Jumat, 14 Maret 2014

The Webster Culling

Source : Readifyoudare

Keluarga Webster pindah ke rumah baru pada awal Desembe 1964.

Mike Webster, 32 tahun.

Meryl Webster, 23 tahun.

Katrina Webster, 8 tahun.

Kaylee Webster, 7 tahun.

Charlie Webster, 5 tahun.

Dua hari setelah menempati rumah baru, dua gadis Webster mengatakan ada hal-hal aneh yang erjadi dalam rumah pada orangtua mereka. Mereka mengatakan bahwa sang adik -Charlie- kerap mengiagu saat tidur mengenai seseorang yang tinggal di dalam kotak mainan.

Kotak mainan itu sendiri sebelumnya merupakan sebuah peti tua yang didapat dari sebuah pasar loak, yang kemudian digunakan untuk menyimpan mainan.

Meryl menanyakan seperti apa sosok pria yang ada di dalam peti keesokan harinya saat sarapan pada Charlie.

Charlie hanya menjawab pendek: "palu dan paku."

Saat ditanya lebih lanjut, Charlie tidak mengatakan hal lain kecuali dua hal tersebut mengenai pria yang ada di dalam peti.
Setelah beberapa hari kemudian, Charlie hanya mengatakan hal yang sama tersebut sepanjang hari. Tidak ada yang lain.

"Palu dan paku," gumam Charlie saat ditanya menu apa yang dia mau untuk sarapan. "Palu dan paku."

Tepat pada malam ke-empatbelas setelah pindah, Mike dan Meryl terbangun saat mendengar jeritan dari ketiga anaknya. Kedua orangtua itu segera bergegas berlari menyusuri lorong pendek menuju kamar anak-anaknya. Saat Mike hendak menyalakan lampu, lampu tidak bisa menyala.

Kedua orangtua dari keluarga Webster bersumpah bahwa mereka mendengar bisikan dalam suara berat dan dalam, "palu dan paku."

Lampu di ruangan berkedip beberapa kali sebelum akhirnya menyala. Gambaran yang ada di foto, terpampang di hadapan pasangan Webster di malam pada tahun 1964 itu.

Apa yang dicari sebagai pemecahan masalah oleh pihak berwajib, masih menjadi sebuah misteri tak terungkap sampai sekarang.

Gambar yang ada merupakan foto yang diambil di TKP. Sebagai catatan penting adalah foto palu yang berada di atas kotak mainan. Palu ini tidak terdaftar dan tidak ditemui dalam kotak maupun daftar bukti di kepolisian. Dan pasangan Webster maupun polisi tidak pernah melihat palu tersebut berada di TKP. Seolah-olah muncul begitu saja dalam foto.

Walaupun dalam foto, ketiga anak tersebut digantung, namun bukan itu penyebab kematian mereka. Penyebab kematian dari ketiganya adalah paku yang dipalukan menembus tengkorak bagian belakang kepala mereka.

Bocah laki-laki di ujung kanan dari foto adalah Charlie, dan disinilah misteri yang ada semakin membingungkan.
Dua gadis cilik di sebelah kiri Charlie bukanlah gadis dari keluarga Webster. Kedua gadis Webster menghilang pada malam itu dan dua gadis tak dikenal dibunuh di kamar tidur tersebut.

Dua gadis keluarga Webster tidak pernah ditemukan, dan dua gadis yang muncul di rumah Webster tidak pernah berhasil diidentifikasi.

***
Powered by Telkomsel BlackBerry®

• Crematorium •

Pamanku memiliki sebuah funeral house (rumah/tempat untuk memandikan & mengkremasi mayat, dll ) dan aku berkesempatan untuk bekerja separuh waktu disana selama musim panas. Aku ditempatkan di bagian krematorium. Pekerjaan itu tidaklah menyenangkan, tapi upah yang didapat sungguh memuaskan. Tentunya sebagai mahasiswa miskin, aku sangat membutuhkan uang. Mengurusi mayat-mayat adalah hal yang mengerikan pada awalnya, tapi setelah beberapa hari dijalani, akhirnya aku mulai terbiasa.

Suatu pagi, ketika sedang menyapu lantai ruang krematorium, sebuah mobil jenazah tiba di parkiran. Seorang pria dengan setelan jas berwarna hitam keluar dari mobil dan langsung disambut oleh pamanku.

Tak lama kemudian, paman memanggilku dan memintaku untuk membawa peti jenazah ke ruang krematorium. Aku merasa sedikit aneh, karna biasanya sebelum dibawa keruang krematorium, peti mati akan terlebih dahulu dibawa ke ruang yang letaknya bersebelahan dengan ruang krematorium untuk mengurusi beberapa hal. Tapi aku lebih memilih diam, tidak bertanya apapun.

Kami meletakkan peti di lantai, sementara itu paman tengah mempersiapkan persiapan kremasi. Tinggal lah aku dan pria yang memakai setelan jas hitam itu di dalam ruangan. Suasana pun menjadi kikuk, kami berdua hanya berdiam diri, tak tahu harus berkata apa. Aku menduga kalau pria ini pasti keluarga dekat seseorang yang terbaring di dalam peti mati itu. Yang membuat sedikit aneh, wajahnya tak memperlihatkan kesedihan sedikitpun.

