Jumat, 14 Maret 2014

-Real Dolls-

Source : creepypasta

Credit to Jd2456

Translate by Crecent-

Beberapa hari yang lalu aku menemukan sebuah foto yang mengajak ku kembali ke era 1800-an. Itu adalah foto dari beberapa kerabatku yang hidup di masa itu. Mereka adalah keluarga kelas menengah.

Hal ini membuatku bertanya-tanya, mengapa orang-orang dalam foto itu terlihat begitu tidak bahagia, tanpa emosi, tanpa nyawa, dan hampa. Sekarang aku yakin, beberapa dari kalian pasti berpikir, "Oh, pasti karena butuh waktu lama untuk mengambil foto-foto itu." Well, ya benar, tapi kau kehilangan satu detail kecil. Pada saat itu, sangat mahal untuk bisa mendapatkan sebuah foto, itulah mengapa hanya keluarga dari kelas-kelas atas yang kebanyakan punya foto keluarga.

Jadi, itulah mengapa kebanyakan foto berasal dari keluarga kelas atas dan menengah. Well, bayangkan apa yang akan terjadi, jika setelah kau meninggal mereka akan mendandanimu dan membuatmu terlihat bagus dan rapi. Hal ini biasanya dilakukan sebelum pembekuan itu terjadi. Hal ini dilakukan agar mereka bisa membuatmu berpose layaknya boneka. Mereka kemudian akan mengambil fotomu, dan setelah selesai, mereka akan mengirimmu pergi untuk dikubur.

Kembali ke pertanyaan tadi, mengapa orang-orang dalam foto itu terlihat begitu tidak bahagia, tanpa emosi, tanpa nyawa, dan hampa. Well, itu karena mereka memang tidak bernyawa. Pada saat foto-foto itu diambil, mereka sudah mati.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Peti Mati

Source : Yahoo
Translate by Crecent-

Pada suatu malam yang suram, seorang pria sedang berjalan pulang sendirian, ketika dia mendengar suara di belakangnya:

BUMP...

BUMP...

BUMP...

Berjalan lebih cepat, dia berbalik ke belakang, melihat menembus kabut, dia melihat sebuah peti mati dengan posisi tegak membenturkan bagian bawah nya ke jalan lalu melompat ke arahnya.

BUMP...

BUMP...

BUMP...

Karena ketakutan, pria itu mulai berlari menuju rumahnya, peti mati itu meloncat cepat di belakangnya.

LEBIH CEPAT...

LEBIH CEPAT...

BUMP...

BUMP...

BUMP...

Dia berjalan ke arah pintu rumahnya, memilah kunci-kuncinya, membuka pintu, bergegas masuk, membanting lalu mengunci pintu di belakang nya. Namun, peti mati itu menabrakan tubuhnya ke pintu, dengan tutup peti yang bergantian buka-tutup (seperti bertepuk tangan)...

Tepukan-BUMP...

Tepukan-BUMP...

Tepukan-BUMP...

... Pada heels nya.

Pria yang ketakutan itupun berlari... Bergegas ke lantai latas, pria itu mengunci dirinya di dalam kamar mandi. Hati nya berdebar-debar... Kepala nya terhuyung-huyung... Nafas nya terengah-engah. Dengan suara "CRASH" yang nyaring, peti mati itu menghancurkan pintu kamar mandi.

... Suara ketukan dan tepukan berjalan ke arahnya.

Pria itu berteriak dan meraih sesuatu, apa saja, tapi semua yang bisa dia temukan hanyalah sebotol obat batuk sirup! Putus asa, dia melempar sebotol obat itu ke arah peti mati...

Dan...

Peti mati itu berhenti...
Powered by Telkomsel BlackBerry®

The Webster Culling

Source : Readifyoudare

Keluarga Webster pindah ke rumah baru pada awal Desembe 1964.

Mike Webster, 32 tahun.

Meryl Webster, 23 tahun.

Katrina Webster, 8 tahun.

Kaylee Webster, 7 tahun.

Charlie Webster, 5 tahun.

Dua hari setelah menempati rumah baru, dua gadis Webster mengatakan ada hal-hal aneh yang erjadi dalam rumah pada orangtua mereka. Mereka mengatakan bahwa sang adik -Charlie- kerap mengiagu saat tidur mengenai seseorang yang tinggal di dalam kotak mainan.

