Minggu, 30 Maret 2014

KABUT KEABADIAN - KAPAL HANTU part 2

***

Dadaku bergemuruh tidak karuan antara takut dan pasrah, karena terbayang sebentar lagi kami akan diberi tetesan air kehidupan. Benar saja pintu terbuka. Dua orang ABK membawa nampan, dan brak brakk.

Mas Agung menampik nampan itu. Kami sebelas orang berame rame menghajar dua ABK itu. Dan merasa aman kami berjingkat dengan hati hati keluar mencari tempat sembunyi sementara menunggu kabut itu muncul.

Doa, dzikir dan ayat ayat suci terus kami baca semua berharap hanya mukjizat dan Pertolongan Allah. Kami bersembunyi di sebuah lorong yang dianggap aman.

"Ya Allah jika memang ini suratan takdirMU, hamba mengalami ini semua aku ikhlas ya Allah, dan jika berada disini adalah kehendakMU maka berilah petunjukMU jua kami keluar dari tempat ini" doaku

"Aamiin" serentak teman2ku berucap

Aku terus membaca doa Nurbuah dan teman teman terus membaca Asmaul Husna. Alhamdulillah Yaa Allah, gejala alam menandakan tanda tanda kabut itu akan segera muncul, alam seolah bergejolak, petir bersahutan begitu mengerikan dengan kilatan yang sangat menakutkan

" Ayoo cepat, kabut itu mulai muncul dia ada cuma 15menit" teriak Mas Aries

Namun naas ketika kami siap beranjak, didepan kami dihadang para ABK dengan muka beringas dan mereka siap mencabik kami. Hanya doa kami panjatkan kami berlari lewat celah lain.

"Ayo lari kesana cepat kabut itu mulai membentuk gelombang,cepat waktu kita cuma sedikit" teriak Mas Agung

Kami dikejar dan auhh kakiku sakit aku tak mampu lagi berlari dadaku terasa sesak benar saja tak ada udara ku hirup. Biarlah aku menghadang para setan itu, dengan sedikit sisa sisa kekuatanku, asalkan semua temanku selamat.

"Arzyyy," spontan temanku teriak tahu aku tertangkap mereka

"Sudah kalian lari tinggalkan aku" teriakku

Kalian lari aku akan selamatkan Arzy" kata mas Agung

" Aku ikut" kata Maya

" Tidak jangan mas, jangan May, tinggalkan aku" cepat waktu kian menipis bentar lagi kabut itu hilang itu kesempatan kalian" teriakku

Semua ku lihat sudah melompat menuruni kapal, sementara tubuhku di panggul seorang ABK mencengkeramku begitu kuat. Mas Agung dan Maya masih kulihat mengejarku melawan para ABK. Akuu ingat amalan guru spiritualku, akuu baca Ayat Qursyi akuu tiupkan ketelinga ABK yang membopongku.

Alhamdulilah, dia kepanasan dan memegang telinganya kesempatan itu aku buat melawannya

"La haula walaquata illa billahilaliiladzim"
Beri aku kekuatan Ya allah. Agar keluar dari tempat ini. Dadaku sesak aku hampir lemas tapi aku harus keluar dari sini. Aku berlari menuju mas Agung dan Maya. Kami bertiga berhasil mengalahkan ABK namun mereka terus bangkit lagi dan mengejar kami, dbyurrrr

Kami bertiga berhasil terjun dari kapal. Alhamdullilah aku melihat matahari pagi dan teman teman lainnya. Kami sebelas orang berangkulan ditengah lautan lepas dan berharap ada kapal nelayan lewat. Kami tak tau berada di laut mana? Karena hanya lautan luas yang kami lihat. Perut terasa lapar dan hanya air laut yang terasa di bibir.

****

"Aku dimana aku dimana" teriakku ketika aku merasakan ada sentuhan hangat di telapak tanganku

" Arzi sudah sadar, say kita sudah selamat, kita ditolong kapal nelayan. Kamu koma berada di laut" kata Maya

Aku lihat lengkap semua sahabatku dan sahabat baruku. Maya, Qie dan suaminya, mas Agung, Retno, Jaged, Sri, Viola,Netzer, Mamaz.

Kami akan segera pulang besok setelah kondisiku sedikit membaik, bayangkan ternyata tanggal yang ku lihat 26 Mei, padahal kita naik kapal pada 1 Mei. Dunia lelembut terasa pendek waktu di sana.

Bahkan karena tabrakan kapal itu, kami dikira sudah meninggal.

****

Sebuah pengalaman mistik yang tidak akan kami lupakan. Menaiki kapal hantu sekaligus mendapatkan sahabat sahabat baru. Dan hanya satu keyakinan hati ini semua terjadi karena Takdir Allah dan Allah pulalah yang menyelamatkan kita semua.
Aku semakin yakin dan memantapkan ayat ayatmu Ya Robb, tanpa PetunjukMU semua di dunia ini akan terasa buta tanpa arah.

--SEKIAN--
Powered by Telkomsel BlackBerry®

KABUT KEABADIAN - KAPAL HANTU part 1

Oleh ARZINTHA MILANNESTY D'AZZURI

***

Namaku Arzintha mungkin salah satu dari seluruh kaum wanita yang merasakan sakitnya di khianati oleh kekasih yang begitu kita cintai. Hubungan cinta ini bukan dalam hitungan masa yang singkat, hampir ada 3 tahun dan rencana pernikahan sudah dipelupuk mata.

Mas Agung Pamungkas, sosok lelaki yang berwibawa hingga aku begitu terpesona dan mencintainya. Namun tanpa sengaja ketika aku datang kekantornya karena ingin mengajaknya makan siang, tanpa memberitahukannya terlebih dahulu. Karena aku ingin memberinya surprise.

Tapi apa yang ku dapat? Mas Agung sedang berduaan dan memadu kasih dengan wanita lain. Mas Agung terkejut dan berusaha menjelaskan padaku tapi mata kepalaku menyaksikannya sendiri, sakit dan kecewa itu yang kurasa.

Aku berlari dalam sengatnya matahari yang begitu panas, ya sepanas bara di hatiku.

****

Brakkkkk

" Ada apa sih gilaa loh bikin kaget aja" kata Maya Madu dan Retno Ayu teman satu kost.

