Kamis, 03 September 2015

Inilah Perbedaan "Sadis" Anak SD Zaman Dulu dan Sekarang



Kalau zaman sekarang, istilah “alay” udah bergeser jadi “cabe-cabean”. Cabe-cabean itu cewek-cewek usia pubertas 2 Dimensi (Muka PUTIH, leher HITAM) yang suka bonceng 4 dengan formasi 3 + 1; dengan komposisi 3 diatas sepeda motor dan 1 diatas knalpot motor matic kredit 3 tahun *lucu gak? Gak yah? Yaudah deh*

Maka dari itu ane mau nostalgia sama kehidupan ane yang bahagia sebagai anak kelahiran 90an, berikut cuplikannya: *Gak nyambung cetaaan*
    
1. KEBIASAAN
Hal-hal ‘idiot’ anak 90an waktu masih SD adalah nempelin diam-diam kertas bacaan “AWAS ADA ORGIL” dipunggung temen, terus diketawain rame-rame. Kalau ada yang ditaksir modus operandi yang digunakan juga biasanya dengan “Ular-ularan” atau “Ulat mainan” yang dibeli didepan pagar sekolah terus dilempar random kearah cewek-cewek *AAAAKKKK AAAAAKKK* *Maap ane yang histeris*

2. WARNET
Kalau sekarang jumlah warnet udah kayak “jomblo”, gak keitung!, tiap jarak satu ruko pasti ada. Kalau dulu, sekitar awal tahun 2000an (mulai-mulainya invasi internet) harus lewati gunung mendaki lembah (ada yang aneh). Dari tarif billing Rp. 4.500,- sampai Rp. 8.000,-/jam. Sadis gak tuh? Kalau sekarang Rp. 5.000,- ajah udah bisa maen paket 3 jam dapat handsfree gratis lagi *kebongkar dah aib*

Hal-hal membanggakan yang dilakukan adalah chatting sama bule atau anak SMK yang bolos sekolah di “MiRC”, sejenis “Omegle” yang intinya adalah random chatting sama strangers. Nickname-nya jugak anugerah yang kuasa banget: mulai dari “cowo_ganteng” sampai “Cewe_CutEzZz19” yang mayoritas diisi oleh makhluk-makhluk cabul.

3. SOSMED
Kalau sekarang sih Twitter, Facebook, Instagram, Path, dll. Kalau dulu yang paling booming itu “Friendster”, sejenis ‘mini’ blog.
Apa saja yang biasa dilakukan? Nah ini pertanyaan oke!. Biasanya sulit buat nge-stalk si “ciye-ciye” karena ada opsi yang bisa ngeliat siapa aja yang ngunjungin profil kita. Semakin banyak list teman, ratusan komentar teman, background super norak yang nutupin tulisan utama profil akun, serta tulisan bling-bling, maka semakin Gaoel-lah anda! Yeaah~

4. GADGET
Samsung? Lenovo? Oppo? Bebeh? Apa ituh?!! Kami tidak mengenal benda-benda itu!. Dulu pakek Nokia 6600 atau Nokia 1200 itu udah bangga banget coy.
Selain main game “uler-uleran” yang hanya game over kalau nabrak badan sendiri, biasanya ngirim SMS kosong keteman atau yang ditaksir setelah beli paket 1000 SMS/SMS gratis, terus berharap dapat balasan. Dan begitulah seterusnya sampai Jepang rapih kembali setelah pertarungan Ultramen.

5. TONTONAN
Satu yang paling menyenangkan kehidupan anak era 90an adalah tontonan yang gak ‘serusak’ sekarang. Ingat “P Man” superhero yang dipencet hidungnya? Atau “Lets and Go” tentang kejuaraan Tamiya?
“Beyblade” yang adu gasing paling lama, sampai ada yang nyuri wajan emak, buat jadi arena? Semuanya mengajarkan persahabatan dan tantangan agar jangan mudah menyerah menggapai apapun.

