Sabtu, 04 Oktober 2014

Mahasiswa versus Dosen

KBM Academy (Level 6)

Penulis : Firdaus ILo
Asal : Medan

Mahasiswa. Berasal dari kata maha dan siswa. Maha menurut bahasa arab berarti lebih, sedangkan siswa menurut bahasa indonesia artinya peserta didik. Jadi, secara bahasa indo-arab, mahasiswa artinya lebih peserta didik, peserta didik lebih, lebih didik peserta, peserta lebih didik?

Ah ... pria itu tampak bingung memikirkan arti dari kata "Mahasiswa". Sejenak ia tampak tersenyum kemudian berteriak "Mahasiswa! Siswa yang mempunyai kelebihan! Great!"

Mempunyai kelebihan? Maksudnya? Indera keenam kah?

***

Sebut saja namanya Aldo, seorang pria kelahiran Jawa tengah.
Jawa? Aldo? Sepertinya nama itu tidak cocok.

Oke. Panggil ia Tarno! Pria berkulit manggis hitam, rambut ikal, dengan spasi bulu mata dua per tiga centimeter. Ya, ini adalah tahun pertama ia menginjakkan kakinya di kampus nomor satu di negeri ini, Indonesia.

"Langkah pertama!" ucapnya gembira, "Mas?" lanjutnya memanggil seorang mahasiswa yang tengah lewat di area sekitar tempat Tarno berdiri. Berhubung wajahnya mirip James Bond. Panggil ia si 07.

"Ya?"

"Please, help me! Tolong fotoin gue dong. Mau gue kirim sama Emak di kampung," ucap pria berkacamata itu penuh harap.

Si 07 tersenyum. Ia mengangguk indah dengan membentuk sudut istimewa antara leher dengan dagu sebesar 43 derajat. Sepertinya ia setuju. Tarno bergegas merogoh saku celananya guna mengambil ponsel titisan Emak. Ponsel dengan merk ternama serta keluaran terbaru itu tampak bersinar dibawah teriknya cahaya mentari.

"Jangan senyum dulu, Bro. Kering tuh nanti gigi. Kanan dikit. Gelap nih, terhalang cahaya. Ya! Geser kanan dikit lagi, Bro. Mundur dua langkah! Eh ... stop! Pas!" Dengan senang hati Tarno maju-mundur mengikuti rujukan si 07.

Dalam benaknya, Tarno terbayang wajah bahagia Emak saat melihat fotonya kelak.

"Ok ... satu ... dua ..." Dengan sigap Tarno berpose ria. Tangan kanan sengaja ia selipkan di pinggang untuk menunjang penampilan. Tidak hanya itu, kaki kiri ia angkat, badan sedikit membungkuk dengan dada yang membusung beberapa centimeter ke depan. Perfect!

Terakhir, senyum khas dengan gigi yang tampak malu-malu menunjukkan keemasannya serta pandangan pura-pura tak melihat ke arah kamera. Gaya favorit Emak, pikir Tarno.

"Ya ... tiga!"

"Udah, Mas?" Tanya Tarno mendesis. Sangat sedikit sekali pergerakan pada bibir berwarna kopi ginseng itu. Pria itu tampak takut untuk menggerakan bibirnya. Takut menghancurkan pose!

Lima menit kemudian ...

"Mas?" Tarno melirik ke arah si 07. Seketika ekspresi wajah Tarno berubah.

"Woi ... Mas!" Tarno berteriak sekuat tenaga. Sementara itu Si 07 tersenyum bangga melirik ke arah Tarno seraya berlari menjauh kemudian menghilang.

Tarno tak mampu berbuat banyak. Berteriak, melompat, dan melempar sudah ia lakukan. Berulang kali ia memanggil si 07. Bukannya berbalik arah, pria berparas James Bond itu malah mempercepat laju larinya.

Tarno yang berasal dari desa, bingung melihat sikap si 07. Sombong pisan euy! Dipanggil kok gak datang, dah hp gue dibawa lagi, huft ... gerutu Tarno. Bener kata Pak Boni, tetangga Tarno di desa, "Orang kota itu sombong-sombong, No. Ngomong aja gak ada tata kramanya. Melenceng. Bilang "kau" itu "elu" bilang "aku" itu "gue". Babeh dipanggil bokap, Emak itu nyokap! Jangan terlalu dekat dengan mereka deh!" Titah Pak Boni mengiringi kepergian Tarno.

Dengan alasan itu pula, semenjak menapaki kaki di kota Jakarta, Tarno menyesuaikan logat berbicaranya dengan cara berbicara orang kota. Meski awalnya lidah terasa ngilu, tapi sejak sering menonton sinetron, lama kelamaan Tarno mulai biasa dengan kosa kata yang terdengar aneh di telinganya sendiri.