"Mas Agung, say. Dia khianati aku" kataku

"Sudah sudah sabar, jangan asal tuduh mungkin yang kamu lihat tidak sesuai apa yang ada sesungguhnya" kata Maya

"Bodo' amat aku sudah lihat dia memegang erat tangan wanita itu" kataku

"Ya, udahlah lohh tenangin diri gih" kata Maya sembari melempar amplop di ranjangku

"Apa ini?" Tanyaku

"Kagak tau buka ajaa, kayaknya dari kampung keluargamu " kata Maya

Aku seorang petualang dan pecinta alam sejati. Mengingat aku seorang mahasiswi yang sering mendaki gunung dan tebing tebing bercadas.

"Ohh iyaa kayaknya" Kataku

Sebuah surat dan undangan pernikahan dari orang tuaku yang mengabarkan kakakku akan menikah dan aku di harapkan hadir diacara resepsinya. Huhh dipikir ada baiknya juga aku pulang kampung mengingat kuliah lagi libur dan satu aku ingin melupakan tentang mas Agung.

"Aku disuruh pulang May ama ortu, kakak aku menikah dan aku disuruh ajak mas Agung, hufff" kataku

"Akuu ikut donk Ar, pingin tau pulaumu yang katanya sarat mistik" kata Maya

"Akuu juga mau ikut kalau boleh sih" kata Retno

"Woww, boleh ajaa ayo, aku malah seneng " kataku

"Tapi apa kalian nanti tidak lelah naik kapal? "Pulau Borneo adalah tanah kelahiranku.kataku

"Tidaklah Ar, kamu tidak usah kuatir kami sendiri kok yang memutuskan untuk ikut kamu " kata Retno

"Kita berangkat Sabtu yaa, dan please jangan kasih tau mas Agung. Aku benar benar mau melupakannya dan memberitahu keluargaku tentang hubungan hancurnya cinta ini" kataku

***

Malam ini begitu sepi kurasakan sesepi hatiku saat ini, besok aku akan pulang kampung dan akan kembali ke kota ini dengan kondisi yang harus sudah fresh.

"Ar, ada mas Agung tuh" kata Retno

"Aachh malas aku, bilang Arzi lagi keluar" kataku

"Temuilah bentar kali aja dia mau jelasin semuanya" kata Maya yang ikut memberiku saran

Dengan langkah gontai, aku luluh juga menemui sosok yang aku cintai sekaligus sosok yang ingin aku lupakan.

"Sayang, gimana kabarmu?" Kata Mas Agung

"Seperti kamu lihatkan aku baik baik saja walau tanpamu dan perlu kamu ingat mas takkan ku hancur walau kau goreskan luka padaku" kataku sambil berusaha menahan agar airmata tak keluar

"Aku mau jelasin semuanya, apa yang kamu lihat akan aku jelaskan" kata Mas Agung

"Wanita yang kamu lihat itu bernama Qie qien dan dia mantan kekasih sewaktu di bangku SMU. Ketika cinta kami semakin berkembang tiba tiba dia menghilang. Aku mencarinya kemana mana, namun tak juga bertemu. Kabar terakhir yang aku terima , dia sudah menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya, nama suaminya Cak Ariessuselo dan meninggalkan kota ini dan ikut suaminya menetap di kota asal suaminya Singkawang, Kalimantan."

"Suaminya menghilang begitu saja ketika berlayar karena seorang pelaut dan dia datang kekota ini untuk mencari kabar karena kantor suaminya kerja berpusat di kota ini, dengan harapan bisa bertemu suaminya atau sekedar informasi keberadaan suaminya, namun ada yang memberitahukan dan menurut penerawangan orang pintar suaminya di culik oleh jin lautan dan di tawan di sebuah kapal ghaib tak berpenghuni, kapal yang sering jadi buah bibir dimana seluruh penghuni kapal ditemukan tewas tanpa diketahui penyebabnya. Maka itu dia teringat padaku karena aku punya banyak kenalan orang orang supranatural, aku menggenggam tangannya supaya dia kuat menghadapi cobaan dari Sang Maha Hidup" kata mas Agung

Aku masih tidak percaya dengan ceritanya dan dipikiranku hanya satu ku lihat kamu menggenggam tangannya. Aku wanita bertemperamen pencemburu.

"Aku menemui Kyai Mas'ud, katanya suaminya masih hidup dan masih di tawan, aku harus bantu membebaskannya, kasihan dia Ar. "Cerita mas Agung seolah meyakinkan aku

"Aku ngantuk, mau tidur kalau sudah penjelasannya silakan mas pulang aja, semoga aku bisa menerima dan mempercayai cerita mas" kataku diantara keraguan dan kesal.

"Baiklah, mas pulang dulu,satu yang harus kamu ingat. Mas cinta kamu dan tidak mengkhianatimu" katanya

****

Cuaca panas disesaknya penumpang yang menaiki kapal karena mengingat hari liburan.

"Haduw panas banget yaa" kata Maya

" Iyaa " kata Retno

"Akuu beli minuman dulu ya di kantin" kataku

Hah tidak salahkah penglihatanku bukankah itu mas Agung dan wanita yang aku lihat waktu itu? Aku tidak ingin mas Agung melihatku kalau di atas kapal ini ada diriku. Setelah aku membeli beberapa cemilan dan minuman aku kembali pada sahabatku.
Apakah aku harus menceritakan pada Maya ama Retno?ku lihat mereka sedang asik bercanda dan sepertinya dapat kenalan baru.

"Hai, asyik bener ngobrolnya?" Aku menyapanya

"Hai Ar, kenalin nih dia sama satu tujuan ama kita " kata Maya

" Jaged gelis " salam kenal Ar

"Aku Sri han " salam kenal juga

"Wadew senang jadi makin banyak teman ngobrol nih dan perjalanan akan makin meriah, salam kenal juga " kataku

****

Waktu kian beranjak malam, aku memasuki kamar tempatku beristirahat yang ternyata bersebelahan dengan kamar Jaged dan Sri.

"May, aku lihat mas Agung" kataku pada Maya

"Dimana? Jangan ngigau loh ini ditengah lautan dudul" kata Maya

"Iya dia satu kapal ama kita dan mas Agung bersama wanita itu" aku menceritakan pada Maya apa yang diceritakan Mas Agung padaku.

"Kamu kagak nyapa Ar?" Kata Retno

"Tidak, aku tidak mau dia tau aku ada di kapal ini" kataku

"Ya sudah bobo yuk, badanku letih nih" kata Maya

Pikiranku menerawang mau kemana mas Agung bersama wanita itu? Apakah dia mau mencari suaminya, ah bulshit mana ada kapal hantu? Bukankah itu hanya legenda saja.