Kotak mainan itu sendiri sebelumnya merupakan sebuah peti tua yang didapat dari sebuah pasar loak, yang kemudian digunakan untuk menyimpan mainan.

Meryl menanyakan seperti apa sosok pria yang ada di dalam peti keesokan harinya saat sarapan pada Charlie.

Charlie hanya menjawab pendek: "palu dan paku."

Saat ditanya lebih lanjut, Charlie tidak mengatakan hal lain kecuali dua hal tersebut mengenai pria yang ada di dalam peti.
Setelah beberapa hari kemudian, Charlie hanya mengatakan hal yang sama tersebut sepanjang hari. Tidak ada yang lain.

"Palu dan paku," gumam Charlie saat ditanya menu apa yang dia mau untuk sarapan. "Palu dan paku."

Tepat pada malam ke-empatbelas setelah pindah, Mike dan Meryl terbangun saat mendengar jeritan dari ketiga anaknya. Kedua orangtua itu segera bergegas berlari menyusuri lorong pendek menuju kamar anak-anaknya. Saat Mike hendak menyalakan lampu, lampu tidak bisa menyala.

Kedua orangtua dari keluarga Webster bersumpah bahwa mereka mendengar bisikan dalam suara berat dan dalam, "palu dan paku."

Lampu di ruangan berkedip beberapa kali sebelum akhirnya menyala. Gambaran yang ada di foto, terpampang di hadapan pasangan Webster di malam pada tahun 1964 itu.

Apa yang dicari sebagai pemecahan masalah oleh pihak berwajib, masih menjadi sebuah misteri tak terungkap sampai sekarang.

Gambar yang ada merupakan foto yang diambil di TKP. Sebagai catatan penting adalah foto palu yang berada di atas kotak mainan. Palu ini tidak terdaftar dan tidak ditemui dalam kotak maupun daftar bukti di kepolisian. Dan pasangan Webster maupun polisi tidak pernah melihat palu tersebut berada di TKP. Seolah-olah muncul begitu saja dalam foto.

Walaupun dalam foto, ketiga anak tersebut digantung, namun bukan itu penyebab kematian mereka. Penyebab kematian dari ketiganya adalah paku yang dipalukan menembus tengkorak bagian belakang kepala mereka.

Bocah laki-laki di ujung kanan dari foto adalah Charlie, dan disinilah misteri yang ada semakin membingungkan.
Dua gadis cilik di sebelah kiri Charlie bukanlah gadis dari keluarga Webster. Kedua gadis Webster menghilang pada malam itu dan dua gadis tak dikenal dibunuh di kamar tidur tersebut.

Dua gadis keluarga Webster tidak pernah ditemukan, dan dua gadis yang muncul di rumah Webster tidak pernah berhasil diidentifikasi.

***
Powered by Telkomsel BlackBerry®

• Crematorium •

Pamanku memiliki sebuah funeral house (rumah/tempat untuk memandikan & mengkremasi mayat, dll ) dan aku berkesempatan untuk bekerja separuh waktu disana selama musim panas. Aku ditempatkan di bagian krematorium. Pekerjaan itu tidaklah menyenangkan, tapi upah yang didapat sungguh memuaskan. Tentunya sebagai mahasiswa miskin, aku sangat membutuhkan uang. Mengurusi mayat-mayat adalah hal yang mengerikan pada awalnya, tapi setelah beberapa hari dijalani, akhirnya aku mulai terbiasa.

Suatu pagi, ketika sedang menyapu lantai ruang krematorium, sebuah mobil jenazah tiba di parkiran. Seorang pria dengan setelan jas berwarna hitam keluar dari mobil dan langsung disambut oleh pamanku.

Tak lama kemudian, paman memanggilku dan memintaku untuk membawa peti jenazah ke ruang krematorium. Aku merasa sedikit aneh, karna biasanya sebelum dibawa keruang krematorium, peti mati akan terlebih dahulu dibawa ke ruang yang letaknya bersebelahan dengan ruang krematorium untuk mengurusi beberapa hal. Tapi aku lebih memilih diam, tidak bertanya apapun.

