By: Ihsan Fikrie
𝘉𝘪𝘭𝘢 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘢𝘺𝘢𝘮, 𝘵𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘴𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢. 𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘬𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘶𝘯, 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘳𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘰𝘣𝘢𝘢𝘯. 𝘗𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘭𝘪-𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘤𝘢𝘱 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘣𝘰𝘬, 𝘬𝘢𝘺𝘶, 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘳𝘪𝘱𝘭𝘦𝘬 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘱𝘶𝘯. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨, 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘸𝘢𝘳. 𝘋𝘶𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨, 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘴𝘪𝘯. 𝘉𝘦𝘳𝘬𝘢𝘭𝘪-𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨, 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘯𝘪𝘴. 𝘚𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨, 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘨𝘶𝘳𝘳𝘳𝘪𝘪𝘩𝘩 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘪𝘯 (𝘭𝘩𝘰)! 𝘙𝘦𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵-𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵, 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 …
***
Ini adalah hari terindah yang pernah ada. Langit begitu cerah, tapi suhu sama sekali tidak gerah. Bu Imas—guru Bahasa Indonesia—batal masuk kelas karena hidungnya berdarah. Aku berjalan setengah melompat-lompat seperti anak kecil, dengan senyumku yang merekah. Kalau sekarang aku bercermin, pastilah kedua pipiku semu merah.
Dua menit itu, dua menit yang paling menyenangkan! Betapa tidak, aku berhasil bicara dengannya. Kau percaya itu? Mulai sekarang, dia tahu namaku. Walau sekadar nama panggilan, bukan nama lengkap yang tertera di akta kelahiranku. Ah, benar-benar serasa mimpi aku sanggup mengatakan itu padanya. Percaya tidak percaya, dengan persentase ketidakpercayaan 99 persen.
Kau pasti ingin tahu bagaimana kejadiannya bukan? Oh, ya. Nama asliku Dewi Kirana, tetapi di akta tercetak Neng Dewi Kirana (entah dari mana asalnya tambahan itu). Sejak kecil, semuanya memanggilku Wiki dan aku juga terbiasa dipanggil begitu. Padahal, sebetulnya aku tidak suka. Membuatku terdengar lemah. Tahu kata ‘lemah’ dalam bahasa inggris kan? Ah, sudah cukup intermezonya. Akan aku ceritakan kejadian tadi saat lelaki itu belajar mengucap namaku.
“Hei, cowok! Traktir aku dong!” pintaku sok dekat saat bertemu dengannya di kantin.
“Hah?”
“Traktir. Tahu kan artinya?”
“Seenaknya! Memangnya kau siapa?”
“Aku Wiki dari 11 IPA 4.”
“Wiki?”
“Ingat baik-baik ya!”
Begitulah. Biasa saja bukan? Itu menurutmu. Lain dengan orang yang sedang kasmaran seperti aku. Setelah itu aku langsung berlari terbirit-birit ke kelas. Mungkin karena degup jantungku yang begitu cepat membuat adrenalinku terpacu.
Namanya Adrian. Orangnya putih, tinggi, badannya tegap berisi, dan suaranya serak-serak becek. Persis seperti Ariel Noah dengan wajah lebih tampan. Tujuh dari sepuluh banci pasti suka padanya. Apalagi aku sebagai wanita tulen. Aku jatuh padanya. Aku mati padanya. Kalau boleh, ingin sekali aku memotong kepalanya yang tampan itu untuk kupasang di dinding kamar, agar aku bisa memandanginya setiap bangun ataupun hendak terlelap.
Selama istirahat kedua berlangsung, aku hanya duduk manis di depan kelas. Kelasku dan kelasnya saling berhadapan. Aku bisa melihatnya sedang menulis dari balik jendela. Tiba-tiba kepalanya menoleh. Dia menoleh ke arahku. Aku langsung membuang muka. Berpura-pura tidak melihatnya. Bisa gawat kalau dia sampai curiga. Setelah beberapa saat, aku melirik lagi ke arahnya. Ya ampun, dia masih memandangiku sejak tadi. Ah, kepiting rebus! Pasti pipiku semerah makanan itu sekarang.
***
… 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘣𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘳𝘢𝘱, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘱𝘶𝘱𝘶𝘬, 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘳𝘢𝘮𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘢𝘮 𝘣𝘦𝘯𝘪𝘩-𝘣𝘦𝘯𝘪𝘩 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢. 𝘋𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘸𝘢𝘭, 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘴𝘶𝘣𝘶𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘪𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘶𝘮𝘣𝘶𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘵. 𝘙𝘦𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵-𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵, 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱𝘯𝘺𝘢 …
***
Pagi ini sungguh biasa. Normal. Tak seperti kemarin. Padahal matahari baru naik sepenggalan, tapi Adrian sudah dikerumuni oleh banyak perempuan-perempuan centil dan berisik. Aku memang berisik, tapi setidaknya aku tidak hiperbol seperti mereka. Huh, aku memang tidak suka pedas. Aku benci cabe. Apalagi cabe-cabean!
Kalau sedang kesal, aku ingin makan. Aku selalu membayangkan makanan yang masuk ke dalam mulutku adalah orang yang membuatku kesal itu. Kugigit, kukunyah, kukoyak dengan gigi taringku, lalu kutelan dengan lahap. Rasanya plong sekali.
“Bakso satu Mas!” pesanku pada Mas Guntur, penjual bakso di kantin sekolah.
“Campur?”
“Tidak pakai saus, tidak pakai sambel, juga tidak pakai kol.”