Tiba tiba, Brak brak

Aachh ada apa ini kapal tergoncang begitu hebat, suara sirine dibunyikan mungkin ada musibah. Maya terjatuh dari tempat tidur begitupun Retno, kami kontan ketakutan

"Arzi, Maya, Retno ayoo bangun kapal tabrakan" teriak Jaged

Hahhhhh, Kami bertiga spontan berlari dan ternyata di luar kamar keadaan sudah semrawut, para wanita dan anak anak menangis histeris ketakutan. Kami berlima segera menuju geledak melihat apa yang terjadi? MasyaAllah sebuah kapal tanker menabrak lambung kapal hingga hancur dan air laut kini makin masuk ke dalam kapal, berarti kapal akan tenggelam.

Suara komando para ABK agar semua penumpang terjun kelaut sambil membagikan pelampung yang jumlahnya tak seimbang dengan penumpang.

"Cepat cepat semua terjun air makin masuk dan kapal akan tenggelam, jika tidak kita akan terbawa kapal kedasar laut dan sangat kecil kemungkinannya dapat bertahan hidup" teriak para ABK

Retno menangis, begitupun aku teringat mas Agung, achh bodo amat situasi seperti ini mas Agung pasti bisa selamatkan dirinya.

Allahu Akbar Allahu Akbar

Gema dzikir terucap dari semua penumpang kami berlima sudah mendapatkan pelampung dan siap terjun. Kami tidak ingat barang barang kami, hanya satu baju yang menempel di tubuh.

"La haula wala quata illabillahilaliiladzim" kataku

Ayoo hanya Allah tempat kita memohon pertolongan terus berdzikir ya, aku mencoba memberi semangat pada sahabatku padahal sesungguhnya hatiku juga ketakutan dan cemas.

"Ayoo cepat kalian terjun kapal semakin miring air makin banyak masuk, cepat terjun ke laut sebentar lagi lampu akan mati semua dan kapal akan tenggelam" kata para ABK

Ku lihat mereka semua para ABK lebih mengutamakan keselamatan penumpang daripada dirinya. Kami berlima juga membantu para ibu ibu dan mengajaknya terjun ke laut.

Gdebyurr

Suara tubuh kami bersama sama menimpa dinginnya air laut. Beberapa saat aku kehilangan keseimbangan mental, namun beruntung aku dapat mengembalikan konsentrasiku lagi, lalu kami berlima berpengangan tangan. Kami berlima berenang sejauh mungkin menjauhi kapal yang segera tenggelam.

Kami berlima terus berenang karena takut kalau kapal tenggelam menyedot kami ke dasar lautan, aku menoleh kebelakang semua penumpang berenang searah ke kami. Suara tangis jeritan dan dzikir terdengar begitu memilukan.

Asmaul Husna pun terus ku baca memohon pertolongan dan keselamatan. Aku capek apakah ini akhir hidupku Ya Allah, batinnku berbisik. Aku merasakan dinginnya air laut yang luar biasa aku menggigil dan achh pandanganku gelap. Akuu merasa mau pingsan. Aku kuatkan diriku, aku tak boleh mati di tempat ini kasihan keluargaku menunggu kedatanganku.

" Arzi arzi " tiba tiba ku mendengar ada yang memanggilku suara itu tak asing, ya itu suara Mas Agung, rupanya dia melihatku.

Ku mencari sumber suara itu ternyata mas Agung dan wanita itu tengah berenang menuju kami berlima.

"Bagaimana kamu bisa disini" tanya mas Agung

"Maaf mas ini bukan saat yang tepat aku bercerita, lebih baik kita mencari cara agar kita selamat, aku sudah tidak kuat, tubuhku terasa kaku dan dingin menusuk tulang sum sumku" kataku.

"Kamu harus kuat sayang, kamu harus kuat ada mas disini akan membawamu keluar dari lautan ini" kata mas Agung

"Gimana caranya mas? Ini masih tengah malam, kita di lautan lepas mas, apa ini lautan segitiga bermuda Indonesia? Lautan Masalembo yang terkenal anggker?" Kata Retno

"Hust kagak usah bilang angker, serem tau, yang aku takutkan ikan hiuuu" kata Jaged

Aku masih menahan semua nyeri yang kurasa, aku merasakan keanehan napa malam tak beranjak fajar? Padahal terasa kita sudah lama terombang ambing di lautan ini.

"Tunggu tunggu jangan tinggalkan kami." Ada suara yang memanggil gerombolan kami

Ternyata tiga orang, berenang menuju kami.

"Maaf bisakan kami gabung bersama kalian?" Tanyanya

"Boleh mari, kita sama sama sedang tertimpa bencana" kata Sri

Kenalin kami bertiga,Netzer Zuriel, Viola Annabella Kizawa, Mamaz aim part I,
Kami sepuluh orang berenang bersama dan aku merasakan keanehan yang telah terlupa dianatara kita.

"Sebentar, apakah kalian tidak merasa aneh? Kemana para penumpang yang lain? Dan kenapa laut jadi sunyi sekali. Kabut hitam pekat apa ini begitu tebal dan suara teriakan tidak terdengar?" Kataku

Kami semua berhenti sejenak,

"Iyaa kok sepi amat?" Kata mas Agung.

" Hai lihat ada cahaya semoga itu kapal nelayan yang sedang melaut" kata Maya

Kami kontan menengok sumber cahaya itu, semoga saja ya Allah, tolong hambamu ini aku sudah tidak kuat lagi. Kami bersorak sorak teriak teriak agar kapal itu mendekati kami dan menolong kami. Ya benar saja kapal itu menuju kami dan berhenti tepat di depan kami.

Aku amati ini bukan kapal nelayan tapi kapal yang Pelni khusus bahan bakar. Akuu lihat para ABK membantu kami satu persatu menaiki kapal itu. Kapal itu bau lumut di penciumanku.

Aneh kenapa ada getaran hebat agar aku terjun lagi ke laut. Aku lihat para kelasi menatap kami dengan sorot mata kosong dan bibir pucat tanpa banyak bicara. Aku merasakan ke anehan pada kapal ini, semua ABK berpakaian kelasi lengkap namun tak ada sapa manis atau bertanya ke adaan kami.

Kami hanya di beri kamar atau ruangan yang ada tempat tidur berderet deret.

