Rabu, 14 Januari 2015

FF - Topeng

Oleh Alya Annisaa

Menunggu bukanlah kegiatan yang tepat untukku. Seringkali aku kehilangan seluruh kesabaranku ketika melakukan hal ini. Tiga puluh menit sudah aku menunggu Viona. Huh, ke mana saja sih itu anak? Oh, sh*t!

"Hei, belum pulang?"

Astaga! Hampir saja jantungku mencelos ketika mendengar suara orang yang menyebalkan ini.

"Iya, emang! Gak punya mata ya?" jawabku ketus.

"Mata hatiku udah buta, Al."

"Tuh, gombalin aja cabe-cabean depan halte. Gue gak mempan dengan kata-kata bodoh dari lo!"

"Kenapa ketus banget sih? Ke mana Alya yang dulu?"

"Oh, iya dong. Kalo udah jadi mantan, ya , sadar diri aja. Lagian gue udah punya cowok kok," ucapku sambil tersenyum tipis.

"Oh, ya?" katanya datar. Aku tahu, di balik kata-kata itu, terselip sebuah rasa kecewa yang amat dalam.

"Ah, dasar jones! Udah sana, pergi lo!" bentakku.

"Cowok kamu ... siapa cowok kamu sekarang?"

"Kepo banget sih! Lo gak perlu tau. Yang jelas cowok gue jauh lebih dewasa dan lebih ganteng dari lo!"

Aku berbalik lalu berjalan pergi meninggalkannya. Tapi, belum berapa langkah aku melangkah, ia mencekal tanganku.

"Aku belum selesai dengan kamu!"

"Apa-apaan sih lo!"

"Jangan noleh. Jangan ngeluarin suara. Sedikit aja kamu noleh, sedikit aja kamu ngeluarin suara ... akan aku tahan!"

Dia melepaskan cekalannya. Aku pun melangkah pergi. Seperti permintaan Daniel, aku tidak menoleh sama sekali. Tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

Akhirnya aku tiba di tepi jalan, dan menghilang dari pandangannya. Oke, aku berhasil mengalahkannya. Aku ... aku berhasil. Aku berhasil menjatuhkan mental orang yang telah menghancurkan hatiku setahun yang lalu. Namun ada satu hal yang tidak diketahui Daniel. Aku tidak ingin menoleh, tidak ingin mengeluarkan suara, hanya karena dengan cara itulah aku bisa menyembunyikan air mataku.

***



Powered by Telkomsel BlackBerry®

Rabu, 31 Desember 2014

Cerita Sederhana Perihal Cinta

Oleh : Arief Siddiq Razaan

- ada ruang hampa yang menyangga agar langit tak rebah ke bumi, meski tanpa tiang ternyata ia mampu menciptakan awan menjadi atap

- begitulah seharusnya cinta, meski dalam diam dan tak berlabel pacaran sesungguhnya ia tetaplah cinta -- mendoa keselamatan satu sama lain ialah penyangga yang mengatapi jiwa agar terhindar dari zina

- bukankah pecinta sejati lahir untuk memuliakan cinta, maka jangan rendahkan cinta pada label pacaran, sebab tak jarang akibat adanya status pacaran lalu kita bebas berbuat apapun juga

- ada yang meminta diperhatikan, minta disayang-sayang, minta dibelikan sesuatu, padahal seharusnya perhatian, kasih sayang, dan nafkah itu lebih layak diberikan pada istri ketika berumah tangga

- sedangkan para lelaki kerap melakukan upaya intimidasi, mengatur wanitanya supaya begitu dan begini, tak jarang emosi karena tak dituruti padahal status saja belum menjadi istri mengapa seolah sudah pantas menguasai

- giliran sudah nikah malah cuek setengah mati, sebab waktu pacaran sudah over dosis memberi perhatian, sehingga tak ada lagi debar-debar asmara waktu berumah tangga, apalagi jika sudah pernah raba-raba hingga buka baju-celana maka pernikahan terasa hambar rasanya

- sudahlah, biarkan rasa cinta itu tetap dalam balutan doa, jika memang memiliki kesanggupan batin untuk menyempurnakannya, maka menikah itu solusi bijaksana, biarkan dirimu nikmati betapa debar-debar asmara membuncah dalam dada sebab saling berproses untuk melengkapi satu sama lain dalam kesucian rumah tangga

- sebab cinta bukan untuk mengotori; cinta itu menjaga kesucian diri -- menjaga kemurnian jiwa-raga orang yang kita cintai hingga sebenar ditakdirkan untuk kita miliki dalam mahligai rumah tangga sakinah, mawaddah, warahmah atas izin Ilahi.