Ketika oven telah siap, paman dan aku mengangkat peti itu dan meletakkannya ke bangku baja. Sebelumnya, kami membuka penutup mayat, dari sana aku dapat melihat ke dalam peti. Disana terbaring seorang pria muda, mungkin berusia sekitar 30 tahun. Biasanya mayat terlihat sangat pucat, tapi ini berbeda; wajahnya tetap berwarna merah muda.

Paman memasukkan bahan bakar, menyulut api, dan menekan tombol otomatis. Peti mati bergerak perlahan masuk ke dalam api. Ketika peti sudah masuk dengan sempurna, paman keluar dan menutup pintu, diikuti oleh pria berjas hitam. Sedangkan aku masih berdiri disana, menunggu. Biasanya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk membakar semuanya menjadi abu. Setelahnya, aku akan mengumpulkan abu tersebut dan meletakannya di dalam sebuah guci atau bejana, lalu siap diberikan pada keluarga mereka.

Pamanku dan pria berjas hitam itu pergi ke ruang sebelah. Mungkin mereka akan menyelesaikan surat-menyurat atau hal penting lainnya perihal kremasi, sementara aku melanjutkan menyapu ruang krematorium.

Sekitar 10 menit kemudian, aku mendengar suara-suara aneh yang berasal dari oven. Awalnya, aku pikir itu hanya imajinasiku, tapi suara itu semakin lama terdengar semakin jelas. Aku mencoba berasumsi kalau itu hanyalah suara metal yang memanas oleh api.

Bang! Bang! Bang! Bang!

Suara itu jelas sekali seolah-olah seseorang di dalam sana memukul-mukul peti dengan panik, berusaha untuk keluar.

Aku merasa ngeri, dan sangat yakin kalau pria di dalam peti itu masih hidup. Tak kuasa menahan ketakutan, aku berlari ke ruangan sebelah. Tubuhku gemetar hebat. Aku memberitahu paman tentang apa yang kudengar, dan mengajak mereka untuk segera mengecek ke ruang krematorium.

Bang! Bang! Bang! Bang!

"Aku tak mendengar apapun," kata pamanku.

Bang! Bang! Bang! Bang!

"Aku juga," pria berjas hitam menimpali.

Aku menatap tak percaya ke arah mereka bergantian, shock dan tertegun. Bahkan, aku meragukan kewarasanku saat itu. Paman dan pria itu kemudian kembali ke ruangan sebelah. Aku hanya berdiri di tengah ruangan, memasang indera pendengaranku lebih tajam lagi.

Aku tak tahu bagaimana cara membuka peti itu dengan aman. Bahkan mungkin jika aku dapat melakukannya, aku pasti dihadapkan pada pemandangan yang mengenaskan . Setelah 10 atau 15 menit terbakar api, mungkinkah seseorang masih dapat bertahan hidup?

Akhirnya, suara gaduh itu melemah dan semakin melemah, hingga akhirnya benar-benar menghilang. Sekarang, aku hanya dapat mendengar suara kayu berderak di lahap api. Tak ada suara aneh lagi.

Satu jam kemudian, pamanku datang dan mematikan oven. Bersama-sama, kami meletakkan abu mayat ke wadah di bawahnya, kemudian menuangkannya kedalam sebuah bejana. Pria berjas hitam itu menerima guci abu dengan senyum yang lebar menyeringai, lalu ia kembali ke dalam mobilnya dan pergi.

Paman memberiku amplop yang penuh dengan uang, dan memberitahuku agar tidak pernah membicarakan pada orang lain tentang apa yang kudengar tadi. Kami tak pernah membicarakan hal itu lagi. Bisnis berjalan lancar seperti biasanya.

Namun, sampai hari ini, aku masih sering mengalami mimpi buruk tentang bunyi bedebum yang berasal dari dalam oven krematorium.

*ScaryForKids
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Jumat, 07 Maret 2014

INNOCENT

Kubuka mata perlahan, masih terasa pening kepala ini. Entah apa yang terjadi sebelumnya. Bukankah harusnya aku berada di rumah Cavia, anak didikku? Tetapi, mengapa kini aku terikat dikursi? Ruangan apa ini? Begitu pengap dan sempit. Bau anyir dan zat kimia yang tidak enak terendus hidungku. Perutku terasa diaduk-aduk, mual tak tertahan kurasa. Inginku berlari keluar untuk menghirup udara segar.

Mataku memandang ke sekeliling ruangan ini, sambil berusaha melepaskan ikatanku. Cahaya yang kurang, menyebabkan pupil mataku terbuka lebar-lebar. Pandanganku kini tertuju pada benda yang seperti akuarium besar, tak jauh dari tempatku terikat. Didalamnya seperti berisi beberapa benda yang menyerupai kepala.

"Ah, tidak mungkin," desahku pelan.Aku mencoba fokus melihat benda tersebut. Berharap dugaanku salah, bahwa benda itu bukanlah potongan kepala manusia. Tetapi, sepertinya aku benar. Terlihat dari bentuk dan aku tak mampu berpikiran apa-apa lagi. Pikiranku kalut. Ketakutkan kini mulai merasukiku, apa yang akan terjadi padaku?

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, terlihak sesosok tubuh tinggi ramping mulai berjalan menghampiriku. Aku terkejut mengenali sosok itu.

"Ibu Oriza sayang, jangan takut. Aku tak akan membuatmu kesakitan,"ucapnya sambil menunjukkan jarum suntik padaku.