Dan cita-cita tertinggi anak SD 90an kalau ditanya sodara sama guru adalah: “Aku mau jadi Spidermen” atau “Aku mau jadi Betmen”.

Kalau yang udah agak dewasa biasanya nonton telenovela atau sinetron Escetepe; “Tersanjung”, “Tersayang”, “Terpelanting” (yang terakhir fitnah, coeg). Logonya sampai dibuat dibaju anak-anak, kotak pensil sekolah, sama topi gitu. Kalau gak dibeliin Emak, ngamuk-ngamuk gak mau sekolah *Anak gak tau diri*.

6. JAJANAN
Chiki Ball & Friends, Jagoan Neon, Cokelat Payung, Sugus, Anak Mas, Permen Karet Yosan, Choki-Choki, Indomie, Mie Sakura adalah jajanan wajib. Pemakan Chiki-chiki biasanya hanya punya satu tujuan utama, yakni… *jeng jeeeeng* “TAZOS”, sejenis kartu yang mainnya dengan cara dilempar ke dinding atau dipukul dengan tangan sampai memar!.

7. BACAAN
Biasanya anak-anak menengah keatas bacaannya majalah Bobo, kalau anak-anak biasa paling suka mantengin gerobak Abang-abang jualan didepan pagar sekolah, apalagi kalau bukan beli komik Petruk-Gareng mahakarya ‘oppung’ Tatang S yang harga 500an. Judulnya aja ngeri-ngeri cihuyyy: “Di Kerjain Janda”, “Menantu Palsu”, “Azab Pocong Perjaka”, dll.

8. GAME
Bukan game yang sering dimainin bocah di warnet, atau yang didownload anak gahoel di Playstore. Yang bikin ente beken itu kalau udah punya “Gembot” yang makainya sampai tonjok-tonjokan sama adek sendiri dulu. Tersedia versi sewanya, mainnya ‘wajib’ jongkok, terus kalau waktunya udah abis talinya ditarik sama abang-abang kamfret.

Kalau yang cewek juga paling suka maen “Bongkar Pasang”, berbi-berbian dari kertas yang bisa ditukar-tukar bajunya, tiga kali maen lepas dah kepalanya :’)

Yang seru itu kalau udah main “petak umpet”, “kelereng”, “patel lele”, “bola debok”, “Main adu layangan” yang kalau putus wajib dikejar sampai mampus karena menyangkut harga diri. Yang agak mewah dikit kayak “Ludo” sama “ular tangga” atau “Kapal-kapalan” yang bunyinya ‘Tek tek tek’ terus cuman muter-muter di ember. Dan semua aktivitas ini hanya bisa dihentikan oleh alam, bencana alam lebih tepatnya, berupa teriakan panggilan emak yang sampai 3 rumah tangga di jam-jam maghrib.

9. RADIO
“Mekummm (bentuk alay dari “Assalamualaikum”), minta lagu ‘ST 12’ yang ‘Aku masih sayang’ spesial buat si Gadis Desa di villa asmara, aku selalu merindukanmu cayang… *kemudian gorok leher sendiri* *sumpah ini bukan ane, ane hanya saksi hidup*
Kirim pesan di radio yang isinya dari oppung yang punya oppung dan oppungnya lagi sampai generasi ke-3 adalah kebanggaan setiap makhluk nestapa 90an.

10. BINDER
Ituloh buku klip harga 15000an, yang isinya kertas warna-warni yang dipotong-potong, terus dikumpulin buat jadi koleksi. Tiap jam istirahat, usaha buat tukeran sama teman. Modus yang paling sering itu kalau kertasnya agak tebal dikit, atau motifnya agak okean ditukar dengan 2-4 binder polos biasa.
Terus isinya dibikin biodata temen-temen satu kelas dengan sandi absurd: “Mikes” aka Minuman Kesukaan, “Makes” aka Makanan Kesukaan, sama lebihan foto raport.