21.11.2014

-----

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Anak Zaman Kini

Oleh : Romana Dwi

Aih, manisnya kalian adik-adikku...
Waktu seumur kalian gitu, kakak lagi sibuk belajar berhitung lho.

Kalian lagi apa? Goyang dumang? Kakak kira lagi menghafal gerakan "kepalaa, pundak, lutut kaki lutut kaki" kayak kakak dulu, huh

Aku dengar kau bilang, "Akuh sayang kamuh, tapi akuh gelegetan kamuh celingkuh. Kitah halus putus!". Haha, kakak saja waktu itu lagi bingung caranya baca "Ini bapak Budi. Ini ibu Budi...."

Eh eh, mengapa kalian menangis? Oh, aku kira karena pensilnya patah, ternyata hatinya toh yang patah. Heuh.

Cie ketawa-ketawa sendiri.. Pasti lagi chat sama dia yang kamu taksir kan? Kalau kakak sih dulu sering ngetawain temen kakak yang jadi jaga terus pas main petak umpet.

Dulu saja kakak sering dimarahin orang tua kakak karena bikin temen nangis. Lha kamu sekarang dimarahin kok karena berstatus bertunangan di fb. Hadeh..

Enak ya yang asyik main gadget. Kalau kakak dulu sih cuma main pakai pecahan genteng, haha kasihan ya kakak?

Nonton apa? Oh Ganteng Ganteng Seringgila? Manusia Hariakan? Dahsyuat?
Fiuhh, kakak aja paling banter nonton Spongebob kalau ngga ya Si Unyil, oh iya sekarang kan Unyil udah punya laptop x_x

Adik-adikku yang seharusnya menangisi hal-hal kecil, eh sekarang malah dewasa lebih dini.

Kasihan ya kakak? Atau, kasihan kalian :(
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sabtu, 01 November 2014

Cermin Dua Wajah



Oleh Alya Annisaa

6.05.'06 Seorang lelaki. Lelaki muda. Menghanyutkanku. Menggerogoti perasaan. Aku semakin tenggelam di balik api yang merah menyala. Apakah aku bersalah?

7.05.'06 Hari ini aku melihatnya. Ia tampak begitu bahagia. Aku turut bersukacita untuknya. Tapi kemudian hal yang tak terduga menerpa. Menghampirinya, membuatnya terombang-ambing dalam ketidakpastian perkara. Ia menangis di depanku--seseorang yang tak tampak oleh mata biasa.

8.05.'06 Pagi yang aneh. Seperti biasa aku menyapanya dengan ramah. Namun ia malah menatapku dengan mata yang memancarkan kemarahan. Ia memakiku.

10.06.'06 Berikan aku kekuatan untuk menyelesaikan lagu kematian ini. Aku harus segera mengakhirinya.

13.05.'06 Kulihat awan mendung. Kukira akan turun hujan. Lalu angin dan petir menghadang. Mereka mengusirku dengan paksa. Bukan hujan yang turun, tapi aku yang menangis.

15.05.'06 Ia mengabaikanku. Mataku mulai gerah. Aku butuh ketenangan. Sekali lagi ia mengabaikanku, namun kali ini terasa begitu menyakitkan. Di balik bayangan tempatku bersembunyi, perlahan aku mengoyak cahaya.

18.05.'06 Aku menunggunya. Hatiku yang rapuh masih tetap setia bersabar untuknya. Tangisku bagaikan serpihan kecil semacam debu dan tak berharga. Temanku, aktor sudut malam, meraihku dan meyakinkanku, membuatku tetap tenang. Kembali mereka mengikis pertahananku. Kejam sekali dunia. Aku mengadu pada senja. Ia menghiburku dengan mengatakan bahwa gelap itu tak pernah ada, yang ada hanya kekurangan cahaya.

21.05.'06 Mereka memanggilku dengan sebutan anak bawang. Aku tak mengerti tentang kesalahan yang kuperbuat pada mereka. Mereka menggunjingkanku. Menyangkut-pautkan semua kemalangan yang terjadi. Menimpakan pertanggungjawaban atas warna kegelapan padaku. Menyoraki kehancuranku. Menggenapi retak pondasi yang kupertahankan dengan susah payah.