"Cavia, mengapa kau lakukan ini? apa salahku?" tanyaku terisak, tak terasa air mataku mengalir.

"Kau tak bersalah Bu, hanya saja aku terlampau menyayangimu. Untuk itulah aku berbuat seperti ini," ucap Cavia dengan tersenyum.

"Kau gila ...!!!" jeritku.

"Terima kasih Bu, itu pujian yang biasa kuterima. Ibu sudah lihat akuarium ini kan? Ibu tau, ini adalah potongan kepala orang-orang yang kusayangi, berada dalam kubangan formalin."

Aku tercengang mendengar pernyataan gadis 16 tahun itu. Tak pernah terbayangkan bahwa gadis cantik ini mampu berbuat keji, bahkan tak ada sesal dari setiap pernyataannya. Benar-benar berjiwa psikopat.

"Ini adalah kepala Bu Zea, Bu Rosa, Bu Jasmin dan sebentar lagi Bu Oriza akan ikut bergabung dengan mereka," lanjut Cavia lagi.

Ketakutan kembali menyergapku, ia mulai mendekati dan membelai rambutku.

"Bu, ini adalah bentuk kasih sayangku. Aku bisa selalu memandangmu tanpa takut kehilangan sosokmu," desah Cavia ditelingaku.

Aku mulai meronta, namun ia telah berhasil menyuntikan sesuatu dilengan tanganku. Pandanganku mulai mengabur dan kesadaranku mulai menghilang.

****
Cavia mulai membekap tubuh Oriza dengan bantal selama sekian menit, lalu memeriksa denyut nadinya. Setelah yakin tubuh itu tak bernyawa, ia memenggal kepalanya. Ia membersihkan potongan kepala itu dan menyemprotkan alkohol keseluruh bagian. Kemudian ia meletakkan kepala itu di akuarium yang berisi formalin.

"Bu Oriza, kau akan selamanya bersamaku, tidak seperti Mamaku" ucapnya puas.

Cavia menggotong bagian tubuh Oriza yang lain dan menguburkannya disamping ruangan tersebut. Nampak beberapa gundukan lain yang telah tersusun rapi.

"Ma, kubawakan teman baru untukmu. Semoga kau senang, Ma." Ucap Cavia dengan senyum terindahnya.


Ia berjalan riang meninggalkan tempat tersebut, mencari teman baru lagi. Teman buatnya dan sang Mama.