Kami meletakkan peti di lantai, sementara itu paman tengah mempersiapkan persiapan kremasi. Tinggal lah aku dan pria yang memakai setelan jas hitam itu di dalam ruangan. Suasana pun menjadi kikuk, kami berdua hanya berdiam diri, tak tahu harus berkata apa. Aku menduga kalau pria ini pasti keluarga dekat seseorang yang terbaring di dalam peti mati itu. Yang membuat sedikit aneh, wajahnya tak memperlihatkan kesedihan sedikitpun.

Ketika oven telah siap, paman dan aku mengangkat peti itu dan meletakkannya ke bangku baja. Sebelumnya, kami membuka penutup mayat, dari sana aku dapat melihat ke dalam peti. Disana terbaring seorang pria muda, mungkin berusia sekitar 30 tahun. Biasanya mayat terlihat sangat pucat, tapi ini berbeda; wajahnya tetap berwarna merah muda.

Paman memasukkan bahan bakar, menyulut api, dan menekan tombol otomatis. Peti mati bergerak perlahan masuk ke dalam api. Ketika peti sudah masuk dengan sempurna, paman keluar dan menutup pintu, diikuti oleh pria berjas hitam. Sedangkan aku masih berdiri disana, menunggu. Biasanya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk membakar semuanya menjadi abu. Setelahnya, aku akan mengumpulkan abu tersebut dan meletakannya di dalam sebuah guci atau bejana, lalu siap diberikan pada keluarga mereka.

Pamanku dan pria berjas hitam itu pergi ke ruang sebelah. Mungkin mereka akan menyelesaikan surat-menyurat atau hal penting lainnya perihal kremasi, sementara aku melanjutkan menyapu ruang krematorium.

Sekitar 10 menit kemudian, aku mendengar suara-suara aneh yang berasal dari oven. Awalnya, aku pikir itu hanya imajinasiku, tapi suara itu semakin lama terdengar semakin jelas. Aku mencoba berasumsi kalau itu hanyalah suara metal yang memanas oleh api.

Bang! Bang! Bang! Bang!

Suara itu jelas sekali seolah-olah seseorang di dalam sana memukul-mukul peti dengan panik, berusaha untuk keluar.

Aku merasa ngeri, dan sangat yakin kalau pria di dalam peti itu masih hidup. Tak kuasa menahan ketakutan, aku berlari ke ruangan sebelah. Tubuhku gemetar hebat. Aku memberitahu paman tentang apa yang kudengar, dan mengajak mereka untuk segera mengecek ke ruang krematorium.

Bang! Bang! Bang! Bang!

"Aku tak mendengar apapun," kata pamanku.

Bang! Bang! Bang! Bang!

"Aku juga," pria berjas hitam menimpali.

Aku menatap tak percaya ke arah mereka bergantian, shock dan tertegun. Bahkan, aku meragukan kewarasanku saat itu. Paman dan pria itu kemudian kembali ke ruangan sebelah. Aku hanya berdiri di tengah ruangan, memasang indera pendengaranku lebih tajam lagi.

Aku tak tahu bagaimana cara membuka peti itu dengan aman. Bahkan mungkin jika aku dapat melakukannya, aku pasti dihadapkan pada pemandangan yang mengenaskan . Setelah 10 atau 15 menit terbakar api, mungkinkah seseorang masih dapat bertahan hidup?

Akhirnya, suara gaduh itu melemah dan semakin melemah, hingga akhirnya benar-benar menghilang. Sekarang, aku hanya dapat mendengar suara kayu berderak di lahap api. Tak ada suara aneh lagi.

Satu jam kemudian, pamanku datang dan mematikan oven. Bersama-sama, kami meletakkan abu mayat ke wadah di bawahnya, kemudian menuangkannya kedalam sebuah bejana. Pria berjas hitam itu menerima guci abu dengan senyum yang lebar menyeringai, lalu ia kembali ke dalam mobilnya dan pergi.

Paman memberiku amplop yang penuh dengan uang, dan memberitahuku agar tidak pernah membicarakan pada orang lain tentang apa yang kudengar tadi. Kami tak pernah membicarakan hal itu lagi. Bisnis berjalan lancar seperti biasanya.

Namun, sampai hari ini, aku masih sering mengalami mimpi buruk tentang bunyi bedebum yang berasal dari dalam oven krematorium.