22.05.'06 Aku mencakar langit pagi. Awan hitam datang dan menyiramiku dengan rasa dingin. Aku gemetar hebat. Persendianku menolak perintah. Ototku memberontak. Sial!

28.05.'06 Gerak-gerikmu mengusik pikiranku. Aku kembali bersembunyi di balik bayangan. Melihatmu dari jauh, sudah cukup bagiku. Mendengar suara baritonmu, melegakan rasa haus akan hangatnya dirimu. Lalu perempuan itu datang. Senyumnya menggoda. Bibir merahnya mengecup pipimu. Tidak!

1.06.'06 Aku merangkak dalam keterpurukan. Bidadari itu menggantikanku. Posisiku. Tak cukupkah air mataku membanjiri cermin dua wajah?

4.06.'06 Malam ini tak ada jangkrik yang bernyanyi untukku. Air mata membanjiri kehidupan yang mengharuskan aku berhadapan dengannya. Dia. Dia merenggut anganku. Aku mengerti, aku tahu, aku menyadarinya. Aku hanyalah seonggok roh tanpa raga.

6.06.'06 Saat magma mulai mendesak untuk dimuntahkan, api panas keluar menyiram duniamu. Kembalikan! Pergi! Kau membangkitkan kemarahan terpendam. Biarkan aku kembali menyaksikan kejatuhanmu. Berakhirlah lagu cermin kematian abadi lucifer.

Minggu, 12 Oktober 2014

Elegi Bekas Istri Siri

Pernah dimuat di harian Radar Cirebon, Maret 2013

Oleh: Deri Harfan Drajat

Jauh sebelum surya tersenyum di ufuk timur, Halimah sudah terjaga. Bukan karena hawa dingin sang fajar telah mengusik serta menembus tulangnya, tetapi karena naluri keibuannya telah memanggilnya; merenggut jiwanya dari alam mimpi dan mengempaskannya ke alam nyata yang penuh beban, tugas serta kewajiban.

Pukul empat pagi, di saat kebanyakan manusia masih tersesat di alam mimpinya, saat para istri tengah terlelap dalam dekapan suaminya nan hangat, Halimah telah terbangun demi menyiapkan keperluannya berikhtiar memenuhi kebutuhan hidup ibu dan tiga anaknya.

Pagi-pagi benar ia sudah membuat adonan kue serabi. Bertarung melawan hawa dingin yang merasuk sumsum tulang serta rasa kantuk yang memberati kelopak mata. Ia tidak mengindahkan godaan dari sudut gelap hatinya yang menyuruhnya untuk tetap terlelap, berselimut, dan melanjutkan merenda mimpi.

Mungkin nasib para bekas istri kedua memang harus seperti ini, gumamnya di dalam hati menekuri penderitaan yang ia alami.

Perempuan-perempuan seperti Halimah memang seakan menanggung kutukan dari para istri pertama. Karena itulah hidup mereka sarat akan derita. Teramat berat beban yang harus mereka tanggung. Bahkan sejak masih berstatus istri kedua pun beban itu telah tersunggi di atas kepala mereka. Stigma buruk harus mereka terima, dan anggapan miring harus mereka kecap. Belum lagi, tak ada kejelasan perdata mengenai status serta hak anak-anak mereka.

Perempuan rendah, jalang, tidak laku, tidak tahu malu, perebut suami orang, ataupun materialistis, adalah umpatan-umpatan yang sering dilontarkan orang-orang kepada Halimah dan perempuan-perempuan sepertinya. Padahal, apa salahnya menerima pinangan lelaki? Toh mereka pun sama seperti perempuan lain; ingin dan butuh kasih sayang dari seorang lelaki. Haya saja, kebetulan lelaki yang memberi mereka asa adalah lelaki yang merupakan suami dari perempuan lain. Lagi pula, tidak semua perempuan seperti Halimah tahu sejak awal bahwa suaminya itu telah beristri. Bukankah lelaki memang makhluk yang sangat pintar berbohong, merayu, dan menyanjung? Entah sudah berapa banyak perempuan yang luluh hatinya setelah dirayu oleh lelaki.