Aku mengisi satu-satunya meja yang kosong dengan dua kursi. Sekarang tinggal duduk menunggu dengan bosan. Di saat seperti inilah, pasti selalu terbayang momen-momen paling menyebalkan. Bagaimana mungkin Adrian bisa melihatku di antara puluhan wanita yang selalu mendekatinya? Aku terus mencari waktu yang tepat di saat ia sedang sendiri. Misalnya ketika ia sedang duduk menunggu di Tata Usaha untuk menyerahkan data diri pengajuan beasiswa. Belum sempat aku ngobrol, aku sudah dipanggil duluan ke dalam. Begitu aku keluar, giliran dia yang dipanggil masuk. Kalau aku Sponge Bob, pasti sudah kukatakan “Saus Tartar!”
Kletek! Semangkuk bakso mendarat di mejaku. Orang yang mengantarkannya lalu duduk di kursi di depanku, di meja yang sama.
“Punyamu,” ujarnya. Sebenarnya aku ingin mengucapkan terima kasih, tetapi suaraku menyangkut di tenggorokan saat mengetahui wajahnya. Aku hanya mengambil semangkuk bakso itu dan langsung menyantapnya.
Ya ampun, kenapa sekarang? Kenapa si Adrian ada di sini? Aku belum menyusun kata-kata yang pas untuk ngobrol. Aku masih terus melahap dan melahap lagi bakso itu. Rasanya makin asin. Pasti kuahnya sudah terkontaminasi oleh keringat dinginku yang bercucuran karena gugup. Aku tidak boleh terlihat bodoh. Aku harus menemukan topik pembicaraan.
“Emm .…”
“Ini baksonya, Dek Adrian!” Mas Guntur mengantarkan pesanan Adrian. Uh, mengganggu saja dia. Padahal baru satu emm yang aku katakan.
“Makasih, Mas!” jawab Adrian. “Oh, ya! Tadi kau mau bilang apa?”
“Bapakmu arsitek ya?” Alamak! Kenapa kata-kata itu yang keluar dari mulutku?
“Lebih tepatnya pemborong,” jawabnya tenang.
“Pemborong?”
“Kerjanya membangun bendungan, jembatan, dan jalan layang,” ujarnya sambil memasukkan bakso bulat ke mulutnya.
“Kau bisa?”
“Belum. Ilmuku baru sampai membangun rumah.”
“Kalau membangun rumah tangga bisa tidak?” Keceplosan! Mulutku lagi-lagi tidak terkontrol. Aku ini wanita, kenapa malah aku yang gombal? Aku sempat melihat Adrian tersedak dan pergi membeli air mineral. Langsung saja kujejalkan semua bakso di mangkuk sampai mulutku penuh, lalu berlari kembali ke kelas, setelah membayar tentunya.
***
… 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘮𝘢𝘭𝘶. 𝘛𝘢𝘬 𝘦𝘯𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘳𝘢𝘩𝘢𝘴𝘪𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶. 𝘗𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪. 𝘔𝘦𝘯𝘪𝘬𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘭𝘶𝘤𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘢𝘮𝘦𝘳𝘬𝘢𝘯. 𝘔𝘦𝘮𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵. 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘫𝘢𝘳𝘢𝘬 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘶𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘢. 𝘗𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱. 𝘒𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶, 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘬𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱. 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪𝘮𝘶. 𝘈𝘯𝘥𝘢𝘪 𝘢𝘺𝘢𝘩𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘯 𝘱𝘦𝘮𝘢𝘭𝘶-𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘢𝘥𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘙𝘦𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵-𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵, 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱𝘯𝘺𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢. 𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶, 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘧𝘰𝘬𝘶𝘴 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 …
***
Keesokan harinya, entah kenapa suasana begitu berbeda dari sebelumnya. Langit mendung, padahal bukan di kota hujan. Hawa dingin membuat meriang seluruh badan. Angin pun berhembus dengan ragu-ragu, kadang kencang, kadang pelan. Yang terpenting dari semuanya, sejak pagi aku belum melihat dadanya yang bidang, Adrian.
Kuputuskan untuk ke kantin dan membeli bakso. Lagi.
“Mas, pesan baksonya setengah, mie-nya setengah, bihunnya setegah, kuahnya setengah!”
“Lho, kok pesennya setengah-setengah Neng?”
“Lagi diet.”
“Oh, pantesan. Ya sudah, nanti saya bikinin.”
“Oke. Pesennya porsi dobel ya Mas!”
Saat itu Mas Guntur menyadari kalau aku sedang bergurau. Tapi tidak ada tawa di mulutnya.
“Garing!” cuma itu tanggapannya. “Oh iya! Tadi ada yang nitip ini sama saya. Katanya buat Neng Wiki.”
Mas Guntur memberikan selembar amplop. Apa ini? Uangkah isinya? Aku membukanya dan melihat bahwa ternyata isinya selembar kertas berisi tulisan yang sangat banyak. Duh, aku sedang malas membaca. Mana baksoku sudah tiba. Tapi sepertinya pesan ini cukup penting. Yah, mau bagaimana lagi. Dengan terpaksa aku pun mulai membacanya:
“𝘉𝘪𝘭𝘢 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘢𝘺𝘢𝘮, 𝘵𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘴𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 …”
***
… 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘬𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘦𝘵𝘪𝘬-𝘥𝘦𝘵𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘮𝘶. 𝘋𝘪 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘛𝘢𝘵𝘢 𝘜𝘴𝘢𝘩𝘢, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘰𝘣𝘳𝘰𝘭. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘵𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘦𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘴-𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘴𝘮𝘶. 𝘕𝘦𝘯𝘨 𝘋𝘦𝘸𝘪 𝘒𝘪𝘳𝘢𝘯𝘢. 𝘕𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢. 𝘔𝘢𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘫𝘶𝘵 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘣𝘢-𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘵𝘳𝘢𝘬𝘵𝘪𝘳, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘞𝘪𝘬𝘪. 𝘓𝘢𝘭𝘶, 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘬𝘴𝘰. 𝘉𝘦𝘳𝘶𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘫𝘢𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘰𝘴𝘰𝘯𝘨, 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘴𝘶𝘭𝘪𝘵𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘳𝘶𝘱 𝘯𝘢𝘱𝘢𝘴 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶. 𝘙𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢? 𝘏𝘢𝘩𝘢… 𝘛𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘰𝘮𝘣𝘢𝘭 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘺𝘢. 𝘈𝘴𝘢𝘭 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶, 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘬𝘴𝘰 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘮𝘶, 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘏𝘦𝘮𝘮𝘩… 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘮𝘱𝘢𝘶 𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨.
𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘰𝘴𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘨𝘦𝘯𝘵𝘭𝘦 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘶𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨. 𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘱𝘪𝘴𝘢𝘩𝘢𝘯. 𝘠𝘢, 𝘢𝘺𝘢𝘩𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘰𝘳𝘰𝘯𝘨, 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘵𝘢𝘱. 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘳𝘰𝘺𝘦𝘬 𝘣𝘢𝘳𝘶. 𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘱𝘦 𝘭𝘦𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘪𝘯-𝘮𝘢𝘪𝘯 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯. 𝘜𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢. 𝘗𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘳𝘢𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘪𝘣𝘶𝘢𝘯 𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢. 𝘋𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘮𝘪𝘭𝘺𝘢𝘳 𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯.
𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪. 𝘉𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘶𝘯𝘫𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩𝘮𝘶. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘪𝘮𝘶, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘪 𝘪𝘣𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘱𝘢𝘬𝘮𝘶. 𝘚𝘢𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘵𝘶, 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘺𝘢! 𝘏𝘦𝘩𝘦 …
𝘈𝘥𝘳𝘪𝘢𝘯
____
repost from PANCHAKE
Sabtu, 02 Januari 2016
Yang Terpilih
Oleh: Oetep Sutiana
Bumi di tahun 5015 memasuki periode kehancuran. Krisis kemanusiaan
terjadi di mana-mana. Kehancuran peradaban manusia berada pada
puncaknya. Spesies baru bernama Sang Penghancur hadir menjadi predator
paling mematikan bagi kelangsungan hidup manusia. Spesies manusia lama
terancam punah, hanya sebagian dari mereka yang bisa terselamatkan.
Kanselir Madam X bereksperimen dengan klan manusia lama untuk menjaga
spesies ini tetap lestari. Mereka dikumpulkan dalam sebuah proyek
rahasia tanpa sepengetahuan pemerintah pusat. Mereka yang jadi kelinci
percobaan itu diberi nama Yang Terpilih.
Dunia boleh serba digital. Ketika sebagian manusia beranggapan bahwa kemajuan teknologi adalah sebuah periode kejayaan manusia, kenyataannya adalah sebaliknya: periode kehidupan manusia berada pada puncak kehancuran. Semesta akan menyelesaikan abdinya. Manusia tak lebih dari virus komputer yang patut dihancurkan oleh sistem. Manusia tak lebih dari robot yang dikendalikan oleh sistem teknologi. Fase kehancuran baru saja dimulai.
Aku mencoba melawannya dengan begitu putus asa, berjuang mengendalikan semua sensor penghubung otakku. Syaraf motorik sebagian besar tubuhku nyaris tidak bisa kufungsikan. Sesuatu yang asing telah mengendalikan diriku. Sesuatu yang sama sekali tak mampu kukendalikan oleh otakku sendiri.
"Sistem sepertinya sudah mulai bekerja." Sebuah suara merobek lubang pendengaranku seketika. Menggaung di udara lantas beresonansi dengan logam di sekitarnya.
Sebuah ruang serba putih menelan keberadaanku. Aku pikir, ruangan ini tak salah bila disebut laboratorium. Beberapa tabung reaksi, meja bedah, dan peralatan mirip robot berjejer acak di hampir seluruh bagian ruang.
Belalai panjang mengambang di udara dengan pangkal tertanam di atas langit-langit, sementara ujungnya--hampi r tak bisa kupercaya--meny umpal mulutku.
Kecuali orang-orang berkostum astronot, lengkap dengan masker dan alat bantu napas menyerupai alat snorkling, hal lain membuatku terkejut: tubuhku terlentang polos dengan banyak kabel warna-warni tertancap di seluruh bagian tubuhku.
"Rupanya kamu sudah sadar." Salah satu dari mereka mendekat, menatapku lekat.
Aku mencoba menggerakkan kaki dan tangan. Percuma saja, semua terasa kaku.
"Selamat bergabung, Nak. Selamat menjadi Yang Terpilih," lanjutnya. "Kodemu, Alpha 8152 X Omega."
Sama sekali aku tak paham akan apa yang dikatakan orang itu. Pertanyaan demi pertanyaan terakumulasi menjadi dengungan hebat dalam kepalaku. Otakku mencoba mendeteksi apa yang sebenarnya terjadi, kepalaku pusing setelahnya
"Fase Gone segera tiba. Semoga kamu bisa menikmatinya."
Gone? Apa artinya. Aku tidak sempat berpikir lagi, ketika otot-ototku menegang. Desir hebat aliran darahku seolah mengeras. Aku tak merasakan keberadaanku kecuali rasa tercekik di tulang leher. Mataku mengabur dengan menghadirkan kunang-kunang raksasa sebelumnya. Cahaya menyilaukan mengantarku ke lembah paling gelap kesadaranku.
