Jumat, 07 Maret 2014

THE SECRET OF THE TOILET

Karya By: Danafox Uchiha

Selamat Membaca! 

***

Clakk….clakkk…
clakkkkkk…..

Tetesan dari kran yang tidak tertutup rapat itu semakin menerorku yang hingga tengah malam ini sukar untuktertidur. 

Kulirik bulatan putih didinding yang terhalang remang-remang malam.

“Huff….. mana baru jam sebelas empat lima lagi,” bisikku pelan.
Entah sudah berapa kali aku membolak-balikan bantal usang yang hampir tidak tersentuh sabun selama aku pindah kekosan Bu Alina.Maklum aku adalah seorang siswi kelas tiga SMA yang merangkap menjadi pelayan disebuah restoran siap saji.

Sebelumnya aku tinggal dikosan Bu Dian, tapi karena terbelit hutang kanankiri, ya denganterpaksa aku kabur. 
Padahal malam itu Kak Danar, putrabungsu bu Dian
bersikeras menghalangikepergianku.Aku harus pergi dari pada tiap hari kena omelbu Dian, belum lagi cibiran pedas daripenghuni kos lain tentang hutangku yang belum aku bayar.

Berbekal uang tiga ratus ribu rupiah, hasil penjualan ponsel
lamaku . Aku memberanikan diri untuk tinggal dikosanbaru dengan
menjanjikan upahkusebagai pelayanrestoran.

“Akhir bulan nanti segera cair, bu.” bujukku kepada bu
Alina saat diamenolak rencanaku tinggal di kossannya.
“Bukan karena kondisi keuanganmu dek Mayang, tapi
memang kamar kos disini sudah penuh.” Sahutnya lembut.

Ya memang benar, aku lihat rumah besar yang terdiri dari lima
kamar dilantai satu telah penuh sesakdiisi oleh sembilan orang penghuni kos dan satu asisten pribadi Bu Alina.Tapi dengan berbagai pertimbangan, akhirnya beliau menyerahkan kamar putri semata
wayangnya yang tengah mengenyam pendidikan di Jepang kepadaku.

“Haduh betapa beruntungnya diriku ini.” Fikiriku sesaat setelah Bu Alina
mengesahkan kamar kebanggaan putrinya kepadaku. Betapa tidak kamar ini begitu luas dan satu- satunya kamar yang
memiliki toilet sendiri. Apalagi bu Alina dengan cuma-cuma meminjamkan kasur dan meja rias milik putrinya. Hanya saja dia dia tidak membolehkan aku menggunakan lemari besar dikamar itu, mungkin karena lemari itu telah diisi penuh oleh barang- barang milik putrinya.

Tapi untung saja dimeja rias menempel sebuahlemari kecil yang masih bisa aku gunakan untuk menyimpan pakaian ku, dan sebagian lagi
bisa aku gantung di pegantungan di belakang pintu.

Kembali kulihat jam, kali ini tepat pukul dua belas malam dan aku masih
terjaga. Tiba-tiba “Wwhuuuuussshh……..” sekebat angin kencang masuk
kerongga kamarku, menyisakan sosok putih yang melambai-lambai didepanku.

Seketika aku terkejut, “Sial aku hampir saja membiarkan jendela terbuka semalaman.” Gerutuku sambil menutup jendela dan membenarkan tirai
putih yang tersapu angin.

Aku kembali merebahkan tubuh mungilku di kasur besar nan empuk ini.
Pelan tapi pasti mata ini mulai menutup. Byuuuuurrrrr…… Suara guyuran air mengagetkanku. “Jam segini siapa yang mandi sih?
Ganggu orang saja!” gerutuku kuesal. Otaku mulai berfikir waras
 “Tapi asal suaranya dari…….” Entah mengapa bibirku benar-banar
tertahan. Kulirik pintu toilet, dan benar saja dari lubang kunci pintu toilet sesosok wanita berambut panjang tengah tertunduk kaku dibawah cipratan air shower.

“Apa mungkin dia putrinya bu Alin?” fikirku membuyarkan rasa takutku sendiri. Tanpa berfikir panjang lagi, aku segera beranjak pergi. Namun, baru beberapa langkah menuju tempat tidur, suara tangisan memaksaku untuk kembali.

“Kkenapa Mbak? Mmbak ggak kenapa-napakan?” tanyaku sedikit gugup.
Dia tak kunjung menjawab pertanyaanku, malah tangisannya semakin
menjadi. “Hiks……hiks…… tolong aku hikksss….”Suara tangisan itu
menggema mendominasi kamarku. Aku benar- benar panik. Sekuat
tenaga kucoba rubuhkan pintu berbahan plastik itu, dan hasilnya nihil.
Tangisannya pelan- pelan meredup.

Kulihat kembali dari lubang kunci, dan betapa kagetnya aku saat kulihat tubuh wanita misterius itu kini tak utuh lagi. Berdiri lesu sesosok tubuh tanpa kepala, lehernya dipenuhi daging yang berantakan. Dan cipratan darah segar menodai dinding-dinding toilet.

Tubuhku benar-benar terasa bergetar dan tak bisa mengatakan
apa-apa. Saat ku alihkan mataku kearah lantai toilet, tergeletak sebuah
kepala berambut panjang bersama sebilah gergaji di sampingnya. Aku
semakin berguncang hebat, entah apa yang aku fikirkan saat itu.Rasanya aku ingin berlari ke kamarpenghuni lain untuk meminta bantuan.

Tapi aku sama sekali tak bisa bergerak, piyamaku terjepit engsel pintu.
“Haaaaaaaaa……tolong!!!!!” aku berteriak sekencang-kencangnya. Dengantergesa-gesa kugigit piyamaku. Dan Seeeeeetttt, bagian
belakang piyamaku berhasil robek. Akuberlari sekencang-kencangnya
memburu pintukeluar kamar.


Creek….creeeek…..

“Arrggght….. kenapa gak bisa dibuka? Aku semakin panik. Segera ku ambil posisi kuda-kuda dan... Bruuukkkk…… tendangankumerobohkan sebilah pintu yang terbuat dari kayu.

Nafasku terasa sesak mencium bau anyir darah yang menusuk
 ke paru-paru. Tapi akusemakin menggiladan ketakutan saat kulihat pemandangan aneh dari balik pintu kamarku.

“Ttttoilet???” tanyaku bingung. Ternyata toilet yang sama, hanya saja
yang membedakan tinggal kepala yang tergeletak dilantai.
Kepala berambut panjang itu pelan-pelan menoleh dan menyeringai
kepadaku.
“Hyaaaaa…..!"

***

Creeeekkkkk

Seseorang membuka pintu kamarku, diamnyeringai hangat dan mendekatiku. “Rupanya kamu demam ya May?” sahut Bu Alina sambil
menempelkan punduk tangannya dikeningku.
“Syukurlah ternyata cuma mimpi,” bisikupelan.

**TAMAT**

Sabtu, 28 Desember 2013

JANJI

JANJI

BY: MELODY,

"Apa kau tulus mencintai ku dy?"
Tanyaku kepada pria dihadapanku.

"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kurang jelas bagimu aku menunjukkan ketulusanku? Apa kau ragu pada cintaku?"

"Bukan aku tak percaya dengan ucapanmu, aku hanya takut kehilangan mu. Aku terlalu mencintai mu. Aku takut tersingkir dari hatimu dy."

"Aku berjanji mel, takkan ada yg mampu menyingkirkanmu dari hati ku, takkan ada."

"Benarkah ucapanmu?"

"Ya melody... Kau takkan tergantikan disini, dijantung ini."

Ucap ardyanto mantap, sambil menunjuk dada kiri tempat jantungnya berada.

"Jantung hatimu itu milikku?"

"Tentu saja gadis ku, jantung ini akan selamanya jadi milikmu."

jawab ardyanto sekali lagi, dengan senyum manisnya yg selalu membuatku tak mampu untuk menghindar dari hadapannya.


Aku dan ardyanto memang sudah lumayan lama berpacaran, berawal dari perkenalan yg tak disengaja lewat telfon. Aku salah memasukkan nomor teman saat ingin menelfon.
Memang hanya salah satu angka, tapi ternyata kesalahan itu bisa membawaku kedalam satu hubungan cinta yg begitu indah.

Dua tahun sudah kami berpacaran, tapi ardyanto belum pernah memperkenalkan aku pada kedua orang tuanya.
Pernah sekali dia membawaku kerumahnya, tapi saat itu dirumah tak ada orang tuanya. Hanya ada adik laki lakinya well. Itu nama panggilannya, nama aslinya aku tak tau.


Well pernah menelfon ku dengan mencuri nomer handphone ku dari hanphone kakaknya itu.

"Maaf... Apa benar ini kak melody?"
Tanya suara dari ujung sana

"Ya... Ini saya melody, dengan siapa yah?"

"Maaf kak melody, ini aku well adiknya bang ardy,"

"Oh well.. Ada apa nelpon"

"Ga ada apa apa kok kak, hanya saja... Aku"

Terdengar suara well berhenti, seakan enggan melanjutkan ucapannya.

"Hallo well, ada apa?"

"Maaf kak, tapi tolong jangan cerita sama bang adry, kalau aku nelfon kakak."

"Oh... Kalau kamu maunya gitu, aku ga akan cerita"

"Beneran ya kak, soalnya aku tak mau kalau nanti jadi ribut dengan bang ardy"

Aku menangkap sebuah gelagat aneh dengan pembicaraan well. Tapi aku menyembunyikan kecurigaanku itu.

"Benar, aku janji."
Ucapku meyakinkan orang dibalik telepon.

"Kak, bukannya aku tak suka kakak berpacaran dengan abang ku, tapi kalau bisa. Tolong kakak jauhi bang ardy, aku tak mau nanti kakak kecewa dan menyesal"

Tut..tut..tuuutt...
Telepon dimatikan, aku hanya menghela nafas seraya mengangkat kedua bahuku.
Aku mencoba melupakan ucapan well dan tak pernah mengatakan soal itu pada ardyanto kekasihku.