11. STYLE
Kegaholan remaja sekarang diuji dengan behel 200rb-an digigi dan hape android KW dewa yang kalau kepelanting gak bisa hidup lagi, atau juga hotpants yang sulit dibedakan itu celana apa kolor Agung Herkules *maap Bang*.

Style anak 90an diuji dengan rambut belah tengah ala Demi Moore, yang cewek dengan gaya rambut “Bondol”. Terus celana kargo Alien workshop atau nggak celana mambo yang lebar gombrang?, Sepatu Dokmart (sepatu bot berbrand Dokter Martin yang banyak KW-nya di Pasar Bawah dan area kodim keatas). Kasta tertinggi anak SD 90an adalah sepatu La-Gear yang kalau diinjak nyala lampunya satu set sama Tas Alpina. Awwww…

Dan masih buanyaaaak lagiii…

Kalau ente-ente yang TUA-TUA ingat semua kenangan indah itu, berarti masa kecil ente terselamatkan. Anak-anak 90an adalah anak-anak paling jujur sebagai “anak-anak” dan berbahagia dari semua generasi

By know it all

Minggu, 22 Maret 2015

Korban Film

By : Uppy Yanna

"AAARRRGGGTTTT!"

Jerit wanita paruh baya memecahkan keheningan malam.

"Lepaskan!" ucap wanita paruh baya itu seraya memberontak saat seorang remaja menggigit lehernya. Kemudian mendorongnya hingga tersungkur di lantai. Remaja itu bangkit dan menyerang lagi. Tanpa pikir panjang wanita paruh baya itu memukul kepala remaja itu dengan guci. Darah keluar bak air mancur sampai akhirnya tubuh remaja itu lunglai, terkapar di lantai. Ajal menjemput.
Mirna--wanita paruh baya--menangis sejadinya. Ia menyesal telah membunuh remaja itu--Erwin--yang tak lain anaknya sendiri. Tubuh Mirna gemetar, wajahnya pucat pasi.

"Maafin ibu, Nak. Hiks..." tangis Mirna membuat Parjo--suaminya--datang.

"Astagfirullah, Mah. Apa mamah sudah gila? Membunuh anak sendiri?" cerca Parjo.

"Mamah gak sengaja, Pah,"

"Kita lapor polisi,"

"Mamah takut dipenjara,"

"Kalau gak bersalah. Jangan takut! Percayalah?"

*

Tak lama para Polisi pun datang, kemudian mengikat tali rafiah di saka-saka ruangan itu sebagai tanda sedang melakukan evakuasi.

"Wah... sungguh tragis kematian anak ini," ucap komandan polisi.

"Pak Kom, saya gak sengaja ngebunuh anak saya, Pak."

"Bisa diperjelas tragedi kejadiannya,"

"Jadi gini, Pak. Sayakan lagi duduk, anak dan suami saya di kamar lagi nonton tv. Gak tahu gimana, badai dari mana tiba-tiba anak saya keluar dari kamar terus gigit leher saya. Ya... saya dorong anak saya ke lantai, anak saya bangun lagi, mau gigit saya lagi. Jadinya saya pukul anak saya pake guci, Pak." terang Mirna.

"Pak Parjo, memangnya apa yang Anda dan anak anda tonton saat itu,"

"Nonton Twilight Saga, Pak," jelas Parjo.

--Kelar--

(Catatan Hati Seorang Bayi) Jangan Tinggalkan Aku

Oleh : Dian Hariani

Di tempat yang sepi, sunyi menyelimuti
Cahaya mentari seakan tak lelah berbagi

Aku sendiri, tanpa siapa-siapa
Harapan hidup pun sirna

Tangisku tak membuatmu rindu
Senyumku menjadi bebanmu
Tangisku tak menyejukkanmu
Mama, mengapa begitu?