** TAMAT **

TARIAN KEMATIAN


“Disinilah aku tinggal” Hanya itulah yang dikeluarkan dari mulut Ani. Desa yang sunyi dan juga terlihat makmur. Anipun tak lupa untuk bergegas membereskan barang-barangnya menuju rumah barunya. “Haah, masih jam 12.00 ! Enaknya ngapain yaa?”. Diapun menyalakan radionya, dan memutarkan channel kesukaannya. Lagu Good Timelah yang didengarnya, diapun menari dengan perasaan senang. Tiba-tiba saja terdengar suara sentakan “Matikan radio itu!”. Anipun kaget “Maaf bapak siapa ya? Dan mengapa saya tidak boleh menyalakan lagu?”. “Nak, kamu harus berhati-hati jika ingin tinggal didesa ini!”. Bapak itupun pergi dengan bergegas, tak tahu ada apa yang membuat bapak itu pergi dengan buru-buru. “Dasar orang aneh! Inikan hakku!”, Anipun masuk dengan melanjutkan membereskan barang-barangnya.
**
Malampun tiba. Shrekk shrekk, korek apipun menyala dan Ani segera membuat api unggun. “Betapa dinginnya hari ini. Wuhh”. Sambil menggosok tangannya agar tetap hangat itu. Tiba-tiba saja ada bunyi ketukan pintu “Tok.. Tok.. Tok”. ”Siapa itu?” Anipun membukakan pintu. “Hai, kau orang baru ya didesa ini?” terlihat orang asing berbicara kepada Ani. “Siapa kau?. Dan iya betul, Aku orang baru didesa ini. Masuklah” Anipun membuka pintunya dengan lebar agar orang itu bisa masuk kedalam. “Namaku Tio. Aku tinggal disebelahmu, Aku hanya ingin memperingatimu tentang sesutu legenda didesa ini”. “Memang apa legenda itu?. Konyol sekali!”. “Janganlah menganggap konyol karena legenda itu sungguh nyata” Jawabnya Tio terlihat serius. “Yasudah, memang apa legendanya?” Berusaha terihat serius. “Besok akan kuceritakan , karena bila malam terlihat seram” begitu kata Tio yang vepat-cepat ingin pulang. Tiopun membalikkan badan, dan berkata “Janganlah nyalakan alat elektronik yang berhubungan dengan musik” Tiopun segera pergi dengan buru-buru.
***
“Pagi dunia!!!!” Anipun terlihat bangun dengan semangat. “Tok.. Tok.. Tok..”. “Itu pasti Tio” yang terlihat Ani segera membukakan pintu untuknya. Ternyata benar “Hai,ehmm..” Terlihat Tio yang tampak kebingungan. “Namaku Ani” Ani menjawab sapaannya Tio dengan muka malas, “Oh Hai Ani” Yang terlihat senyum dengan perasaan malu. “Oke kau ingin cerita apa?” terlihat Ani yang sedang membuat sarapan. “Ehmm.. begini, Sebenarnya konon dulu ada seorang putri yang ingin dilamar dengan pemuda biasa dari desa ini” Tio mencoba menjelaskan An dengan serius. “Terus apa hubungannya dengan musik?” terlihat Ani yang sedang kebingungan. “Masalahnya bukan musik intinya tapi TARIAN KEMATIAN”. “Haah? Hahahahaaa” terlihat Ani yang sedang tertawa karena kekonyolan Tio yang terlalu aneh. “Kau ini lucu juga yaa! Memang mana ada namanya “TARIAN KEMATIAN”. “Tapi dengar aku baik-baik dulu!” terlihat Tio berusaha meyakinkan omongannya yang terlihat konyol dimata Ani. “Begini, memang dulu mereka tidak diizinkan menikah oleh ayah sang putri yaitu raja. Tetapi mereka kawin lari dan tentu saja mereka tetap menikah. Tapi tidak dengan sang raja, sang raja sangat marah sekali dan akhirnya memerintahkan pengawalnya untuk mencari mereka HIDUP/MATI. Merekapun ditemukan tewas dengan keadaan sedang menari. Jadi oleh sebab itu, jika ada warga desa yang sedang menari akan tewas atau menghilang entah kemana. Begitulah ceritanya”. “Okee aku faham! Sekarang pergilah karena aku tidak percaya dengan cerita konyolmu itu!” Ani yang terlihat mendorong Tio keluar dari pintu. Tiopun hanya pasrah dan berkata “Tetapi jika hantu itu mengejarmu itu bukan salahku. Karena aku sudah berusaha memperingatimu”
****
Bulanpun telah tersenyum kepada langit yang menandakan bahwa hari tlah gelap.”Hoamm.. kenapa aku ngantuk sekali yaa.. Nyalain lagu ahh..” Ani yang terlihat tidak peduli dengan cerita konyolnya Tio. Someone like youpun terdengar lembut ditelinga Ani. Tapi, tiba-tiba saja jendela kamarnya terbuka dengan keras “BRAKK”. “Oh apa itu? Oh ternyata hanya jendela”. Tiba-tiba saja ada bayangan hitam lewat. “Apa itu barusan? Oh tuhan apa yang aku lakukan barusan ini?” terlihat wajahAni yang terlihat panik. Listrik dirumah Anipun padam, “Whaaaa” Anipun menjerit. “Oh ternyata hanya listrik padam, tapi apa itu? Seperti perempuan sedang mengenakan baju pengantin!” Anipun semakin mendekat, mendekat, dan.... “Whaaaaa” krekk kepala anipun terputus dan menggelinding kebawah lantai. Listrikpun menyala lagi. Tiba-tiba banyak warga yang datang kerumah Ani karena kaget dengan suara teriakan dirumah Ani. “Ani ?? Ani ?? dimana kamu?”. “Semua tolong cari kesemua tempat!” terdengar ayah Tio yang memerintahkan semua warga. Semuapun mencari darimana berasalnya suara itu. “Yatuhan!” Alangkah terkejutnya salah satu warga melihat kamar Ani yang penuh dengan darah dan bau amis. “Tidaakkk!” Tiopun menangis deras saat melihat Ani tlah tewas.

THE END

THE SECRET OF THE TOILET

Karya By: Danafox Uchiha

Selamat Membaca! 

***

Clakk….clakkk…
clakkkkkk…..

Tetesan dari kran yang tidak tertutup rapat itu semakin menerorku yang hingga tengah malam ini sukar untuktertidur. 

Kulirik bulatan putih didinding yang terhalang remang-remang malam.

“Huff….. mana baru jam sebelas empat lima lagi,” bisikku pelan.
Entah sudah berapa kali aku membolak-balikan bantal usang yang hampir tidak tersentuh sabun selama aku pindah kekosan Bu Alina.Maklum aku adalah seorang siswi kelas tiga SMA yang merangkap menjadi pelayan disebuah restoran siap saji.

Sebelumnya aku tinggal dikosan Bu Dian, tapi karena terbelit hutang kanankiri, ya denganterpaksa aku kabur. 
Padahal malam itu Kak Danar, putrabungsu bu Dian
bersikeras menghalangikepergianku.Aku harus pergi dari pada tiap hari kena omelbu Dian, belum lagi cibiran pedas daripenghuni kos lain tentang hutangku yang belum aku bayar.

Berbekal uang tiga ratus ribu rupiah, hasil penjualan ponsel
lamaku . Aku memberanikan diri untuk tinggal dikosanbaru dengan
menjanjikan upahkusebagai pelayanrestoran.

“Akhir bulan nanti segera cair, bu.” bujukku kepada bu
Alina saat diamenolak rencanaku tinggal di kossannya.
“Bukan karena kondisi keuanganmu dek Mayang, tapi
memang kamar kos disini sudah penuh.” Sahutnya lembut.

Ya memang benar, aku lihat rumah besar yang terdiri dari lima
kamar dilantai satu telah penuh sesakdiisi oleh sembilan orang penghuni kos dan satu asisten pribadi Bu Alina.Tapi dengan berbagai pertimbangan, akhirnya beliau menyerahkan kamar putri semata
wayangnya yang tengah mengenyam pendidikan di Jepang kepadaku.