*ScaryForKids
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Jumat, 07 Maret 2014

INNOCENT

Kubuka mata perlahan, masih terasa pening kepala ini. Entah apa yang terjadi sebelumnya. Bukankah harusnya aku berada di rumah Cavia, anak didikku? Tetapi, mengapa kini aku terikat dikursi? Ruangan apa ini? Begitu pengap dan sempit. Bau anyir dan zat kimia yang tidak enak terendus hidungku. Perutku terasa diaduk-aduk, mual tak tertahan kurasa. Inginku berlari keluar untuk menghirup udara segar.

Mataku memandang ke sekeliling ruangan ini, sambil berusaha melepaskan ikatanku. Cahaya yang kurang, menyebabkan pupil mataku terbuka lebar-lebar. Pandanganku kini tertuju pada benda yang seperti akuarium besar, tak jauh dari tempatku terikat. Didalamnya seperti berisi beberapa benda yang menyerupai kepala.

"Ah, tidak mungkin," desahku pelan.Aku mencoba fokus melihat benda tersebut. Berharap dugaanku salah, bahwa benda itu bukanlah potongan kepala manusia. Tetapi, sepertinya aku benar. Terlihat dari bentuk dan aku tak mampu berpikiran apa-apa lagi. Pikiranku kalut. Ketakutkan kini mulai merasukiku, apa yang akan terjadi padaku?

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, terlihak sesosok tubuh tinggi ramping mulai berjalan menghampiriku. Aku terkejut mengenali sosok itu.

"Ibu Oriza sayang, jangan takut. Aku tak akan membuatmu kesakitan,"ucapnya sambil menunjukkan jarum suntik padaku.

"Cavia, mengapa kau lakukan ini? apa salahku?" tanyaku terisak, tak terasa air mataku mengalir.

"Kau tak bersalah Bu, hanya saja aku terlampau menyayangimu. Untuk itulah aku berbuat seperti ini," ucap Cavia dengan tersenyum.

"Kau gila ...!!!" jeritku.

"Terima kasih Bu, itu pujian yang biasa kuterima. Ibu sudah lihat akuarium ini kan? Ibu tau, ini adalah potongan kepala orang-orang yang kusayangi, berada dalam kubangan formalin."

Aku tercengang mendengar pernyataan gadis 16 tahun itu. Tak pernah terbayangkan bahwa gadis cantik ini mampu berbuat keji, bahkan tak ada sesal dari setiap pernyataannya. Benar-benar berjiwa psikopat.

"Ini adalah kepala Bu Zea, Bu Rosa, Bu Jasmin dan sebentar lagi Bu Oriza akan ikut bergabung dengan mereka," lanjut Cavia lagi.

Ketakutan kembali menyergapku, ia mulai mendekati dan membelai rambutku.

"Bu, ini adalah bentuk kasih sayangku. Aku bisa selalu memandangmu tanpa takut kehilangan sosokmu," desah Cavia ditelingaku.

Aku mulai meronta, namun ia telah berhasil menyuntikan sesuatu dilengan tanganku. Pandanganku mulai mengabur dan kesadaranku mulai menghilang.

****
Cavia mulai membekap tubuh Oriza dengan bantal selama sekian menit, lalu memeriksa denyut nadinya. Setelah yakin tubuh itu tak bernyawa, ia memenggal kepalanya. Ia membersihkan potongan kepala itu dan menyemprotkan alkohol keseluruh bagian. Kemudian ia meletakkan kepala itu di akuarium yang berisi formalin.

"Bu Oriza, kau akan selamanya bersamaku, tidak seperti Mamaku" ucapnya puas.

Cavia menggotong bagian tubuh Oriza yang lain dan menguburkannya disamping ruangan tersebut. Nampak beberapa gundukan lain yang telah tersusun rapi.

"Ma, kubawakan teman baru untukmu. Semoga kau senang, Ma." Ucap Cavia dengan senyum terindahnya.


Ia berjalan riang meninggalkan tempat tersebut, mencari teman baru lagi. Teman buatnya dan sang Mama.