"Say, kok aku merinding nih" kata Maya

"Iya aku juga " kata Jaged

"Permisi silakan kalian istirahat besok kalian akan tiba ditujuan" tiba tiba seorang Kapten menemui kami

"Tujuan kemana kalau boleh kami tau Kapt?" Tanya Mas Agung

"Ke alam keabadian berteman sama kami dan menjadi penghuni tetap alam keabadian" katanya tetap dengan nada dingin

"Jangan bercanda Kapt, kami minta turun saja biar kami terjun lagi ke laut" kata Maya

"Tidak bisa, kalian sudah memasuki dimensi kami dan menaiki kapal ini berarti habislah waktu kalian di dunia" kata Kapten

"Tidak tidak aku tidak mau mati, aku mau ketemu suamiku" kata Qie qien

"Siapa saja jika menaiki kapal ini akan menjadi teman kami dan kami terus mencari warga baru di alam kami sebagai teman, bukankah kami telah menolongmu dari dinginnya air laut? " kata Kapten

"Tolong bebaskan kami, biarlah kami terjun kembali ke laut" kataku

"Kamu sudah hampir mati, tinggalah saja di kapal ini sebagai penumpang abadi dan penghuni alam lelembut lautan" kata Kapten

"Aachh jangan seenaknya bicara tentang kekasihku dia akan baik baik saja" kata Mas Agung emosi

"Kita harus keluar dari kapal ini " bisik Sri

Tapi tiba tiba, Brak brakkkk

Pintu tertutup seketika dan terkunci, kami sepuluh orang dalam kecemasan dan ketakutan teramat sangat.

"Ayoo bukan waktunya menangis, kita harus keluar dari kapal ini. Kita lihat sekeliling ruangan ini siapa tau ada jalan atau celah untuk kita keluar dari sini" kata Mamaz
Kami semua berpencar meraba raba dinding siapa tau ada jalan. Namun pandanganku sedikit penasaran dengan seonggok selimut di ujung ranjang. Siapakah atau apakah ada orang lain disini? Aku jalan pelan pelan menghampiri ranjang itu, suasana ruangan itu remang remang hanya ada lampu satu 5 watt. Buat ruangan yang terdiri dari 15 ranjang tidur.

***

Uhuk uhuk uhuk

Aku menghentikan langkahkku dan semua menoleh kesumber suara batuk itu, yaa ada orang lain disini. Kami menghampiri selimut yang seolah membungkus seonggok tubuh layu. Mas Agung membukanya pelan pelan.Ahh benar saja seorang lelaki bagai tengkorak hidup namun masih bisa bersuara.

"Siapa kalian?" Tanya nya

"Mas Aries" teriak Qie Qien

Dia suamiku yang kucari, dia suamiku mas Agung. Aku mencarimu mas dan ternyata kita dipertemukan disini. Ayoo kita harus keluar dari sini

" Bagaimana ceritanya mas bisa berada disini" tanya qie qie

"Bukan saatnya bertanya Qie, kita harus keluar dari sini" kata Viola

"Percuma saja semua teman temanku meninggal ketika berusaha keluar dari kapal ini. Tinggal aku seorang diri, aku bertahan hidup tanpa makan selama disini. Mereka hanya memberiku setetes air di mana katanya air kehidupan, dan ternyata benar aku tak pernah merasakan lapar dan aku tidak lemas namun anehnya aku mudah tertidur dalam berhari hari akan tetapi kondisi tubuhku kian ringkih " cerita mas Aries

"Tidak mungkin kita jadi seperti mereka, aku tidak mau jadi penghuni alam lelembut, "kata Netzer

Aku pernah di beritahu oleh salah satu bagian dari mereka seorang ABK namun kini dia telah di bunuh karena berkhianat.

"Saat kabut hitam itu keluar dan menyelimuti udara disanalah pintu dimensi dunia nyata dan dunia lelembut terbuka, dan saat itulah ketika kita melihat kabut itu ada, maka secepatnya melompat keluar dari kapal ini, dimana sesungguhnya di bawah itu lautan. Tetapi yang nampak di mata kita adalah batu batu cadas di mana dalam pikiran kita kalau kita lompat kita akan mati, karena batu cadas yang kita lihat berbentuk runcing runcing yang siap menembus tubuh kita, namun itu hanya ilusi karena sesungguhnya itu lautan. Aku pernah mencobanya namun sia sia karena akuu selalu tertangkap setiap keluar dari kamar ini" cerita Mas Aries

"Baiklah kita atur dan kita harus keluar dari sini" kata Maya

"Tapi lewat pintu mana kita bisa keluar dari ruangan ini?" Tanya Netzer

"Sebentar lagi ketika terdengar terompet kapal, otomatis semua pintu terbuka sendirinya tepatnya jam 12 malam. Itu waktu mereka meneteskan ke kita air kehidupan ini, dan kita bisa melawannya cukup memukul tepat di dadanya" kata mas Aries

"Kita pura pura tidur saja, namun susahnya dari sini kita tak tau kapan kabut hitam itu muncul dan kalau kita sudah keluar kamar, mereka mengetahui kita tak ada disini otomatis kita akan terus diburunya, semoga nasib baik ada pada kita dan kabut itu segera muncul. Kabut itu muncul di tandai dengan gelegar petir bersahutan dan udara terasa pengap dan tidak ada udara sama sekali. Makanya banyak temanku juga yang meninggal karena kehabisan nafas saat mencoba kabur tapii tidak tau jalannya.Dan Saat itu kabut hitam akan muncul dan membentuk sebuah gelombang."Cerita mas Aries

***
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Jumat, 14 Maret 2014

Sixth Sense

Original Story by apollo

Sejak kecil aku memiliki kelebihan melihat makhluk gaib, awalnya aku takut tapi seiring waktu kemampuan itu mulai hilang. Sekarang aku mulai menjalani kehidupanku seperti semula. Selayaknya remaja, aku memiliki banyak teman, bisa dikatakan cara bergaulku cukup baik. Aku pun mulai lupa bahwa aku pernah bisa melihat hal-hal menyeramkan.
Sebagai mahasiswa tingkat akhir di salah satu universitas swasta, aku ditunjuk sebagai panitia untuk kegiatan ospek. Aku pun menerimanya dengan senang hati, satu minggu sebelum acara itu dimulai aku dan beberapa temanku pergi untuk melihat kondisi vila tempat kami menginap nanti. Suasananya memang indah jika pada siang hari, tapi semua itu berubah 180 derajat ketika malam tiba. Kami disana cukup lama, karna selain melihat lokasi kami juga menyempatkan diri mengobrol dengan pengurus vila itu. Malam sudah sangat larut namun teman-temanku masih asik mengobrol dengan penjaga vila. Aku pun pergi keluar vila untuk merokok. Tak lama dari dalam vila seseorang ikut keluar dan menyapaku.
"Wah sendirian aja mas??", tanya orang itu.
Aku membalas pertanyaannya sambil tersenyum ramah.
"Iya pak, habis dingin disini", jawabku

"Kalau dingin kenapa diluar mas??", tanya orang itu lagi.