Ah ... biarlah, nanti pasti dia bakal nyari gue kok. Hp gue kan sama dia, pikir Tarno. Ia pun melanjutkan langkahnya menuju fakultas MIPA.

Pemuda berkulit hitam manggis itu tak menyadari ia telah menjadi korban keganasan dunia. Ya, korban pencurian! Namun, berkat pengajaran sikap dan karakter yang ditanamkan emak sejak ia kecil dahulu, membuat Tarno selalu berpikir positif tentang orang disekitarnya. Tak pernah sedikitpun pria berbibir kopi ginseng itu menaruh curiga.

Dengan santai ia berjalan memasuki wilayah fakultas MIPA. Mengedarkan pandangan ke tiap sudut kampus. Ah ... cantik pisan euy! Seorang mahasiswi berkacamata, berkerudung warna merah dengan sebuah laptop di paha tampak sibuk dengan aktifitasnya. "Kenalan ah," bisik Tarno.

Tiba-tiba, wajah Emak di kampung melintas tanpa ijin dalam benak Tarno. Dengan petuah-petuah bijaknya mengelilingi memori yang terus berputar itu, "Nak, ingat tujuan awal kamu ke kota. Demi keluarga ini. Baik-baik kamu di sana, dan sadar diri dengan keadaan kita." Tarno menghentikan langkahnya secara sepihak. Ia berputar arah, berpaling dari gadis yang ia anggap bidadari tak bersayap, namun berhijab. Beautiful!

Ditengah perjalanan guna mengitari area fakultas MIPA. Tiba-tiba telinga Tarno bergerak ke kanan dan kiri. Suara apa itu?

Tarno mengintip ke dalam sebuah ruangan. Tampak seorang mahasiswi tengah menangis. Itukah yang namanya dosen? Pikir Tarno menganalisa.

"Apa ini? Sudah mahasiswa kok buat makalah begini. Apaan ini!" bentak pria berpakaian rapih itu, "Bagaimana mungkin saya akan meluluskan mahasiswa seperti kamu?"

Mahasiswi itu diam tanpa kata. Tiba-tiba seorang mahasiswa lain mengacungkan tangannya, "Pak," ucapnya.

"Hum ...!" Mata dosen itu mendelik.

"Permisi keluar, Pak."

"Kemana?"

"Kentut, Pak."

"Tahan!" Mahasiswa itu pun cemberut bebek. Gue gak tanggung jawab loh! Gerutunya.

"Mulai besok dan seterusnya. Kamu gak usah masuk di kelas saya! Percuma! Nilaimu E."

Mahasiswi itu menangis, tertunduk lesu. Kemudian bersujud memohon agar dosen itu menarik ucapannya kembali. Namun apa daya, alih-alih mengabulkan permohonannya. Mahasiswi itu malah diusir saat itu juga. Sadis!

"Pak?" Geram akan prilaku dosen yang semena-mena. Mahasiswi itu memberanikan diri untuk membuka mulut.

"Huh!" Kepulan gas dari mulut ia hembuskan tepat ke wajah dosen itu, "kau yang pergi! Enyahlah," bentak mahasiswi tersebut. Meski tangan sedikit gemetaran, mahasiswi itu berusaha tenang mengendalikan diri.

Teman-teman sekelasnya saling pandang satu sama lain. Mereka seakan tak percaya sekaligus bingung. Bisa-bisanya teman mereka itu berkata seperti itu.

Bukan kepalang kagetnya dosen itu mendapatkan titah dari seorang mahasiswi. Mengiringi embusan angin tanpa rintangan. Sebuah tamparan mendarat sukses pada pipi kanan mahasiswi malang tersebut. Seluruh mahasiswa di dalam ruangan empat kali enam itu mendadak diam tanpa kata. Takut!

Berbeda dengan Tarno yang ingin rasanya menonjok pria yang ia anggap dosen itu. Beraninya kok sama cewek. Huh!

Beberapa detik kemudian, mahasiswa lain dipaksa untuk lebih kaget lagi.
Ya, mahasiswi itu menampar balik dosen berambut dua helai itu.

Wuih ... buset! Berani juga tuh cewek, pikir Tarno.

"DO!" bentak dosen itu.

"Atas dasar apa?"

"Adab!"

"Bagaimana denganmu?" Mahasiswi itu balik membentak tak mau kalah.
Suaranya kini malah lebih tinggi dari dosen itu.

"Maksudmu?"

"Adabmu!"
Sejenak dosen itu terdiam, kemudian pergi berlalu meninggalkan kelas.