** TAMAT **

TARIAN KEMATIAN


“Disinilah aku tinggal” Hanya itulah yang dikeluarkan dari mulut Ani. Desa yang sunyi dan juga terlihat makmur. Anipun tak lupa untuk bergegas membereskan barang-barangnya menuju rumah barunya. “Haah, masih jam 12.00 ! Enaknya ngapain yaa?”. Diapun menyalakan radionya, dan memutarkan channel kesukaannya. Lagu Good Timelah yang didengarnya, diapun menari dengan perasaan senang. Tiba-tiba saja terdengar suara sentakan “Matikan radio itu!”. Anipun kaget “Maaf bapak siapa ya? Dan mengapa saya tidak boleh menyalakan lagu?”. “Nak, kamu harus berhati-hati jika ingin tinggal didesa ini!”. Bapak itupun pergi dengan bergegas, tak tahu ada apa yang membuat bapak itu pergi dengan buru-buru. “Dasar orang aneh! Inikan hakku!”, Anipun masuk dengan melanjutkan membereskan barang-barangnya.
**
Malampun tiba. Shrekk shrekk, korek apipun menyala dan Ani segera membuat api unggun. “Betapa dinginnya hari ini. Wuhh”. Sambil menggosok tangannya agar tetap hangat itu. Tiba-tiba saja ada bunyi ketukan pintu “Tok.. Tok.. Tok”. ”Siapa itu?” Anipun membukakan pintu. “Hai, kau orang baru ya didesa ini?” terlihat orang asing berbicara kepada Ani. “Siapa kau?. Dan iya betul, Aku orang baru didesa ini. Masuklah” Anipun membuka pintunya dengan lebar agar orang itu bisa masuk kedalam. “Namaku Tio. Aku tinggal disebelahmu, Aku hanya ingin memperingatimu tentang sesutu legenda didesa ini”. “Memang apa legenda itu?. Konyol sekali!”. “Janganlah menganggap konyol karena legenda itu sungguh nyata” Jawabnya Tio terlihat serius. “Yasudah, memang apa legendanya?” Berusaha terihat serius. “Besok akan kuceritakan , karena bila malam terlihat seram” begitu kata Tio yang vepat-cepat ingin pulang. Tiopun membalikkan badan, dan berkata “Janganlah nyalakan alat elektronik yang berhubungan dengan musik” Tiopun segera pergi dengan buru-buru.
***
“Pagi dunia!!!!” Anipun terlihat bangun dengan semangat. “Tok.. Tok.. Tok..”. “Itu pasti Tio” yang terlihat Ani segera membukakan pintu untuknya. Ternyata benar “Hai,ehmm..” Terlihat Tio yang tampak kebingungan. “Namaku Ani” Ani menjawab sapaannya Tio dengan muka malas, “Oh Hai Ani” Yang terlihat senyum dengan perasaan malu. “Oke kau ingin cerita apa?” terlihat Ani yang sedang membuat sarapan. “Ehmm.. begini, Sebenarnya konon dulu ada seorang putri yang ingin dilamar dengan pemuda biasa dari desa ini” Tio mencoba menjelaskan An dengan serius. “Terus apa hubungannya dengan musik?” terlihat Ani yang sedang kebingungan. “Masalahnya bukan musik intinya tapi TARIAN KEMATIAN”. “Haah? Hahahahaaa” terlihat Ani yang sedang tertawa karena kekonyolan Tio yang terlalu aneh. “Kau ini lucu juga yaa! Memang mana ada namanya “TARIAN KEMATIAN”. “Tapi dengar aku baik-baik dulu!” terlihat Tio berusaha meyakinkan omongannya yang terlihat konyol dimata Ani. “Begini, memang dulu mereka tidak diizinkan menikah oleh ayah sang putri yaitu raja. Tetapi mereka kawin lari dan tentu saja mereka tetap menikah. Tapi tidak dengan sang raja, sang raja sangat marah sekali dan akhirnya memerintahkan pengawalnya untuk mencari mereka HIDUP/MATI. Merekapun ditemukan tewas dengan keadaan sedang menari. Jadi oleh sebab itu, jika ada warga desa yang sedang menari akan tewas atau menghilang entah kemana. Begitulah ceritanya”. “Okee aku faham! Sekarang pergilah karena aku tidak percaya dengan cerita konyolmu itu!” Ani yang terlihat mendorong Tio keluar dari pintu. Tiopun hanya pasrah dan berkata “Tetapi jika hantu itu mengejarmu itu bukan salahku. Karena aku sudah berusaha memperingatimu”
****
Bulanpun telah tersenyum kepada langit yang menandakan bahwa hari tlah gelap.”Hoamm.. kenapa aku ngantuk sekali yaa.. Nyalain lagu ahh..” Ani yang terlihat tidak peduli dengan cerita konyolnya Tio. Someone like youpun terdengar lembut ditelinga Ani. Tapi, tiba-tiba saja jendela kamarnya terbuka dengan keras “BRAKK”. “Oh apa itu? Oh ternyata hanya jendela”. Tiba-tiba saja ada bayangan hitam lewat. “Apa itu barusan? Oh tuhan apa yang aku lakukan barusan ini?” terlihat wajahAni yang terlihat panik. Listrik dirumah Anipun padam, “Whaaaa” Anipun menjerit. “Oh ternyata hanya listrik padam, tapi apa itu? Seperti perempuan sedang mengenakan baju pengantin!” Anipun semakin mendekat, mendekat, dan.... “Whaaaaa” krekk kepala anipun terputus dan menggelinding kebawah lantai. Listrikpun menyala lagi. Tiba-tiba banyak warga yang datang kerumah Ani karena kaget dengan suara teriakan dirumah Ani. “Ani ?? Ani ?? dimana kamu?”. “Semua tolong cari kesemua tempat!” terdengar ayah Tio yang memerintahkan semua warga. Semuapun mencari darimana berasalnya suara itu. “Yatuhan!” Alangkah terkejutnya salah satu warga melihat kamar Ani yang penuh dengan darah dan bau amis. “Tidaakkk!” Tiopun menangis deras saat melihat Ani tlah tewas.