Mama, jika bisa aku meminta
Rawatlah aku seperti mereka
Dekaplah aku dalam bahagia
Lindungi aku dari kejamnya dunia

Mama, mengapa engkau tega
Meninggalkanku sendiri tanpa kata
Aku kedinginan di luar sana
Tanpa selimut dan cinta

Mama, jika tak menginginkanku
Mengapa kau mau dirayu
Melewatkan indahnya waktu
Bersama kekasihmu (ayahku)

Syukur kuucap pada Yang Kuasa
Tangisku membuat mereka iba
Berganti dengan bahagia
Deritaku seakan mereda

Tangan-tangan itu menimangku bergantian
Memuji kecantikanku tanpa cela
Setitik harapan kudapatkan
Menyongsong indahnya kehidupan

Meski kehadiranku tak kau harapkan
Namun do’aku selalu untukmu, Mama


NB : Penulis menulis sambil meneteskan air mata, miris.

Handsome Neighbor

Penulis: Negibberae Queen & Nova Aditya Nugraha


Abby, gadis manis dengan lesung pipi yang nampak jelas, kala ia tersenyum itu, nampak tengah memperhatikan rumah tetangganya yang bergaya minimalis, sembari sesekali mengelus bulu halus boneka Beruang sedang, bermata satu yang berada di pangkuannya.

Matanya yang teduh, dengan manik biru cantik dilengkapi dengan bulu mata lebat dan lentik itu, tak pernah lepas dari objek yang begitu menarik perhatiannya, di serambi rumah tetangganya tersebut.

"Aku suka dia," kata Abby, menatap seorang pria yang telah menjadi objek pengamatannya beberapa minggu belakangan ini.

Abby masih terus mengamati pria berpostur tubuh kekar tersebut, dengan senyuman manis yang tak pernah terlepas dari bibir tipisnya.

Sejenak Abby mengalihkan perhatiannya dari pria tersebut, lalu mengangkat boneka kesayangannya, hingga berhadapan langsung dengan wajah cantiknya. "Aku ingin pria itu menjadi milikku."

Abby terus berbicara dengan boneka kesayangannya, seolah-olah boneka itu bisa mengimbangi, dan membalas setiap ucapannya. Dielusnya bulu halus boneka yang berada digenggamannya, sembari menatap lekat wajah boneka itu dengan tatapan sendu.

***

Minggu sore dengan awan hitam yang menggantung rendah di langit, tak menyurutkan tekat Abby, untuk melangkahkan kakinya menuju rumah tetangganya, yang berada tepat di depan rumahnya tersebut.

Tersenyum lebar, Abby menekan bel yang berada di sebelah kanan tembok dekat pintu rumah tersebut. Tak seberapa lama, akhirnya pintu yang sedaritadi menutup kini terbuka, dan menampikan seorang pria dengan tubuh tegap berisi, dengan otot-otot yang tercetak jelas dari balik kaos putih polos yang dikenakannya.

Tanpa sadar Abby menahan nafas, saat melihat pemandangan indah yang ada di hadapannya kini. Mata Abby tak sedikit pun lepas dari mata abu-abu terang, milik pria pujaannya tersebut. Alis pria pemilik manik abu-abu itu sedikit terangkat, melihat Abby yang terus memandangnya dengan tatapan memuja.

Pria itu mengenali Abby sebagai tetanggannya, karena beberapa kali ia mendapati Abby memperhatikannya, di balkon kamar atau serambi rumah gadis tersebut.

"Kau... ada perlu apa?" tanya sang pria dengan suara rendah--namun jelas.

Abby terkesiap, "Ah, maaf. Namaku Abby, bolehkah aku sejenak bertamu?" Abby tersenyum lebar, diikuti uluran tangannya yang seputih kapas.

"Tentu saja, tak ada larangan untuk gadis secantik dirimu masuk rumahku. Dan... namaku Sammy," balas pria berwajah menarik di hadapan Abby sembari mengisyaratkan untuk masuk.

