret diri loe sendiri kedalam masalah
yang loe gak tau pasti"sahut Robbi mengingatkan "Lagian apa untungnya
coba ngebuktiin Rino pelakunya? Kalo benar, kalo itu cuma firasat loe aja
gimana?"sambung Robbi panjang lebar.
"Tapi gue penasaran"Iko masih berkeras.
"Kalo loe penasaran, tunggu aja beritanya dari polisi. Kan uda ada polisi
yang lebih ngerti nyelesaiin masalah ini"jawab Ujang, tumben pinter.
"Tapi gue gak mau nunggu lama. Gue mau ngungkap sendiri. Loe kan tau,
insting gue kuat banget"tetap Iko masih ngotot ingin menyelidiki.
"Gue gak setuju"kata Robbi cepat "Gue juga"Ujang
ikut-ikutan.
"Kalo gue sih terserah loe aja ko. Selidikin ayo! Gak selidikin malah
bagus, hehehe..."sahut Bondan yang sebenarnya takut, tapi biar gak
kelihatan takutnya, pura-pura berani deh.
"Hmm... "Iko menghela nafasnya lagi, kali ini lebih panjang.
***
Di sisi lain, malam itu juga Sersan Eddi dan Detektif Harris membicarakan hasil
dari bukti-bukti penyelidikan mereka.
"Bagaimana?"tanya Sersan Eddi
"Tak ada sidik jari orang lain selain sidik jari korban sendiri"jawab
Detektif Harris "Dan tak ditemukan luka lain selain sobekan pada dada dan
perutnya"sambungnya lagi.
"Berarti ini mutlak kasus percobaan bunuh diri"analisis Sersan Eddi.
"Tapi saya belum yakin, insting kedektetifan saya mengatakan ini kasus
pembunuhan"
Sersan Eddi agak tersenyum kecil, "Ayolah Harris, kau ini juga manusia biasa.
Walaupun kau Detektif yg handal, instingmu itu bisa saja meleset
sekali-kali"celetuk Sersan Eddi dengan nada tak menyenangkan.
Sejenak detektif Harris memandangnya, lalu mengaligjan pandangan pada hasil
visum dan berkas lainnya.
"Sudah baca diarynya?"tanya Sersan Eddi
"Sudah"
"Apa yang tertulis?"
"Banyak, semua hal tentang kehidupannya dan karirnya sebagai seorang guru
sekaligus walikelas terfavorit, juga ambisinya untuk selalu memenangkan ajang
pemilihan guru terfavorit di SMA nya mengajar"
"Apa lagi yang kau temukan dalam diary itu?"
"Di lembar terakhir, iya menuliskan kekecewaannya terhadap pasangannya
yang berkhianati dan mencampakkannya"lanjut detektif Harris.
"Sudah jelas, dia bunuh diri. Kasus ditutup!"celetuk Sersan Eddi
seenaknya.
"Tidak bisa, kita belum menyelesaikan penyelidikikannya"detektif tak
setuju.
"Penyelidikan apa lagi? Semua bukti sudah mengarah pada kasus percobaan
bunuh diri. Ini bukan pembunuhan"sersan tak mau kalah.
"Tapi kita belum memeriksa ke tempat iya mengajar, kita juga belum
memastikan apa dia benar memiliki pasangan yang berkhianat hingga membuatnya
bunuh diri"
"Ayolah pak Detektif yg terhormat! Apa kau tak bisa menilai? Semuanya
sudah jelas, kotak dan diary itu buktinya. Tak kau temukan juga sidik jari
orang lain bukan?"sersan mulai panas.
"Hmm... bisa jadi ini sabotase"tebak Detektif
"Sabotase? Mana mungkin. Lihat diary ini, sudah tertulis semenjak beberapa
tahun silam! Dengan urutan tanggal yang kronologis. Apa mungkin ini sabotase?
Hentikan sikap kedetektifanmu yg sok tau itu! Semuanya sudah selesai"ucap
Sersan dengan nada yang cukup tinggi.
"Aku akan tetap menyelidiki"sahut detektif
"Terserahmu! Tapi jangan memaksa, agar kau mendapatkan penghargaan lagi
hanya untuk menguak kasus yang sudah terbukti kejelasannya"ucap sersan
sembari meninggalkan rekannya yang masih bersikeras menguak kasus ini.
Riwayat dari kedua rekan ini, mereka adalah sepasang rekan kerja yang sering
dideutkan di setiap kasus. Detektif Harris sebagai penyelidik, sedangkan Sersan
Eddi sebagai pengambil keputusan kasus ditutup atau masih berlanjut. Dia juga
yang memiliki kewewenangan tinggi untuk melapor pada atasan.
Tapi seiring dengan karir mereka, Detektif Harris lebih banyak mendapatkan
penghargaan dalam setiap kasus yang mereka pecahkan. Tak heran Sersan Eddi agak
kesal melihat sikap Detektif yang bersikeras melanjutkan penyelidikan.
Mungkin ia merasa Detektif terlalu terobsesi atau sebagainya.
Tapi kasus sudah ditutup!
***
Powered by Telkomsel BlackBerry®