THE END

THE SECRET OF THE TOILET

Karya By: Danafox Uchiha

Selamat Membaca! 

***

Clakk….clakkk…
clakkkkkk…..

Tetesan dari kran yang tidak tertutup rapat itu semakin menerorku yang hingga tengah malam ini sukar untuktertidur. 

Kulirik bulatan putih didinding yang terhalang remang-remang malam.

“Huff….. mana baru jam sebelas empat lima lagi,” bisikku pelan.
Entah sudah berapa kali aku membolak-balikan bantal usang yang hampir tidak tersentuh sabun selama aku pindah kekosan Bu Alina.Maklum aku adalah seorang siswi kelas tiga SMA yang merangkap menjadi pelayan disebuah restoran siap saji.

Sebelumnya aku tinggal dikosan Bu Dian, tapi karena terbelit hutang kanankiri, ya denganterpaksa aku kabur. 
Padahal malam itu Kak Danar, putrabungsu bu Dian
bersikeras menghalangikepergianku.Aku harus pergi dari pada tiap hari kena omelbu Dian, belum lagi cibiran pedas daripenghuni kos lain tentang hutangku yang belum aku bayar.

Berbekal uang tiga ratus ribu rupiah, hasil penjualan ponsel
lamaku . Aku memberanikan diri untuk tinggal dikosanbaru dengan
menjanjikan upahkusebagai pelayanrestoran.

“Akhir bulan nanti segera cair, bu.” bujukku kepada bu
Alina saat diamenolak rencanaku tinggal di kossannya.
“Bukan karena kondisi keuanganmu dek Mayang, tapi
memang kamar kos disini sudah penuh.” Sahutnya lembut.

Ya memang benar, aku lihat rumah besar yang terdiri dari lima
kamar dilantai satu telah penuh sesakdiisi oleh sembilan orang penghuni kos dan satu asisten pribadi Bu Alina.Tapi dengan berbagai pertimbangan, akhirnya beliau menyerahkan kamar putri semata
wayangnya yang tengah mengenyam pendidikan di Jepang kepadaku.

“Haduh betapa beruntungnya diriku ini.” Fikiriku sesaat setelah Bu Alina
mengesahkan kamar kebanggaan putrinya kepadaku. Betapa tidak kamar ini begitu luas dan satu- satunya kamar yang
memiliki toilet sendiri. Apalagi bu Alina dengan cuma-cuma meminjamkan kasur dan meja rias milik putrinya. Hanya saja dia dia tidak membolehkan aku menggunakan lemari besar dikamar itu, mungkin karena lemari itu telah diisi penuh oleh barang- barang milik putrinya.