Pagi pagi betul, aku mendapat telfon dari orang tuaku dikampung. Yg mengatakan ayahku masuk rumah sakit karna penyakit ayah kambuh lagi.
Ayah ku dulunya seorang peminum berat, sehingga penyakit liver itu pun dengan senangnya tinggal dihati (liver) ayah.
Ibu meminta agar aku pulang kampung.


Di bandara sore itu, aku dan ardy duduk berdampingan, sebenarnya aku tak ingin meninggalkan ardy. Aku mengajaknya ikut kekampung halamanku. Tapi... Karna kerjaan yg menuntut, ardy pun tak bisa ikut.

"Aku takkan lama, begitu ayah sembuh. Aku pasti langsung pulang."
Ucapku pada ardy yg tak dapat menyembunyikan airmatanya. Semenjak kami berpacaran dua tahun ini, aku memang belum pernah jauh dari ardy. Dimana ada ardy, disitu ada aku. Dimana ada aku, ardypun ada disitu. Kecuali kalau kami sedang bekerja, karna jurusan pekerjaan kami memang berbeda, tentu tak akan bisa untuk bekerja dikantor yg sama.

"Berjanjilah kau tidakkan pernah menghianati ku selama disana."
Ardy berkata dengan airmata yg tak hentinya mengalir dari sudut matanya dan jatuh sampai kepipi.

"Aku janji dy, dan kau juga harus selalu ingat akan janjimu."
Akupun tak dapat menahan airmataku lagi.

"Takkan, jantung ini akan tetap jadi milik mu. Jantung hatiku."
Kembali ardy mengingatkan janjinya itu dan menunjuk jantungnya dengan jari telunjuknya.
Kamipun berpelukan dengan derai airmata.

Jam keberangkatan ku pun tiba, aku berjalan memasuki ruang boording dan ardy hanya menatap ku dari dinding kaca pemisah itu.


*************
Sekarang, setelah dua bulan aku di desaku. Hari ini aku kembali berada disini dibandara hangnadim tempat ardy mengantarku kala itu.
Dan ardy jugalah yg akan menjemputku.
Seorang pria berbadan tinggi dan tegap, berdiri sambil melambai tangan padaku.
Akupun berlarian kecil sembari menarik koper ku menuju pria yg ku rindukan itu.

Kami berpelukan melepas rindu, tapi aku merasa dia tak sehangat dulu lagi. Pelukan dan senyuman itu seakan dipaksakan.

Hampir satu jam perjalanan, aku tiba dirumah kontrakan ku di bilangan nagoya. Ardy juga ikut masuk seperti biasanya.
Dua bulan ku tinggal, kini kamar ku terasa pengap dan berdebu.
Lita teman ku mengontrak rumah itu pun tersenyum dan berlari kepelukanku saat dia tau aku pulang.

Kulihat ardy berbicara pada seseorang melalui handphone nya.
Setelah memasukkan handphone nya kedalam saku, ardy berjalan menemui aku dan lita.

"Mel, maaf aku harus segerah pulang. Ibuku meminta ku menemaninya berbelanja."
Ucap ardy dengan wajah menyesal.

"Oke, no problem."
Jawab ku singkat.

"Jangan kecewa gitu wajahnya, nanti malam kita keluar. Aku kangen makan malam berdua dengan mu."

Akupun tersenyum mendengar ucapan ardy yg kini melambaikan tangannya dan menaiki motor gede kesayangannya.


Durrt durrtt...
Handphone ku bergetar, kulihat dilayar ada panggilan dari ibu. Aku lalu menghubungi ibu untuk memberitahu bahwa aku telah tiba di kota batam tempatku bekerja.

"Assalamwalaikum bu.."

"Walaikumsalam... Gimana mel? Kamu sudah sampai nak?"

"Sudah bu, ini baru tiba di kontrakan."

"Oh.. Syukurlah, kamu sudah sampai"
Aku dan ibu berbincang bincang sebentar.
Dan setelah mengucap salam kembali, aku menutup pembicaraan. Kulihat ada panggilan tidak terjawab, nomer baru. Ku hubungi karna merasa penasaran, mungkin ada temanku yg tukar nomer.

"Hallo kak melody,,, masih ingat aku ga? Ini well"

"Oh... Well, ada apa?"

"Kakak sudah sampai dibatam?"

"Ia, ini baru sekitar setengah jam"

"Bisa kakak datang sebentar ke top 100 penuin? Ada hal penting yg harus kakak ketahui."

Setelah berfikir senbentar, akupun meng ia kan ucapan well.
Aku tak perlu berganti pakaian dan mandi, karna ini hanya sebentar. Kontrakan yg tak jauh dari top 100 penuin itupun ku tempuh dengan taksi.

Ku lihat well duduk menantikan ku di 'ring resto' lantai dua plaza itu. Kuhampiri well dan duduk berhadapan dengan well.

"Ada apa kau panggil aku kesini well?"
Tanyaku yg melihat well hanya diam saja menyambut kehadiranku.

"Duduklah sebentar kak, nanti baru aku kasih tau kakak. Pesanlah makanan atau minuman. Mungkin kakak haus."

Aku pun memesan orange jus dan tanpa makanan. Sebenarnya aku ingin istirahat melepas penat, karna nanti malam aku dan ardy akan dinner.

Setengah jam sudah waktu ku terbuang, orange jus yg ku pesan tadipun sudah tinggal setengah. Tapi well tak juga memulai pembicaraan. Aku mulai bosan juga ngantuk dan berniat pulang saja. Karna percuma kuhabiskan waktu tapi well tak memberitahuku apa maksud panggilannya.
Disela kebosanan ku , well menunjuk kearah belakang ku dan mulai berbicara.

"Coba kakak lihat itu, itu bang ardy dan donna istrinya."

Serrrr
Darahku serasa naik hingga ke ubun ubun. Aku tak percaya dengan apa yg ku lihat. Ku lihat ardy sedang berjalan bergandengan memilih milih pakaian di toko butik plaza itu.
Dan sangat lebih tak percaya lagi, mendengar kata kata 'istri' dari mulut well.
Kupandangi ardy dan perempuan itu, hingga mereka keluar dan meninggalkan butik itu tanpa melihat kearah ku.
Betapa manjanya wanita itu dibuat olehnya.

"Apa katamu tadi? Istri?"
Tanyaku menatap well meminta penjelasan.

"Ia kak, sebenarnya setahun yg lalu. Bang ardy dan dona sudah bertunangan. Mereka dijodohkan oleh orang tua donna dan orang tua kami. Awalnya memang bang ardy menolak, tapi karna dorongan keluarga, akhirnya bang ardy pun menerima perjodohan itu. Mereka bertunangan setahun yg lalu. Dan menikah hampir dua bulan sudah."

Hatiku hancur luluh lantah mendengar penuturan well, aku tak bertanya lagi dan segera meninggalkan well sendiri di tempat itu.


Dikamar aku menangis, menumpahkan semua airmataku.

"Jadi, saat aku pulang ke kempung, ardy menikah dengan perempuan bernama dona itu?"
Aku bertanya sendiri didalam hati ku. Tangisku pecah tak mampu ku tahan lagi.


**************
Ardy datang menjemputku dan aku sudah rapi untuk dinner malam ini. Radyt duduk menanti ku di ruang tamu rumah kontrakan itu. Ku ambil tas ku dan segera ku jumpai ardy.

Motor gede ardy meluncur diindahnya cahaya lampu jalan.
"Aku ingin, malam ini merebut jantung hati milikku itu dari tangan donna istri nya itu."
Batin ku dan memeluk ardy dengan kencangnya dari belakang.

Didepan sebuah toko aku meminta ardy menghentikan sebentar motornya. Aku masuk kedalam toko itu dan ditunggu oleh ardy di parkiran.
Setelah barang yg ingin kubeli itu kubayar di kasir, segera ku masukkan kedalam tas yg ku sandang sedari tadi.
Kulihat ardy tersenyum manis kepadaku, senyum yg membuatku tak sanggup beranjak jauh darinya.

"Dy, aku pengen kita kejembatan barelang saja, aku ingin menikmati jagung bakar aja malam ini."
Kataku pada ardy dan tak pernah melepaskan pelukanku dari pinggangnya.

"Baiklah princess ku, kita kesana"
Jawab ardy membuatku merasa akulah segalanya.

Aku memesan sepuluh jagung bakar dengan rasa yg pedas. Setelah itu, kami mencari tempat untuk duduk bersantai ditepi jembatan layang itu.

Kupandang ardy dengan tatapan sayu ku, airmata ku pun tak kuasa kutahan lagi mengingat semua penghianatan itu.

"Kenapa menangis melody ku?"
Tanya ardy yg melihat airmataku mengalir deras tanpa dapat ku hentikan.

"Tak apa, aku hanya ingi kau peluk. Aku ingin kau memelukku dan mengucapkan janji yg pernah kau ucapkan padaku"
Jawab ku dengan airmata yg terus mengalir. Ardy lalu menarikku kedalam pelukannya, dan mulai mengucapkan janji yg perna di ucapkan dulu kepadaku.

" Aku berajanji, takkan ada seorangpun yg sanggup menyingkirkan mu dari hatiku, dari jantung hatiku, kau pemilik jantung hati ku ini"
Kata kata ardy membuat hatiku semakin hancur, aku tau ardypun menangis saat mengucapkan kembali janjinya itu. Kupeluk ardy semakin eratnya, begitu juga ardy memelukku tanpa melepaskanku sedikitpun.


Perlahan kuraba tas ku, dan kugenggam sebuah benda yg kubeli di toko tepi jalan tadi.

Jjjuuukkk...
Sebuah belati ku tusukkan kepunggung ardy.
"Ahhkkk... Apa apaan ini melody? Kenapa kau menyakitiku?"
Tanya ardy yg segera melepaskan pelukannya.

"Sebentar sayang, aku tak ingin menyakitimu. Aku hanya ingin mengambil hak ku."
Jawabku dan ku tusukkan benda itu kearah dada bidangnya.

"Aaakkkhhhh.. Me...me..."
Tak sempat ku tunggu ucapan adry, ku robek dada bidangnya dan ku julurkan tanganku kedalam lubang bekas belatih itu. Terasa darah ardy hangat ditanganku. Kutarik dengan paksa jantung milik ardy.
Dalam sekejap, ardipun menghembuskan nafas terakhirnya.