"Inikah yang dimaksud fase Gone?" gumamku dalam hati sebelum semuanya benar-benar gelap. Kian memekat.
*****
Aku merasakan sesuatu yang asing dengan tubuhku. Sesuatu yang keras mencangkangi seluruh daging tubuhku. Aku berpikir bahwa yang dimaksud dengan Yang Terpilih itu adalah spesies baru manusia robot?
Belum selesai dengan pikiranku, seseorang dengan kostum astronot mendorongku dari arah belakang. Hampir aku terjerembab dari landaian tangga pesawat.
"Lakukan!" teriaknya.
"Lakukan apa?" stimulasi otakku lambat bereaksi.
Orang itu terus mendorongku. "Lakukan bodoh! Yang Terpilih bukanlah spesies pengecut."
Aku tak mengerti. Sama sekali tidak mengerti. Kecuali sebilah launcher--senja ta dengan cairan kimia di dalamnya, aku tidak paham apa yang harus dilakukan dengan senjata tersebut.
"Bunuh mereka!" Sekali ini dorongan orang itu membuatku benar-benar terjerambab dari atas pesawat. Pemandangan asing terbentang di hadapanku. Orang-orang berbaju astronot sedang berperang dengan orang-orang berbaju hitam pekat mirip Orko.
Desingan senjata launcher terdengar disertai cahaya warna hijau terang menyilaukan mata. Aku belum sepenuhnya menguasai diri.
Ini kali pertama terjebak di dalam pertempuran di negeri antah berantah.
"Aktifkan sistem launcher-nya, bodoh!" Suara itu menyeruak, padahal sosoknya jauh berada di atas pesawat sana.
"Segera! Atau kamu mati tertembak senjata Sang Penghancur."
Aku meraba bagian atas senjata yang mirip senapan laras panjang transparan itu. Sebuah knop tanpa sengaja tersentuh. Sesuatu yang cair meluncur deras. Warna hijau menghambur, aku terjengkang tidak siap dengan keadaan itu.
Efek luncuran senjata itu sungguh luar biasa. Sesosok tubuh berjubah hitam terjengkang dengan sengatan jala listrik melingkup tubuhnya. Ia kejang-kejang lantas hancur menjadi asap pekat.
"Bagus! Simulasi pertamamu berhasil," suara itu hadir serta-merta, mengembalikan tubuhku dari arena pertempuran ke laboratorium serba putih tadi.
Aku mengerjap. Warna-warni kabel tadi tiba-tiba satu persatu tercerabut dengan sendirinya. Aku mencoba bangkit. Kali ini, orang-orang berkostum astronot tadi telah berubah tampilan manusia seutuhnya, seperti diriku.
"Pakailah!" Ia melempar pakaian ke arahku. Aku baru sadar akan kepolosan tubuhku. Aku menangkap dan mengenakan pakaian itu segera.
"Senang dengan keadaan dirimu sekarang?"
Aku menatapnya lekat. Senang? Tentu saja aku harus mengatakannya tidak. Aku lebih suka menjadi spesies manusia lama ketimbang Yang Terpilih, sebab, kendali otakku ada di tangan mereka.
"Inilah bagian dari evolusi manusia," ujarnya. Ia berdiri. Sosok itu--lelaki botak setengah baya mirip tampilan seorang profesor--berdi ri di sampingku.
"Evolusi menuju kehancuran," sanggahku. "Kalau harus jujur, aku lebih setuju dengan evolusi Darwin ketimbang evolusi buatanmu." Ada ledakan emosi yang meluncur deras dari dalam tubuhku.
"Dan, aku lebih senang dijadikan manusia monyet, ketimbang harus menjadi manusia robot buatanmu," lanjutku.
"Sayangnya, spesies manusia monyet ciptaan Darwin sudah lama mati menjadi fosil," tegasnya.
Menjadi diriku yang sekarang ini, membuatku linglung. Persetan dengan Yang Terpilih! Persetan dengan Kanselir Madam X! Persetan dengan semuanya.
Selepas dengan eksperimen tadi, aku mencoba melepaskan diri dengan keterikatan sistem dengan Yang Terpilih. Aku harus kembali menjadi spesies manusia lama, walau setelahnya mungkin aku akan punah seperti yang lainnya.
Namun, bagaimana caranya?
Cibatu-Garut, 29 Desember 2015
-----
repost from PANCHAKE
Dunia boleh serba digital. Ketika sebagian manusia beranggapan bahwa kemajuan teknologi adalah sebuah periode kejayaan manusia, kenyataannya adalah sebaliknya: periode kehidupan manusia berada pada puncak kehancuran. Semesta akan menyelesaikan abdinya. Manusia tak lebih dari virus komputer yang patut dihancurkan oleh sistem. Manusia tak lebih dari robot yang dikendalikan oleh sistem teknologi. Fase kehancuran baru saja dimulai.
Aku mencoba melawannya dengan begitu putus asa, berjuang mengendalikan semua sensor penghubung otakku. Syaraf motorik sebagian besar tubuhku nyaris tidak bisa kufungsikan. Sesuatu yang asing telah mengendalikan diriku. Sesuatu yang sama sekali tak mampu kukendalikan oleh otakku sendiri.
"Sistem sepertinya sudah mulai bekerja." Sebuah suara merobek lubang pendengaranku seketika. Menggaung di udara lantas beresonansi dengan logam di sekitarnya.
Sebuah ruang serba putih menelan keberadaanku. Aku pikir, ruangan ini tak salah bila disebut laboratorium. Beberapa tabung reaksi, meja bedah, dan peralatan mirip robot berjejer acak di hampir seluruh bagian ruang.