Azan subuh telah berkumandang. Segelintir orang berjalan menembus pekatnya fajar, menyambangi surau demi menunaikan seruan Ilahi. Sementara, Halimah masih saja sibuk dengan pekerjaannya; membawa ember berisi adonan ke pekarangan rumah, mempersiapkan tungku kecil, menyalakan kayu bakar, dan sebagainya.

Sinis tatapan orang-orang melihat Halimah sibuk dengan pekerjaannya sementara mereka pergi menuju pesujudan. Berani mereka memberikan penilaian serta kesan terhadap Halimah, padahal Tuhanlah yang lebih tahu tentang amalan mana yang lebih utama antara berjamaah salat subuh dan bekerja mencukupi kebutuhan keluarga.

Seandainya mereka tahu, bukan keinginan Halimah berkutat dengan pekerjaan sementara panggilan Tuhan ia tangguhkan. Sebenarnya ia pun sangat malu kepada Tuhan. Jauh di dalam hatinya, ia pun ingin khusyuk mengabdi dan mengutamakan titah Tuhannya. Namun keadaan telah memaksanya untuk tetap bekerja demi memenuhi hajat keluarganya. Sebab kalau tidak demikian, bagaimana dengan ibu dan anak-anaknya? Mau makan apa mereka hari ini?

Kalau saja ia masih punya suami, barangkali ia tidak harus sesibuk ini. Mungkin tidurnya akan cukup dan ibadahnya akan khusyuk. Namun, asanya terenggut setelah istri pertama suaminya yang cerewet itu datang menghardiknya tiga tahun lalu.

"Heh, Perempuan Jalang, bercerailah dengan Mas Iwan kalau kamu dan keluargamu ingin hidup tenang!" damprat istri pertama suaminya kala itu.

Anak bungsunya yang saat itu tengah dipangkunya, menangis mendengar hardikan tersebut. Diayun-ayun dan ditepuk-tepuk bokong anaknya itu demi menghentikan tangisannya sambil memandangi ibu dan anak-anaknya secara bergantian.

"Baiklah, aku akan meminta cerai kepada Mas Iwan," sahutnya berat.

Terpaksa ia menyanggupi keinginan istri pertama suaminya karena tidak tega melihat ibunya yang sudah renta dan anak-anaknya yang masih kecil itu harus hidup dalam ketidaktenangan akibat perbuatannya. Tetapi, benarkah akibat perbuatannya? Bukan akibat perbuatan suaminya yang telah berpoligami?

Maka, sejak saat itu ia menjadi seorang janda. Dan praktis ia harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Setiap pagi ia berjualan kue serabi, sementara siangnya ia berjualan sayur-mayur dan jajanan-jajanan anak di warung kecil di depan rumahnya.

Sungguh kasihan ia. Masih muda, cantik, namun harus menjadi seorang janda akibat nafsu lelaki yang tak terpelihara. Kecantikan yang dulu terpancar di wajahnya perlahan-lahan pudar terhapus penderitaan. Lantas, siapakah yang patut disalahkan atas keadaannya itu? Apakah ia sendiri yang ingin bersuami seperti perempuan lain? Apakah mantan suaminya yang telah berpoligami? Istri pertama suaminya yang enggan dimadu? Ataukah agama yang telah mengizinkan poligami? Tetapi, sungguh, agama tidak pernah salah.

Waktu terus menapak. Kini anak sulungnya telah berusia sepuluh tahun dan duduk di kelas empat SD. Anak keduanya kelas dua SD, sementara si bungsu telah masuk TK. Ia sadar, semakin besar anak-anaknya, akan semakin besar pula biaya hidup keluarganya. Apalagi di negeri ini harga-harga kebutuhan pokok selalu merangkak naik tanpa kompromi terlebih dahulu dengan orang-orang miskin; termasuk biaya pendidikan. Kendati dulu ia tidak bersekolah tinggi, namun sebagai seorang ibu, ia ingin anak-anaknya bersekolah tinggi agar tidak bodoh dan tidak menderita seperti dirinya. Dan untuk hal tersebut, ia sadar bahwa ia harus bekerja ekstra giat.

Seandainya saja para lelaki mampu mengendalikan hawa nafsunya, mungkin perempuan-perempuan seperti Halimah tidak akan ada. Mereka akan hidup sesuai dengan kodratnya; mengurus rumah, melayani suami, memasak, merawat serta mendidik anak-anaknya. Namun kebanyakan lelaki tak mampu mengendalikan hawa nafsunya, sehingga para perempuan menjadi korban.