Ku masukkan jantung milikku itu kedalam sebuah toples, lalu ku tutup toples kaca itu dengan rapatnya.

Kurogo hanphone milik ardy, kucari nama donna atau istri dikontak handphone itu.
Kuketik sebuah sms dan ku kirim kesebuah nama kontak bertuliskan 'my wife' itu.

"Jemputlah milik mu di jembatan dua barelang. Aku sudah mengambil milikku. Ambillah tubuhnya untuk mu, aku sudah mengambil hak ku. JANTUNG HATI suami mu/kekasih ku ardy."

Kuletakkan handphone milik ardy kerempatnya semula, dan kutatap tubuh tak bernyawa itu.

"Sayang,,, aku hanya mengambil milikku. Kau yg menjanjikan jantung ini milikku. Jadi... Kurasa aku tak jahat, bila mengambil milikku."
Ku ucapkan kata kata itu lalu meraih toples berisikan jantung hati milikku.


Aku berjalan kaki menyusuri gelapnya malam memabawa jantung hatiku pergi bersama ku.


*********end*************
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Minggu, 08 Desember 2013

KOTAK MUSIK BERDARAH Part 2

"aku memang bukan kakakmu, aku adalah marina sekarang berikan kotak itu padaku kalau tidak akan kubunuh kau".
 Wajah marry terlihat menyeramkan karena terkena cahaya dari kilatan petir,"tidak, aku tidak akan memberikanya" ucap cindy dengan sangat ketakutan iapun kelur dari kamar nya dan lari menurununi tangga, tapi marina mengejarnya, cindy terpeleset dan  terjatuh dari tangga ia tersunggkur dan kotak yang ia genggam pun terlepas. Cindy berusaha berdiri untuk mengambil kotak itu tapi belum sempat ia bangkit tangan marry mencekiknya, cindy berusaha melepaskannya tapi tidak bisa, ia berusaha meraih kotak music yang tidak jauh darinya, marina melihatnya dan berusaha menghalanginya. Cindi berhasil meraih kotak itu lalu melemparkannya ke tunggu perapian di ruangan itu,seketika api nya pun membesar "tidaakkk..!!!" teriak marina lalu ia mulai melepaskan cengkramannya dari leher cindy, cindy hampir kehabisan nafas dadanya sesak ia melihat kakaknya berteriak seperti kesakitan lalu kakaknya pun jatuh pingsan cindy berlari menghampiri kakak nya dan menepuk pipi nya,"kakak, kakak sadarlah" ucap cindy sambil menangis tak lama kemudian marry pun sadar ia melihat keadaan sekelilingnya gelap, dan ia melihat adiknya yang menangis mendekap nya."kakak, kau sudah sadar, kau telah kembali kakak", ucap cindy senang marry pun bangun dan langsung memeluk adik nya merekapun menangis bahagia." Lalu mereka duduk di sofa sambil melihat ke tungku perapian dan merenungi kejadian yang baru saja mereka alami, kotak itu sekarang telah lenyap begitu juga dengan marina.
 
SELESAI
Powered by Telkomsel BlackBerry®

KOTAK MUSIK BERDARAH

KOTAK MUSIK BERDARAH
 
By: Miftah Nurhidayati
Semoga kalian suka, selamat membaca…………
 
Saat pagi menjelang matahari mulai menampakan cahayanya di ufuk timur, terdengar suara yang cukup ramai disebuah rumah. Marry dan cindy dua kakak beradik ini tengah mempersiapkan barang2 untuk untuk liburannya kerumah nenek Sally, ayahnya jack tengah sibuk memanaskan mobil dan ibunya rossi tengah mempersiapkan bekal makanan untuk perjalanan nanti. Setelelah semuanya siap mereka pun berangkat, di perjalanan cindy terus berceloteh sedangkan marry asik mendengarkan music dengan ipod nya." Ma apa nenek tahu kita akan akan mengunjunginya hari ini?" terdengar suara cindy yang bersemangat," tidak sayang, nenek tidak tahu" jawab ibunya dengan senyum manis di wajahnya "bagus kalau begitu, aku akan memberikan kejutan untuk nenek. Kakak apa kau sudah menyiapkan kado untuk nenek?". "Tidak.." jawab marry dengan santai, " kakak tega sekali, apa kakak tidak menyayangi nenek" ucap cindy dengan cemberut "ah.. kau ini cerewet sekali" ucap marry membuat adiknya menjadi kesal." Mama sudah menyiapkannya sayang kau tidak perlu kesal dengan kakak mu" ucap ibunya membuat cindy senyum kembali. Tiba2 mobil mereka berhenti mendadak karena seperti menabrak sesuatu, " ada apa pa?" tanya cindy cemas,"tadi papa seperti mellihat kucing hitam melintas dan menabrak mobil kita" ujar ayah nya kemudian turun untuk memeriksanya tapi tidak ada apa"aneh tadi seperti ada yang menabrak" dalam hati jack bertanya2 merekapun kembali melanjutkan perjalanan."ma aku takut" ucap cindy lirih, " tidak ada apa2 sayang tenanglah" ucap ibunya untuk menenangkan hati cindy tapi sebenarnya dalam hatinya merasa gelisah." Tidak ada yang perlu ditakutkan,dasar  kau ini memang penakut" ucap marry dengan tidak peduli.
 
Setelah beberapa jam perjalanan  merekapun tiba juga di rumah nenek, "nenek..!!" teriak cindy sambil berlari kearah neneknya lalu memeluknya,"oh.. cindy sayang kau datang tanpa membertahu nenek" ucap wanita tua berumur 50 tahun itu dengan bahagia. Marry menyusul dibelakang, "kau tidak ingin memeluk nenek?","aku lelah,aku  ingin istirahat didalam" ucap marry dengan dingin. Marry memang berbeda dengan adiknya yang selalu tampak ceria tapi neneknya sudah memahami itu sejak kecil marry tidak berubah pendiam dan selalu tidak peduli. Setelah melepas lelah marry ingin berjalan2 sebentar karena suasana di tempat neneknya sangat nyaman jauh dari keramaian, dengan mengenakan celana jeans kaus hitam dan memakai topi tak lupa ia membawa kamera  kesayangan nya marry memang sedikit tomboy dan hoby sebagai fotografer."kakak, kau mau kemana aku ikut" terdengar suara cindy dari belakang dengan wajah memelas,"huuuhh" marry menghela nafas ia pun mengiyakan karena tak ingin berdebat dengan adik nya sebenarnya marry menyayangi adiknya tapi memang begitulah sifat marry.
Saat berjalan2 sambil memotret pemandangan disekitarnya cindy terus berceloteh, tapi marry tidak menghiraukanya lalu ia pun berhenti melihat sebuah rumah tua dengan pohon besar di halamanya rumah itu tampak tak terawat banyak ditumbuhi tanaman liar hingga tampak menyeramkan."rumah itu sangat menyeramkan ya kak, aku jadi takut" ucap cindy," kau memang penakut" ucap marry sambil memotert rumah itu membuat cindy cemberut. Saat marry hedak membidik objek nya tiba2 ia seperti melihat bayangan yang melintas di rumah itu, lalu ia menurunkan kameranya dan memastikan yang baru saja dilihatnya tapi ia tidak melihat apa2."kakak ayo kita pulang harii udah mau sore ni" ajak cindy, "iya baiklah" jawab marry sambil berjalan pulang tapi tiba ada angin kencang menerpa topinya hingga terbang dan jatuh di halaman rumah tua tadi. Marry pun berjalan memasuki halaman rumah itu, marry memang gadis yang berani tak ada rasa takut sedikitpun, ia pun mengambil topinya dan kembali berjalan tapi saat ia hendak melangkah ia mendengar suara pintu terbuka dari arah belakang ia pun berbalik dan melihat pintu rumah itu terbuka sedikit. "maaf, apa ada orang aku hanya mengambil topiku yang jatuh di halam rumahmu" ucap marry tapi tidak ada jawaban, cindy mengampiri kakak nya yang lama sekali mengambil topinya.
"kakak, kau lama sekali apa yang terjadi?ha.. Pintu rumah itu terbuka apa ada orang di dalamnya?" tanya cindy, marry tidak menjawab ia justru medekati rumah itu dan memastikan tidak ada orang, cindy mengikutinya dari belakang marry mulai membuka pintu dengan perlahan" permisi apa ada orang" teriak marry "kakak apa yang kau lakukan, sebaiknya kita pulang saja"ucap cindy sambil menarik baju kakak nya mereka pun masuk kedalam rumah itu, terlihat rumah yang tidak terawat berdebu dan banyak sarang laba-laba" kakak aku takut, ayo kita pulang saja"pinta cindy dengan merengek , "tunggu sebentar, sepertinya rumah ini telah lama ditinggal pemiliknya dan tidak ada yang merawatnya" ucapnya sambil berjalan mendekati sebuah lemari ia mengambil sebuah foto yang telah usang dan berdebu ia mengusap foto itu terlihat seorang gadis kecil berumur 10 tahun sedang memegang kotak kecil berwarna keemasan, "anak yang manis"ucapnya lirih lalu meletakan foto itu ditempatnya tadi saat ia hendak berbalik tak sengaja tangannya menjatuh kan sebuah kotak kecil ia mengambilnya, kotak itu sama seperti yang dipegang gadis  difoto tadi tak sengaja tangan nya membuka kotak itu terdengar bunyi dari kotak itu dan di tengahnya terdapat patung gadis kecil yang berputar, marry seperti terhipnotis dengan suara music itu. Cindy mendekati kakak nya dan menepuk pundak marry pun tersadar" kakak apa yang kau pegang itu?" Tanya cindy, "bukan apa2 hanya mainan anak-anak ayo kita pulang" ucap marry lalu menutup kotak itu dan meletakan nya kembali di tempatnya. Merekapun keluar dari rumah itu, saat pintu rumah itu telah tertutup, kotak music itu tiba-tiba terbuka sendiri mengeluarkan bunyi yang sangat memilukan dan gadis kecil yang berputar ditengah nya seperti mengeluarkan darah dari matanya.
 
