Jumat, 14 Maret 2014
-Real Dolls-
Credit to Jd2456
Translate by Crecent-
Beberapa hari yang lalu aku menemukan sebuah foto yang mengajak ku kembali ke era 1800-an. Itu adalah foto dari beberapa kerabatku yang hidup di masa itu. Mereka adalah keluarga kelas menengah.
Hal ini membuatku bertanya-tanya, mengapa orang-orang dalam foto itu terlihat begitu tidak bahagia, tanpa emosi, tanpa nyawa, dan hampa. Sekarang aku yakin, beberapa dari kalian pasti berpikir, "Oh, pasti karena butuh waktu lama untuk mengambil foto-foto itu." Well, ya benar, tapi kau kehilangan satu detail kecil. Pada saat itu, sangat mahal untuk bisa mendapatkan sebuah foto, itulah mengapa hanya keluarga dari kelas-kelas atas yang kebanyakan punya foto keluarga.
Jadi, itulah mengapa kebanyakan foto berasal dari keluarga kelas atas dan menengah. Well, bayangkan apa yang akan terjadi, jika setelah kau meninggal mereka akan mendandanimu dan membuatmu terlihat bagus dan rapi. Hal ini biasanya dilakukan sebelum pembekuan itu terjadi. Hal ini dilakukan agar mereka bisa membuatmu berpose layaknya boneka. Mereka kemudian akan mengambil fotomu, dan setelah selesai, mereka akan mengirimmu pergi untuk dikubur.
Kembali ke pertanyaan tadi, mengapa orang-orang dalam foto itu terlihat begitu tidak bahagia, tanpa emosi, tanpa nyawa, dan hampa. Well, itu karena mereka memang tidak bernyawa. Pada saat foto-foto itu diambil, mereka sudah mati.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Peti Mati
Translate by Crecent-
Pada suatu malam yang suram, seorang pria sedang berjalan pulang sendirian, ketika dia mendengar suara di belakangnya:
BUMP...
BUMP...
BUMP...
Berjalan lebih cepat, dia berbalik ke belakang, melihat menembus kabut, dia melihat sebuah peti mati dengan posisi tegak membenturkan bagian bawah nya ke jalan lalu melompat ke arahnya.
BUMP...
BUMP...
BUMP...
Karena ketakutan, pria itu mulai berlari menuju rumahnya, peti mati itu meloncat cepat di belakangnya.
LEBIH CEPAT...
LEBIH CEPAT...
BUMP...
BUMP...
BUMP...
Dia berjalan ke arah pintu rumahnya, memilah kunci-kuncinya, membuka pintu, bergegas masuk, membanting lalu mengunci pintu di belakang nya. Namun, peti mati itu menabrakan tubuhnya ke pintu, dengan tutup peti yang bergantian buka-tutup (seperti bertepuk tangan)...
Tepukan-BUMP...
Tepukan-BUMP...
Tepukan-BUMP...
... Pada heels nya.
Pria yang ketakutan itupun berlari... Bergegas ke lantai latas, pria itu mengunci dirinya di dalam kamar mandi. Hati nya berdebar-debar... Kepala nya terhuyung-huyung... Nafas nya terengah-engah. Dengan suara "CRASH" yang nyaring, peti mati itu menghancurkan pintu kamar mandi.
... Suara ketukan dan tepukan berjalan ke arahnya.
Pria itu berteriak dan meraih sesuatu, apa saja, tapi semua yang bisa dia temukan hanyalah sebotol obat batuk sirup! Putus asa, dia melempar sebotol obat itu ke arah peti mati...
Dan...
Peti mati itu berhenti...
Powered by Telkomsel BlackBerry®
The Webster Culling
Keluarga Webster pindah ke rumah baru pada awal Desembe 1964.
Mike Webster, 32 tahun.
Meryl Webster, 23 tahun.
Katrina Webster, 8 tahun.
Kaylee Webster, 7 tahun.