“Haduh betapa beruntungnya diriku ini.” Fikiriku sesaat setelah Bu Alina
mengesahkan kamar kebanggaan putrinya kepadaku. Betapa tidak kamar ini begitu luas dan satu- satunya kamar yang
memiliki toilet sendiri. Apalagi bu Alina dengan cuma-cuma meminjamkan kasur dan meja rias milik putrinya. Hanya saja dia dia tidak membolehkan aku menggunakan lemari besar dikamar itu, mungkin karena lemari itu telah diisi penuh oleh barang- barang milik putrinya.

Tapi untung saja dimeja rias menempel sebuahlemari kecil yang masih bisa aku gunakan untuk menyimpan pakaian ku, dan sebagian lagi
bisa aku gantung di pegantungan di belakang pintu.

Kembali kulihat jam, kali ini tepat pukul dua belas malam dan aku masih
terjaga. Tiba-tiba “Wwhuuuuussshh……..” sekebat angin kencang masuk
kerongga kamarku, menyisakan sosok putih yang melambai-lambai didepanku.

Seketika aku terkejut, “Sial aku hampir saja membiarkan jendela terbuka semalaman.” Gerutuku sambil menutup jendela dan membenarkan tirai
putih yang tersapu angin.

Aku kembali merebahkan tubuh mungilku di kasur besar nan empuk ini.
Pelan tapi pasti mata ini mulai menutup. Byuuuuurrrrr…… Suara guyuran air mengagetkanku. “Jam segini siapa yang mandi sih?
Ganggu orang saja!” gerutuku kuesal. Otaku mulai berfikir waras
 “Tapi asal suaranya dari…….” Entah mengapa bibirku benar-banar
tertahan. Kulirik pintu toilet, dan benar saja dari lubang kunci pintu toilet sesosok wanita berambut panjang tengah tertunduk kaku dibawah cipratan air shower.

“Apa mungkin dia putrinya bu Alin?” fikirku membuyarkan rasa takutku sendiri. Tanpa berfikir panjang lagi, aku segera beranjak pergi. Namun, baru beberapa langkah menuju tempat tidur, suara tangisan memaksaku untuk kembali.

“Kkenapa Mbak? Mmbak ggak kenapa-napakan?” tanyaku sedikit gugup.
Dia tak kunjung menjawab pertanyaanku, malah tangisannya semakin
menjadi. “Hiks……hiks…… tolong aku hikksss….”Suara tangisan itu
menggema mendominasi kamarku. Aku benar- benar panik. Sekuat
tenaga kucoba rubuhkan pintu berbahan plastik itu, dan hasilnya nihil.
Tangisannya pelan- pelan meredup.

Kulihat kembali dari lubang kunci, dan betapa kagetnya aku saat kulihat tubuh wanita misterius itu kini tak utuh lagi. Berdiri lesu sesosok tubuh tanpa kepala, lehernya dipenuhi daging yang berantakan. Dan cipratan darah segar menodai dinding-dinding toilet.

Tubuhku benar-benar terasa bergetar dan tak bisa mengatakan
apa-apa. Saat ku alihkan mataku kearah lantai toilet, tergeletak sebuah
kepala berambut panjang bersama sebilah gergaji di sampingnya. Aku
semakin berguncang hebat, entah apa yang aku fikirkan saat itu.Rasanya aku ingin berlari ke kamarpenghuni lain untuk meminta bantuan.

Tapi aku sama sekali tak bisa bergerak, piyamaku terjepit engsel pintu.
“Haaaaaaaaa……tolong!!!!!” aku berteriak sekencang-kencangnya. Dengantergesa-gesa kugigit piyamaku. Dan Seeeeeetttt, bagian
belakang piyamaku berhasil robek. Akuberlari sekencang-kencangnya
memburu pintukeluar kamar.


Creek….creeeek…..

“Arrggght….. kenapa gak bisa dibuka? Aku semakin panik. Segera ku ambil posisi kuda-kuda dan... Bruuukkkk…… tendangankumerobohkan sebilah pintu yang terbuat dari kayu.

Nafasku terasa sesak mencium bau anyir darah yang menusuk
 ke paru-paru. Tapi akusemakin menggiladan ketakutan saat kulihat pemandangan aneh dari balik pintu kamarku.

“Ttttoilet???” tanyaku bingung. Ternyata toilet yang sama, hanya saja
yang membedakan tinggal kepala yang tergeletak dilantai.
Kepala berambut panjang itu pelan-pelan menoleh dan menyeringai
kepadaku.
“Hyaaaaa…..!"

***

Creeeekkkkk

Seseorang membuka pintu kamarku, diamnyeringai hangat dan mendekatiku. “Rupanya kamu demam ya May?” sahut Bu Alina sambil
menempelkan punduk tangannya dikeningku.
“Syukurlah ternyata cuma mimpi,” bisikupelan.

**TAMAT**

Sabtu, 28 Desember 2013

JANJI

JANJI

BY: MELODY,

"Apa kau tulus mencintai ku dy?"
Tanyaku kepada pria dihadapanku.

"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kurang jelas bagimu aku menunjukkan ketulusanku? Apa kau ragu pada cintaku?"

"Bukan aku tak percaya dengan ucapanmu, aku hanya takut kehilangan mu. Aku terlalu mencintai mu. Aku takut tersingkir dari hatimu dy."

"Aku berjanji mel, takkan ada yg mampu menyingkirkanmu dari hati ku, takkan ada."

"Benarkah ucapanmu?"

"Ya melody... Kau takkan tergantikan disini, dijantung ini."