Hari sudah mulai gelap telihat langit telah berwarna merah kekuningan, marry dan cindy telah kembali kerumah neneknya lalu mereka mandi. Saat malam tiba, mereka bersiap untuk makan malam saat makan  cindy menceritakan apa yang mereka lakukan tadi siang dirumah itu, lalu tiba-tiba sally menghentikan makannya semuanya pun diam"apa, kalian memasuki rumah itu?" ucap sally seperti khawatir,"benar nek, kakak yang mengajaku aku sudah mencegahnya tapi kakak tidak mendengarkan ku" ucap cindy tanpa ada rasa bersalah, marry menatap cindy dan cindy langsung menunduk."jangan kerumah itu lagi, berbahaya"ucap sally kepada marry, marry hanya diam saja kemudian sally pun menceritakan tentang kejadian 10 tahun lalu yang dialami keluarga James pemilik rumah itu. James dan betty memiliki seorang putri bernama marina, mereka sengat menyayangi marina karena ia anak satu-satunya kelurga itu. Tapi kebahagiaan mereka hilang setelah marina meninggal secara tiba-tiba, marina ditemukan meninggal secara mengenaskan di kamarnya lidahnya terjulur keluar matanya mengeluarkan darah dan di tangan nya memegang sebuah kotak music. Tak ada yang tau penyebab meninggalnya gadis kecil itu, tapi yang pasti peristiwa itu terjadi setelah marina mendapat hadiah sebuah kotak music yang terbuat dari kayu tepat di hari ulang tahunnya ke 10 tahun dari ayahnya. Sejak saat itu mereka pergi meninggalkan rumah dengan meninggalkan semua barang marina, karena tak ingin mengingatkejadian memilukan yang menimpa putrinya itu. Saat mendengarkan cerita neneknya panjang lebar marry teringat dengan foto gadis kecil dan kotak music yang ia lihat di rumah itu, marry jadi sedikit merinding tapi ia segera melupakan nya ia berpikir kalau neneknya hanya menakutinya saja agar tak kembali kerumah itu.
Malam semakin larut, mereka semua sepertinya kelelahan dan beranjak tidur marry dan cindy tidur dalam satu kamar sebenarnya marry lebih senang sendiri tapi ia tak bisa menolak karena memang tak ada kamar lain lagi. Sebelum tertidur cindy terus mengatakan apa yang dikatakan neneknya tadi dan mengingat kejadian di rumah tua itu, ia menganggapnya sangat menarik dan juga menyeramkan seperti hal nya dalam dongeng, cindy memang sering menghayalkan yang aneh-aneh. Tapi marry tak menghiraukannya ia pun tertidur duluan karena lelah mendengarkan celotehan adiknya itu. Cindy menjadi  kesal karena ia tak didengarkan oleh kakanya ia pun memutuskan untuk tidur juga.
 
Saat marry tertidur pulas ia pun bermimpi sedang berada dalam di sebuah rumah, ya rumah tua itu tapi rumah itu tampak indah tak ada tanaman liar ataupun dedaunan yang berserakan yang ada bunga-bunga yang cantik dan indah. Ia lalu masuk kedalam rumah itu, di dalamnya pun tertata rapi tak ada debu dan sarang laba-laba membuat siapa saja nyaman dalam rumah itu, marry seperti mendengar suara music yang indah ia pun mencari sumber nya kakinya melangkah dan mendekat kesebuah kamar ia membuka pintu kamar itu dengan hati-hati terlihat seorang gadis kecil dengan rambut panjang berambut pirang tengah duduk di ranjang membelakanginya. Gadis kecil itu sedang memegang sebuah kotak music ia terlihat bahagia, tiba-tiba gadis itu menoleh menatap marry gadis itu adalah marina dengan tatapan mata yang tajam dan seketika itu juga rumah yang tadinya indah berubah menjadi sangat menyeramkan. Marina mulai mendekati marry perlahan matanya mengeluarkan darah hingga melumuri baju marina bibir nya sangat pucat, suara dari kotak music itu pun berubah menjadi sangat memilukan marry menutup telinga dan mata ia tak sanggup melihat gadis kecil itu  ia sangat ketakutan ia berusaha lari dan keluar dari rumah itu tapi kakinya sangat berat untuk melangkah ia jatuh dan terduduk dilantai marina semakin mendekat dan mengangkat tangannya hendak mencekik marry,"tidaakk...!! jangan, jangan bunuh aku" teriak marry tapi tangan marina telah mencengkram lehernya  ia mulai sesak dan pandangan nya mulai kabur."kakak, kakak bangunlah apa yang terjadi bangunlah kak" terdengar suara cindy panik sama-samar ditelinga marry ia pun terbangun dengan nafas tersengal dan peluh bercucuran di dahinya,"kakak, kau hanya mimpi buruk minumlah," cindy mengambil segelas air putih yang di meja dekat ranjang dan mereka pun kembali tidur.
Pagi mulai menjelang ,cahaya matahari mulai menyinari terdengar suara burung-burung berkicau dan udara yang segar untuk di hirup cuaca hari ini sangat baik tapi tidak dengan suasana hati marry ia merasa kurang baik karena mimpi semalam. Pagi ini mereka semua berencana untuk piknik karena cuaca sangat bersahabat, tapi marry memilih untuk tinggal dirumah saja " sayang apa kau benar tidak ingin ikut, apa kau sakit?" Tanya ibunya dengan cemas, "tidak ma, aku baik-baik saja mama kan tahu kalau aku memang tidak suka piknik" ujar marry dengan santai. Merekapun pergi meninggalkan marry sendiri di rumah. Marry duduk di sofa dan memikirkan mimpinya semalam , mimpi itu serasa begitu nyata karena tak ingin memikirkannya berlama-lama ia pu mengambil laptop nya dan melihat hasil foto bidikan nya kemarin. Ia melihat satu persatu foto-foto nya tapi ia terhenti pada sebuh foto, foto rumah tua itu, ia mengamatinya dan sangat memperhatikannya ia mendekatkan wajahnya ke layar  dan ia seperti melihat sesuatu iapun membesarkan foto itu ia terkejut melihat seperti ada anak perempuan mengintip di balik pohon besar. Iya yakin kalu kemarin ia tak melihatnya sama sekali sungguh kejadian yang ia alami akhir-akhir ini membuat liburannya menjadi tidak menyenangkan.
 
Setelah berselang tiga hari, mereka pun akan pulang ke kota marry sangat senang akhirnya ia pulang juga, selama tiga hari setiap malam ia selalu bermimpi yang sama. Tapi tidak dengan cindy ia sangat sedih karena harus berpisah dengan neneknya, mereka pun bersiap ke mobil untuk pulang. Tiba dirumah marry turun dari mobil dan langsung menuju kamarnya, untuk menenangkan perasaannya karena ia hanya menganggap kamarnyalah tempat yang paling nyaman dan tenang. Ia berbaring sebentar untuk melepas lelah, sesaat setelah itu ia mengambil tasnya untuk mengeluarkan barang-barangnya . saat ia menarik pakainnya tiba-tiba ada benda jatuh kelantai ia pun turun dari ranjangnya untuk mengambilnya ia mencarinya lalu, marry sangat terkejut melihat sebuah kotak kecil berwarna keemasan,"kotak music itu, bagaimana bisa ada dalam tas ku bukankah aku sudah meletakkan nya di rumah tua itu" ucap nya dengan bingung.
 Lalu ia mengambil kotak music itu dan duduk di ranjangnya ia memperhatikan kotak itu sambil membolak balikannya, marry membukanya terdengar suara music yang cukup enak di dengar ia seperti terhipnotis  dan mata nya terus memperhatikan  patung gadis kecil kayu yang terus berputar, lama dan semakin lama tiba-tiba keluar darah dari mata patung gadis kecil itu tangan marry gemetar ia sanyat syok ia pun melemparkan kan kotak itu kelantai hatinya mulai gelisah perasaan takut muncul ia merasa bahaya mengancamnya.Tiba-tiba muncul sesosok gadis kecil, marina ya gadis kecil itu adalah marina, gadis kecil itu terlihat menyeramkan sama seperti di mimpinya wajah nya pucat pakainya sangat lusuh dan darah keluar dari matanya marina mendekati marry, marry mundur menaiki ranjang nya ia sangat ketakutan jantungnya berdetak dengan kencang  marina terus mendekatinya semakin dekat hingga hanya beberapa senti dari wajah marry. Marry menutup matanya ia ingin berteriak tapi suaranya seperti tertahan di tenggorokan, tangan kecil marina mulai mencengkram leher marry lalu mencekiknya. Marry berusaha melepaskannya tapi percuma saja, dadanya mulai sesak ia seperti tak bisa bernafas ia pun mulai lemas dan pandangannya menjadi gelap marry sudah tidak sadarkan diri. Sesaat setelah itu marry terbangun dengan mata terbelalak dengan senyum menyeringai ia perlahan bangkit, kini tubuh marry telah dikuasai oleh marina. Marina mengambil kotak musiknya dan membukanya ia tertawa jahat melihat patung gadis keci sekarang  jiwa marry terjebak dalam kotak music itu,"tidak, apa yang terjadi padaku" ucap marry dalam hatinya ia melihat dirinya dan baru menyadari kalau ini semua perbuatan marina."mulai sekarang kau akan menggantikan ku berada dalam kotak ini, dan aku akan menjadi dirimu" ucap marina dengan tatapan tajam sambil tertawa lalu ia menutup kotak itu, marry merasa dalam kegelapan ia menangis dalam hatinya.
Marina kini berada dalam tubuh marry, ia keluar dari kamar marry ia begitu senang tertawa sendiri dan berputar-putar seperti anak kecil. Cindy yang melihat tingkah aneh kakak nya itu mendekatinya, "kakak, ada apa denganmu tidak biasanya kakak tertawa seperti ini?" "tidak ada apa-apa, aku hanya merasa senang Karena telah kembali" ucap marry sambil tersenyum pada cindy. Cindy semakin bingung ia seperti tak mengenal kakaknya sendiri ia merasa  asing dengan ucapan kakaknya seperti itu. Akhir-akhir ini cindy mulai curiga dengan tingkah kakaknya sudah tiga hari ini kakaknya terus berada dalam kamarnya, kakaknya keluar hanya pada saat makan saja. Lalu cindy mengintip kamar kakak nya, ia melihat kakak nya tertawa cekikikan sambil memainkan kotak music di tangannya ia yakin telah terjadi sesuatu dengan kakaknya.
 