"Wah sambil ngebul sedikit pak, asem mulut kalau ga ngerokok", jawabku singkat.

Mendengar jawabanku itu dia tertawa, dan dia duduk menemaniku berbincang-bincang, aku pun mengurungkan niatku untuk merokok dan terhanyut dalam obrolan bersama orang ini yang ternyata adalah adik penjaga vila. Tak lama kami mengobrol dia permisi untuk kembali masuk ke dalam vila.
Meski tak lagi ada teman ngobrol aku kembali mengambil rokok yang tadi kusimpan.
Baru saja aku menyalakan rokok, di depanku terlihat seorang anak perempuan tengah menatapku sambil tersenyum, setelah ku perhatikan ternyata wajah anak itu sebagian hancur dan rusak. Meski takut, aku mencoba memberanikan diri dan mengacuhkan apa yang kulihat. Belum hilang rasa takutku karna hal tadi, sekarang terdengar suara tawa yang menyayat hati, makin lama suara itu semakin pilu dan membuatku merinding ketakutan, kumatikan rokok yang masih menyala ini dan langsung mengarah masuk dalam vila untuk bergabung dengan temanku yang lain. Tapi saat aku melangkah ada sepotong tangan menggenggam kakiku, spontan saja aku langsung berteriak dan berlari kedalam. Jantungku berdetak sangat kencang karna ketakutan yang kurasakan, aku tau ini bukan yang pertama terjadi, tapi sudah sangat lama aku tak melihat dan mengalami peristiwa menakutkan seperti ini.

Teriakanku tadi ternyata membuat semua teman-temanku berlari menghampiriku sambil bertanya tentang apa yang terjadi. Kuceritakan pada mereka semuanya, bahkan tentang kemampuanku melihat hal-hal mistis, tapi mereka malah menertawakanku dan berkata bahwa aku berbohong untuk menakuti mereka. Kesal dikira berbohong dan ditertawakan aku pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Disana ternyata ada adik penjaga vila, dia tersenyum sambil menhampiriku.
"Kok kelihatan kesal begitu mas??", sapanya.
"Habis saya ditertawakan sama teman-teman, padahal saya tadi benar-benar melihat hantu, saya heran kenapa mereka tidak percaya pada cerita saya", jawabku.

"Hahah, saya percaya kok mas, disini memang sering ada penampakan gitu", sahutnya.

"Serius pak??", tanyaku
"Iya mas, bahkan sudah terbukti mas bisa melihat makhluk gaib", jawabnya sambil tersenyum.
"Bapak tau darimana kalau saya tidak berbohong??", tanyaku.
Dia kembali tersenyum dan menjawab pertanyaanku.
"Karna kamu bisa melihat saya mas".

****
Powered by Telkomsel BlackBerry®

- Forgotten -

Written By Dark Venus

Entah sudah berapa lama aku berada di rumah yang kutempati. Mungkin sebulan, dua bulan, atau lebih?

Aku kurang nyaman, sebelumnya suasana rumahku terasa begitu tenang dan juga menyenangkan. Namun akhir-akhir ini, aku mulai merasa tidak kerasan lagi menempati rumah ini.

Kalian tahu?

Hahaha! Tentu saja tidak! Aku belum menceritakan kengerian-kengerian yang kurasakan selama beberapa waktu ini. Aku tak suka cahaya yang terlalu terang, sedikit remang lebih baik. Tapi ... lagi-lagi aku harus merasa jengkel, karena kini keadaan rumahku baik malam maupun siang selalu penuh dengan pencahayaan.

Aku hanya tinggal berdua dengan adikku, semenjak kedua orangtua kami meninggal beberapa tahun yang lalu. Aku yang merawat adikku, ia juga tak terlalu rewel atau menuntut banyak.

Ia tak lagi memiliki siapapun kecuali aku. Adikku sedikit idiot. Awalnya aku mengira karena ke-idiotan-nya maka ia sering berhalusinasi jika di dalam rumah kami ada seseorang--suara-suara bising--pun bebunyian lainnya, yang membuatnya setengah mati ketakutan. Ia akan berlari memelukku dengan erat dan terbata-bata ia berusaha melukiskan rasa takutnya.

Klontang!

Lagi-lagi bunyi berisik yang mengganggu! Apakah itu tikus atau makhluk lainnya?

"Hey, Steve. Hari sudah larut, kenapa kau belum juga tidur?" kataku pada adikku. Matanya begitu kuat untuk tetap terjaga. Jujur saja, aku hampir tak pernah melihatnya tertidur!

"A-aku ta-takut! Me-mereka a-ada di-di dalam ru-rumah."

"Ya. Tapi ada baiknya kita masuk ke dalam. Sampai kapan kau bermain di ayunan? Kau perlu beristirahat. Masuklah."

Steve menggeleng. Adikku benar-benar ketakutan. Ia sering mengatakan jika ia melihat seseorang terkadang melintas di depan pintu kamarnya. Bagaimana ia bisa melihat orang yang melintas? Yeah ... ia jarang menutup pintu seluruhnya. Itu sudah menjadi kebiasaan.

"Ha-hantu! A-ada ha-hantu!"

"Bulshit! Nggak ada hantu, iblis, ataupun makhluk halus lainnya di dalam rumah! Cepat masuk!" bentakku pada Steve. "Jika kau masih terus seperti ini, aku tak segan menguncimu di basement!" ancamku.

Steve menatapku sendu, ia akan sangat takut jika diharuskan terkunci semalaman di ruang gelap--pengap--kotor tersebut. Aku pernah menguncinya di sana selama berhari-hari. Ia tak kuberi makan ataupun minum. Ia kuperlakukan seperti itu karena aku kesal, tak ada alasan lain.

Akhirnya Steve mengalah dan beranjak masuk ke dalam kamar. Ia segera menaiki tempat tidurnya, menarik selimut, serta menutupi seluruh tubuhnya. Dasar pengecut!

***

"Aaaakkkhh!"

Astaga! Ada apa lagi ia berteriak bak kesetanan di tengah pagi buta?!