Kaki jenjang Abby melangkah masuk rumah bernuansa putih. Ruang tamunya tampak sederhana namun sedap dipandang mata. Ada tiga sofa--satu panjang dan dua lainnya pendek--serta sebuah meja kaca cukup panjang di sana, sebuah vas bunga bertengger anggun di atasnya. Dinding-dindingnya yang putih memamerkan beberapa lukisan dan foto pribadi milik Sammy. Aroma lavender menyergap ketika sepasang kaki Abby melangkah di atas keramik berwarna senada.

"Duduklah," ujar Sammy lembut. Pria berkumis tipis itu kembali mengukir senyum setelah melihat Abby tampak begitu nyaman berada di rumahnya.

"Oh, ya. Baiklah... terimakasih," jawab Abby sembari melangkahkan kakinya menuju sofa berwarna krem lima langkah di depannya.

Sepasang iris kebiruan milik Abby tak henti menyapu ruangan yang cukup luas itu--mungkin sekitar lima kali empat meter. Tepat di belakang ruang tamu terdapat dapur yang hanya tersekat sebuah tirai. Ada pula sebuah tangga menuju lantai dua, kamar pribadi Sam. Ada dua ruangan tertutup di area ruang tamu. Bisa jadi itu adalah kamar tamu.

"Kau terlihat merasa nyaman di rumahku, benarkah begitu?" tanya Sammy sambil menyuguhkan segelas pome juice pada gadis beriris kebiruan yang tampak sedikit terkejut karena kedatangannya.

"Ah, begitulah," balas Abby malu-malu. "Rumahku tak senyaman ini, dan kau adalah seorang pria. Sangat mengagumkan," tambah Abby diiringi sebuah kerlingan mata.
"Itu terlalu berlebihan," sergah Sam sembari meletakkan tubuhnya di atas sofa. "Aku hanya merawatnya saja."

Kemudian keduanya tertawa bersamaan. Sammy memang termasuk orang baru di lingkungan Abby. Namun karena sikapnya yang ramah, ia dapat dengan mudah mengambil hati tetangga sekitarnya--termasuk Abby.

"Oh, ya...," Sammy membuka suara setelah beberapa detik mereka diam dan menikmati pome juice, "apa yang membuatmu bertamu ke sini? Adakah kau perlu bantuan?"

Abby menepuk jidatnya pelan, lalu mengangguk perlahan. "Hampir saja aku lupa. Aku sendirian di rumah. Sebelum ke sini, aku mendengar suara seperti hubungan pendek arus listrik, dan kemudian... listrik di rumahku padam. Bisakah kau membantuku mengatasinya?"

"Hubungan pendek, ya?" balas Sammy sambil memainkan telunjuk di dagunya. "Kurasa kita bisa melihatnya terlebih dulu."

"Begitukah? Syukurlah kalau kau bersedia membantu," Abby melempar senyum formal.

"Bukankah sesama tetangga harus saling membantu? Sammy mengerlingkan matanya, kemudian memberi isyarat pada Abby untuk segera beranjak pergi bersama.

***

Abby dan Sammy kini telah berada di depan pintu rumah Abby. Secara perlahan, Abby membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan lelaki tampan--tetangga di seberang rumahnya tersebut untuk masuk ke dalam.

Benar saja, sesampainya di dalam rumah tersebut, kesan temaram karena tak adanya pencayahan dari lampu langsung menyergap mereka.

"Oke, Abby. Bisakah kau menunjukkan di mana pengatur listrik di rumah ini berada?" tanya Sammy sesaat setelah kedua kaki panjangnya memasuki rumah itu

"Tentu, ikut aku!"

Tanpa perlu repot menjawab, Sammy langsung mengikuti Abby yang berjalan menembus ruangan yang nampak gelap tersebut.

Sesampainya mereka di tempat tujuan, yang mana berada di bagian belakang rumah Abby.

"Ummm... Sammy, apa bisa kau menungguku di sini sebentar? Aku akan mengambil lilin, agar memudahkanmu mengetahui apa yang terjadi dengan listrik rumahku," kata Abby.