Malam ini cindy hanya berdua dengan kakak nya, ayahnya masih di luar kota dan ibunya masih ada pasien gawat darurat yang harus ditangani di rumah sakit dan akan baru pulang besok pagi, malam ini hujan turun sangat lebat dan terdengar suara petir membuat cindy tak bisa tidur. Ia terus memikirnya kakaknya, ia pun bangun dan pergi menuju kamar kakaknya perlahan ia membuka pintu terlihat kakak nya sedang tertidur pulas, ia melihat kotak musik itu ada di meja lalu ia mengambil nya dan membawanya kekamarnya. Cindy membuka kotak itu ia melihat patung gadis kecil itu terlihat wajah yang sedih entah mengapa air mata nya mengalir, mungkin karena perasaan yang kuat antara kakak dan adik.
"brrraakk…" Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dengan keras terlihat kakak nya berdiri di depan pintu dengan wajah yang sangat marah dan mata yang tajam menatap cindy."berikan kotak itu padaku sekarang" ucap marry dengan geram, "kau, kau bukan kakak ku dimana kakakku kembalikan kakakku!!", ucap cindy dengan nada ketakutan, marry yang telah dikuasi oleh marina semakin marah ia menatap kotak yang ada di genggaman cindy lalu tertawa dengan jahatnya bersamaan dengan suara petir dan hujan yang semakin lebat lampu rumahnya pun tiba-tiba mati dan semuanya pun menjadi gelap.

****
To be continue..
Powered by Telkomsel BlackBerry®

~ M.I.R.A.C.L.E ~ Part 2

Kami lari tapi Andi dan Rara tak dapat lari mereka udah ketangkap duluan. Jadi hanya Aku, clara dan Leni yang selamat. Kami ber-3 terus berlari menjahui mahluk itu. '' Stop .. Stop , aku cape istrahat sebentar. Sepertinya kanibal itu udah nggak ngejar kita''ucap Leni. Kami pun berhenti dan beristirahat sejenak. *** Andi dan Rara di ikat bersama-sama dengan Mico dan Igo.
 
Terdengar hiruk-piruk senang para kanibal karna udah ada 4 manusia untuk di jadikan makananya. *** Aku, Leni , dan Clara pun melanjutkan perjalanan kami. Kami kembali ketenda dan beristirahan. Leni dan Clara langsung tidur karna kelelahan . Tapi aku tak dapat tidur , aku pun teringat akan cincin dan kertas itu. Ku ambil dari saku celana ku dan ku buka cincin bermata Merah ku buka kertas ku baca tulisan kertas itu '' MIRACLE'' apa maksudnya , ucap ku. Leni dan Clara pun terbangun. '' Kenapa Chi'' ucap Clara. '' Apa tuh yang di tangan mu Chi''ucap Leni sembari mengambil kertas di tangan Ku. '' MIRACLE '' , apa maksudnya ? Ucap Leni. '' Aku juga nggak ngerti, itu aku dapat waktu kita bersembunyi di balik pohon dan kita kaget ada tengkorak tergantung di atas poho ! Ingat nggak ? Jelas Ku. '' Oh iya , terus kamu dapatnya dari siapa '' ucap Clara. Waktu kalian udah lari duluan, aku melihat kucing hitam berkalung tengkorak yang dulu kita liat dan hampir kita tabrak waktu kita pulang sophing.
 
 Kucing menjatuhkan  kertas dan cincin ini, ucap Ku sembari menyodorkan cincin bermata merah. '' Cincin bermata merah '' ucap Clara, jangan-jangan kucing itu suruhan kanibal . Mungkin Cincin ini! Cincin pengikat? Jadi kanibal itu tau kebradaan kita'' sambung Clara. '' Gak mungkin lah masa kanibal punya cincin begini, mahluk kanibal kan cuma memangsa manusia. Mereka nggak tau barang-barang begini. Liat aja baju aja nggak punya! Sampai-sampai mereka gak pake baju, cuma memakai CD dari daun-daun'' jelas ku . '' Iya juga sih, ehh MIRACLE kan artinya keajaiban. Apa mungkin kita akan mendapat keajaiban'' ucap Clara. '' bukan keajaiban, malah petaka yang akan kita dapat'' timpal Leni. '' Maksud kamu'' ucap ku dan Clara berbarengan. '' Perhatikan kata MIRACLE , disini bukan berarti ke ajaiban tapi ini singkatan nama kita'' ucap Leni. '' Maksudnya singkatan gimana'' ucap ku. '' Perhatikan lagi tulisan Ini ,''MI = Mico dan Igo , RA= Rara dan Andi '' Yang pertama tertangkap kanibal kan Mico dan Igo setelah itu Rara dan Andi dan.......''.
 
''Dan apa Len'' ucap Clara. '' CL = Clara dan Leni, setelah ini kita berdua yang tertangkap'' jelas Leni. '' Apa Len, enggakkk aku nggak mau jadi santapan kanibal itu Len'' rengek Clara. '' Terakhir adalah E=EChi, kamu lah orang terakhir , jadi jika aku dan Clara tertangkap kamu harus bantuin kita untuk lolos dari cengkraman kanibal itu'' ucap Leni. Pembicaraan kami terhenti karna tenda kami ada yang goncang-goncang kami ber-3 pun keluar Tenda dan mahluk kanibal sudah berdiri dengan ganasnya siap menerkam mangsa . '' Ahhhhhhhh'' kami bertiga lari terlihat di depan kami ada dua jalan , Aku berlari ke arah Kiri tapi ku lihat Clara dan Leni berlari ke arah Kanan. Aku mau balik ikut mereka tapi mahluk kanibal itu hampir dekat. Aku terus berlari dan akhirnya aku temukan sebuah gubuk tua yang kosong , aku beristirahat sebentar. *** Clara dan Leni terus berlari '' Aghhh'' mereka berteriak kaget karna sudah berada di berada di kerumunan para Kanibal. '' Kita salah arah Len'' ucap Clara. '' Iya Ra'' ucap Leni.
 
Leni dan Clara hanya bisa pasrah. Mereka pun di tangkap dan di gabungin bersama Ke-4 sahabatnya. '' Kalian, aku kira kalian udah menjadi santapan kanibal itu'' ucap Leni. '' Uhhhh, kok gitu sih do'ain nya. Eh, Echi mana dia selamat? '' ucap Igo. '' Iya, dia selamat'' ucap Clara. *** karna lelah aku pun tertidur di gubug tua itu. Aku bermimpi dalam mimpi aku bertemu dengan kakek ku . '' Echi, cucu ku'' ucap kakek. '' Kakek ku berlari memeluk kakek, kulihat kucing itu datang ke arah aku dan kakek. Kucing itu ?!?!. '' Iya, ini kucing peliharan kakek, kucing ini tidak jahat. Sengaja kakek mengirim kucing ini untuk menjaga kamu '' ucap kakek ku, pakailah cincin bermeta merah itu datang bantu lah teman-taman mu untuk keluar dari cengkraman kanibal itu. '' Baik kek''ucap ku. '' Ahhhhh'' aku pun terbangun dari tidur ku. Ku ambil cincin di saku celana ku dan ku pakainya. ''Sssst'' terasa ada tegangan yang masuk ke tubuh ku, aku merasa lain sekarang merasa lebih kuat. Aku pun beranjak pergi untuk membantu teman ku.
 
Ku intai sekumpulan kanibal itu. Sebagian dari mereka udah terlelap tidur, aku tunggu hingga kanibal itu tidur semua. 5 jam aku nunggu akhirnya semua mahluk kanibal pun tidur aku mengendap-endap masuk. '' Kreekkkk'' aku menginjak ranting . Mahluk salahsatu mahluk kanibal itu membuka mata. Aku segera bersembunyi. Akhirnya Kanibal itu tidur kembali, ku beranjak dari persembunyian ku langkahkan kaki ku, dengan perlahan. Ku bangunkan teman ku, dengan menepuk pipi. ''Heh, kalian bangun'' ucap ku. '' Echi?Echi cepat selamatkan kami'' ucap Mico. Aku pun melepaskan ikatan teman-taman ku. Akhirnya semua ikatan pun terlepas, ketika kami hendak bernjak pergi kanibal itu sudah bangun semua, sembari membawa tombak tajam. Mereka berbicara, tapi kami tidak mengetahui apa yang mereka omongin. '' Aduhhh, tamat deh riwayat kita'' ucap Rara. Mahluk itu berlari ke arah kami hendak menyergap kami '' Argghhhhh'', sontak Aku pun segere mengelus cincin itu keluar lah Cahaya Merah yang sangat menyilaukan mata.
 
 Tiba-tiba'' Arggghhhhh'' kami terasa terbawa angin, asap putih membawa kami hingga di depan rumah Bapak dusun itu. '' Horeee,, kita selamat'' teriak kami kegirangan. Karna teriakan kami yang keras membuat pak dusun kaket dan melihat kami. '' Kalian'' ucap pak dusun .'' Iya pak ini kami'' ucap Igo. '' Mari masuk'' ucap Pak Dusun. Kami pun masuk dan menceritakan petualangan kami melawan mahluk kanibal. Dan ke-esokan hari kami pulang ke surabaya. Itulah petualangan kami yang mengesankan petualangan yang hampir menghilangkan nyawa. Ini sejarah buat kami.
 
Tamat.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

~ M.I.R.A.C.L.E~

~ M.I.R.A.C.L.E~
by : Supri Yani
 
Nama Ku echi , umurku 18 tahun. Aku seorang mahasiswi di salah satu Universitas ternama di daerah ku. Kegemaran ku berpetualang, mencari suatu pengalaman, untuk menambah wawasan. Di kampus, aku mempunya 4 sahabat , kebetulan hobi kami sama yaitu berpetualang.
 