Ucap ardyanto mantap, sambil menunjuk dada kiri tempat jantungnya berada.

"Jantung hatimu itu milikku?"

"Tentu saja gadis ku, jantung ini akan selamanya jadi milikmu."

jawab ardyanto sekali lagi, dengan senyum manisnya yg selalu membuatku tak mampu untuk menghindar dari hadapannya.


Aku dan ardyanto memang sudah lumayan lama berpacaran, berawal dari perkenalan yg tak disengaja lewat telfon. Aku salah memasukkan nomor teman saat ingin menelfon.
Memang hanya salah satu angka, tapi ternyata kesalahan itu bisa membawaku kedalam satu hubungan cinta yg begitu indah.

Dua tahun sudah kami berpacaran, tapi ardyanto belum pernah memperkenalkan aku pada kedua orang tuanya.
Pernah sekali dia membawaku kerumahnya, tapi saat itu dirumah tak ada orang tuanya. Hanya ada adik laki lakinya well. Itu nama panggilannya, nama aslinya aku tak tau.


Well pernah menelfon ku dengan mencuri nomer handphone ku dari hanphone kakaknya itu.

"Maaf... Apa benar ini kak melody?"
Tanya suara dari ujung sana

"Ya... Ini saya melody, dengan siapa yah?"

"Maaf kak melody, ini aku well adiknya bang ardy,"

"Oh well.. Ada apa nelpon"

"Ga ada apa apa kok kak, hanya saja... Aku"

Terdengar suara well berhenti, seakan enggan melanjutkan ucapannya.

"Hallo well, ada apa?"

"Maaf kak, tapi tolong jangan cerita sama bang adry, kalau aku nelfon kakak."

"Oh... Kalau kamu maunya gitu, aku ga akan cerita"

"Beneran ya kak, soalnya aku tak mau kalau nanti jadi ribut dengan bang ardy"

Aku menangkap sebuah gelagat aneh dengan pembicaraan well. Tapi aku menyembunyikan kecurigaanku itu.

"Benar, aku janji."
Ucapku meyakinkan orang dibalik telepon.

"Kak, bukannya aku tak suka kakak berpacaran dengan abang ku, tapi kalau bisa. Tolong kakak jauhi bang ardy, aku tak mau nanti kakak kecewa dan menyesal"

Tut..tut..tuuutt...
Telepon dimatikan, aku hanya menghela nafas seraya mengangkat kedua bahuku.
Aku mencoba melupakan ucapan well dan tak pernah mengatakan soal itu pada ardyanto kekasihku.


Pagi pagi betul, aku mendapat telfon dari orang tuaku dikampung. Yg mengatakan ayahku masuk rumah sakit karna penyakit ayah kambuh lagi.
Ayah ku dulunya seorang peminum berat, sehingga penyakit liver itu pun dengan senangnya tinggal dihati (liver) ayah.
Ibu meminta agar aku pulang kampung.


Di bandara sore itu, aku dan ardy duduk berdampingan, sebenarnya aku tak ingin meninggalkan ardy. Aku mengajaknya ikut kekampung halamanku. Tapi... Karna kerjaan yg menuntut, ardy pun tak bisa ikut.

"Aku takkan lama, begitu ayah sembuh. Aku pasti langsung pulang."
Ucapku pada ardy yg tak dapat menyembunyikan airmatanya. Semenjak kami berpacaran dua tahun ini, aku memang belum pernah jauh dari ardy. Dimana ada ardy, disitu ada aku. Dimana ada aku, ardypun ada disitu. Kecuali kalau kami sedang bekerja, karna jurusan pekerjaan kami memang berbeda, tentu tak akan bisa untuk bekerja dikantor yg sama.

"Berjanjilah kau tidakkan pernah menghianati ku selama disana."
Ardy berkata dengan airmata yg tak hentinya mengalir dari sudut matanya dan jatuh sampai kepipi.

"Aku janji dy, dan kau juga harus selalu ingat akan janjimu."
Akupun tak dapat menahan airmataku lagi.

"Takkan, jantung ini akan tetap jadi milik mu. Jantung hatiku."
Kembali ardy mengingatkan janjinya itu dan menunjuk jantungnya dengan jari telunjuknya.
Kamipun berpelukan dengan derai airmata.

Jam keberangkatan ku pun tiba, aku berjalan memasuki ruang boording dan ardy hanya menatap ku dari dinding kaca pemisah itu.


*************
Sekarang, setelah dua bulan aku di desaku. Hari ini aku kembali berada disini dibandara hangnadim tempat ardy mengantarku kala itu.
Dan ardy jugalah yg akan menjemputku.
Seorang pria berbadan tinggi dan tegap, berdiri sambil melambai tangan padaku.
Akupun berlarian kecil sembari menarik koper ku menuju pria yg ku rindukan itu.

Kami berpelukan melepas rindu, tapi aku merasa dia tak sehangat dulu lagi. Pelukan dan senyuman itu seakan dipaksakan.

Hampir satu jam perjalanan, aku tiba dirumah kontrakan ku di bilangan nagoya. Ardy juga ikut masuk seperti biasanya.
Dua bulan ku tinggal, kini kamar ku terasa pengap dan berdebu.
Lita teman ku mengontrak rumah itu pun tersenyum dan berlari kepelukanku saat dia tau aku pulang.