Tergopoh-gopoh aku lari menuju kamarnya. Aku tak menyalakan lampu kamar, aku langsung mendekati dan mendekapnya.

"Ada apa?"

"Di-di se-sebe-lah-ku, a-ada se-setan!"

"What the hell you said! Mimpi kau, Steve! Sudah kukatakan tak ada setan dan makhluk lainnya!"

Steve menunjuk sisi kanan tempat tidurnya. Kuperhatikan dengan seksama, memang terlihat seperti ada seseorang yang tertidur di sebelahnya. Selimut Steve bergerak naik dan turun, seolah sesuatu berada di dalam selimut dan bernafas dengan teratur.

Aku mencoba mengulurkan tanganku, berusaha membuka selimut, dan--

"Ka-kau li-lihat?!"

"Hah?!"

Seorang atau entah apa sebutan yang pas, mungkin sesosok gadis kecil berbaring memunggungi di samping Steve! Steve benar, memang ada setan rupanya! Aku harus membawa Steve keluar dari rumah sebelum membahayakan keadaan kami berdua.

"Se-setan!" kata Steve lagi.

"Cepat turun dari tempat tidurmu, kita harus pergi dari rumah ini. Kita akan meminta pertolongan dari tetangga. Aku tak percaya jika rumah ini kini menyeramkan!"

Aku menarik tangan Steve dengan kasar, kemudian mengajaknya berlari keluar meninggalkan kamar.

"Dengar! Rumah ini berhantu, Mark! Setiap malam aku melihat ayunan di teras belakang berderit dan berayun, padahal tak ada siapapun di sana!"

Astaga, suara teriakan itu kembali terdengar! Kali ini aku dan Steve melihat lagi 2 sosok setan lainnya. Dua setan dewasa, pria dan wanita. Kenapa mereka kini muncul? Sebelumnya rumah ini begitu tentram.

"Maggie, kita akan meminta Pendeta untuk melakukan pengusiran arwah yang masih tertinggal di dalam rumah ini,"

"Mark, Linda terkadang menjerit di tengah malam, kadang ia berkata jika ia melihat bayangan berkelebat di dalam kamarnya. Kau juga bodoh membeli rumah tanpa mengetahui riwayatnya!"

"Maggie, jangan menyalahkanku! Besok aku akan memanggil Pendeta. Jadi bersabarlah. Rumah ini dulunya ditempati sebuah keluarga dengan dua orang anak laki-lakinya. Kedua orangtua mereka tewas dalam kecelakaan. Dan salah satu anak laki-laki yang terbesar berusia 18 tahun, menderita penyakit kejiwaan akut. Ia membunuh adiknya yang berusia 10 tahun, sedikit idiot, di ruang basement. Setelahnya anak tertua itu mengakhiri hidupnya dengan menggantung dirinya sendiri. Mungkin mereka-lah yang masih berkeliaran tanpa menyadari jika mereka telah berbeda!"

"Tahu darimana kau?"

"Tetangga sebelah yang menceritakannya. Aku sengaja membeli rumah ini, selain besar, harganya juga murah,"

"Aku tak peduli dengan semua cerita itu. Aku mau rumah ini tenang!"

"Bersabarlah. Besok siang, aku akan menelpon Pendeta."

Percakapan yang kudengar, membuatku sedikit shock. Steve menatapku dengan tatapan tak paham. Aku hanya bisa diam dan menyadari segalanya. Pantas saja Steve ketakutan setengah mati pada ruang basement itu. Dan ... aku? Mungkin sudah seharusnya aku juga takut pada sesuatu yang akan menunggu kami siang hari nanti. Lalu, setelah itu kami akan tinggal di mana?

_End_
Powered by Telkomsel BlackBerry®

A, B, C, D

Aku berjalan menuju pintu basement dan membukanya, melihat ke bawah, ke dalam lubang berwarna hitam yang sangat familiar bagiku. Aku menjauhkan rambut pirang ku dari mataku, sehingga aku bisa menuruni tangga dengan hati-hati, memastikan agar aku tidak tersandung.

"Apakah kau percaya bahwa hari ini tepat tiga tahun aku bertemu denganmu? Tampak sudah begitu lama bukan, Patrick?" Aku mencapai dasar basement dan mengangkat tanganku; mencari rantai manik-manik yang akan menyalakan lampu. Tanganku menjelajah di udara selama beberapa detik sebelum aku merasa rantai logam yang dingin menyentuh jari-jariku. Aku memegangnya dan segera menariknya kebawah. Segera setelah kutarik, cahaya dari lampu neon yang tergantung di langit-langit, memenuhi ruangan itu.

Basement rumahku tidak dilengkapi dengan perabotan-perabotan. Itu hanyalah sebuah tempat dimana kami menyimpan barang-barang yang tidak kami perlukan. Menyadari bahwa sampah-sampah itu sudah menumpuk, kami mengadakan cuci gudang setidaknya sekitar dua puluh tahun yang lalu. Kami telah tinggal disini sepanjang hidup kami dan basement itu bisa menceritakan semua kisah hidup kami. Aku menatap boneka usang dan mainan-mainan rusak yang tergeletak di tepi tangga, barang-barang masa kecilku. Keadaan mainan-mainan itu sudah parah, sangat tidak mungkin untuk bisa bermain dengan mereka lagi, tapi aku terlalu menyayangi mereka sampai-sampai tidak tega membuangnya. Aku melangkahi tumpukan boneka tanpa kepala itu dan bergegas melewati kuda goyang yang setengah kepalanya telah hancur, serta tertutup noda coklat gelap yang kontras dengan seluruh tubuhnya yang berwarna putih.

"Saat aku menaiki kuda itu, aku merasa hari esok tidak akan ada! Apakah kau telah melihat foto ku saat masih bayi sedang menaiki kuda itu? Foto itu ada di mantel. Aku akan menunjukkan nya padamu nanti." Aku berjalan melewati rak-rak boneka teddy yang sudah usang dan berjalan ke arah tumpukan pakaian.