Charlie Webster, 5 tahun.
Dua hari setelah menempati rumah baru, dua gadis Webster mengatakan ada hal-hal aneh yang erjadi dalam rumah pada orangtua mereka. Mereka mengatakan bahwa sang adik -Charlie- kerap mengiagu saat tidur mengenai seseorang yang tinggal di dalam kotak mainan.
Kotak mainan itu sendiri sebelumnya merupakan sebuah peti tua yang didapat dari sebuah pasar loak, yang kemudian digunakan untuk menyimpan mainan.
Meryl menanyakan seperti apa sosok pria yang ada di dalam peti keesokan harinya saat sarapan pada Charlie.
Charlie hanya menjawab pendek: "palu dan paku."
Saat ditanya lebih lanjut, Charlie tidak mengatakan hal lain kecuali dua hal tersebut mengenai pria yang ada di dalam peti.
Setelah beberapa hari kemudian, Charlie hanya mengatakan hal yang sama tersebut sepanjang hari. Tidak ada yang lain.
"Palu dan paku," gumam Charlie saat ditanya menu apa yang dia mau untuk sarapan. "Palu dan paku."
Tepat pada malam ke-empatbelas setelah pindah, Mike dan Meryl terbangun saat mendengar jeritan dari ketiga anaknya. Kedua orangtua itu segera bergegas berlari menyusuri lorong pendek menuju kamar anak-anaknya. Saat Mike hendak menyalakan lampu, lampu tidak bisa menyala.
Kedua orangtua dari keluarga Webster bersumpah bahwa mereka mendengar bisikan dalam suara berat dan dalam, "palu dan paku."
Lampu di ruangan berkedip beberapa kali sebelum akhirnya menyala. Gambaran yang ada di foto, terpampang di hadapan pasangan Webster di malam pada tahun 1964 itu.
Apa yang dicari sebagai pemecahan masalah oleh pihak berwajib, masih menjadi sebuah misteri tak terungkap sampai sekarang.
Gambar yang ada merupakan foto yang diambil di TKP. Sebagai catatan penting adalah foto palu yang berada di atas kotak mainan. Palu ini tidak terdaftar dan tidak ditemui dalam kotak maupun daftar bukti di kepolisian. Dan pasangan Webster maupun polisi tidak pernah melihat palu tersebut berada di TKP. Seolah-olah muncul begitu saja dalam foto.
Walaupun dalam foto, ketiga anak tersebut digantung, namun bukan itu penyebab kematian mereka. Penyebab kematian dari ketiganya adalah paku yang dipalukan menembus tengkorak bagian belakang kepala mereka.
Bocah laki-laki di ujung kanan dari foto adalah Charlie, dan disinilah misteri yang ada semakin membingungkan.
Dua gadis cilik di sebelah kiri Charlie bukanlah gadis dari keluarga Webster. Kedua gadis Webster menghilang pada malam itu dan dua gadis tak dikenal dibunuh di kamar tidur tersebut.
Dua gadis keluarga Webster tidak pernah ditemukan, dan dua gadis yang muncul di rumah Webster tidak pernah berhasil diidentifikasi.
***
Powered by Telkomsel BlackBerry®
• Crematorium •
Suatu pagi, ketika sedang menyapu lantai ruang krematorium, sebuah mobil jenazah tiba di parkiran. Seorang pria dengan setelan jas berwarna hitam keluar dari mobil dan langsung disambut oleh pamanku.
Tak lama kemudian, paman memanggilku dan memintaku untuk membawa peti jenazah ke ruang krematorium. Aku merasa sedikit aneh, karna biasanya sebelum dibawa keruang krematorium, peti mati akan terlebih dahulu dibawa ke ruang yang letaknya bersebelahan dengan ruang krematorium untuk mengurusi beberapa hal. Tapi aku lebih memilih diam, tidak bertanya apapun.