Tapi untung saja dimeja rias menempel sebuahlemari kecil yang masih bisa aku gunakan untuk menyimpan pakaian ku, dan sebagian lagi
bisa aku gantung di pegantungan di belakang pintu.

Kembali kulihat jam, kali ini tepat pukul dua belas malam dan aku masih
terjaga. Tiba-tiba “Wwhuuuuussshh……..” sekebat angin kencang masuk
kerongga kamarku, menyisakan sosok putih yang melambai-lambai didepanku.

Seketika aku terkejut, “Sial aku hampir saja membiarkan jendela terbuka semalaman.” Gerutuku sambil menutup jendela dan membenarkan tirai
putih yang tersapu angin.

Aku kembali merebahkan tubuh mungilku di kasur besar nan empuk ini.
Pelan tapi pasti mata ini mulai menutup. Byuuuuurrrrr…… Suara guyuran air mengagetkanku. “Jam segini siapa yang mandi sih?
Ganggu orang saja!” gerutuku kuesal. Otaku mulai berfikir waras
 “Tapi asal suaranya dari…….” Entah mengapa bibirku benar-banar
tertahan. Kulirik pintu toilet, dan benar saja dari lubang kunci pintu toilet sesosok wanita berambut panjang tengah tertunduk kaku dibawah cipratan air shower.

“Apa mungkin dia putrinya bu Alin?” fikirku membuyarkan rasa takutku sendiri. Tanpa berfikir panjang lagi, aku segera beranjak pergi. Namun, baru beberapa langkah menuju tempat tidur, suara tangisan memaksaku untuk kembali.

“Kkenapa Mbak? Mmbak ggak kenapa-napakan?” tanyaku sedikit gugup.
Dia tak kunjung menjawab pertanyaanku, malah tangisannya semakin
menjadi. “Hiks……hiks…… tolong aku hikksss….”Suara tangisan itu
menggema mendominasi kamarku. Aku benar- benar panik. Sekuat
tenaga kucoba rubuhkan pintu berbahan plastik itu, dan hasilnya nihil.
Tangisannya pelan- pelan meredup.

Kulihat kembali dari lubang kunci, dan betapa kagetnya aku saat kulihat tubuh wanita misterius itu kini tak utuh lagi. Berdiri lesu sesosok tubuh tanpa kepala, lehernya dipenuhi daging yang berantakan. Dan cipratan darah segar menodai dinding-dinding toilet.

Tubuhku benar-benar terasa bergetar dan tak bisa mengatakan
apa-apa. Saat ku alihkan mataku kearah lantai toilet, tergeletak sebuah
kepala berambut panjang bersama sebilah gergaji di sampingnya. Aku
semakin berguncang hebat, entah apa yang aku fikirkan saat itu.Rasanya aku ingin berlari ke kamarpenghuni lain untuk meminta bantuan.

Tapi aku sama sekali tak bisa bergerak, piyamaku terjepit engsel pintu.
“Haaaaaaaaa……tolong!!!!!” aku berteriak sekencang-kencangnya. Dengantergesa-gesa kugigit piyamaku. Dan Seeeeeetttt, bagian
belakang piyamaku berhasil robek. Akuberlari sekencang-kencangnya
memburu pintukeluar kamar.


Creek….creeeek…..

“Arrggght….. kenapa gak bisa dibuka? Aku semakin panik. Segera ku ambil posisi kuda-kuda dan... Bruuukkkk…… tendangankumerobohkan sebilah pintu yang terbuat dari kayu.

Nafasku terasa sesak mencium bau anyir darah yang menusuk
 ke paru-paru. Tapi akusemakin menggiladan ketakutan saat kulihat pemandangan aneh dari balik pintu kamarku.

“Ttttoilet???” tanyaku bingung. Ternyata toilet yang sama, hanya saja
yang membedakan tinggal kepala yang tergeletak dilantai.
Kepala berambut panjang itu pelan-pelan menoleh dan menyeringai
kepadaku.
“Hyaaaaa…..!"

***

Creeeekkkkk

Seseorang membuka pintu kamarku, diamnyeringai hangat dan mendekatiku. “Rupanya kamu demam ya May?” sahut Bu Alina sambil
menempelkan punduk tangannya dikeningku.
“Syukurlah ternyata cuma mimpi,” bisikupelan.

**TAMAT**