"Oh, tentu saja," timpal Sammy lalu tersenyum simpul, namun masih dapat dilihat oleh Abby, di tengah temaram yang mulai berubah menjadi lebih gelap itu.

Selepas kepergian Abby, Sammy berniat mengecek meteran listrik yang berada di tembok samping pintu belakang yang tadi dilewatinya bersama Abby. Namun belum sempat pria pemilik iris abu-abu itu melangkah, sesuatu yang keras memukul telak kepala bagian belakangnya, dan langsung membuat pria itu ambruk dalam hitungan detik.

***

Sebuah seringai keji, tercetak jelas di bibir raum kemerahan, yang sangat kontras dengan wajah cantik dan manis milik Abby.

Di tangannya, tergenggam erat sebuah balok kayu berukuran besar yang telah ia siapkan sedari awal.
Sementara di hadapannya, tubuh Sammy tergeletak tak berdaya, dengan genangan cairan pekat ber-aromakan karat dan logam di sekeliling kepalanya yang nampak retak, karena pukulan bertubi yang dilayangkan Abby.

Tak ada lagi tatapan hangat nan memukau dari pemilik iris abu-abu itu. Yang tinggal hanyalah kekosongan, dan kehampaan tiada tara, yang menandakan tak ada lagi jiwa yang bersemayam dalam tubuh kaku tersebut.

"Lelaki bodoh, yang begitu mudah masuk dalam perangkapku," cibir Abby sinis.

Menghidupkan kembali listrik yang secara sengaja dimatikannya, Abby lalu membuang asal balok yang daritadi digenggamnya ke sembarang arah. Setelah itu, gadis cantik yang dikeliling aura kelam itu mulai menyeret jasad Sammy, menuju ke sebuah ruangan besar namun pengap, yang lebih cocok disebut tempat pejagalan.

Bagaimana tidak? Ruangan tersebut penuh dengan berbagai macam dan jenis alat potong, yang mampu membuat siapa saja bergidik ngeri bila melihatnya.

"Well, sebaiknya aku segera mengambil apa yang kuincar," gumam Abby datar.

Abby lalu memilah beberapa benda, dari bersusun-susun benda tajam di ruangan tersebut.
Setelah mendapat apa yang dirasanya cocok, gadis itu langsung mendekati mayat Sammy yang tergeletak di lantai, dan mulai melancarkan aksinya.

Dimulai dengan sayatan-sayatan kecil di wajah pucat Sammy, Abby lalu menguliti secara perlahan kulit rupawan Sammy menggunakan pisau berukuran sedang yang berkilat tajam, dengan mudah, bagai seorang penjagal yang telah ahli dalam bidangnya.

Siapa yang sangka, gadis cantik yang nampak lembut dari luar itu, memiliki keahlian untuk menjadi penjagal yang tak pernah terfikirkan oleh siapa saja.Beralih ke topik yang seharusnya. Puas menguliti kulit wajah Sammy, hingga menyisahkan daging segar kemerahan, Abby lalu mengalihkan fokusnya pada sesuatu yang telah menjadi incaran awalnya.

Berbekal pisau berujung lancip dan tajam, yang sedikit lebih kecil dari pisau yang ia gunakan sebelumnya, Abby mulai menusuk dan mengoyak daging di seputaran mata Sammy.
Perpaduan karat dan loga, khas bau darah yang menyengat, seolah menjadi aroma pembangkit energi tersendiri bagi Abby. Ia sangat suka cita rasa dan bau darah, yang merembes keluar dari setiap jengkal tubuh korban-korbannya.

"Aha! Dapat," seru Abby datar.

Di tangannya, Abby membawa dengan hati-hati sebuah benda, berupa bola kecil berwarna putih mendominasi berceceran darah, dengan iris Abu-abu yang sedikit menggelap menuju ke sebuah sudut ruangan, yang mana terdapat sebuah kursi empuk, berisi sebuah boneka beruang coklat, yang hanya memiliki satu mata, di sebelah kiri.