Kulihat ardy berbicara pada seseorang melalui handphone nya.
Setelah memasukkan handphone nya kedalam saku, ardy berjalan menemui aku dan lita.

"Mel, maaf aku harus segerah pulang. Ibuku meminta ku menemaninya berbelanja."
Ucap ardy dengan wajah menyesal.

"Oke, no problem."
Jawab ku singkat.

"Jangan kecewa gitu wajahnya, nanti malam kita keluar. Aku kangen makan malam berdua dengan mu."

Akupun tersenyum mendengar ucapan ardy yg kini melambaikan tangannya dan menaiki motor gede kesayangannya.


Durrt durrtt...
Handphone ku bergetar, kulihat dilayar ada panggilan dari ibu. Aku lalu menghubungi ibu untuk memberitahu bahwa aku telah tiba di kota batam tempatku bekerja.

"Assalamwalaikum bu.."

"Walaikumsalam... Gimana mel? Kamu sudah sampai nak?"

"Sudah bu, ini baru tiba di kontrakan."

"Oh.. Syukurlah, kamu sudah sampai"
Aku dan ibu berbincang bincang sebentar.
Dan setelah mengucap salam kembali, aku menutup pembicaraan. Kulihat ada panggilan tidak terjawab, nomer baru. Ku hubungi karna merasa penasaran, mungkin ada temanku yg tukar nomer.

"Hallo kak melody,,, masih ingat aku ga? Ini well"

"Oh... Well, ada apa?"

"Kakak sudah sampai dibatam?"

"Ia, ini baru sekitar setengah jam"

"Bisa kakak datang sebentar ke top 100 penuin? Ada hal penting yg harus kakak ketahui."

Setelah berfikir senbentar, akupun meng ia kan ucapan well.
Aku tak perlu berganti pakaian dan mandi, karna ini hanya sebentar. Kontrakan yg tak jauh dari top 100 penuin itupun ku tempuh dengan taksi.

Ku lihat well duduk menantikan ku di 'ring resto' lantai dua plaza itu. Kuhampiri well dan duduk berhadapan dengan well.

"Ada apa kau panggil aku kesini well?"
Tanyaku yg melihat well hanya diam saja menyambut kehadiranku.

"Duduklah sebentar kak, nanti baru aku kasih tau kakak. Pesanlah makanan atau minuman. Mungkin kakak haus."

Aku pun memesan orange jus dan tanpa makanan. Sebenarnya aku ingin istirahat melepas penat, karna nanti malam aku dan ardy akan dinner.

Setengah jam sudah waktu ku terbuang, orange jus yg ku pesan tadipun sudah tinggal setengah. Tapi well tak juga memulai pembicaraan. Aku mulai bosan juga ngantuk dan berniat pulang saja. Karna percuma kuhabiskan waktu tapi well tak memberitahuku apa maksud panggilannya.
Disela kebosanan ku , well menunjuk kearah belakang ku dan mulai berbicara.

"Coba kakak lihat itu, itu bang ardy dan donna istrinya."

Serrrr
Darahku serasa naik hingga ke ubun ubun. Aku tak percaya dengan apa yg ku lihat. Ku lihat ardy sedang berjalan bergandengan memilih milih pakaian di toko butik plaza itu.
Dan sangat lebih tak percaya lagi, mendengar kata kata 'istri' dari mulut well.
Kupandangi ardy dan perempuan itu, hingga mereka keluar dan meninggalkan butik itu tanpa melihat kearah ku.
Betapa manjanya wanita itu dibuat olehnya.

"Apa katamu tadi? Istri?"
Tanyaku menatap well meminta penjelasan.

"Ia kak, sebenarnya setahun yg lalu. Bang ardy dan dona sudah bertunangan. Mereka dijodohkan oleh orang tua donna dan orang tua kami. Awalnya memang bang ardy menolak, tapi karna dorongan keluarga, akhirnya bang ardy pun menerima perjodohan itu. Mereka bertunangan setahun yg lalu. Dan menikah hampir dua bulan sudah."

Hatiku hancur luluh lantah mendengar penuturan well, aku tak bertanya lagi dan segera meninggalkan well sendiri di tempat itu.


Dikamar aku menangis, menumpahkan semua airmataku.

"Jadi, saat aku pulang ke kempung, ardy menikah dengan perempuan bernama dona itu?"
Aku bertanya sendiri didalam hati ku. Tangisku pecah tak mampu ku tahan lagi.


**************
Ardy datang menjemputku dan aku sudah rapi untuk dinner malam ini. Radyt duduk menanti ku di ruang tamu rumah kontrakan itu. Ku ambil tas ku dan segera ku jumpai ardy.

Motor gede ardy meluncur diindahnya cahaya lampu jalan.
"Aku ingin, malam ini merebut jantung hati milikku itu dari tangan donna istri nya itu."
Batin ku dan memeluk ardy dengan kencangnya dari belakang.

Didepan sebuah toko aku meminta ardy menghentikan sebentar motornya. Aku masuk kedalam toko itu dan ditunggu oleh ardy di parkiran.
Setelah barang yg ingin kubeli itu kubayar di kasir, segera ku masukkan kedalam tas yg ku sandang sedari tadi.
Kulihat ardy tersenyum manis kepadaku, senyum yg membuatku tak sanggup beranjak jauh darinya.

"Dy, aku pengen kita kejembatan barelang saja, aku ingin menikmati jagung bakar aja malam ini."
Kataku pada ardy dan tak pernah melepaskan pelukanku dari pinggangnya.