Belalai panjang mengambang di udara dengan pangkal tertanam di atas langit-langit, sementara ujungnya--hampi
Kecuali orang-orang berkostum astronot, lengkap dengan masker dan alat bantu napas menyerupai alat snorkling, hal lain membuatku terkejut: tubuhku terlentang polos dengan banyak kabel warna-warni tertancap di seluruh bagian tubuhku.
"Rupanya kamu sudah sadar." Salah satu dari mereka mendekat, menatapku lekat.
Aku mencoba menggerakkan kaki dan tangan. Percuma saja, semua terasa kaku.
"Selamat bergabung, Nak. Selamat menjadi Yang Terpilih," lanjutnya. "Kodemu, Alpha 8152 X Omega."
Sama sekali aku tak paham akan apa yang dikatakan orang itu. Pertanyaan demi pertanyaan terakumulasi menjadi dengungan hebat dalam kepalaku. Otakku mencoba mendeteksi apa yang sebenarnya terjadi, kepalaku pusing setelahnya
"Fase Gone segera tiba. Semoga kamu bisa menikmatinya."
Gone? Apa artinya. Aku tidak sempat berpikir lagi, ketika otot-ototku menegang. Desir hebat aliran darahku seolah mengeras. Aku tak merasakan keberadaanku kecuali rasa tercekik di tulang leher. Mataku mengabur dengan menghadirkan kunang-kunang raksasa sebelumnya. Cahaya menyilaukan mengantarku ke lembah paling gelap kesadaranku.
"Inikah yang dimaksud fase Gone?" gumamku dalam hati sebelum semuanya benar-benar gelap. Kian memekat.
*****
Aku merasakan sesuatu yang asing dengan tubuhku. Sesuatu yang keras mencangkangi seluruh daging tubuhku. Aku berpikir bahwa yang dimaksud dengan Yang Terpilih itu adalah spesies baru manusia robot?
Belum selesai dengan pikiranku, seseorang dengan kostum astronot mendorongku dari arah belakang. Hampir aku terjerembab dari landaian tangga pesawat.
"Lakukan!" teriaknya.
"Lakukan apa?" stimulasi otakku lambat bereaksi.
Orang itu terus mendorongku. "Lakukan bodoh! Yang Terpilih bukanlah spesies pengecut."
Aku tak mengerti. Sama sekali tidak mengerti. Kecuali sebilah launcher--senja
"Bunuh mereka!" Sekali ini dorongan orang itu membuatku benar-benar terjerambab dari atas pesawat. Pemandangan asing terbentang di hadapanku. Orang-orang berbaju astronot sedang berperang dengan orang-orang berbaju hitam pekat mirip Orko.
Desingan senjata launcher terdengar disertai cahaya warna hijau terang menyilaukan mata. Aku belum sepenuhnya menguasai diri.
Ini kali pertama terjebak di dalam pertempuran di negeri antah berantah.
"Aktifkan sistem launcher-nya, bodoh!" Suara itu menyeruak, padahal sosoknya jauh berada di atas pesawat sana.
"Segera! Atau kamu mati tertembak senjata Sang Penghancur."
Aku meraba bagian atas senjata yang mirip senapan laras panjang transparan itu. Sebuah knop tanpa sengaja tersentuh. Sesuatu yang cair meluncur deras. Warna hijau menghambur, aku terjengkang tidak siap dengan keadaan itu.
Efek luncuran senjata itu sungguh luar biasa. Sesosok tubuh berjubah hitam terjengkang dengan sengatan jala listrik melingkup tubuhnya. Ia kejang-kejang lantas hancur menjadi asap pekat.
"Bagus! Simulasi pertamamu berhasil," suara itu hadir serta-merta, mengembalikan tubuhku dari arena pertempuran ke laboratorium serba putih tadi.
Aku mengerjap. Warna-warni kabel tadi tiba-tiba satu persatu tercerabut dengan sendirinya. Aku mencoba bangkit. Kali ini, orang-orang berkostum astronot tadi telah berubah tampilan manusia seutuhnya, seperti diriku.
"Pakailah!" Ia melempar pakaian ke arahku. Aku baru sadar akan kepolosan tubuhku. Aku menangkap dan mengenakan pakaian itu segera.
"Senang dengan keadaan dirimu sekarang?"
Aku menatapnya lekat. Senang? Tentu saja aku harus mengatakannya tidak. Aku lebih suka menjadi spesies manusia lama ketimbang Yang Terpilih, sebab, kendali otakku ada di tangan mereka.
"Inilah bagian dari evolusi manusia," ujarnya. Ia berdiri. Sosok itu--lelaki botak setengah baya mirip tampilan seorang profesor--berdi
"Evolusi menuju kehancuran," sanggahku. "Kalau harus jujur, aku lebih setuju dengan evolusi Darwin ketimbang evolusi buatanmu." Ada ledakan emosi yang meluncur deras dari dalam tubuhku.
"Dan, aku lebih senang dijadikan manusia monyet, ketimbang harus menjadi manusia robot buatanmu," lanjutku.
"Sayangnya, spesies manusia monyet ciptaan Darwin sudah lama mati menjadi fosil," tegasnya.
Menjadi diriku yang sekarang ini, membuatku linglung. Persetan dengan Yang Terpilih! Persetan dengan Kanselir Madam X! Persetan dengan semuanya.
Selepas dengan eksperimen tadi, aku mencoba melepaskan diri dengan keterikatan sistem dengan Yang Terpilih. Aku harus kembali menjadi spesies manusia lama, walau setelahnya mungkin aku akan punah seperti yang lainnya.