Dengan mudahnya mereka berdalih mengikuti sunah Rasul manakala dikritisi soal poligami yang dijalaninya. Padahal masih banyak sunah lain yang lebih utama dan mulia di mata Tuhan ketimbang poligami. Mereka lupa, lebih tepatnya sengaja melupakan, bahwa rasul tidak pernah menganjurkan untuk berpoligami seumpama tidak mampu berbuat adil atau menciptakan keadilan. Secara matematik mungkin mudah membagi uang sepuluh ribu rupiah menjadi dua. Tetapi rumah tangga bukanlah matematika. Di sana ada ego, emosi, dan kepentingan istri tua serta istri muda yang harus sama-sama dipenuhi.

----


Powered by Telkomsel BlackBerry®

It Hurts A Bit

Sumber: YouTube
Diterjemahkan oleh: Zerstörer

Aku tak begitu ingat apa yang terjadi sebelum semuanya berubah menjadi gelap. Kalau tak salah, aku sedang berada di mobil? Satu-satunya yang bisa kuingat hanyalah mendengar suara keras, seperti besi dan besi saling berbenturan, dan kemudian hening. Aku terbangun di tempat yang bunyi bip—sepertinya bunyi suatu mesin—terus menerus menggema. Aku sendiri tak yakin di mana aku berada, karena sepertinya aku tidak bisa membuka mataku. Konyol, bukan? Aku bisa merasakan selimut menutupi tubuhku, dan bunyi bip-bip-bip di sampingku, tapi aku tidak bisa membuka mataku, atau berbicara, atau bergerak.

Orang-orang terus berdatangan untuk mencolekku, dan aku selalu berusaha untuk berbicara kepada mereka.

"Bisakah seseorang memberitahuku apa yang terjadi kepada mataku? Aku tidak bisa membukanya." Aku mencoba bertanya, namun sepertinya pita suaraku tak mau bekerja sama, jadi kurasa aku hanya akan menunggu. Orang-orang ini sepertinya tahu apa yang mereka lakukan; mereka selalu mencolekku di tempat yang sama, kadang menggunakan jari mereka, kadang memakai suatu benda-tajam-tanpa-nama. Orang-orang itu tidak berkata banyak. Hanya datang, mencolekku, menghela nafas, lalu pergi.

Seseorang membuka mataku hari ini dan menyinarinya dengan senter. Rasanya sakit, tapi aku tak bisa meminta mereka untuk berhenti. Tapi gerakkan dari mataku terasa nyaman. Apakah kau tahu, bahwa kalau kau tidak membuka matamu untuk waktu yang lama, matamu bisa menempel dengan kelopak matamu? Aku sebelumnya tak tahu. Tapi itu terjadi sekarang. Jujur saja, rasanya tidak sakit, tapi rasanya sangat nyaman ketika mataku akhirnya terbuka.

Seseorang tengah memegangi tanganku dan membacakanku buku, yaitu bab 7 dari Harry Potter dan Kamar Rahasia. Aku ingin memberitahunya bahwa aku sudah pernah membaca buku itu, tapi aku tidak bisa. Dia menggenggam tanganku terkadang, dan hanya duduk bersamaku. Jadi di ruangan itu hanya ada aku, dia, dan suara bip-bip-bip. Kurasa orang itu ibuku.

Ibu menangis hari ini. Aku ingin membuatnya bahagia, bukan sedih, tapi ada yang salah dengan tanganku karena aku tidak bisa menggerakkannya untuk memeluk ibu. Aku harus memberitahunya nanti kalau aku ingin membantunya.

Beberapa orang masuk ke dalam ruangan ketika ibu sedang menangis, dan berkata, "dia sebaiknya pergi", bahwa "dia sebaiknya tidak berada di sini untuk ini". Tapi aku tak mengenali suara itu, dan aku tidak ingin ibu pergi. Aku takut. Ibu menangis lebih keras, menjerit, "tidak, dia masih di sana!" Dan aku ingin berteriak, "tentu saja, memangnya aku mau pergi ke mana?" Dan semua orang meninggalkan ruangan.