"Lihat! Aku membawakan mata baru untukmu, Bear. Jadi kau bisa melihat dengan normal lagi, setelah aku memasangkan mata indah milik pria tampan bodoh, yang kebetulan menjadi tetangga kita ini, menggantikan matamu yang rusak itu. Hahaha!" Abby tertawa gila.

Gadis cantik yang berlumuran darah itu, memulai usahanya memasangkan bola mata milik Sammy, pada boneka kesayangannya tersebut.

"Selesai. Sekarang, tinggal mengganti sebelah telingamu yang robek itu dengan yang baru," kata Abby, mengamati boneka beruang yang ia namakan Bear tersebut.

"Oh, dan ingatkan aku untuk mengintai rumah tetangga kita yang lain, untuk mencari sebelah telinga yang cocok, untuk mu, Bear," kata Abby lagi, lalu menarik ujung bibirnya ke atas, menampilkan seingai keji dan bengisnya lagi.

"Tentu, Abby sayang. Carikan aku anggota tubuh mereka, untuk mengganti tubuhku yang sekarang, dengan fisik tubuh yang baru," timpal Bear--boneka beruang milik Abby tersebut, lalu membalas seringai Abby dengan seringainya yang tak kalah keji.

-END-

Rabu, 14 Januari 2015

FF - Topeng

Oleh Alya Annisaa

Menunggu bukanlah kegiatan yang tepat untukku. Seringkali aku kehilangan seluruh kesabaranku ketika melakukan hal ini. Tiga puluh menit sudah aku menunggu Viona. Huh, ke mana saja sih itu anak? Oh, sh*t!

"Hei, belum pulang?"

Astaga! Hampir saja jantungku mencelos ketika mendengar suara orang yang menyebalkan ini.

"Iya, emang! Gak punya mata ya?" jawabku ketus.

"Mata hatiku udah buta, Al."

"Tuh, gombalin aja cabe-cabean depan halte. Gue gak mempan dengan kata-kata bodoh dari lo!"

"Kenapa ketus banget sih? Ke mana Alya yang dulu?"

"Oh, iya dong. Kalo udah jadi mantan, ya , sadar diri aja. Lagian gue udah punya cowok kok," ucapku sambil tersenyum tipis.

"Oh, ya?" katanya datar. Aku tahu, di balik kata-kata itu, terselip sebuah rasa kecewa yang amat dalam.

"Ah, dasar jones! Udah sana, pergi lo!" bentakku.

"Cowok kamu ... siapa cowok kamu sekarang?"

"Kepo banget sih! Lo gak perlu tau. Yang jelas cowok gue jauh lebih dewasa dan lebih ganteng dari lo!"

Aku berbalik lalu berjalan pergi meninggalkannya. Tapi, belum berapa langkah aku melangkah, ia mencekal tanganku.

"Aku belum selesai dengan kamu!"

"Apa-apaan sih lo!"

"Jangan noleh. Jangan ngeluarin suara. Sedikit aja kamu noleh, sedikit aja kamu ngeluarin suara ... akan aku tahan!"

Dia melepaskan cekalannya. Aku pun melangkah pergi. Seperti permintaan Daniel, aku tidak menoleh sama sekali. Tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

Akhirnya aku tiba di tepi jalan, dan menghilang dari pandangannya. Oke, aku berhasil mengalahkannya. Aku ... aku berhasil. Aku berhasil menjatuhkan mental orang yang telah menghancurkan hatiku setahun yang lalu. Namun ada satu hal yang tidak diketahui Daniel. Aku tidak ingin menoleh, tidak ingin mengeluarkan suara, hanya karena dengan cara itulah aku bisa menyembunyikan air mataku.