Namun, bagaimana caranya?
Cibatu-Garut, 29 Desember 2015
-----
repost from PANCHAKE
Selasa, 01 Desember 2015
CreepyPasta #5
FIRST WORDS
Penulis: alatus_corruptrix
Sumber: Reddit Short Scary Story
Dalam beberapa hari, anak kami akan mengucapkan kata pertamanya.
Aku dan istriku sudah menebak-nebak apa yang akan ucapkan untuk pertama kalinya. “Mama?” atau “Papa”?
Aku
bisa mendengar istriku merayunya sambil memberinya makan, “Ayo anak
perempuan kesayangan Mama! Mama sayang kamu! Ayo ucapkan ‘Mama’ ... ayo,
‘Mama’!”
Aku jadi teringat ketika kami pertama
membawanya pulang ke rumah. Ia hanya berteriak dan menangis tanpa henti.
Tak ada yang bisa dikatakan istriku untuk menenangkannya. Namun aku
selalu tahu cara untuk membuatnya tertidur. Yah, aku memang tak pernah
mengatakannya pada istriku, namun anak kami jelas lebih menyukaiku
ketimbang ibunya. Aku berani bertaruh pasti kata pertama yang ia ucapkan
adalah “Papa”.
Aku mendudukkan putri kami di atas kursi dan istriku kembali berusaha membuatnya bicara.
“Ayo ... siapa anak Mama? Siapa anak Papa?”
Aku menarik dot dari mulut anak kami.
“Ku ... kumohon ... apa yang kalian inginkan? Kumohon lepaskan aku ...”
Senyum
istriku langsung luntur. Dengan berat hati, aku menaruh kembali dot ke
mulutnya dan istriku mulai berteriak tak karuan. Aku membawanya ke
kamarnya, menguncinya, dan mematikan lampu. Aku kembali ke dapur dan
menemukan istriku sedang menangis
.
“Tak apa-apa, Sayang,” ucapku sembari menghiburnya, “Anak berikutnya akan lebih baik, aku berjanji!”
***
CreepyPasta #4
'TIS BETTER TO GIVE, THAN RECEIVE
Penulis: BudongHerder
Sumber: Reddit Short Scary Story
Natal
akan segera tiba! Adikku dan aku sangat bersemangat menyambutnya! Ibu
benar-benar stress setelah kehilangan pekerjaannya seminggu lalu, namun
itu tak menghentikannya untuk memasak makanan lezat bagi kami. Ia
memasak makaroni untukku serta hotdog keju untuk adikku. Adikku
benar-benar suka hotdog!
Ibu
duduk denganku malam itu dan mengatakan bahwa sejak ia kehilangan
pekerjaan, ia mungkin takkan bisa memberikan kado natal seperti
tahun-tahun lalu. Ia mulai menangis ketika kami memeluknya dan
mengatakan bahwa itu tidaklah masalah. Ia mengatakan pada kami, “Kalian
berdua adalah kado natal terbaik yang bisa ibu dapatkan!”
Itu
memberikanku dan adikku ide terbaik yang pernah ada! Aku akan
mengenakan pita dan karena adikku cukup kecil, ia bisa masuk ke dalam
kotak yang akan kubungkus, dan kami berdua akan menjadi bingkisan kado
untuk ibuku! Kami bangun pagi-pagi ketika Natal tiba dan menyiapkan
semuanya. Wah, ternyata butuh waktu lebih lama ketimbang yang kami
pikirkan, namun akhirnya semua selesai. Setelah aku menyiapkan adikku,
akupun memakai pita dan pergi untuk membangunkan ibu.
Ketika
ia melihatku, ia mulai tertawa dan tersenyum bahagia. Semua berjalan
dengan sukses! Namun ketika aku mengantarnya ke pohon natal, ia mulai
menjerit dan menangis. Aku tak mengerti! Kenapa? Bukannya mendapatkan
banyak hadiah yang kecil-kecil untuk dibuka jauh lebih baik ketimbang
hanya satu hadiah besar? Benar bukan?
***
CreepyPasta #3
I KNEW TODAY WAS GOING TO BE A BAD DAY
Penulis: cocodel
Sumber: Reddit Short Scary Story
WARNING: GORY MATERIAL
Aku
tahu hari ini akan jadi hari yang buruk saat aku menyaksikan seekor
kucing tergilas mobil. Ban mobil itu melindas punggungnya dan setelah
mobil itu menggilasnya, aku bisa melihat sekujur tubuhnya telah
membengkok menjadi huruf U. Kepala dan ujung ekornya menunjuk ke atas,
bagian perutnya hancur dan tumpah ruah di atas aspal. Makhluk malang itu
tak mati seketika. Ia memuntahkan darah dan bernapas tersengal, dengan
bola mata melotot lebar hingga hampir melompat keluar, dan mengeong
kesakitan sebelum nyawanya akhirnya benar-benar tecabut dan ringkikan
napasnya terhenti.
Ketika
melihatnya, aku menjerit dan berusaha keras agar tidak muntah. Si
brengsek yang melindasnya bahkan tak repot untuk berhenti. Aku mulai
mengatur napasku yng tersengal-sengal karena panik dan duduk di trotoar
sementara air mata mulai mengaburkan pandanganku.
Aku
sama sekali tak kuat dengan hal-hal yang berbau gore. Aku akui, aku
memiliki mental yang lemah apabila berhadapan dengan hal-hal semacam
itu. Aku mudah terkena serangan panik dan mental break down. Terapi yang
seimbang dengan pemakaian obat-obatan anti-depresi telah membantuku
menghadapi hal-hal yang membuatku tak nyaman atau membikin stress.