Berbagai kota, pulau-pulau di indonesia telah kami jelajahi , banyak pengalaman yang ku dapat, baik pengalaman yang baik/buruk .
 
Di sebuah taman dekat Kampus Aku dan Ke-4 kawan ku duduk istirahat sambil membicarakan Petualangan kami berikutnya untuk mengisi Liburan minggu-minggu ini.
 
***
''Friends, untuk mengisi liburan kita selama 1 bulan, bagai mana kalo kita lanjut berpetualang ke-Maluku. Kan cuma tinggal pulau Maluku saja yang belum kita telusuri'' ucap Miko.
'' Wahh, boleh juga kita bisa ke pedalaman liat orang-orang Naolu( sebutan untuk orang pedalaman). Seru tuh kayannya'' timpal Clara.
'' Aku sih, setuju- setuju aja. Tapi gimana dengan kamu Echi, Igo , Rara, Andi, ''ucap Leni.
'' Setuju'' ucap mereka berbarengan.
 
Cahaya Sun set yang merah lebam tergambar indah tapi membuat mata ku sakit. Aku yang sedang duduk di pinggiran pantai , kebetulan rumah ku dekat lautan cukup 10 langkah kaki saja untuk menempuhnya. Ku duduk di Telid Sambil menunggu matahari terbenam.
'' Kringggg......'
' suara Handpone ku berbunyi membuat ku mengalihkan arah pandangan ku ke layar Hp. Terlihat Leni, calling.
'' Haloo ''
'' Halo, Chi'' jawab suara di sebrang sana.
'' Iya Len , ada apa? Tumben telfon'' balas ku.
'' Iya, nanti malam Aku dan Clara berniat shoping. Membeli perlengkapan untuk besok sebelum pergi berpetualang,. Kamu mau ikut nggak'' ucap Leni.
''Oke deh, aku ikut! Jemput aku yah'' timpal ku.
'' Oke '' timpal Leni sembari menutup telfonnya.
 
Hari sudah semakin sore . Saat yang ku nantikan pun muncul. Terlihat matahari terbenam dari ufuk barat. Sungguh indah, menakjubkan. Dari jauh Yang aku lihat matahari seperti tenggelam masuk di dalam lautan. Tapi itu kuasa Illahi.
Kini sang malam datang, kegelapan menyelimuti jalan. Aku pun pulang langkah kaki ku hanya di temani kelipan bintang dan bulan sabit yang tergambarkan senyum padaku.
 
Ku robohkan tubuh mungil ku di ranjang yang empuk , tak lama dari itu terdengar ada yang mengetuk pintu kamar Ku. '' Took ... Took ..tok'' , siapa jawab Ku dari dalam kamar ?, ''Aku Ech, Leni dan Clara'' ucap Leni. '' Ohh, kalian masuk aja'' ucap aku. Tanpa buang-buang waktu pun kami ber-3 langsung berangkan menuju Maplazz untuk shoping ! Tak terasa cukup dengan waktu 30 menit kami telah sampai di depan gedung yang menjulang tinggi , berwarna putih yang sangat ramai, MaPlazza. Ku parkirkan mobil dan langsung masuk ke dalamnnya, kami mulai menyerbu isi Maplazza , kami membeli baju, sweeter, tas, sepatu serta makanan ringan! Setelah kami puas kami segera pulang, karna kebutuhan telah terpenuhi. Ketika di perjalanan hendak pulang. '' Ciiiiittttttt'' Ku rem mobil secara tiba-tiba. '' Heh Chi, apa-apan si? Mau bunuh Kita yah? Ucap Clara''. '' Engga kok, friends ! Liat deh '' ucap Ku sembari menunjukan sesuatu ke arah luar mobil. Clara dan Leni pun melihat nya karna penasara '' Haaaakkk'' mata mereka menganga
 
Suatu benda bergerak berwarna hitam dengan mata hijau pekat ! Kucing? Aneh nya kucing memakai kalung berbandul tengkorak. '' Tiiiiieett'' ku bunyikan klakson berulang kali, ternyata kucing itu menghilang dengan sendirinya. Kami pun pulang dengan masih memikirkan kejadian barusan. *** Sang surya telah menyambut pagi, yang mulai menyinarakan cahaya nya ke seluruh penjuru. Desir angin pagi yang menyejukan , yang membuat pohon seakan bergoyang, daun dan ranting yang saling bertabrakan seakan menyapa ku di pagi hari. Segera ku sambar handuk dengan sigap ku melangkah ke arah kamar mandi , setelah mandi ku kenakan kaos putih bertuliskan I LOVE YOU di tambah gambar <3 , ku kenakan celana jeans ketat. Ku sambar HandPone ku dan segera berlali keluar kamar menuju ruang makan! Terlihat mama dan papa yang telah siap menyantap makanan pagi, aku pun segera duduk di sebelah mama. Kami mulai menyantap makanan, dengan menu nasigoreng spesial dan lauknya daging ayam kecap pedas. ***
Ku langkah kan kembali kaki ku menuju pantai di dekat rumah ku. Hembusan angin pantai , suara desir pasir, dan ombak yang sekan saling bekejaran, pohon kanjoli di pinggir pantai yang tumbuh menjulang tinggi dedaunan yang lebat bergerak-gerak , seakan mengucapkan selamat datang kepadaku. Iya tempat yang indah biasa ku menghabiskan sore ku di pantai ini untuk melihat Sunset . Ingin sih rasanya ku melihat SunRice tapi sayang aku nggak bisa bangun pagi banget aku bangun jam setengah 7. Ku duduk di bawah pohon kanjoli yang rindang yang membuat ku terhindar dari terik sinar sang surya , angin laut dan darat yang saling menyapa membuat rambut lurus hitam ku terurai. Ku rapihkan kembali rambut ku tapi hembusan angin slalu menerpa. Ku melihat suatu mengerikan dari celah rambut ku yang terurai '' Astaggaaaa'' Kucing itu ?!?! . Ya , kulihat kucing yang tadi malam hampir Ku tabrak, terlihat kucing hitam pekat dan mata hijau pekat menganga ku seolah tersenyum pada ku '' Hiiiiiii'' ku bergidik ngeri. Segera ku berlar
 
Menuju rumah ku. Ku roboh kan kembali tubuh mungil ku di sofa ''Ufhhhhh siall banget pagi ini. Apa kah ada pertanda buruk ya? Kenapa kucing itu harus datang lagi. Ku pejamkan mata sejenak , setengah jam ku tidur ketika aku bangun '' Aghhhhhhhh'' aku berteriak kaget karna di atas meja samping sofa yang aku tiduri , di meja terdapat kucing hitam itu lagi yang dengan santainya duduk. Kucing itu terus-terusan menatap ku membuat aku ngeri nya bukan main. Kalung yang terlingkar di leher kucing itu bergambar kepala tengkorak mengeluarkan cahaya mere menyilaukan membuat pandangan ku buran semakin buram dan hanya gelap yang kurasa! Pingsan !. ''Echiii.... Echi'' terdengar seperti ada yang memanggil ku, antara sadar dan tidak kurasa jantung ku berdebar kencang seakan bahaya akan menyapa ku, badan ku begetar , aku merasa ada yang memegang badan ku dan mengerakan-kan tubuh ku dan aku buka mata perlahan '' Ahhhhhhhhh'' . '' Loh, chi mama bangunin kok , malah teriak-teriak kaya kesetanan gitu'' timpal mama ku.
 
Ku garuk-garukan kepala '' Maaf ma, aku kira kucing '' timpal ku. '' Kucing? Hahaha makanya kalo tidur jangan bangun siang-siang liat tuh udah jam se-11 '' timpal mama. '' Aghhhhh, bukannya aku baru tidur ya, aku kan tadi bangun pagi lalu sarapan pagi sama mama dan papa ku lanjut bermain di pantai trus aku balik tidur di kursi ketika ku membuka mata aku liat kucing serem itu lagi dan aku pingsan ketika bangun aku udah di kamar'' jelas ku kepada mama. '' Aghahahah , itu cuma mimpi wong dari tadi kamu belum bangun kok. Liat aja kamu masih kusut dan masih pake baju tidur'' timpal mama sembari pergi keluar kamar ku. Ku pandangi diri ku heran. Iya yah aku masih berantakan gini? Tapi aneh tadi aku ngerasa emang udaah bangun dan aku pingsan di sofa? Ahh mungkin benar kata mama aku cuma mimpi, gerutu ku dalam hati. Segera ku sambar handuk lalu mandi . Ketika ku mencari-cari pakaian di lemari, ku ambil baju polos warna biru pudar dan celana pensil. Setelah selesai dan berdandan aku keluar kamar menuju ruang makan.
 