Ibu kembali ke dalam ruangan tak lama kemudian, terisak. Beliau duduk, dan mulai menangis cukup keras, dan mengeras, sampai beliau hampir berteriak. Dan kemudian, dia memukulku, tepat di wajah. Aku tak tahu apa kesalahan yang kulakukan, tapi dia memukulku lagi, lagi, dan lagi, dan aku tidak dapat berkata maaf, atau menangis, atau menghentikannya, hanya duduk di sana sampai beberapa pria datang dan membawa ibu pergi. Dua pria masih tinggal di ruangan, dan mereka mengobrol, tapi aku tidak dapat menangkap apa yang mereka katakan sampai aku menangkap satu kata, "koma".

Aku ingin menjerit, berteriak, melompat, dan menampar pria itu tepat di mulutnya.

Tapi aku tidak bisa. Aku tak bisa mengatakan "hentikan". Tidak bisa berkata "hei, aku di sini, aku bisa mendengar kalian, tolong jangan lakukan ini padaku." Aku tak bisa melakukannya. Aku hanya bisa diam ketika mereka mencolekku dengan benda-tajam-tanpa-nama. Sepertinya itu jarum suntik. Bunyi bip-bip-bip terdengar semakin cepat dan tak beraturan, dan tubuhku terasa semakin lelah. Aku ingin bertanya apa yang mereka lakukan. Apa yang mereka kira akan membantuku, tapi aku tidak bisa.

Aku menjerit sekeras mungkin, tapi aku sama sekali tak bergerak. Aku masih ingin hidup. Aku tidak ingin pergi.

...Aku harus memeluk ibu, memberitahunya bahwa semuanya baik-baik saja, memberitahunya bahwa aku di sini dan aku baik-baik saja.

Tapi kurasa aku tak memiliki kesempatan itu lagi sekarang.

Bip.

Bip...

----


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sabtu, 04 Oktober 2014

BRIAN THE NGENES

Oleh Damn Mizuki
#‎EventNgawur‬

Hai, nama gue Brian. Orang-orang selalu menyebut gue Brian The Ngenes. Entah kenapa gue disebut Brian The Ngenes. Mungkin karena banyak masalah diluar nalar manusia yang menimpa gue. Hampir setiap hari "ngenes" mendatangi gue. Ya sudahlah gue bisa apa? Gue ini cuma manusia biasa yang tak luput dari kata ngenes. Memang hidup tak semulus paha para model yang semlohek. Kadang juga kasar seperti aspal. Tapi dijalani saja karena hidup untuk dijalani bukan untuk dilarii.
Pernah suatu ketika gue nonton tv sama mama gue. Eh, remotenya ilang diumpetin maling. Remote ketemu, tv nya hilang diumpetin. Tv ketemu antenanya hilang ditiup angin. Remote, tv, antena ketemu mama gue HILANG!. Mama gue ketemu udah bawa remote, tv sama antena. Giliran ketiganya yang udah ketemu, mati listrik! Woy PLN tahu gak sih kalau ini keburu hilang lagi barang gue! Oke listrik nyala. Giliran listrik nyala alarm listrik bunyi tut tut tut kayak telepon gak diangkat. Eh ternyata pulsa listriknya habis. Pulsa listrik udah diisi, tv rusak! Ngepul keluar asap kayak orang lagi marah di anime-anime. Hidup gue itu ya kayak udah jatuh ketimpa tangga. Habis ketimpa tangga mau bangun digigit anjing. Mau kabur diserempet becak. Mau marahin becaknya gue udah keburu salto gara-gara ditabrak tukang roti. Mau berobat dokternya meninggal. Gue pulang, dokternya yang baru datang. Sampai rumah, mama gue ilang lagi. Udah ilang bawa dokter lagi. Sudahlah ya, gue lelah menghadapi cerita ngenes hidup gue ini. Tapi kalau gue mati siapa yang bakalan jadi orang yang bikin semua orang ngakak disini? Ya udah mendingan gue jalani aja meskipun hidup gue ini banyak batu kayak aspal. Oke sekian cerita Brian The Ngenes. Gue harap kejadian ngenes yang nimpa gue gak terjadi ke kalian. Dan jangan putus asa jalani hidup kalian meskipun sakitnya tuh disini. Di hati sama di badan! Karena ada sesuatu yang tak pernah terduga dibalik itu semua. Bisa aja kan lo dapat emas sekarung cuma gara-gara ngenes? Nasib orang gak ada yang tahu bro. So keep posthink and see you latter!
Salam ngenes,

-BRIAN THE NGENES-

-------


Powered by Telkomsel BlackBerry®