Lucu bagaimana otakmu akan berusaha melindungimu dari hal-hal semacam itu.
Ibuku
sering mengatakan bahwa tiap hari adalah hadiah, penuh dengan
kemungkinan dan harapan. Hari ini jelas tidak memiliki awal yang baik.
Aku
memikirkan tentang kucing itu sepanjang hari kerjaku. Aku terus
mendengar suara retakan tulangnya yang hancur ketika ban mobil
meratakannya di aspal. Aku mendengar hentakan napasnya yang terdengar
putus asa dan pasrah, hampir terdengar seperti tangisan bayi. Tiap kali
aku menutup mataku, yang terlihat hanya bayangan mengerikan itu. Terlalu
banyak darah, serpihan tulang, dan semburan bagian dalam tubuhnya ...
aku tak bisa melepaskannya dari benakku. Mereka seakan sudah menodai
alam bawah sadarku.
Aku pergi keluar untuk makan
siang di luar, mencoba menghirup udara segar dan melupakan kjadian tadi
pagi. Aku tak ingin kembali ke tempat dimana kucing itu terlindas
mobil, namun mau tak mau aku harus melewatinya agar bisa pergi ke kafe
terdekat. Aku benar-benar memerlukan kopi saat itu, jadi aku pasrah
saja.
Ketika aku sudah hampir mendekati lokasi
tersebut, aku melihat kerumunan orang. Aku juga melihat polisi mencoba
mengatur lalu lintas dan pita kuning untuk mengamankan TKP direntangkan
di sepanjang jalan.
Ketika aku mendekat, aku
melihat mobil polisi, ambulan, dan kerumunan orang yang berwajah pucat.
Di tengah semuanya, aku bisa menyaksikan sebentang selimut, merah, bak
terendam oleh darah, menutupi dimana kucing tadi terbaring tak bernyawa.
Tak jauh dari selimut itu, aku melihat sebuah sepatu mungil, bernoda darah pula, tergeletak begitu saja di aspal.
Aku
merasakan kulitku merinding dan pandanganku mulai kabur ketika aku
mendengar kembali tangisan terakhirnya dan suara retak saat mobil itu
melindas tubuhnya. Suara itu kembali bergema di benakku.
Lucu bagaimana otakmu akan berusaha melindungimu dari hal-hal semacam itu.
***
CreepyPasta #2
HORRYFYING ESCAPE PLAN
Sumber: wattpad
Creepypasta ini menceritakan rencana gila seorang tahanan wanita untuk melarikan diri dari penjara dengan ending tak terduga.
***
Seorang
wanita cantik dihukum seumur hidup di sebuah penjara akibat kasus
pembunuhan.marah dan dendam dengan situasi yang ia hadapi, ia memutuskan
bahwa ia harus melarikan diri dari penjara tersebut.
Ia
berteman baik dengan seorang penjaga penjara itu. Tugasnya adalah
menguburkan napi yang meninggal di pemakaman yang terletak di luar
dinding penjara. Setiap ada napi yang meninggal, ia akan membunyikan
bel, yang akan terdengar oleh napi-napi yang lainnya.
Sang
penjaga kemudian memindahkan jenazah napi tersebut ke sebuah peti.
Kemudian, ia akan pergi ke kantornya untuk menandatangani surat
sertifikat kematian sebelum akhirnya kembali untuk memaku tutup peti
mati itu. Terakhir, ia akan meletakkan peti itu di dalam mobil jenazah
untuk kemudian dibawa keluar untuk dimakamkan.
Setelah
hapal dengan rutinitas penjaga itu, sang wanita menyusun rencana dan
membaginya dengan sang penjaga tersebut. Jika lain kali bel berbunyi,
maka wanita itu akan meninggalkan selnya, lalu menyelinap ke dalam
ruangan dimana peti mati tersebut biasa disimpan.
Di
sana ia akan menyelinap masuk ke dalam peti mati bersama jenaza pada
saat sang penjaga keluar untuk menandatangani surat kematian. Ketika
sang penjaga kembali, ia akan memaku peti mati itu dan membawanya keluar
dari penjara dengan sang wanita masih ada di dalam peti mati itu. Ia
kemudian akan menguburnya.
Wanita itu tahu bahwa
akan ada cukup udara baginya untuk bernapas di dalam peti mati itu
untuk semalam dimana sang penjaga akan kembali untuk membongkar kuburan
dan mengeluarkan wanita itu dari dalam peti mati.
Semula
sang penjaga merasa ragu untuk ikut dalam rencana tersebut, namun
karena ia dan wanita itu sudah bersahabat cukup dekat, maka akhirnya ia
menyanggupinya. Sang wanita menanti selama beberapa bulan hingga salah
satu napi di dalam penjara tersebut mati.
Suatu
malam, ketika ia tengah tertidur, ia mendengar suara bel berbunyi. Ia
segera bangun, membuka kunci di pintu selnya, dan mengendap-endap masuk
ke ruangan dimana peti mati itu disimpan. Jantungnya berdetak sangat
kencang sebab ia beberapa kali hampir tertangkap, namun akhirnya ia
berhasil melakukannya.
Di dalam kegelapan, ia
akhirnya menemukan peti mati itu dan kemudian dengan hati-hati masuk ke
dalamnya. Ia menunggu beberapa saat hingga mendengar suara langkah kaki
sang penjaga datang untuk memaku peti mati itu.