Ketika ku buka penutup makanan '' Ahhhhhhhhh'' aku kembali berteriak membuat mama dan papa ku kaget dan menghampiri ku. '' Kenapa kau Chi, kok teriak-teriak'' ucap papa. Ku tunjukan lauk itu dengan tangan ku sedangkan mata ku masih tertutup karna takut. '' Kenapa dengan makanan ini'' ucap papa. ''Masak papa nggak bisa liat, itu lauknya masa kepala kucing'' ucap ku. '' Mana ada kepala kucing Nak, ini kepala ikan'' timpal mama. Sontak aku pun kaget mendengar pernyataan mama. Ku buka mata ku perlahan dan meliriknya '' Hahhhh'' kepala ikan? Bener kok pa, ma tadi aku liat kepala kucing''timpal ku. '' Mungkin halusinasi mu saja , buktinya tadi mama bangunin kamu. Kamu juga teriak-teriak ngira mama kucing! Udah kamu makan saja'' timpal mama sembari pergi meninggal kan ku sendirian di ruang makan. Hati ku udah mulai tenang dengan sigap aku makan, karna lupa ku buang tulang-tulang ikan di lantai. Ternyata kucing tetangga datang dan memakannya. Aku yang tak menyadari kedatangan kucing itu, aku terus makan--
 
'' Meooong'' . Nah Loh suara kucing, aku mengekerutkan kening ku dan siap melakukan aksi jurus ke 4 yaitu lariiiiiii. Ketika udah lumayan jauh ku lihat ternyata kucing tetangga yang biasa datang. '' Ufghhh sial, kena tipu aku kira kucing setan itu. Kenapa aku jadi paranoid gini sih.*** Malam yang cerah, kerlipan bintang dan sinar bulan yang menemani perjalanan Aku dan teman-teman ku, ke bandara juanda di surabaya. Malam ini kami akan berangkat ke ambon tepatnya kami akan menuju ke maluku di daerah pelosok dan pedalaman. Jam 01:00 dini hari kami Take On. Kami sampai di Laha, bandara ambon tepat jam 07:00 WIT. Setelah kami mengambil barang bawaan kami mencari taxi untuk menuju ke pelabuhan pelabuhan Tulehu ! Cukup dengan menempuh waktu sejam kami sampai pelabuhan, tepat jam 8 kami naik kapal untuk menuju ke pulau seram daerah maluku tengah. Jam 12 siang kami sampai pelabuhan Amahai, malukutengah. Kami mencari angkutan, kami menuju ke desa-desa di untuk mencari penginepan. Tepat di desa ''Rohua'' kami turun
 
Kami turun. Rumah yang berada di kaki gunung, terlihat rumah-rumah gantung beratap daun kelapa yang di kepang , rumah yang masih karna jauh dari kota. Kedatangan kami telah di sambut oleh kepala dusun. '' Selamat sore anak muda, apa tujuan anda ke desakami '' Jawab ketua dusun. Ku julurkan tangan ku ''Nama ku Echi Pak, niat kami datang hanya ingin berpetualang ingin tau bagai mana kehidupan di desa ini? Apakah Bapak mengizin kan kami '' timpal Ku. '' Tentu anak muda, suatu kebanggaan bagi kami anak muda! Kalian bisa tinggal di rumah Bapak''ucap Bapak dusun itu. Terlihat rumah Bapak dusun itu yang masih sederhana disekitar sini pun tak ada rumah yang terbuat dari bata/batu. Semuannya sama rumah yang terbuat dari kayu. Rumah gantung/panggok. Rumah yang tidak terlalu luas hanya berisi, ruang tamu, 2 kamar dan dapur. '' Oh iya Pak, kami sebenernya tujuan kami ingin melihat orang-orang Pedalaman Naolu. Bapak dusun itu hanya diam , tertunduk lesu dan mengangkat bicara ''Apa kalian serius nak, untuk melihat orang--
 
Naolu? Mereka mahluk kanibal. Kalo ada orang asing, kalian bakal di makan hidup-hidup'' ucap Bapa dusun. '' Apa pun resiko kami tanggung Pak. Sia-sia dong kami Pak buang-buang uang juataan tapi tujuan kami nggak terlasana! Kami bakal hati-hati Pak. Kami nggak akan grusah-grusuh'' timpal Mico. '' Baik lah, pergilah besok. Maaf bapak nggak bisa nemani perjalanan kalian. Satu pesan Bapak jalan hati-hati jangan sampai kalian tertangkap orang-orang Naolu. Kalo sampai tertangkap kamu nggak bisa pulang lagi ke daerah asal kalian'' ucap Bapak dusun. '' Iya pak'' ucap Leni.
 
Pagi yang cerah kami beranjak pergi dan berpamitan kepada Pak dusun. Kami mulai melangkah kan kaki kami untuk mendaki gunung untuk melihat orang-orang pedalaman. Pepohonan yang menjulang tinggi, suara Riang(sejenis jangkrik). Sudah 3 jam kami berjalan,tapi tetap belum menemukan tanda-tanda ada kehidupan manusia. Kami beristirahat dan makan-makan ringan yang kami bawa. Setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan kami. 2 jam kemudian kita melihat asap hitam, dan mendengar suara keramaian, suara bising yang kami nggak ngerti mereka omongin. Tak di sangka ada seseorang berjalan ke arah kami. Kami pun segera bersembunyi di balik pohon Pala yang besar dan menjulang tinggi. Sosok itu makin dekat terlihat dari kami sosok itu tidak mengenakan pakaian hanya memakai CD(Celana dalam ) yang terbuat dari daun, tubuhnya sangat hitam , badan kekar, mata ganas, rambut keriting. Sosok itu terlah pergi melewati kami. Tak nyangka ekor mata ku menangkap sesuatu benda di atas kami. Ku mengdongakan ke atas dan '' Arrrrrrrgggggg''
 
Secepat kilat mulut ku di bungkap dengan tangan Igo. '' Diem jangan teriak, entar kita tertangkap mahluk kanibal itu'' ucap Igo lirih. Mulutku yang masih terbungkap, aku hanya mampu memberikan isyarat dengan menujukan jari ku ke atas. Mico, Igo , Clara, Leni, Rara, Andi mendongakan kepalanya ke atas. Mata kami ternganga tubuh kami terpaku, tak mampu bergerak, kami hanya mampu diam tanpa bahasa. Terlihat sosok tubuh utuh yang sudah menjadi tengkorak yang tergantung di atas pohon. Seperti orang gantung diri. Di batang pengikatnya pun terdapat kucing hitam berkalung kepala tengkorak yang sering menghantui ku . Kucing itu menjatuhkan sesuatu '' Puuukkkk'' sebuah cincin dengan kertas bertuliskan MIRACLE. Aku pun mengambilnya ketika ku berbalik arah ternyata teman-temanku udah ngibrit kabur, aku pun menaruh cincin dan kertas itu di saku ku. Lalu aku lari ngikutin teman-temanku. *** Taklama kami menemui sebuah sungai yang mengalir deras, bening. Kami mencuci muka. Tak di sangka mahluk kanibal itu udah di
 
Belakang kami. Rara yang menyadari kehadiran mahluk kanibal itu langsung berteriak. Sontak kami pun kaget '' Aghhhhh'' kami lari pontang-panting tak tentu arah mahluk kanibal itu masih mengejar kami. Kami bersembunyi di semak-semak yang menjulang tinggi. Ternyata kanibal itu membawa bala tentaranya . Hati ku pun dag dig dud der . '' Ya Allah, aku nggak mau mati disini ! Aku masih pengen hidup , pengen kumpul sama mama dan papa. Sorotan mata mahluk seram itu sangat ganas, mereka masih mencari-cari kami. Mahluk Kanibal itu beranjak perg. '' Ufggghhh, sukur lah '' ucap Ku. Ku balikan badan ku. '' Whaattt, terlihat Andi, yang udah ngompol, terlihat celana nya yang basah. Sedangkan leni jatuh pingsan. Mico, Igo, Rara terlihat mukannya pucat pasi seperti tak ada darah, Saking ketakutannya . Untung aja kami nggak ketahuan! Kalo sampai ketahuan tamat lah riwayat kami. *** Sore hari terlihat awan-awan yang merah mengingat kan ku akan kampung halaman, dimana aku yng menghabiskan sore ku duduk di pantai melihat sunset
 
Aku tertunduk lesu, dengan muka yang memelas. '' Heh Chi kenpa kok ngelamun'' ucap Leni. '' Nggak kenapa! Cuma ingat mama dan papa saja'' ucap ku. '' Udah jangan terlalu sedih, seorang petualang nggak boleh cengeng'' ucap Leni yang coba menegarkan ku. Sang surya kini lenyap oleh sang malam. Hanya cahaya Center yang menerangi. Cahaya Sang rembulan pun tak mampu menembus kedalam hutan karna banyak pepohonan yang rindang. Kami menyalakan apiunggun untuk mengurangi rasa dingin , kami duduk melingkar memutari apiunggun sambil meminum secangkir kopi dan jajanan ringan. Malam semakin larut waktunya kami tidur.kami tidur di tenda yang telah kami buat tadi sore.
 
'' Sang surya pagi kembali memancarkan sinarnya aku pun terbangun dari tidur ku . Segera ku bangunkan Leni dan Rara. Tak lupa aku pun membangunkan Andi, igo dan mico. Kami pun pergi mencari sungai untuk mandi.ketika di perjalanan langkah kami terhenti, mata kami melotot , tubuh terpaku . Mahluk kanibal itu sudah di depan kami. '' Arghhhhh'' teriakan kami secara bersamaan. Kami lari ngibrit, tapi naas menimpa teman kami, Mico dan igo terjatuh tersandung akar! Mereka pun di tangkap mahluk kanibal itu. Aku, Andi, Leni dan Rara melihatnya pun menghentikan lari kami. Sosok kanibal itu menganga kami dan mengejar kembali. Kami Ber-4 pun lari pontang-panting . Akhirnya kami tidak di kejar mahluk kanibal itu. Kami mencari persembunyian, kami persembunyi yang aman. '' Friends , kasian sekali Mico dan Igo mereka tertangkap mahluk kanibal itu. Jangan-jangan mereka udah menyantapnya '' ucap ku. '' Hemm , iya! Pokok nya kita harus mencari tau keadaan Ke-2 kawan kita! Udah mati / masih hidup'' timpal Andi.
 
Malam hari nya pun kami mengendap-endap mengintai dari balik pohon , rumah mahluk kanibal itu. Ternyata banyak banget mahluk kanibal itu sedang berkumpul membentuk lingakaran mengelilingi Mico dan Igo yang sedang terikat di tiang penyangga. Di sampingMico dan Igo pun ada api dan wajan yang sangat besar berisi air mendidih. '' Ra, jangan-jangan Mico sama Igo mau di rebus ! Mereka akan di masukan ke wajan yang ada air mendidihnya itu '' ucap Andi kepada Rara. '' Ihhhhh'' Rara hanya bergidik ngeri . Tak disangka ekor mata kami menangkap bayangan seseorang di belakang yang sedang berdiri dengan manisnya. '' Arrrrrggg'' kami pun menjerit .