Kami meletakkan peti di lantai, sementara itu paman tengah mempersiapkan persiapan kremasi. Tinggal lah aku dan pria yang memakai setelan jas hitam itu di dalam ruangan. Suasana pun menjadi kikuk, kami berdua hanya berdiam diri, tak tahu harus berkata apa. Aku menduga kalau pria ini pasti keluarga dekat seseorang yang terbaring di dalam peti mati itu. Yang membuat sedikit aneh, wajahnya tak memperlihatkan kesedihan sedikitpun.
Ketika oven telah siap, paman dan aku mengangkat peti itu dan meletakkannya ke bangku baja. Sebelumnya, kami membuka penutup mayat, dari sana aku dapat melihat ke dalam peti. Disana terbaring seorang pria muda, mungkin berusia sekitar 30 tahun. Biasanya mayat terlihat sangat pucat, tapi ini berbeda; wajahnya tetap berwarna merah muda.
Paman memasukkan bahan bakar, menyulut api, dan menekan tombol otomatis. Peti mati bergerak perlahan masuk ke dalam api. Ketika peti sudah masuk dengan sempurna, paman keluar dan menutup pintu, diikuti oleh pria berjas hitam. Sedangkan aku masih berdiri disana, menunggu. Biasanya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk membakar semuanya menjadi abu. Setelahnya, aku akan mengumpulkan abu tersebut dan meletakannya di dalam sebuah guci atau bejana, lalu siap diberikan pada keluarga mereka.
Pamanku dan pria berjas hitam itu pergi ke ruang sebelah. Mungkin mereka akan menyelesaikan surat-menyurat atau hal penting lainnya perihal kremasi, sementara aku melanjutkan menyapu ruang krematorium.
Sekitar 10 menit kemudian, aku mendengar suara-suara aneh yang berasal dari oven. Awalnya, aku pikir itu hanya imajinasiku, tapi suara itu semakin lama terdengar semakin jelas. Aku mencoba berasumsi kalau itu hanyalah suara metal yang memanas oleh api.
Bang! Bang! Bang! Bang!
Suara itu jelas sekali seolah-olah seseorang di dalam sana memukul-mukul peti dengan panik, berusaha untuk keluar.
Aku merasa ngeri, dan sangat yakin kalau pria di dalam peti itu masih hidup. Tak kuasa menahan ketakutan, aku berlari ke ruangan sebelah. Tubuhku gemetar hebat. Aku memberitahu paman tentang apa yang kudengar, dan mengajak mereka untuk segera mengecek ke ruang krematorium.
Bang! Bang! Bang! Bang!
"Aku tak mendengar apapun," kata pamanku.
Bang! Bang! Bang! Bang!
"Aku juga," pria berjas hitam menimpali.
Aku menatap tak percaya ke arah mereka bergantian, shock dan tertegun. Bahkan, aku meragukan kewarasanku saat itu. Paman dan pria itu kemudian kembali ke ruangan sebelah. Aku hanya berdiri di tengah ruangan, memasang indera pendengaranku lebih tajam lagi.
Aku tak tahu bagaimana cara membuka peti itu dengan aman. Bahkan mungkin jika aku dapat melakukannya, aku pasti dihadapkan pada pemandangan yang mengenaskan . Setelah 10 atau 15 menit terbakar api, mungkinkah seseorang masih dapat bertahan hidup?
Akhirnya, suara gaduh itu melemah dan semakin melemah, hingga akhirnya benar-benar menghilang. Sekarang, aku hanya dapat mendengar suara kayu berderak di lahap api. Tak ada suara aneh lagi.
Satu jam kemudian, pamanku datang dan mematikan oven. Bersama-sama, kami meletakkan abu mayat ke wadah di bawahnya, kemudian menuangkannya kedalam sebuah bejana. Pria berjas hitam itu menerima guci abu dengan senyum yang lebar menyeringai, lalu ia kembali ke dalam mobilnya dan pergi.