"Seperti nya kau telah menyadari bahwa ibuku adalah seorang yang sudah tua. Aku tidak berpikir bahwa dia telah membuang semua barang yang pernah kugunakan. Dia tetap menyimpan setiap mainan, setiap sepatu, setiap pakaian... Aku terkejut kenapa tidak ada segunung tisu bekas pakai yang harus kita daki!" Aku menerobos tumpukan pakaian masa kecilku yang berwarna merah dan hitam. Hanya merah dan hitam. Aku tidak pernah memakai pakaian berwarna lain. Warna lain tidak cocok untukku, tidak seperti merah atau hitam. Tapi merah adalah warna favorit-ku. Sebagian besar boneka ku memakai baju berwarna merah. Boneka teddy bear ku memakai pita berwarna merah. Dan aku harus memakai baju berwarna merah agar tampak sesuai dengan mereka. Warna yang terang, warna yang memabukkan. Aku berhenti didepan rak yang menyimpan pakaian-pakaian ku dari sekolah menengah pertama. Aku mendorong beberapa pakaian kesamping sampai aku menemukan pakaian yang kucari. Itu adalah sebuah gaun berwarna merah tanpa lengan dengan bintik-bintik hitam memenuhi gaun itu. Ditengah nya terdapat sebuah pita hitam yang diikat ke belakang. Aku melepas pakaian itu dari gantungan lalu mengangkatnya ke udara.

"Apa kau ingat ini? Aku memakai ini ketika bertemu dengan mu untuk pertama kalinya tiga tahun yang lalu. Kau mungkin tidak ingat, kalian para lelaki sering lupa. Hmmm... Aku ingin tahu apakah gaun ini masih cocok untukku." Aku membuka kancing belakang gaun itu dan perlahan-lahan memasukkannya dari atas kepalaku. "Sedikit sempit, tapi aku masih bisa memakainya. Hanya untukmu." Aku merapikan kembali rak pakaian itu dan berjalan ke arah kotak-kotak yang disusun tinggi menyerupai menara.

"Apakah kau ingat hari pertama kita bertemu? Tiga tahun yang lalu, hari pertama masuk sekolah. Hari pertamaku masuk ke sekolah umum. Aku tidak kenal siapapun. Dan kemudian aku melihatmu. Kau mengenakan kemeja dengan kancing biru dan celana khaki. Kau terlihat sangat tampan." Aku berhenti didepan kotak yang ditandai dengan huruf "P" berwarna merah. Aku menarik kotak itu keluar dari tumpukan kotak lain diatasnya yang ditandai dengan 18 huruf merah lainnya. Aku mengambil kotak itu lalu memindahkannya.

"Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darimu. Kau terlihat begitu tampan. Rambut pirangmu disisir kesamping, mata hijaumu yang cerah memancarkan kegembiraan ketika kau melihat temanmu. Kau terlihat begitu hidup, penuh dengan sukacita! Aku harus berbicara denganmu. Aku harus menjadi temanmu. Aku tahu kau akan memperlakukanku berbeda dari anak-anak lain." Sekarang aku sedang menghadap dinding batu yang tertutup debu dan lumpur kering. Ujung dari ruang basement ini. Aku tidak bisa pergi kemanapun. "Oh! Tempat yang harus kutuju..."

Aku meraih sekop yang tergeletak di dinding. Aku menaruhnya disana ketika aku berusia lima tahun, aku berpikir mungkin aku akan membutuhkan nya suatu saat nanti. Dan aku selalu membutuhkannya, pada saat-saat tertentu. Aku meletakkan kotak itu ke tanah dan berbalik ke arah sebaliknya. Aku menyenderkan punggungku ke dinding dan perlahan-lahan mulai berjalan ke depan, mondar-mandir, menghitung masing-masing langkah dengan sebuah huruf seperti yang selalu kulakukan sebelumnya.

"A. B. C. D. E. F. G. H. I. J. K. L. M. N. O... P!" Aku menggambar sebuah simbol "x" dengan telapak sepatuku di tanah. Aku melangkah mundur dan memasukkan sekop ke dalam tanah yang baru saja kutandai.

"Setiap gadis di kelas berpikir kau tampan. Kau seperti anak laki-laki yang cantik, Patrick. Pretty Patrick adalah sebutan mereka untukmu. Mereka berkata jika kau mengenakan sebuah gaun maka dengan mudah kau akan menjadi seorang gadis. Tidak. Kau terlalu tampan untuk berubah menjadi seorang gadis." Saat aku menggali lebih dalam, tanah dibawah kakiku berubah menjadi lebih lunak. Tanah yang keras segera berubah menjadi lumpur yang lembek, hal itu memudahkan ku dalam pekerjaanku. Jauh lebih mudah untuk mendapatkan apa yang kuinginkan.

"Pada akhirnya, aku tidak mengatakan apapun padamu. Tak sepatah katapun. Menurutku, semua itu tidak dapat diterima. Jadi, ketika aku melihat mu berjalan kearah rumahku, aku memutuskan untuk berjalan bersamamu. Oh, kita langsung akrab! Kita seperti dua butir kacang polong. Kau suka warna biru dan aku suka warna merah. Aku suka kucing, tapi kau alergi padanya. Makanan favorit mu adalah pizza, tapi aku suka makanan yang mengandung laktosa. Seiring berjalannya waktu, kita bertambah akrab!"

GEDEBUK. Bagian logam dari sekopku telah memukul sesuatu. Aku berhenti dan melempar sekop keluar dari lubang yang telah kugali di sekelilingku. Aku berlutut dan mulai menggali tanah yang menghalangiku untuk melihat apa yang kucari dengan tangan.

"Ketika kita sampai dirumahku, aku memintamu untuk masuk dan bermain bersamaku. Dan kau setuju, jadi aku menggiringmu kedalam kamarku. Tapi, ketika kau melihat boneka-boneka ku, boneka tanpa kepala yang indah itu... Kau menyebutku aneh. Orang aneh! Sama seperti yang lainnya! Kau tidak baik dan manis seperti orang-orang bilang. Kau jelek! Kau jelek dan suka menyakitiku! Sama seperti yang lainnya! Dunia tidak membutuhkan orang sepertimu. Kau mencoba untuk melarikan diri. Untuk keluar... Sama seperti yang lainnya. Tapi kau... Kau tersandung. Itu benar, kau tersandung dan jatuh tepat diatas kuda goyangku. Kau terjatuh empat kali. Tidak ada yang bisa kulakukan." Akhirnya, galianku mencapai sebuah peti kayu. Aku mengulurkan tangan keluar dari lubang dan meraih kotak yang ditandai dengan huruf "P" merah. Aku membukanya dan mengeluarkan seikat kliping koran tentang seorang anak berusia duabelas tahun yang hilang. Lalu, aku membuka peti kayu itu. Aku menatap sebuah gambar anak laki-laki cantik dengan rambut pirang yang indah dan matanya yang hijau, beralih dengan melihat isi peti itu. Sekarang, sebagian rambutnya telah hilang. Matanya telah dimakan cacing dan belatung. Kulit yang telah membusuk itu mengerut, hampir memperlihatkan barisan tulang-tulangnya. Aku tersenyum.