***



Powered by Telkomsel BlackBerry®

Rabu, 31 Desember 2014

Cerita Sederhana Perihal Cinta

Oleh : Arief Siddiq Razaan

- ada ruang hampa yang menyangga agar langit tak rebah ke bumi, meski tanpa tiang ternyata ia mampu menciptakan awan menjadi atap

- begitulah seharusnya cinta, meski dalam diam dan tak berlabel pacaran sesungguhnya ia tetaplah cinta -- mendoa keselamatan satu sama lain ialah penyangga yang mengatapi jiwa agar terhindar dari zina

- bukankah pecinta sejati lahir untuk memuliakan cinta, maka jangan rendahkan cinta pada label pacaran, sebab tak jarang akibat adanya status pacaran lalu kita bebas berbuat apapun juga

- ada yang meminta diperhatikan, minta disayang-sayang, minta dibelikan sesuatu, padahal seharusnya perhatian, kasih sayang, dan nafkah itu lebih layak diberikan pada istri ketika berumah tangga

- sedangkan para lelaki kerap melakukan upaya intimidasi, mengatur wanitanya supaya begitu dan begini, tak jarang emosi karena tak dituruti padahal status saja belum menjadi istri mengapa seolah sudah pantas menguasai

- giliran sudah nikah malah cuek setengah mati, sebab waktu pacaran sudah over dosis memberi perhatian, sehingga tak ada lagi debar-debar asmara waktu berumah tangga, apalagi jika sudah pernah raba-raba hingga buka baju-celana maka pernikahan terasa hambar rasanya

- sudahlah, biarkan rasa cinta itu tetap dalam balutan doa, jika memang memiliki kesanggupan batin untuk menyempurnakannya, maka menikah itu solusi bijaksana, biarkan dirimu nikmati betapa debar-debar asmara membuncah dalam dada sebab saling berproses untuk melengkapi satu sama lain dalam kesucian rumah tangga

- sebab cinta bukan untuk mengotori; cinta itu menjaga kesucian diri -- menjaga kemurnian jiwa-raga orang yang kita cintai hingga sebenar ditakdirkan untuk kita miliki dalam mahligai rumah tangga sakinah, mawaddah, warahmah atas izin Ilahi.

21.11.2014

-----

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Anak Zaman Kini

Oleh : Romana Dwi

Aih, manisnya kalian adik-adikku...
Waktu seumur kalian gitu, kakak lagi sibuk belajar berhitung lho.

Kalian lagi apa? Goyang dumang? Kakak kira lagi menghafal gerakan "kepalaa, pundak, lutut kaki lutut kaki" kayak kakak dulu, huh

Aku dengar kau bilang, "Akuh sayang kamuh, tapi akuh gelegetan kamuh celingkuh. Kitah halus putus!". Haha, kakak saja waktu itu lagi bingung caranya baca "Ini bapak Budi. Ini ibu Budi...."

Eh eh, mengapa kalian menangis? Oh, aku kira karena pensilnya patah, ternyata hatinya toh yang patah. Heuh.

Cie ketawa-ketawa sendiri.. Pasti lagi chat sama dia yang kamu taksir kan? Kalau kakak sih dulu sering ngetawain temen kakak yang jadi jaga terus pas main petak umpet.

Dulu saja kakak sering dimarahin orang tua kakak karena bikin temen nangis. Lha kamu sekarang dimarahin kok karena berstatus bertunangan di fb. Hadeh..

Enak ya yang asyik main gadget. Kalau kakak dulu sih cuma main pakai pecahan genteng, haha kasihan ya kakak?

Nonton apa? Oh Ganteng Ganteng Seringgila? Manusia Hariakan? Dahsyuat?
Fiuhh, kakak aja paling banter nonton Spongebob kalau ngga ya Si Unyil, oh iya sekarang kan Unyil udah punya laptop x_x

Adik-adikku yang seharusnya menangisi hal-hal kecil, eh sekarang malah dewasa lebih dini.

Kasihan ya kakak? Atau, kasihan kalian :(
Powered by Telkomsel BlackBerry®