Paman memberiku amplop yang penuh dengan uang, dan memberitahuku agar tidak pernah membicarakan pada orang lain tentang apa yang kudengar tadi. Kami tak pernah membicarakan hal itu lagi. Bisnis berjalan lancar seperti biasanya.
Namun, sampai hari ini, aku masih sering mengalami mimpi buruk tentang bunyi bedebum yang berasal dari dalam oven krematorium.
*ScaryForKids
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Jumat, 07 Maret 2014
INNOCENT
TARIAN KEMATIAN
“Disinilah aku tinggal” Hanya itulah yang dikeluarkan dari mulut Ani. Desa yang sunyi dan juga terlihat makmur. Anipun tak lupa untuk bergegas membereskan barang-barangnya menuju rumah barunya. “Haah, masih jam 12.00 ! Enaknya ngapain yaa?”. Diapun menyalakan radionya, dan memutarkan channel kesukaannya. Lagu Good Timelah yang didengarnya, diapun menari dengan perasaan senang. Tiba-tiba saja terdengar suara sentakan “Matikan radio itu!”. Anipun kaget “Maaf bapak siapa ya? Dan mengapa saya tidak boleh menyalakan lagu?”. “Nak, kamu harus berhati-hati jika ingin tinggal didesa ini!”. Bapak itupun pergi dengan bergegas, tak tahu ada apa yang membuat bapak itu pergi dengan buru-buru. “Dasar orang aneh! Inikan hakku!”, Anipun masuk dengan melanjutkan membereskan barang-barangnya.
THE SECRET OF THE TOILET
***
Clakk….clakkk…
clakkkkkk…..
Tetesan dari kran yang tidak tertutup rapat itu semakin menerorku yang hingga tengah malam ini sukar untuktertidur.
“Huff….. mana baru jam sebelas empat lima lagi,” bisikku pelan.
Entah sudah berapa kali aku membolak-balikan bantal usang yang hampir tidak tersentuh sabun selama aku pindah kekosan Bu Alina.Maklum aku adalah seorang siswi kelas tiga SMA yang merangkap menjadi pelayan disebuah restoran siap saji.
bersikeras menghalangikepergianku.Aku harus pergi dari pada tiap hari kena omelbu Dian, belum lagi cibiran pedas daripenghuni kos lain tentang hutangku yang belum aku bayar.
Berbekal uang tiga ratus ribu rupiah, hasil penjualan ponsel
lamaku . Aku memberanikan diri untuk tinggal dikosanbaru dengan
menjanjikan upahkusebagai pelayanrestoran.
“Akhir bulan nanti segera cair, bu.” bujukku kepada bu
Alina saat diamenolak rencanaku tinggal di kossannya.
“Bukan karena kondisi keuanganmu dek Mayang, tapi
memang kamar kos disini sudah penuh.” Sahutnya lembut.
Ya memang benar, aku lihat rumah besar yang terdiri dari lima
kamar dilantai satu telah penuh sesakdiisi oleh sembilan orang penghuni kos dan satu asisten pribadi Bu Alina.Tapi dengan berbagai pertimbangan, akhirnya beliau menyerahkan kamar putri semata
wayangnya yang tengah mengenyam pendidikan di Jepang kepadaku.
“Haduh betapa beruntungnya diriku ini.” Fikiriku sesaat setelah Bu Alina
mengesahkan kamar kebanggaan putrinya kepadaku. Betapa tidak kamar ini begitu luas dan satu- satunya kamar yang
memiliki toilet sendiri. Apalagi bu Alina dengan cuma-cuma meminjamkan kasur dan meja rias milik putrinya. Hanya saja dia dia tidak membolehkan aku menggunakan lemari besar dikamar itu, mungkin karena lemari itu telah diisi penuh oleh barang- barang milik putrinya.
Tapi untung saja dimeja rias menempel sebuahlemari kecil yang masih bisa aku gunakan untuk menyimpan pakaian ku, dan sebagian lagi
bisa aku gantung di pegantungan di belakang pintu.