Ia
bisa mendengar suara palu dan sedikit goncangan di peti mati itu. Tentu
saja sang wanita merasa tak nyaman berada di atas sebuah jenazah, namun
ia tahu hanya ini satu-satunya cara ia bisa mendapatkan kebebasan.
Ia
merasakan peti mati diangkat dan iapun mendengar suara derum mobil. Ia
kemudian merasakan peti matinya diangkat kembali dan kali diturunkan.
Pasti ia sudah sampai di pemakaman. Kemudian ia mendengar suara tanah
ditimbun di atas peti mati.
Dan kemudian sunyi.
Setelah
beberapa menit, si wanita mulai merasa bosan. Didorong rasa
penasarannya, ia menyalakan korek api yang ia bawa untuk melihat jenazah
siapa sebenarnya yang dikuburkan bersamanya.
Ia sangat ketakutan begitu menyadari ia berada di atas jenazah sahabatnya, sang penjaga.
***
CreepyPasta #1
PET CAT
Source : scaryforkids
***
Beberapa
bulan yang lalu, aku dan keluargaku pindah ke sebuah desa kecil dan aku
harus pindah ke sekolah yang baru. Tetanggaku adalah seorang wanita tua
yang gila. Ia menghabiskan hari-harinya dengan duduk sendirian di depan
rumahnya sambil berbicara sendiri.
Suatu hari,
ketika aku lewat depan rumahnya, aku menyadari bahwa ia tengah
mengelus-elus sesuatu di pangkuannya. Awalnya aku pikir itu kucing,
tetapi ketika aku melihat lebih dekat, aku menyadari bahwa tidak ada
apapun di pangkuannya. Ia hanya meletakkan tangannya di lututnya dan
mengelus-elus udara.
Mungkin dulunya ia punya
anjing peliharaan, pikirku, dan anjingnya mati dan ia berpikir bahwa
anjingnya masih disana. Aku merasa kasihan kepada wanita tua tersebut,
aku menghela napas dan melanjutkan perjalanan.
Kemudian,
suatu malam ketika aku sedang tidur, sesuatu yang aneh terjadi. Aku
bangun karena merasakan sesuatu yang berbulu berada di sampingku. Aku
ketakutan dan langsung terbangun dari tidurku. Kemudian, aku melihat
bayangan dari ujung mataku. Bayangan itu turun ke lantai kemudian keluar
melalui pintu.
Aku sangat terkejut saat itu.
Ketika aku mulai tenang, aku menyadari bahwa hal itu mungkin saja hanya
kucing atau anjing liar yang masuk ke rumah.
Kemudian,
aku memandang keluar jendela kamarku dan melihat wanita tua itu. Ia
berdiri di trotoar, dibawah lampu jalan. Rambutnya yang abu-abu dan
panjang berkibar karena tertiup angin. Matanya terbuka lebar dan ia
memandang lurus ke arahku.
Aku begitu ketakutan hingga aku berlari menjauhi jendela. Kemudian akhirnya wanita itu berbalik dan masuk kembali ke rumahnya.
Cukup
lama untuk membuatku tenang kembali, tapi akhirnya aku dapat kembali
tidur. Saat aku hampir tertidur, aku mengingat sesuatu yang menurutku
aneh. Ketika aku melihat bayangan kucing atau anjing liar yang keluar
dari kamarku… sesuatu itu tidak seperti sedang berlari… kelihatannya
seperti menggelinding di atas lantai.
Pagi
harinya, aku bangun dan turun untuk sarapan. Dalam perjalanan menuju
sekolah, aku melewati rumah wanita tua itu lagi. Seperti biasanya, ia
duduk di balkonnya, berbicara sendiri dan mengelus-elus sesuatu yang tak
terlihat di pangkuannya
.
Ketika aku
melewatinya, aku samar-samar mendengarnya berbicara, “Apa yang kau
lakukan? Kenapa kau pergi dariku tadi malam? Lihatlah, kau menakuti
gadis itu!”
Perasaanku mulai tidak enak dan aku mulai gemetar. Aku langsung berlari pergi.
Di
sekolah, aku coba menanyakan teman-temanku tentang wanita tersebut.
Tidak ada yang tahu tentangnya, kecuali bahwa ia keluar dari rumah sakit
jiwa sekitar sepuluh tahun yang lalu. Mereka bilang bahwa ia memiliki
riwayat gangguan jiwa dan itulah kenapa semua orang menjauhinya. Sejak
ia keluar dari rumah sakit jiwa, ia hanya duduk diam di balkon rumahnya
.
Beberapa hari kemudian, ayahku
berbincang-bincang dengan pria tua yang sejak dulu tinggal di desa ini.
Ketika ayahku bertanya padanya tentang tetanggaku, ia menceritakan hal
yang membuatku merinding.
Ia berkata bahwa
wanita tua itu menghabiskan 30 tahun waktu hidupnya di dalam rumah sakit
jiwa. Ketika ia masih muda, ia menikah dan tinggal di tempat yang sama
bersama suaminya.
Katanya, ia mencurigai
suaminya berselingkuh selama bertahun-tahun, namun ia selalu
menyangkalnya. Kemudian pada suatu malam, ia menangkap basah suaminya
dengan wanita lain. Ia membunuh suaminya dengan kapak kemudian memenggal
kepalanya.
Ketika polisi datang, ia sedang
duduk di balkon rumahnya sambil menyeringai gila. Kepala suaminya berada
di pangkuannya. Ia berbicara kepada kepala yang terpenggal itu dan
mengelus-elusnya dengan lembut.
***
Langganan:
Postingan (Atom)