"Sekarang kau tidak cantik lagi kan?" Aku berdiri diatas peti itu, melihat sekilas kliping di genggamanku, lalu kembali melihat sisa-sisa sesuatu yang berada di dalam peti. Aku meletakkan kliping itu kembali kedalam peti, menutup peti itu, lalu menutup lubang itu kembali. Saat selesai, kuletakkan sekop kembali ke tempat semula dan berjalan menuju ujung basement. Aku meletakkan kotak yang ditandai dengan huruf "P" kembali ke rak, diantara kotak yang ditandai dengan huruf "O" dan "Q". Berjalan menuju rak pakaian dan melepas gaun yang kukenakan, menempatkannya kembali ke gantungan diantara pakaian berwarna merah lainnya. Aku memanjat tumpukan mainan lama dan berhasil sampai di tangga. Lalu berusaha meraih rantai lampu yang telah kunyalakan satu jam sebelumnya. Aku mematikan lampu dan berjalan menaiki tangga.

"Selamat malam, Patrick. Sampai jumpa tahun depan."
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Picture Day

Source: creepy? or not?
-Jason-

Kuhela nafas perlahan, mencoba menenangkan diri. Kubenahi rambutku yang agak sedikit acak-acakan. Reputasiku salah satunya bergantung pada foto ini; sesuatu yang akan mewakilkan keabadian dariku, semua kenangan tentang diriku. Aku terjaga penuh malam sebelumnya, mencari pose terbaik yang akan kupamerkan nantinya. Akankah sebuah senyum klasik ataukah tampang wajah serius, yang akan mewakilkan keseluruhan diriku secara tepat? Atau mungkin seharusnya aku tampil garang sehingga jauh lebih mengesankan?

Sebelum aku sampai pada kesimpulan mana yang terbaik, blitz menyala, membuatku silau. Kukerjapkan mata beberapa kali untuk meredakan efek silau, kekecewaan menyeruak di dada. Aku yakin hasilnya tidak sesuai dengan yang kubayangkan.

"Maaf," ujarku sopan pada juru foto. "Bisa kita ulangi sesi pemotretan?"

Petugas polisi tidakmengucapkan sepatah kata pun. Dia bahkan tidak berani beradu pandang denganku.

***
Powered by Telkomsel BlackBerry®

FRIENDS

Retold an Translated by -Jason-
Source : creepypasta.com
Credit To – Vish P

Aku tidak begitu ingat dengan masa kecilku, seperti kebanyakan orang. Kenangan-kenangan itu selalu samar dan nampaknya apa yang kita "ingat" kemungkinan hanyalah kepingan kenangan yang tidak lengkap. Kita tidak bisa melakukan banyak hal mengenai itu, dan biasanya meyakinkan diri bahwa ingatan yang ada memang selalu benar. Ingatan pertama yang kupunyai adalah saat berumur lima tahun. Aku tidak begitu yakin apakah kenangan ini nyata atau tidak, namun saat itulah kupikir aku bertemu dengan Michael. Aku tidak pernah punya teman, maka aku begitu girang saat bertemu dengannya. Dia memanggilku, Jack, dan aku menyukainya. Walau tidak ingat dengan pasti saat bertemu dengannya pertama kali, tidak ada keraguan bahwa kami segera terjalin dalam sebuah ikatan kuat pertemanan.

Aku tidak akan membuat kalian bosan mengenai rincian apa yang kami lakukan setiap harinya pada tahun yang telah lewat, namun secara garis besar akan kuceritakan beberapa hal yang kami lakukan, untuk meyakinkan kalian –bahkan yang paling skeptis sekali pun- mengenai persahabatan kami.

Michael, seorang bocah dengan sikapnya yang terkadang menyerupai perempuan, tidak mempunyai terlalu banyak teman di sekolah. Dia kerap menjadi obyek pembullyan, dan kebanyakan hari-harinya sepulangnya sekolah diwarnai dengan acara minum teh bersamaku, sementara dia berkeluh kesah mengenai penderitaannya untuk meringankan beban. Teh tersebut, tidak seperti kata-kata penghiburan dariku, jauh lebih berhasil. Hal favorit lain darinya adalah memotong rambutku. Dia akan menggunting rambutku dengan berbagai macam gaya berbeda, dan aku sangat menikmati model-model potongan rambutnya. Beruntung baginya, rambutku tumbuh dengan begitu cepat sehingga dia mempunyai kesempatan untuk mengganti gaya dengan lebih sering.

Hanya ada satu hal yang selalu menghalangi hubungan kami. Jangan berpikiran buruk dulu, aku dan Michael benar-benar tidak memiliki perasaan lebih satu sama lain. Hal itu adalah orangtuanya. Kupikir mereka tidak menyetujui anaknya berteman denganku, dan sungguh aku tidak mengerti alasannya walau pun telah kucoba.

Semua itu tidak hanya penolakan, aku mulai berpikir bahwa mereka membenciku. Semakin lama persahabatn kami terjalin, semakin buruk keadaan yang ada. Sungguh menyakitkan walau hanya memikirkannya, maka aku tidak akan mengoceh panjang-panjang mengenai semua itu.

Hubungan kami semakin erat, namun hancur begitu saja dua tahun berikutnya. Michael menjadi seorang pemain football yang selalu duduk di kursi utama, dan aku masih sama seperti sebelumya; payah dan benar-benar tak berdaya saat harus mengikuti atletik.

Dia mempunyai banyak teman baru dan mulai abai terhadapku. Sungguh menyakitkan! Terutama karena sebelumnya aku selalu ada untuknya saat masa-masa menyakitkan itu menimpanya. Pengabaiannya merupakan hal terakhir yang pernah terlintas dalam kepalaku, dan hal itu sungguh menyakitkan. Aku merasa sangat kesepian, seolah tidak ada satu pun orang tersisa di dunia untukku.

Saat aku duduk di pojokan kamar dan menulis semua ini, aku melihat Michael dan teman-temannya menonton TV. Terkadang aku merasa dia menyadari keberadaanku dan menatap ke arahku, namun aku jauh lebih paham. Kini kupahami takdirku: dia menciptakanku, namun lupa untuk melenyapkanku.


*****
Powered by Telkomsel BlackBerry®