"Baiklah princess ku, kita kesana"
Jawab ardy membuatku merasa akulah segalanya.

Aku memesan sepuluh jagung bakar dengan rasa yg pedas. Setelah itu, kami mencari tempat untuk duduk bersantai ditepi jembatan layang itu.

Kupandang ardy dengan tatapan sayu ku, airmata ku pun tak kuasa kutahan lagi mengingat semua penghianatan itu.

"Kenapa menangis melody ku?"
Tanya ardy yg melihat airmataku mengalir deras tanpa dapat ku hentikan.

"Tak apa, aku hanya ingi kau peluk. Aku ingin kau memelukku dan mengucapkan janji yg pernah kau ucapkan padaku"
Jawab ku dengan airmata yg terus mengalir. Ardy lalu menarikku kedalam pelukannya, dan mulai mengucapkan janji yg perna di ucapkan dulu kepadaku.

" Aku berajanji, takkan ada seorangpun yg sanggup menyingkirkan mu dari hatiku, dari jantung hatiku, kau pemilik jantung hati ku ini"
Kata kata ardy membuat hatiku semakin hancur, aku tau ardypun menangis saat mengucapkan kembali janjinya itu. Kupeluk ardy semakin eratnya, begitu juga ardy memelukku tanpa melepaskanku sedikitpun.


Perlahan kuraba tas ku, dan kugenggam sebuah benda yg kubeli di toko tepi jalan tadi.

Jjjuuukkk...
Sebuah belati ku tusukkan kepunggung ardy.
"Ahhkkk... Apa apaan ini melody? Kenapa kau menyakitiku?"
Tanya ardy yg segera melepaskan pelukannya.

"Sebentar sayang, aku tak ingin menyakitimu. Aku hanya ingin mengambil hak ku."
Jawabku dan ku tusukkan benda itu kearah dada bidangnya.

"Aaakkkhhhh.. Me...me..."
Tak sempat ku tunggu ucapan adry, ku robek dada bidangnya dan ku julurkan tanganku kedalam lubang bekas belatih itu. Terasa darah ardy hangat ditanganku. Kutarik dengan paksa jantung milik ardy.
Dalam sekejap, ardipun menghembuskan nafas terakhirnya.

Ku masukkan jantung milikku itu kedalam sebuah toples, lalu ku tutup toples kaca itu dengan rapatnya.

Kurogo hanphone milik ardy, kucari nama donna atau istri dikontak handphone itu.
Kuketik sebuah sms dan ku kirim kesebuah nama kontak bertuliskan 'my wife' itu.

"Jemputlah milik mu di jembatan dua barelang. Aku sudah mengambil milikku. Ambillah tubuhnya untuk mu, aku sudah mengambil hak ku. JANTUNG HATI suami mu/kekasih ku ardy."

Kuletakkan handphone milik ardy kerempatnya semula, dan kutatap tubuh tak bernyawa itu.

"Sayang,,, aku hanya mengambil milikku. Kau yg menjanjikan jantung ini milikku. Jadi... Kurasa aku tak jahat, bila mengambil milikku."
Ku ucapkan kata kata itu lalu meraih toples berisikan jantung hati milikku.


Aku berjalan kaki menyusuri gelapnya malam memabawa jantung hatiku pergi bersama ku.


*********end*************
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Minggu, 08 Desember 2013

KOTAK MUSIK BERDARAH Part 2

"aku memang bukan kakakmu, aku adalah marina sekarang berikan kotak itu padaku kalau tidak akan kubunuh kau".
 Wajah marry terlihat menyeramkan karena terkena cahaya dari kilatan petir,"tidak, aku tidak akan memberikanya" ucap cindy dengan sangat ketakutan iapun kelur dari kamar nya dan lari menurununi tangga, tapi marina mengejarnya, cindy terpeleset dan  terjatuh dari tangga ia tersunggkur dan kotak yang ia genggam pun terlepas. Cindy berusaha berdiri untuk mengambil kotak itu tapi belum sempat ia bangkit tangan marry mencekiknya, cindy berusaha melepaskannya tapi tidak bisa, ia berusaha meraih kotak music yang tidak jauh darinya, marina melihatnya dan berusaha menghalanginya. Cindi berhasil meraih kotak itu lalu melemparkannya ke tunggu perapian di ruangan itu,seketika api nya pun membesar "tidaakkk..!!!" teriak marina lalu ia mulai melepaskan cengkramannya dari leher cindy, cindy hampir kehabisan nafas dadanya sesak ia melihat kakaknya berteriak seperti kesakitan lalu kakaknya pun jatuh pingsan cindy berlari menghampiri kakak nya dan menepuk pipi nya,"kakak, kakak sadarlah" ucap cindy sambil menangis tak lama kemudian marry pun sadar ia melihat keadaan sekelilingnya gelap, dan ia melihat adiknya yang menangis mendekap nya."kakak, kau sudah sadar, kau telah kembali kakak", ucap cindy senang marry pun bangun dan langsung memeluk adik nya merekapun menangis bahagia." Lalu mereka duduk di sofa sambil melihat ke tungku perapian dan merenungi kejadian yang baru saja mereka alami, kotak itu sekarang telah lenyap begitu juga dengan marina.
 
SELESAI
Powered by Telkomsel BlackBerry®