"Dasar dosen abal-abal. Semenana-mena dengan mahasiswa. Memberi tugas seenak memakai kaus kaki hangat. Tanpa ia tahu beban tugas kami dari mata kuliah lain telah menumpuk! Dasar dosen pembunuh! Ya, kalian adalah pembunuh imajinasi pemuda," gerutu mahasiswi itu tak tentu, " bebaskan pikiran kami. Mengkritisi makalah kami? Mencampakkan makalah kami. Sadar gak sih? Buku yang kau buat sebagai panduan belajar mahasiswa yang kau sebut diktat itu tak lebih buruk dari makalah kami," lanjutnya.

Tiba-tiba dosen itu kembali. "Apa kamu bilang?" sepertinya dosen itu mulai kehilangan kesabarannya, "dasar mahasiswa tak beretika," lanjutnya.

"Sadar atau tidak. Saya begini karena didikan, Bapak," jawab mahasiswi itu penuh dengan ketegasan, "anda yang tak beretika!" lanjutnya.

Dosen itu makin geram. Buku dengan tebal hampir lima centimeter ia hempaskan tepat ke arah kepala mahasiswi itu. Mahasiswi itu tampak ketakutan, kemudian menutup kepalanya dengan kedua tangan.

Jiwa empati Tarno keluar. Sebelum buku itu mendarat di kepala mahasiswi itu. Dengan sigap Tarno berteriak, "Hentikan!"
Seluruh mahasiswa memandang ke arah Tarno tak terkecuali dosen itu.

"Stop! Apa-apan ini? Inikah yang namanya dosen dan mahasiswa? Sungguh memalukan," ucap Tarno perlahan menghampiri dosen dan mahasiswi itu.

Para mahasiswa dalam ruangan itu memandang heran kepada Tarno.

"apa-apaan sih manusia satu ini?" gerutu seorang mahasiswa.

"Dari planet mana sih ini makhluk? Jelek banget!"

Mendadak beberapa mahasiswa menutup hidungnya. Kemudian perlahan mahasiswa lain mengikuti. Hah? Sebau itukah gue? Pikir Tarno menerka-terka.

"Iiih ... loe kentut ye?" selidik salah satu dari mereka. Yang ditunjuk malah senyum-senyum aneh.

Cut!

Sebuah suara menghentikan aktifitas mereka. Memandang ke arah sumber suara, kemudian secara serentak seisi ruangan tepuk tangan. Suasana ruangan menjadi ramai. Tarno kebingungan. Hah? Ada apa ini? Pikirnya.

Betapa konyolnya tingkah Tarno setelah mengetahui bahwa adegan tadi hanyalah sebuah acting atau drama semata. Dengan polosnya ia bertanya, "kalian artis? Kok gak pernah gue lihat di tipi?"

Seorang mahasiswa tertawa mendengar pertanyaan Tarno, "Aduh, Bang. Kami ini mahasiswa jurusan bahasa indonesia yang sedang ujian."
"Bahasa Indonesia? Emang di MIPA ada jurusan bahasa indonesia?"
"Ini fakultas bahasa dan seni, Bang. MIPA mah di sono!" Mereka pun kembali tertawa.

Tarno pun terpaksa tersenyum guna menanggung malu. Kemudian secara perlahan mundur. dan bergegas lari. "gue pamit!" teriaknya.
Ah ... Om Alim mana sih? Gue kan bingung jadinya. Mau telpon, hp gue di pinjem orang yang tak di kenal, gerutunya. Gue udah di MIPA ini loh. Keluarlah Om Alim.

"Tarno!"

Tarno melirik ke arah sumber suara. Om Alim, pikirnya. Tarno pun bergegas menghampiri. Lelaki paruh baya itu.

"Kapan sampai?"

"Dah dari tadi, Om. Dah sampai nyasar-nyasar pun," ucap Tarno kesal.

"Kenapa gak telpon? Oh iya, yuk ke bascamp untuk mengambil peralatan kerjamu."

Mereka pun pergi menuju sebuah ruangan kecil di sudut kanan tangga kampus. Tarno mengikuti Om Alim dari belakang, "oh iya, No. Nanti, bagian kamu di sana ya. Setiap sepuluh menit kamu sapu tuh lantai, kalau becek segera di pel. Agar kebersihannya selalu terjaga," ucap Om Alim seraya menunjuk ke arah tempat lahan Tarno bekerja kelak, "Dan selamat datang di clinic servise universitas tercinta ini, No," lanjutnya.

Tarno tersenyum. Gaji bulan pertama terbayang sudah.
_______________


Powered by Telkomsel BlackBerry®

0 komentar:

Posting Komentar