*****
To be continue...
Powered by Telkomsel BlackBerry®

CALISTA Part 3

Sesampainya di rumah Calista kedatangan mereka disambut hangat oleh Calista. ''Hey Sandra kau rupanya, ayo masuk'' ucap Calista mempersilahkan tamunya untuk masuk. ''Sepi sekali rumah mu Calista'' ucap Sandra yang kini sudah duduk di ruang tamu Calista. ''ya, aku hanya tinggal berdua bersama kakek ku'' ucap Calista seraya menyugukan minuman untuk tamunya. ''Dimana kakekmu Calista?'' tanya Roy ayah Sandra. Tak berapa lama keluar lah seorang kakek yang sedari tadi sedang di bicarakan. ''Kakek perkenalkan ini Sandra dan paman Roy'' ucap Sandra menarik lengan kakeknya dengan lembut. Betapa kaget nya kakek Erik melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini. Orang yang telah membuat hancur hati putri tercintanya. Seseorang yang tak ingin di lihatnya seumur hidupnya. ''Mau apa lagi kau kesini!!'' bentak kakek Erik. Tampak sekali pria yang di ajak bicara itu sangat terkejut. ''Ayah'' ucap pria itu. ''Calista cepat masuk ke kamarmu!'' perintah kakek Erik. Calista pun tak berusaha membantah
''Ayah apakah dia putriku'' tanya Roy penuh harap. ''Dia bukan putri mu'' ucap kakek Erik kemudian meninggalkan Roy dan putrinya Sandra. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah Sandra tak mengeluarkan sepatah katapun, ayah nya yang merasa bersalah mulai membuka pembicaraan. ''Sandra apakah kau sekarang membenci ayah?'' tanya pria itu . ''tak ada alasan ku untuk marah, tapi ayah bisakah kau jelaskan padaku tentang apa yang sebenarnya telah terjadi?'' tanya Sandra lagi. ''Dulu sebelum bertemu dengan ibumu aku menjalin kasih dengan Rosalina anak dari kakek erik, kami pun menikah. Setelah pernikahan ku menginjak 5 tahun Rosalina pun tak kunjung memberiku keturunan. Dan ketika itu aku bertemu ibumu kelembutannya meluluhkan hatiku. Aku pun mengutarakan niat ku untuk menikahi ibumu, tapi Rosalina menolak dan dia lebih memilih berpisah dengan ku. Singkat cerita aku dan ibumu menikah tak berapa lama aku mendengar Rosalina mengandung anak ku, ada sedikit penyesalan di hatiku. Aku pun berusaha mencarinya
tapi aku tak menemukannya dimana pun. Ayahnya menyembunyikan keadaannya padaku, Erik hanya mengatakan bahwa sampai kapanpun dia takkan membiarkan aku melihat anak ku'' cerita Roy dengan berkaca-kaca. *** keesokan harinya sekolah sudah mulai masuk seperti biasa. Tak ada yang berbeda, seperti biasa Calista bermain dengan Jilly sahabatnya dan Sandra dengan teman-teman wanitanya. Sandra ingin sekali menyapa Calista tapi Ia takut Calista akan mengabaikannya. Sedang asyik-asyiknya bercanda, tiba-tiba sosok berjubah hitam itu muncul mengobrak-abrikkan sekolah, Sandra berusaha melawan mahlukh itu tapi naas mahluk itu berhasil menghantam tubuhnya sangat keras. Calista yang melihat hal itu tak berusaha melakukan apapun, tiba-tiba dari arah blakang Jonathan menerjang mahluk itu, dan berhasil membuat mahluk itu tersungkur. Ibu Ketriin juga membantu Jonathan menghadapi mahluk itu. Akhirnya mahluk itu pun tiba-tiba menghilang. Semua murid menghampiri Sandra yang tengah pingsan tak sadarkan diri.
Jhonatan menarik tangan sandra dengan sangat kasar. ''Kenapa kau diam saja Calista? Apa kau tidak lihat dia hampir saja mati karena mahluk itu'' ucap Jhonatan dengan marahnya. ''Aku tidak peduli dengannya'' ucap Calista dingin. Walaupun sebenarnya jauh di lubuk hatinya sangat menyayangi Sandra karena Sandra adalah adik nya, tapi disisi lain Ia masih sangat terluka oleh perlakuan ayah dan ibu sandra kepada ibu kandungnya. * sebuah tamparan melayang di pipi mulus Calista. Calista masih tak bergeming, Jilly yang melihat situasi yang mulai memanas pun segera menarik tangan Jhonatan dan membawanya menjauh dari Calista. Jilly menceritakan apa yang terjadi sebenarnya antara Calista dan Sandra. Tampak sekali penyesalan yang sangat mendalam di raut wajah Jhonatan. ''Calista maafkan aku, aku tidak tau'' ucap Jhonatan lirih. ''Sudahlah tak perlu meminta maaf, terimakasih atas tamparannya'' ucap Calista meninggalkan Jhonathan sendiri.
Calista menghampiri tubuh Sandra yang tengah terbaring tak berdaya, ada terbersit penyesalan yang menghampirinya, ketika Calista sedang asyiknya memeperhatikan Sandra,Roy dan Rika istrinya datang dengan raut wajah yang cemas. Rika menangis tersedu-sedu sedangkan Roy masih berdiri mematung di tempatnya. Calista pun beranjak pergi dari tempat itu, belum sempat Ia keluar Roy mencegatnya. ''Calista'' ucap Roy lirih. Calista hanya memandang dingin ke arah Roy, ada tatapan kebencian yang terpancar di matanya, Roy tahu itu Ia berusha mendekati Calista namun Calista berusaha menghindar. ''Maaf paman, saya harus segera pulang'' ucap Calista sembari berlari menjauhi ruangan tersebut. Calista ingin sekali memeluk Roy, dan mengatakan Ia rindu, tapi setiap kali melihat kedua orang itu hatinya sakit mengingat penderitaan ibunya. Sandra mengambil tas di lokernya dan beranjak pergi meninggalkan sekolah tapi belum sempat Ia melaksanakan niat nya itu sebuah suara menhentikan langkah kakinya. ''kakak'' panggil Sandra
Calista menoleh ke sumber suara, ingin sekali Ia berlari dan memeluk adiknya itu, tapi sulit sekali untuk Calista melakukan itu. Calista pun pergi meninggalkan Sandra yang masih menatap kepergiannya. ~ sesampainya di rumah betapa terkejutnya Calista mendapati keadaan rumahnya yang hancur berantakan, ''Kakeeekk..!!'' teriak Calista yang mulai cemas dengan keadaan kakek Erik. Calista berhamburan kesemua ruangan tapi tak di temukannya kakeknya. Calista pun mengambil ponselnya dan di dapati pesan dari sang kakek '' Kakek akan menjemputmu di sekolah hari ini'' isi pesan tersebut. Calista pun segera berlari kembali ke sekolah. Calista benar-benar tercengang ketika melihat kedaan sekolah yang berantakan dan yang membuatnya semakin tercengang ketika melihat sang Kakek berusaha menyelamatkan Sandra. Satu tebasan berhasil mengenai pelipis kakek Erik. Hal itu sukses memancing amarah Calista, dengan penuh dendam Calista menyerang sosok itu bertubi-tubi. Jhonatan dan Roy tampak sudah tersungkur disana.
sedangkan kakek dan Sandra masih berusaha bertahan membantu Calista. Satu bogem mentah berhasil melumpuhkan Sandra dan ketika kakek Erik tengah lengah mahluk itu berhasil menusukkan lengan sebelah kanan kakek Erik. Calista benar-benar marah melihat kakek yang sangat di cintainya terluka. Kini suhu tubuh Calista benar-benar memanas tatapan matanya menyorotkan dendam yang sangat mendalam. kini kekuatan yang telah lama di sembunyikan akhirnya muncul kembali. Sebuah lingkaran puti biru bercahaya yang sangat menyilaukan terbentuk dari tangan kanan Calista yang memiliki tanda lahir gambar srigala. Kemurkaannya kini telah sampai pada tingkat tertinggi . Cahaya itu manghantam tubuh mahluk itu membuatnya meronta kesakitan, di ambilnya besi runcing milik wanita penyihir itu dan di tusukkannya tepat mengenai jantung mahluk itu. Sekali lagi mahluk itu meronta kesakitan dan tak lama kemudian tubuhnya berubah menjadi butiran debu. Belum cukup sampai di situ kini Calista membentuk sebuah lingkaran sihir berbentuk pusaran
dan menyedot masuk butiran-butiran debu itu, perlahan-lahan sihir itu pun menghilang bersamaan ambruknya tubuh Calista. Semenjak kejadian itu Calista tertidur tak sadarkan diri, ini efek samping dari kekuatan yang telah Ia keluarkan. Situasi di sekolah aman, Sandra bersekolah seperti biasa keadaannya juga semakin membaik hanya saja Calista tak kunjung sadarkan diri, tampak disana ada Jilly , Jhonatan dan kakek Erik yang dengan setiah menunggui Calista yang sedang terbaring. Sebuah ketukan membuyarkan lamunan mereka ''masuk'' jawab Jilly. Roy, Rika dan Sandra rupanya yang datang untuk melihat keadaan calista. Suasana menjadi sanagat hening sampai sebuah suara memecahkan keheningan mereka. ''Kakek'' ucap suara itu lirih. ''Calista'' ucap kakek menitikkan air mata. Roy mendekati tubuh Calista yang terbaring lemah ''Hai ayah, hai Sandra,bibi'' sapa Calista ramah. ''Apakah kau hanya akan menyapa mereka'' rengek Jilly. ''Joe aku titip Jilly padamu ya'' ucap Jilly lemah.
Kemudian Calista menarik lembut lengan kakek nya memerintahkannya mendekat. Calista memeluk erat kakek tercintanya itu. Di belai nya rambut Calista dengan lembut. ''Kakek Calista mau tidur dulu ya'' tak terasa butir-butir air mata kakek Erik pun berjatuhan. Perlahan-lahan tubuh Calista menghilang-dan menghilang untuk selamanya. Tangis kakek Erikpun tak dapat terbendung lagi Ia benar-benar terpukul atas kepergian cucu tercintanya. Sejak kejadian itu kakek Erik lebih memilih pulang ke negri sihir dan seluruh hartanya di sumbangkan untuk Jilly, dan Roy lebih sering termenung sendiri di kamarnya sejak kejadian itu .

The End
Powered by Telkomsel BlackBerry®