Kembali kulihat jam, kali ini tepat pukul dua belas malam dan aku masih
terjaga. Tiba-tiba “Wwhuuuuussshh……..” sekebat angin kencang masuk
kerongga kamarku, menyisakan sosok putih yang melambai-lambai didepanku.
Seketika aku terkejut, “Sial aku hampir saja membiarkan jendela terbuka semalaman.” Gerutuku sambil menutup jendela dan membenarkan tirai
putih yang tersapu angin.
Aku kembali merebahkan tubuh mungilku di kasur besar nan empuk ini.
Pelan tapi pasti mata ini mulai menutup. Byuuuuurrrrr…… Suara guyuran air mengagetkanku. “Jam segini siapa yang mandi sih?
Ganggu orang saja!” gerutuku kuesal. Otaku mulai berfikir waras
tertahan. Kulirik pintu toilet, dan benar saja dari lubang kunci pintu toilet sesosok wanita berambut panjang tengah tertunduk kaku dibawah cipratan air shower.
“Apa mungkin dia putrinya bu Alin?” fikirku membuyarkan rasa takutku sendiri. Tanpa berfikir panjang lagi, aku segera beranjak pergi. Namun, baru beberapa langkah menuju tempat tidur, suara tangisan memaksaku untuk kembali.
“Kkenapa Mbak? Mmbak ggak kenapa-napakan?” tanyaku sedikit gugup.
Dia tak kunjung menjawab pertanyaanku, malah tangisannya semakin
menjadi. “Hiks……hiks…… tolong aku hikksss….”Suara tangisan itu
menggema mendominasi kamarku. Aku benar- benar panik. Sekuat
tenaga kucoba rubuhkan pintu berbahan plastik itu, dan hasilnya nihil.
Tangisannya pelan- pelan meredup.
Kulihat kembali dari lubang kunci, dan betapa kagetnya aku saat kulihat tubuh wanita misterius itu kini tak utuh lagi. Berdiri lesu sesosok tubuh tanpa kepala, lehernya dipenuhi daging yang berantakan. Dan cipratan darah segar menodai dinding-dinding toilet.
Tubuhku benar-benar terasa bergetar dan tak bisa mengatakan
apa-apa. Saat ku alihkan mataku kearah lantai toilet, tergeletak sebuah
kepala berambut panjang bersama sebilah gergaji di sampingnya. Aku
semakin berguncang hebat, entah apa yang aku fikirkan saat itu.Rasanya aku ingin berlari ke kamarpenghuni lain untuk meminta bantuan.
Tapi aku sama sekali tak bisa bergerak, piyamaku terjepit engsel pintu.
“Haaaaaaaaa……tolong!!!!!” aku berteriak sekencang-kencangnya. Dengantergesa-gesa kugigit piyamaku. Dan Seeeeeetttt, bagian
belakang piyamaku berhasil robek. Akuberlari sekencang-kencangnya
memburu pintukeluar kamar.
“Arrggght….. kenapa gak bisa dibuka? Aku semakin panik. Segera ku ambil posisi kuda-kuda dan... Bruuukkkk…… tendangankumerobohkan sebilah pintu yang terbuat dari kayu.
Nafasku terasa sesak mencium bau anyir darah yang menusuk
“Ttttoilet???” tanyaku bingung. Ternyata toilet yang sama, hanya saja
yang membedakan tinggal kepala yang tergeletak dilantai.
Kepala berambut panjang itu pelan-pelan menoleh dan menyeringai
kepadaku.
“Hyaaaaa…..!"
Creeeekkkkk
Seseorang membuka pintu kamarku, diamnyeringai hangat dan mendekatiku. “Rupanya kamu demam ya May?” sahut Bu Alina sambil
menempelkan punduk tangannya dikeningku.
“Syukurlah ternyata cuma mimpi,” bisikupelan.
**TAMAT**